Bintaro
| Bintaro | |
|---|---|
| Bintaro | |
| Pengelasan saintifik | |
| Alam: | Plantae |
| Divisi: | Magnoliophyta |
| Kelas: | Magnoliopsida |
| Order: | Gentianales |
| Keluarga: | Apocynaceae |
| Genus: | Cerbera |
| Spesies: | C. manghas |
| Nama binomial | |
| Cerbera manghas |
|
Bintaro atau pongpong (Cerbera manghas) adalah tumbuhan pantai atau paya berupa pohon dengan ketinggian dapat mencapai 12 m. Dikenali di Pasifik dengan nama leva (Samoa), toto (Tonga), serta vasa (Fiji).
Pemerian [sunting]
Daunnya berbentuk bulat telur, berwarna hijau tua, yang tersusun berselingan. Bunganya harum dengan mahkota berdiameter 3-5cm berbentuk terompet dengan pangkal merah muda. Benang sari berjumlah lima dan posisi bakal buah tinggi. Buah berbentuk telur, panjang 5-10cm, dan berwarna merah cerah jika masak. Penyebarannya secara semulajadi berlaku di sub benua tropika Indo Pasifik, dari Seychelles hingga Polinesia Perancis. Bintaro sering kali merupakan sebahagian dari ekosistem hutan paya bakau. Di Indonesia, Bintaro kini digunakan sebagai tumbuhan penghijauan daerah pantai serta peneduh kota.
Etnobotani [sunting]
Daun dan buahnya mengandungi bahan yang mempengaruhi kerosakan dan kegagalan fungsi jantung, suatu glikosida yang disebut cerberin, yang sangat beracun. Getahnya sejak dahulu lagi dipakai sebagai racun panah/tulup untuk berburu. Racunnya dilaporkan dipakai untuk bunuh diri atau membunuh orang. Nama ilmiah Cerberus diambil dari nama anjing berkepala sepuluh dalam mitologi Yunani.
| Wikimedia Commons mempunyai media berkaitan: Bintaro |