Jakarta

Daripada Wikipedia, ensiklopedia bebas.
(Dilencongkan dari DKI Jakarta)
Lompat ke: pandu arah, cari
Jakarta
Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta
Batavia
Ibukota Jakarta
(From top, left to right): Jakarta Skyline, Jakarta Old Town, Hotel Indonesia Roundabout, Monumen Nasional, Harmoni, Istiqlal Mosque

Bendera

Lambang rasmi
Nama panggilan: The Big Durian,[1][2] J-Town [3]
Motto: Jaya Raya (Indonesian)
(Victorious and Great)
Jakarta yang terletak di Indonesia
Jakarta

Location of Jakarta in Indonesia

Koordinat: 6°12′S 106°48′E / 6.200°S 106.800°T / -6.200; 106.800Koordinat: 6°12′S 106°48′E / 6.200°S 106.800°T / -6.200; 106.800
Negara Indonesia
Provinsi Jakarta
Kerajaan
 • Jenis Wilayah pentadbiran khusus
 • Gabenor Basuki Tjahaja Purnama
Keluasan
 • City 740.28 km2 (285.82 sq mi)
 • Tanah 662.33 km2 (255.73 sq mi)
 • Perairan 6,977.5 km2 (2,694.0 sq mi)
Ketinggian -2—50 m, average: 8 m (-6—164 ft, average: 26 ft)
Populasi (Nov 2011)
 • City 10,187,595
 • Kepadatan 15,342/km2 (39,740/sq mi)
 • Metro 28,019,545
 • Kepadatan metro 4,383/km2 (11,350/sq mi)
Zon waktu WIB (UTC+7)
Kod kawasan +62 21
License plate B
Laman web www.jakarta.go.id (official site)
Jakarta is not part of any province, it is controlled directly by the national government and is designated the Special Capital Region


Daerah Khusus Ibukota Jakarta (DKI Jakarta, Jakarta Raya) merupakan ibu negara Indonesia, dan juga merupakan satu-satunya bandaraya di Indonesia yang bertaraf provinsi. Jakarta terletak di bahagian barat laut Pulau Jawa. Dahulunya, Jakarta pernah dikenali dengan nama Sunda Kelapa (sebelum tahun 1527), Jayakarta (1527-1619), Batavia, atau Jacatra (1619-1942), dan Djakarta (1942-1972).

Jakarta memiliki luas sekitar 661,52 km² (lautan : 6.977,5 km²), dengan penduduk berjumlah 7,552,444 orang (2007)[4]. Wilayah metropolitan Jakarta (Jabotabek) yang diduduki sekitar 23 juta orang, merupakan kawasan metropolitan yang terbesar di Indonesia dan kedua terbesar di dunia.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Peta Batavia (1888).

Sunda Kelapa (397–1527)[sunting | sunting sumber]

Jakarta pertama kali dikenali sebagai salah sebuah pelabuhan Kerajaan Sunda yang bernama Sunda Kelapa, yang terletak di muara Sungai Ciliwung. Ibu kota Kerajaan Sunda yang dikenali sebagai Dayeuh Pakuan Pajajaran atau Pajajaran (kini Bogor) boleh dicapai dari pelabuhan Sunda Kalapa selama dua hari perjalanan. Menurut sumber Portugis, Sunda Kalapa merupakan salah sebuah pelabuhan milik Kerajaan Sunda selain pelabuhan Banten, Pontang, Cigede, Tamgara dan Cimanuk. Sunda Kalapa, atau disebut Kalapa dalam teks ini, dianggap pelabuhan yang terpenting kerana dapat didatangi dari ibu kota kerajaan, Dayo (dalam bahasa Sunda moden: dayeuh bermaksud ibu kota) dalam tempoh dua hari. Kerajaan Sunda sendiri merupakan kesinambungan Kerajaan Tarumanagara pada abad ke-5 sehingga kewujuan pelabuhan ini disusur kembali hingga abad itu, sebagai ibu kota Tarumanagara yang bernama Sundapura.

Pada abad ke-12, pelabuhan ini dikenal sebagai pusat perdagangan lada yang sibuk. Kapal-kapal asing yang berasal dari China, Jepun, India Selatan, dan Timur Tengah sudah berlabuh di pelabuhan ini membawa barang-barang seperti tembikar, kopi, sutera, kain, wangian, kuda, anggur, dan pewarna untuk ditukar dengan rempah-ratus yang menjadi komoditi dagang pada zaman itu.

Jayakarta (1527–1619)[sunting | sunting sumber]

Orang Portugis merupakan orang Eropah pertama yang datang ke Jakarta. Pada abad ke-16, Surawisesa, raja Sunda meminta bantuan Portugis yang ada di Melaka untuk mendirikan perkubuan di Sunda Kelapa sebagai perlindungan dari kemungkinan serangan Cirebon yang akan berpecah dari Kerajaan Sunda. Usaha permohonan bantuan Surawisesa kepada Portugis di Melaka itu dirakam oleh orang Sunda dalam cerita pantun seloka Mundinglaya Dikusumah, yang mana Surawisesa diselokakan dengan nama gelarnya yaitu Mundinglaya. Namun sebelum pendirian perkubuan tersebut terlaksana, pelabuhan tersebut diserang oleh pihak Cirebon dengan bantuan Demak. Orang Sunda merintih peristiwa itu sebagai tragedi kerana serangan tersebut memusnahkan kota pelabuhan tersebut serta membunuh ramai rakyat Sunda di sana, termasuk syahbandar pelabuhan. Penetapan hari jadi Jakarta pada tarikh 22 Jun oleh Sudiro, walikota Jakarta, pada tahun 1956 adalah berdasarkan tragedi pendudukan pelabuhan Sunda Kalapa oleh Fatahillah pada tahun 1527. Fatahillah menukar nama kota tersebut menjadi Jayakarta yang bererti "kota kemenangan". Selanjutnya Sunan Gunung Jati dari Kesultanan Cirebon, menyerahkan hak pentadbiran Jayakarta kepada puteranya, Sultan Maulana Hasanuddin yang menjadi sultan di Kesultanan Banten.

Batavia (1619–1942)[sunting | sunting sumber]

Fail:Pangeran Jayakarta.jpg
Pasukan Pangeran Jayakarta menyerahkan tawanan Belanda kepada Pangeran Jayakarta

Orang Belanda datang ke Jayakarta sekitar akhir abad ke-16, setelah singgah di Banten pada tahun 1596. Pada awal abad ke-17, Jayakarta diperintah oleh Pangeran Jayakarta, salah seorang kerabat Kesultanan Banten. Pada 1619, syarikat VOC pimpinan Jan Pieterszoon Coen menduduki Jayakarta setelah mengalahkan pasukan Kesultanan Banten, kemudian mengubah namanya menjadi Batavia. Sepanjang zaman penjajahan Belanda, Batavia berkembang menjadi bandaraya yang besar dan penting. Untuk pembangunan kota, Belanda banyak melibatkan diri dalam pengimportan hamba abdi yang kebanyakannya berasal dari Bali, Sulawesi, Maluku, Tiongkok, dan pesisir Malabar, India. Ada yang berpendapat bahawa mereka inilah yang tidak lama kemudian membentuk komuniti yang dikenali sebagai suku Betawi. Sewaktu itu, keluasan Batavia hanya mencakupi kawasan yang kini dikenali sebagai Kota Tua di Jakarta Utara. Sebelum kedatangan hamba-hamba tersebut, sudah ada masyarakat Sunda yang tinggal di wilayah Jayakarta seperti masyarakat Jatinegara Kaum. Sedangkan suku-suku dari etnis pendatang, pada zaman penjajahan Belanda, membentuk wilayah komuniti masing-masing. Maka, di Jakarta ada wilayah-wilayah bekas komuniti itu seperti Pecinan, Pekojan, Kampung Melayu, Kampung Bandan, Kampung Ambon, Kampung Bali, dan Manggarai.

Pada tanggal 9 Oktober 1740, terjadinya rusuhan di Batavia yang meragut nyawa 5,000 orang Cina. Berikutan kejadian ini, ramai orang Cina yang lari ke luar bandaraya dan mengadakan penentangan terhadap Belanda.[5] Setelah pembinaan Koningsplein (Gambir) siap pada tahun 1818, Batavia berkembang ke arah selatan. Pada tahun 1920, Belanda membangunkan kota taman Menteng, dan wilayah ini menjadi tempat baru untuk pembesar Belanda, menggantikan Molenvliet di utara. Pada awal abad ke-20, Batavia di utara, Koningspein, dan Mester Cornelis (Jatinegara) telah terintegrasi menjadi sebuah kota.

Pada 1 Januari 1926, kerajaan Hindia Timur Belanda mengeluarkan peraturan untuk pembaharuan sistem desentralisasi dan penyahtumpuan kuasa yang lebih luas. Di Pulau Jawa dibentuk kerajaan autonom provinsi. Provincie West Java adalah provinsi pertama yang dibentuk di wilayah Hindia Belanda yang dirasmikan dengan surat keputusan bertarikh 1 Januari 1926, dan diundangkan dalam Staatsblad (Lembaran Negara) 1926 No. 326, 1928 No. 27 jo No. 28, 1928 No. 438, dan 1932 No. 507. Batavia menjadi salah satu keresidenan dalam Provincie West Java disamping Banten, Buitenzorg (Bogor), Priangan, dan Cirebon.

Kemerdekaan[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 1942, penjajah Jepun menggantikan nama Batavia menjadi Jakarta untuk menambat hati para penduduk pada Perang Dunia Kedua. Kota ini juga merupakan tempat berlangsungnya Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Ogos 1945, tetapi diduduki oleh Belanda sehingga kedaulatan Indonesia diiktiraf pada tahun 1949.

Sebelum tahun 1959, Djakarta merupakan sebahagian Provinsi Jawa Barat. Pada tahun 1959, taraf Kota Djakarta berubah dari sebuah kotapraja di bawah walikota menjadi daerah tingkat satu (Dati I) yang dipimpin oleh gabenor (gubernur). Gabenor pertamanya ialah Dr. Sumarno Sosroatmodjo, seorang doktor tentera. Pelantikan Gubernur DKI ketika itu dilaksanakan oleh Presiden Sukarno. Pada tahun 1961, status Djakarta diubah dari Daerah Tingkat Satu menjadi Daerah Khusus Ibukota (DKI); Sumarno kekal sebagai gabenornya.[6]

Semenjak diisytiharkan sebagai ibu kota, bilangan penduduk Jakarta meningkat melambung kerana keperluan tenaga kerja kerajaan yang semakin berpusatkan Jakarta. Dalam masa lima tahun, bilang penduduknya berlipat lebih dua kali ganda. Berbilang kantung pemukiman kelas menengah baru kemudian dibangunkan, seperti Kebayoran Baru, Cempaka Putih, Rawamangun, dan Pejompongan. Pusat-pusat pemukiman juga banyak dibangunkan oleh kementerian-kementerian dan institusi-institusi milik negara seperti Perum Perumnas.

Sewaktu zaman pentadbiran Sukarno, Jakarta melakukan pembangunan projek besar, antara lainnya Gelora Bung Karno, Mesjid Istiqlal, dan Monumen Nasional. Pada masa ini pula Poros Medan Merdeka-Thamrin-Sudirman mulai dikembangkan sebagai pusat perniagaan bandaraya, menggantikan poros Medan Merdeka-Senen-Salemba-Jatinegara. Pusat pemukiman besar pertama yang dibuat oleh pihak pembangun swasta adalah Pondok Indah (oleh PT Pembangunan Jaya) pada akhir dasawarsa 1970-an di wilayah Jakarta Selatan.

Banjir merupakan masalah jangka panjang yang terus melanda Jakarta.

Kepesatan pertambahan penduduk ini pernah cuba dibendung oleh gabenor Ali Sadikin pada awal 1970-an dengan menjadikan Jakarta sebagai "kota tertutup" bagi pendatang. Dasar ini nyata tidak berjaya lalu diketepikan oleh kepemimpinan gabenor selanjutnya. Hingga saat ini, Jakarta masih terpaksa bergelut dengan masalah-masalah yang terjadi akibat kepadatan penduduk, seperti banjir, kesesakan lalu lintas, serta kekurangan alat transportasi umum yang memadai.

Pada Mei 1998, terjadinya rusuhan di Jakarta yang menyebabkan ramai penduduk kaum Cina terkorban. Gedung MPR/DPR diduduki oleh para mahasiswa yang menginginkan reformasi. Kesan rusuhan ini adalah perletakan jawatan Presiden Soeharto selaku presiden.

Politik[sunting | sunting sumber]

DKI Jakarta memiliki status khusus sebagai "Daerah Khusus Ibukota". Kota ini dibahagikan kepada lima Majlis Perbandaran (kotamadya) dan satu Pemerintahan Pemangku Raja (kabupaten) iaitu:

Lihat juga Senarai Gabenor DKI Jakarta.

Budaya[sunting | sunting sumber]

Sebagai sebuah ibukota Indonesia, Jakarta menarik pendatang daripada seluruh Indonesia, ini disebabkan oleh pertumbuhan ekonomi yang tidak menyeluruh ke seluruh daerah menyebabkan satu jurang urbanisasi yang besar. Urbanisasi inilah yang membawa kepada pelbagai budaya masuk ke Jakarta. Suku-suku yang mendiami Jakarta ialah Suku Melayu Betawi, Jawa, Sunda, Minang, Batak, dan Tionghoa. Budaya lain yang turut menular di Jakarta adalah bahasa pergaulan yang digunakan oleh golongan remaja. Contohnya: Please donk ah! dan So what gitu loh!. Budaya Betawi sebagai budaya utama tidak diendahkan oleh rakyat tempatan sama ada Indonesia mahupun budaya Barat. Untuk melestarikan budaya Betawi, dibina satu pemulihan budaya di Situ Babakan.

Muzik[sunting | sunting sumber]

Perpaduan berbagai-bagai etnik dan suku kaum membawa kepada kewujudan pelbagai jenis kebudayaan oleh etnik sama ada daripada wilayah di Indonesia ataupun bukan daripada Indonesia. Contohnya kebudayaan daripada Belanda, China, Portugis, Arab dan India. Seni muzik di Jakarta menggambarkan perpaduan tersebut melalui muzik tradisional mahupun moden yang dicipta. Bahkan sehingga kini, Jakarta masih dianggap sebagai sebuah pusat bagi memperkembangan muzik di Indonesia. Terdapat juga pengaruh luar dalam seni muzik tradisional di Jakarta, seperti tanjidor, zilofon dan kromong yang mempunyai pengaruh penggunaan rebab dan trompet tradisional yang bukan berasal daripada Jakarta Sunda. Terdapat juga pengaruh asing daripada Eropah atau muzik tradisional Cina seperti trombon dan gitar.

Tarian[sunting | sunting sumber]

Tari Topeng, salah satu khazanah budaya di Indonesia

Seperti juga budaya dan seni muzik, seni tari di Jakarta merupakan hasil perpaduan antara budaya masyarakat ada di dalamnya. Pada awalnya, seni tari di Jakarta memiliki pengaruh Sunda dan Cina seperti Jaipong yang mengunakan kostum penari khas pemain Opera Beijing. Namun Jakarta boleh dikatakan daerah yang paling dinamik kerana mempunyai seni tari dengan gaya dan koreografi yang dinamik selain seni tari lama.

Cerita rakyat[sunting | sunting sumber]

Selain daripada cerita rakyat Si Pitung, cerita rakyat yang terkenal adalah seperti cerita Jagoan Tulen yang mengisahkan mengenai jawara-jawara betawi. Selain daripada mengisahkan cerita mengenai kehandalan atau kepakaran dalam dunia persilatan, terkenal juga cerita Nyai Dasima yang menggambarkan kehidupan pada zaman penjajah.

Demografi[sunting | sunting sumber]

Jumlah penduduk di Jakarta sekitar 8,792,000 orang (2004) namun pada siang hari, jumlah tersebut akan bertambah seiring dengan kedatangan para pekerja dari bandar-bandar satelit seperti Bekasi, Tangerang, dan Depok. Bahasa yang digunakan di Jakarta adalah Bahasa Indonesia. Bahasa daerah juga digunakan oleh suku kaum minoriti kerana di Jakarta mempunyai berbagai-bagai suku kaum yang berbeza. Oleh sebab itu, bahasa Indonesia sering digunakan sebagai bahasa perantaraan. Selain itu, muncul juga bahasa basahan yang menular dalam kalangan kanak-kanak yang mengandungi bahasa asing.

Masjid Istiqlal di Jakarta, Indonesia

Agama yang dianuti di DKI Jakarta sangat pelbagai termasuk empat agama yang diakui pemerintah Indonesia ialah (Islam, Kristian, Hindu dan Buddha). Tempat beribat agama Islam juga dibina di Jakarta contohnya:

Tempat beribadah agama Kristian Protestan contohnya:

Tempat beribadah agama Kristian Katholik contohnya:

Tempat beribadah agama Buddha contohnya:

Tempat beribadah agama Hindu contohnya:


Menurut data pemerintah DKI pada tahun 2005, komposisi penganut agama di kota ini adalah seperti berikut:[5]

  • Islam 83 %
  • Kristian Protestan 6.2 %
  • Kristian Katolik 5.7 %
  • Hindu 1.2 %
  • Buddhisme 3.5 %

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Pendidikan di DKI Jakarta tersedia dari "playgroup" hingga ke pengajian tinggi. Mutu pendidikan juga sangat pelbagai kerana terdapat tempat pengajian yang mewah yang dijadikan tempat pengajian khususnya di tingkat SD dan SMP. Sejak akhir-akhir ini, muncul pelbagai sekolah yang sistem kurikulumnya diserap daripada negara lain seperti Singapura dan Australia. Sekolah yang mempunyai sistem kurikulum daripada Indonesia juga muncul dengan memiliki pendidikan yang berbeza-beza.

DKI Jakarta juga menjadi lokasi berbagai-bagai universiti yang terkemuka seperti

Pengangkutan[sunting | sunting sumber]

Dalam kota[sunting | sunting sumber]

Keadaan jalan raya di Jakarta

Di DKI Jakarta, terdapat jaringan jalan raya dan jalan bebas yang dibina seluruh kota. Namun perkembangan jumlah kenderaan dengan jumlah jalan sangat tidak seimbang (5-10% dengan 4-5%). Menurut data daripada Perkhidmatam Perhubungan DKI, sebanyak 46 kawasan mempunyai 100 simpang yang mempunyai kesesakan lalulintas, arus yang tidak stabil dan kecepatan yang rendah.

Diantaranya ialah:

  • Kawasan Ancol/Gunung Sahari
  • Kawasan Jatibaru/Tanah Abang
  • Kawasan Kalimalang
  • Kawasan Mampang/Buncit
  • Kawasan Pasar Minggu
  • Kawasan Pondok Indah
  • Kawasan Pulo Gadung
  • Kawasan Tambora.

Jakarta sebagai pusat ekonomi juga turut mengalami kesesakan lalu lintas kerana selain dilalui oleh penduduk DKI sendiri , jalan ini juga digunakan oleh pemandu daripada kota sekitar Jakarta seperti Depok, Bekasi, Tangerang, dan Bogor. Kesesakan dapat dilihat di Sudirman kerana mengambil masa selama berjam-jam untuk pulang ke rumah.

Satu insisiatif dilakukan oleh Pemerintah DKI untuk mengatasi masalah pengangkutan di Jakarta iaitu TransJakarta. TransJakarta menggunakan bas dan halte yang berada dalam jalan khas atau koridor jalan khas untuk bas. Koridor jalan khas untuk bas yang ada di Jakarta adalah;

  • Koridor I Blok M- Stesen Kota
  • Koridor II Pulogadung - Harmoni
  • Koridor III Kalideres - Harmoni
  • Koridor IV Pulogadung - Dukuh Atas
  • Koridor V Kampung Melayu - Anchol
  • Koridor VI Zoo Ragunan - Latuharhary
  • Koridor VII Kampung Melayu - Kampung Rambutan
  • Koridor VIII Lubak Bulus - Harmoni
  • Koridor IX Pinang Ranti - Pluit
  • Koridor X Tanjung Priok - Cililitan Grocery Center
  • Koridor XI Manggarai - Pasar Minggu (belum siap dibina)
Bundaran HI di hari ahad

Selain itu, Pemerintah Daerah DKI juga sedang membangun dua jalur monorail iaitu Green Line dan Blue Line serta membangun MRT (Mass Rapid Transit).

Kemudahan pengangkutan[sunting | sunting sumber]

Untuk ke kota-kota sekitar Pulau Jawa pengguna boleh melalui Jakarta dengan jaringan jalan raya dan beberapa jalan bebas tol yang telah siap dibina. Jalan bebas tol yang paling baru adalah jalan bebas tol Cipularang yang mempercepatkan masa dari Jakarta ke Bandung menjadi sekitar 1.5 jam. Untuk ke Sumatera terdapat Pelabuhan Merak ke Bakauheni.

Lapangan terbang yang terdapat di Jakarta adalah:

Keadaan dan sumber alam[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 2004, Kota Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan pada julung-julung kalinya meraih penghargaan Bangun Praja kategori "Kota Terbersih dan Terindah di Indonesia" (dulu disebut "Adipura").

Kawasan di DKI Jakarta yang simbolik dengan pokok tertentu ialah;

Hingga kini kewujudan pokok tersebut telah menjadi simbolik dengan nama kawasan-kawasan itu. Namun, penebangan pokok tersebut memusnahkan pokok tersebut sebagai identiti sesebuah kawasan di Jakarta ini.

Pelancongan[sunting | sunting sumber]

DKI Jakarta juga memiliki pelbagai tempat tumpuan pelancongan seperti:


Jakarta juga merupakan bandar pelancongan belanja, setaraf dengan Tokyo dan Singapura. Jakarta memiliki pelbagai pusat belanja yang luas dan seronok, seperti:

Pusat Membeli Belah[sunting | sunting sumber]

Pemerintah DKI Jakarta mengutamakan pelancongan di pusat-pusat membeli belah yang terdapat di Jakarta semasa perlaksaan program "Enjoy Jakarta" . Sejak belakangan ini, sudah menjadi tren pembangunan pusat perbelanjaan dari yang mewah hingga ke kedai runcit. Di pusat membeli belah tersebut juga muncul kedai francais luar negara, seperti Starbucks dan McDonald's.

Masalah sosial[sunting | sunting sumber]

Keadaan DKI Jakarta sebagai sebuah pusat ekonomi telah mendorong orang-orang diluar Jakarta dan luar Pulau Jawa untuk membanjiri Jakarta untuk mencari rezeki. Kebanyakkan pendatang yang datang ke Indonesia tidak mempunyai kemahiran dan kepakaran yang khusus sehingga terdapat beberapa masalah pengangguran. Masalah pengangguran ini berkaitan rapat dengan masalah kemiskinan dan jenayah.

Lihat juga[sunting | sunting sumber]

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. Suryodiningrat, Meidyatama (2007-06-22). "Jakarta: A city we learn to love but never to like". The Jakarta Post. Diarkibkan daripada asal pada 2008-02-21. 
  2. "Travel Indonesia Guide – How to appreciate the 'Big Durian' Jakarta". Worldstepper-daworldisntenough.blogspot.com. 8 April 2008. Diperoleh pada 27 April 2010. 
  3. "A Day in J-Town". Jetstar Magazine. April 2012. Diperoleh pada 2 January 2013. 
  4. Data Jun 2007 berasal dari Dinas Kependudukan Dan Catatan Sipil Provinsi DKI Jakarta
  5. Wijayakusuma, H.M. Hembing. Pembantaian Massal 1740, Tragedi Berdarah Angke. Pustaka Populer Obor. 
  6. Jakarta 1960-an: Kenangan Semasa Mahasiswa, Firman Lubis, Masuo Jakarta, 2008 ISBN 979-3731-46-X