Gunung Tambora

Daripada Wikipedia, ensiklopedia bebas.
Lompat ke: pandu arah, cari
Gunung Tambora
Topografi Sumbawa; kaldera Tambora terletak di semenanjung utara.
Ketinggian 2,722 m (8,930 ka) [1][2]
Tonjolan 2,722 m (8,930 ka) [3][1]
Senarai Ultra
Ribu
Lokasi
Lokasi Kepulauan Sunda Kecil, Indonesia
Koordinat 8°15′S 118°0′T / 8.25°S 118°T / -8.25; 118Koordinat: 8°15′S 118°0′T / 8.25°S 118°T / -8.25; 118
Geologi
Jenis Stratovolcano/Komposit
Letusan terakhir 1967[1]

Gunung Tambora (atau Tomboro) ialah sebuah stratovolcano aktif yang terletak di pulau Sumbawa, Indonesia. Gunung ini terletak di dua kabupaten, iaitu Kabupaten Dompu (sebahagian kaki sisi selatan sampai barat laut, dan Kabupaten Bima (bahagian lereng sisi selatan hingga barat laut, dan kaki hingga puncak sisi timur hingga utara), Provinsi Nusa Tenggara Barat, tepatnya pada 8°15' LS dan 118° BT. Gunung ini terletak baik di sisi utara dan selatan kerak lautan. Tambora terbentuk oleh zon benam di bawahnya. Hal ini meningkatkan ketinggian Tambora sampai 4,300 m[4] yang membuat gunung ini pernah menjadi salah satu puncak tertinggi di Nusantara dan mengeringkan ruang magma besar di dalam gunung ini. Ia perlu waktu seabad untuk mengisi kembali ruang magma tersebut.

Aktiviti gunung berapi ini mencapai puncaknya pada bulan April tahun 1815 ketika meletus dalam skala tujuh pada Volcanic Explosivity Index.[5] Letusan tersebut menjadi letusan terbesar sejak letusan Tasik Taupo pada tahun 181.[6] Letusan gunung ini terdengar hingga pulau Sumatera (lebih dari 2,000 km). Abu gunung berapi jatuh di Kalimantan, Sulawesi, Jawa dan Maluku. Letusan gunung ini menyebabkan kematian hingga tidak kurang dari 71,000 orang dengan 11,000—12,000 di antaranya terbunuh secara langsung akibat letusan tersebut.[6] Bahkan beberapa peneliti memperkirakan sampai 92,000 orang terbunuh, tetapi angka ini diragukan kerana berdasarkan atas perkiraan yang terlalu tinggi.[7] Lebih dari itu, letusan gunung ini menyebabkan perubahan iklim dunia. Satu tahun berikutnya (1816) sering disebut sebagai Tahun tanpa musim panas kerana perubahan drastik cuaca Amerika Utara dan Eropah akibat debu yang dihasilkan dari letusan Tambora ini. Disebabkan perubahan iklim yang drastik ini banyak tuaian yang gagal dan kematian haiwan ternakan di Hemisfera Utara yang menyebabkan terjadinya kebuluran terburuk pada abad ke-19.[6]

Dalam penggalian arkeologi tahun 2004, pasukan arkeologi menemukan sisa kebudayaan yang terkubur oleh letusan tahun 1815 di kedalaman 3 meter pada endapan piroklastik.[8] Artifak-artifak tersebut ditemukan pada kedudukan yang sama ketika terjadi letusan di tahun 1815. Kerana ciri-ciri yang serupa inilah, temuan tersebut sering disebut sebagai Pompeii dari timur.

Geografi[sunting | sunting sumber]

Pemandangan gunung Tambora dan sekelilingnya dari udara.

Gunung Tambora terletak di pulau Sumbawa yang merupakan bahagian dari kepulauan Nusa Tenggara. Gunung ini adalah bahagian dari busur Sunda, tali dari kepulauan vulkanik yang membentuk rantai selatan kepulauan Indonesia.[9] Tambora membentuk semenanjungnya sendiri di pulau Sumbawa yang disebut semenanjung Sanggar. Di sisi utara semenanjung tersebut, terdapat laut Flores, dan di sebelah selatan terdapat teluk Saleh dengan panjang 86 km dan lebar 36 km. Pada mulut teluk Saleh, terdapat pulau kecil yang disebut Mojo.

Selain seismologis dan vulkanologis yang mengamati aktiviti gunung tersebut, gunung Tambora adalah daerah untuk penyelidikan ilmiah arkeologi dan biologi. Gunung ini juga menarik pelancong untuk mendaki gunung dan aktiviti melihat flora dan fauna.[10][11] Dompu dan Bima adalah bandar yang letaknya paling dekat dengan gunung ini. Di lereng gunung Tambora, terdapat beberapa kampung. Di sebelah timur terdapat kampung Sanggar. Di sebelah barat laut, terdapat kampung Doro Peti dan kampung Pesanggrahan. Di sebelah barat, terdapat perkampungan Calabai.

Terdapat dua jalur pendakian untuk mencapai kaldera gunung Tambora. Laluan pertama dimulai dari perkampungan Doro Mboha yang terletak di sisi tenggara gunung Tambora. Laluan ini mengikuti jalan berturap melalui perkebunan kacang sampai akhirnya mencecah ketinggian 1.150 m di atas permukaan laut. Laluan ini berakhir di bahagian selatan kaldera dengan ketinggian 1.950 m yang dapat dicapai oleh titik pertengahan jalur pendakian.[12] Lokasi ini biasanya digunakan sebagai khemah untuk mengamati aktiviti vulkanik kerana hanya memerlukan waktu satu jam untuk mencapai kaldera. Laluan kedua dimulai dari desa Pancasila di sisi barat laut gunung Tambora. Jika menggunakan laluan kedua, maka kaldera hanya dapat dicapai dengan berjalan kaki.[12]

Sejarah geologi[sunting | sunting sumber]

Pembentukan[sunting | sunting sumber]

Tambora terbentang 340 km di sebelah utara sistem palung Jawa dan 180-190 km di atas zon benam. Gunung ini terletak baik di sisi utara dan selatan kerak oseanik.[13] Gunung ini memiliki laju konvergensi sebesar 7.8 cm per tahun.[14] Tambora diperkirakan telah berada di bumi sejak 57.000 BP (penanggalan radiokarbon standard).[5] Ketika gunung ini meninggi akibat proses geologi di bawahnya, dapur magma yang besar ikut terbentuk dan sekaligus mengosongkan isi magma. Pulau Mojo pun ikut terbentuk sebagai bahagian dari proses geologi ini di mana teluk Saleh pada awalnya merupakan cekungan lautan (sekitar 25.000 BP).[5]

Menurut penyelidikan geologi, kerucut vulkanik yang tinggi sudah terbentuk sebelum letusan tahun 1815 dengan ciri yang sama dengan bentuk stratovolcano.[15] Diameter lubang tersebut mencapai 60 km.[9] Lubang utama sering kali memancarkan lava yang mengalir turun secara teratur dengan deras ke lereng yang curam.

Sejak letusan tahun 1815, pada bahagian paling bawah terdapat endapan lava dan material piroklastik. Kira-kira 40% dari lapisan diwakili oleh 1-4 m aliran lava tipis.[15] Scoria tipis diproduksi oleh fragmentasi aliran lava. Pada bahagian atas, lava ditutup oleh scoria, tuff dan bebatuan piroklastik yang mengalir ke bawah.[15] Pada gunung Tambora, terdapat 20 kawah.[14] Beberapa kawah memiliki nama, misalnya Tahe (877 m), Molo (602 m), Kadiendinae, Kubah (1648 m) dan Doro Api Toi. Kawah tersebut juga memproduksi aliran lava basal.

Sejarah letusan[sunting | sunting sumber]

Dengan menggunakan teknik penanggalan radiokarbon, dinyatakan bahawa gunung Tambora telah meletus tiga kali sebelum letusan tahun 1815, tetapi besarnya letusan tidak diketahui.[16] Perkiraan tanggal letusannya ialah tahun 3910 SM ± 200 tahun, 3050 SM dan 740 ± 150 tahun. Ketiga letusan tersebut memiliki ciri letusan yang sama. Masing-masing letusan memiliki letusan di lubang utama, tetapi terdapat pengecualian untuk letusan ketiga. Pada letusan ketiga, tidak terdapat aliran piroklastik.

Pada tahun 1812, gunung Tambora menjadi lebih aktif, dengan puncak letusannya terjadi pada bulan April tahun 1815.[16] Besar letusan ini masuk ke dalam skala tujuh Volcanic Explosivity Index (VEI), dengan jumlah semburan tefrit sebesar 1.6 × 1011 meter padu.[16] Ciri letusannya termasuk letusan di lubang utama, aliran piroklastik, korban jiwa, kerosakan tanah dan lahan, tsunami dan runtuhnya kaldera. Letusan ketiga ini mempengaruhi iklim global dalam waktu yang lama. Aktiviti Tambora setelah letusan tersebut baru berhenti pada tanggal 15 Julai 1815.[16] Aktiviti selanjutnya kemudian terjadi pada bulan Ogos tahun 1819 dengan adanya letusan-letusan kecil dengan api dan bunyi gemuruh disertai gempa yang dianggap sebagai bahagian dari letusan tahun 1815.[6] Letusan ini masuk dalam skala kedua pada skala VEI. Sekitar tahun 1880 ± 30 tahun, Tambora kembali meletus, tetapi hanya di dalam kaldera.[16] Letusan ini membuat aliran lava kecil dan penyemperitan kubah lava, yang kemudian membentuk kawah baru bernama Doro Api Toi di dalam kaldera.[17]

Gunung Tambora masih berstatus aktif. Kubah lava kecil dan aliran lava masih terjadi pada lantai kaldera pada abad ke-19 dan abad ke-20.[1] Letusan terakhir terjadi pada tahun 1967,[16] yang disertai dengan gempa dan terukur pada skala 0 VEI, yang bererti letusan terjadi tanpa disertai dengan ledakan.

Letusan tahun 1815[sunting | sunting sumber]

Kronologi letusan[sunting | sunting sumber]

Daerah yang diperkirakan terkena abu letusan Tambora tahun 1815. Daerah merah menunjukkan ketebalan abu vulkanik. Abu tersebut mencapai pulau Kalimantan dan Sulawesi (ketebalan 1 cm).

Gunung Tambora mengalami ketidakaktifan selama beberapa abad sebelum tahun 1815, dikenal dengan nama gunung berapi tidur, yang merupakan hasil dari penyejukan hydrous magma di dalam dapur magma yang tertutup.[9] Di dalam dapur magma dalam kedalaman sekitar 1,5-4,5 km, larutan padat dari cecair magma bertekanan tinggi terbentuk pada saat penyejukan dan pengkristalan magma. Tekanan di bilik makmal sekitar 4-5 kbar muncul dan suhu sebesar 700 °C-850 °C.[9]

Pada tahun 1812, kaldera gunung Tambora mulai bergemuruh dan menghasilkan awan hitam.[4] Pada tanggal 5 April 1815, letusan terjadi, diikuti dengan suara guruh yang terdengar di Makassar, Sulawesi (380 km dari gunung Tambora), Batavia (kini Jakarta) di pulau Jawa (1.260 km dari gunung Tambora), dan Ternate di Maluku (1400 km dari gunung Tambora). Suara guruh ini terdengar sampai ke pulau Sumatera pada tanggal 10-11 April 1815 (lebih dari 2.600 km dari gunung Tambora) yang awalnya dianggap sebagai suara tembakan senapang.[18] Pada pagi hari tanggal 6 April 1815, abu vulkanik mulai jatuh di Jawa pasukanur dengan suara guruh terdengar sampai tanggal 10 April 1815.

Pada pukul 7:00 malam tanggal 10 April, letusan gunung ini semakin kuat.[4] Tiga lajur api terpancar dan bergabung.[18] Seluruh pergunungan berubah menjadi aliran besar api.[18] Batuan apung dengan diameter 20 cm mulai menghujani pada pukul 8:00 malam, diikuti dengan abu pada pukul 9:00-10:00 malam. Aliran piroklastik panas mengalir turun menuju laut di seluruh sisi semenanjung, memusnahkan desa Tambora. Ledakan besar terdengar sampai sore tanggal 11 April. Abu menyebar sampai Jawa Barat dan Sulawesi Selatan. Bau "nitrat" tercium di Batavia dan hujan besar yang disertai dengan abu tefrit jatuh, akhirnya reda antara tanggal 11 dan 17 April 1815.[4]

Letusan pertama terdengar di pulau ini pada petang tanggal 5 April, mereka menyedarinya setiap seperempat jam, dan terus berlanjut dengan jarak waktu sampai hari selanjutnya. Suaranya, pada contoh pertama, hampir dianggap suara meriam; sangat banyak sehingga sebuah pasukan tentera bergerak dari Jogjakarta, dengan perkiraan bahawa pos terdekat diserang, dan sepanjang pesisir, perahu-perahu dikirimkan pada dua kesempatan dalam pencarian sebuah kapal yang semestinya berada dalam keadaan darurat.

— Laporan Thomas Stamford Raffles.[18]

Letusan tersebut masuk dalam skala tujuh pada skala Volcanic Explosivity Index.[19] Letusan ini empat kali lebih kuat daripada letusan gunung Krakatau tahun 1883. Diperkirakan 100 km³ piroklastik trakiandesit dikeluarkan, dengan perkiraan massa 1,4×1014 kg.[6] Hal ini meninggalkan kaldera dengan ukuran 6-7 km dan kedalaman 600-700 m.[4] Massa jenis abu yang jatuh di Makassar sebesar 636 kg/m².[20] Sebelum letusan, gunung Tambora memiliki ketinggian kira-kira 4.300 m,[4] salah satu gunung tertinggi di Indonesia. Setelah letusan, tinggi gunung ini hanya setinggi 2.851 m.[21]

Letusan Tambora tahun 1815 adalah letusan terbesar di sejarah.[4][6] Letusan gunung ini terdengar sejauh 2.600 km, dan abu jatuh setidaknya sejauh 1.300 km.[4] Kegelapan terlihat sejauh 600 km dari puncak gunung selama lebih dari dua hari. Aliran piroklastik menyebar setidaknya 20 km dari puncak.

Akibat[sunting | sunting sumber]

Semua tumbuh-tumbuhan di pulau hancur. Pohon yang tumbang, bercampur dengan abu batu apung masuk ke laut dan membentuk rakit dengan jarak lintas melebihi 5 km .[4] Rakit batu apung lainnya ditemukan di Lautan Hindi, di dekat Kolkata pada tanggal 1 dan 3 Oktober 1815.[6] Awan dengan abu tebal masih menyelimuti puncak pada tanggal 23 April. Ledakan berhenti pada tanggal 15 Julai, walaupun emisi asap masih terlihat pada 23 Ogos. Api dan gempa susulan dilaporkan terjadi pada bulan Ogos tahun 1819, empat tahun setelah letusan.

Dalam perjalananku menuju bahagian barat pulau, aku hampir melewati seluruh Dompo dan banyak bahagian dari Bima. Kesengsaraan besar-besaran terhadap penduduk yang berkurang memberikan pukulan hebat terhadap penglihatan. Masih terdapat mayat di jalan dan tanda banyak lainnya telah terkubur: desa hampir sepenuhnya ditinggalkan dan rumah-rumah rubuh, penduduk yang selamat kesulitan mencari makanan.
...
Sejak letusan, diare menyerang warga di Bima, Dompo, dan Sang’ir, yang menyerang jumlah penduduk yang besar. Diduga penduduk minum air yang terkontaminasi abu, dan kuda juga meninggal, dalam jumlah yang besar untuk masalah yang sama.

—Leftenan Philips diperintahkan Sir Stamford Raffles untuk pergi ke Sumbawa.[18]

Tsunami besar menyerang pantai beberapa pulau di Indonesia pada tanggal 10 April, dengan ketinggian di atas 4 m di Sanggar pada pukul 10:00 malam.[4] Tsunami setinggi 1-2 m dilaporkan terjadi di Besuki, Jawa pasukanur sebelum tengah malam dan tsunami setinggi 2 m terjadi di Maluku.

Tinggi asap letusan mencapai stratosfera, dengan ketinggian lebih dari 43 km.[6] Partikel abu jatuh 1 sampai 2 minggu setelah letusan, tetapi terdapat partikel abu yang tetap berada di atmosfera bumi selama beberapa bulan sampai beberapa tahun pada ketinggian 10-30 km.[4] Angin bujur menyebarkan partikel tersebut di sekeliling dunia, membuat terjadinya fenomena. Matahari terbenam yang berwarna dan senja terlihat di London, Inggeris antara tanggal 28 Jun dan 2 Julai 1815 dan 3 September dan 7 Oktober 1815.[4] Pancaran cahaya langit senja muncul berwarna orange atau merah di dekat ufuk langit dan ungu atau merah muda di atas.

Jumlah perkiraan kematian bervariasi, tergantung dari sumber yang ada. Zollinger (1855) memperkirakan 10.000 orang meninggal kerana aliran piroklastik. Di pulau Sumbawa, terdapat 38.000 kematian kerana kelaparan, dan 10.000 lainnya kerana penyakit dan kelaparan di pulau Lombok.[22] Petroeschevsky (1949) memperkirakan sekitar 48.000 dan 44.000 orang terbunuh di Sumbawa dan Lombok.[23] Beberapa pengarang menggunakan figur Petroeschevsky, seperti Stothers (1984), yang menyatakan jumlah kematian sebesar 88.000 jiwa.[4] Tanguy (1998) mendakwa figur Petroeschevsky tidak dapat ditemukan dan berdasarkan rujukan yang tidak dapat dilacak.[7] Tanguy merevisi jumlah kematian berdasarkan dua sumber, sumber dari Zollinger, yang menghabiskan beberapa bulan di Sumbawa setelah letusan dan catatan Raffles.[18] Tanguy menunjukkan bahawa terdapat banyak korban di Bali dan Jawa pasukanur kerana penyakit dan kelaparan. Diperkirakan 11.000 meninggal kerana pengaruh gunung berapi langsung dan 49.000 oleh penyakit epidemik dan kelaparan setelah letusan.[7] Oppenheimer (2003) menyatakan jumlah kematian lebih dari 71.000 jiwa seperti yang terlihat di jadual di bawah.[6]

Perbandingan letusan gunung Tambora dan letusan gunung lainnya
Letusan Tahun Tinggi asap (km)  VEI  Perubahan musim panas Belahan bumi utara (°C) Kematian
Taupo 181 51 7  ? tidak diketahui
Baekdu 969 25 6–7  ?  ?
Kuwae 1452  ? 6 −0,5  ?
Huaynaputina 1600 46 6 −0,8 ≈1400
Tambora 1815 43 7 −0,5 > 71.000
Krakatau 1883 25 6 −0,3 36.600
Santamaría 1902 34 6 tidak terdapat perubahan 7.000-13.000
Katmai 1912 32 6 −0,4 2
Gunung St. Helens 1980 19 5 tidak terdapat perubahan 57
El Chichón 1982 32 4–5  ? > 2.000
Nevado del Ruiz 1985 27 3 tidak terdapat perubahan 23.000
Pinatubo 1991 34 6 −0,5 1202
Sumber: Oppenheimer (2003),[6] dan Smithsonian Global Volcanism Program untuk VEI.[24]

Pengaruh global[sunting | sunting sumber]

Jumlah konsentrasi sulfat di inti ais dari Greenland tengah, tarikh tahun dihitung dengan variasi isotop oksigen musiman. Terdapat letusan yang tidak diketahui pada tahun 1810-an. Sumber: Dai (1991).[25]

Letusan gunung Tambora tahun 1815 mengeluarkan sulfur ke stratosfera, menyebabkan penyimpangan iklim global. kaedah berbeza telah memperkirakan banyaknya sulfur yang dikeluarkan selama letusan: kaedah petrologi, sebuah pengukuran berdasarkan pengamatan anatomi, dan kaedah konsentrasi sulfat inti ais, menggunakan ais dari Greenland dan Antartika. Figur beragam tergantung dari kaedah, berjarak dari 10 Tg S sampai 120 Tg S.[6]

Pada musim luruh dan musim panas tahun 1816, sebuah kabut kering terlihat di pasukanur laut Amerika Syarikat. Kabut tersebut memerahkan dan mengurangi cahaya matahari, seperti bintik pada matahari yang terlihat dengan mata telanjang. Baik angin atau hujan tidak dapat menghilangkan "kabut" tersebut. "Kabut" tersebut diidentifikasikan sebagai kabut aerosol sulfat stratosfera.[6] Pada musim panas tahun 1816, negara di Hemisfera Utara menderita kerana kondisi cuaca yang berubah, disebut sebagai Tahun tanpa musim panas. Suhu normal dunia berkurang sekitar 0,4-0,7 °C,[4] cukup untuk menyebabkan permasalahan pertanian di dunia. Pada tanggal 4 Jun 1816, cuaca penuh ais dilaporkan di Connecticut, dan pada hari berikutnya, hampir seluruh New England digenggam oleh dingin. Pada tanggal 6 Jun 1816, salji turun di Albany, New York, dan Dennysville, Maine.[6] Kondisi serupa muncul untuk setidaknya tiga bulan dan menyebabkan gagal tuai di Amerika Utara. Kanada mengalami musim panas yang sangat dingin. Salji setebal 30 cm terhimpun di dekat Kota Quebec dari tanggal 6 sampai 10 Jun 1816.

1816 adalah tahun terdingin kedua di Belahan Bumi Utara sejak tahun 1400 Masihi, setelah letusan gunung Huaynaputina di Peru tahun 1600.[19] Tahun 1810-an adalah dekad terdingin dalam rekod sebagai hasil dari letusan Tambora tahun 1815 dan lainnya menduga letusan terjadi antara tahun 1809 dan tahun 1810. Perubahan temperatur permukaan selama musim panas tahun 1816, 1817 dan tahun 1818 sebesar -0,51, -0,44 dan -0,29 °C,[19] dan juga musim panas yang lebih dingin, bahagian dari Eropah mengalami badai salju yang lebih deras.

Latar belakang perubahan iklim disalahkan untuk terjadinya wabah tifus di tenggara Eropah dan Laut Tengah bahagian pasukanur di antara tahun 1816 dan tahun 1819.[6] Banyak ternak meninggal di New England selama musim dingin tahun 1816-1817. Suhu udara yang dingin dan hujan besar menyebabkan gagal panen di Kepulauan Britain. Keluarga-keluarga di Wales mengungsi dan mengemis untuk makanan. Kelaparan merata di Ireland utara dan barat daya kerana gandum, haver dan kentang mengalami gagal panen. Krisis terjadi di Jerman, harga makanan naik dengan tajam. Akibat kenaikan harga yang tidak diketahui menyebabkan terjadinya demonstrasi di depan pasar dan toko roti yang diikuti dengan kerusuhan, pembakaran rumah dan perampokan yang terjadi di banyak kota-kota di Eropah. Hal ini adalah kelaparan terburuk yang terjadi pada abad ke-19.[6]

Bukti arkeologi[sunting | sunting sumber]

Pada musim panas tahun 2004, pasukan dari Universiti Rhode Island, Universiti North Carolina di Wilmington, dan direktorat vulkanologi Indonesia, dipimpin oleh Haraldur Sigurdsson, memulai sebuah penggalian arkeologi di gunung Tambora.[8] Setelah enam minggu, pasukan tersebut menggali bukti adanya kebudayaan yang hilang yang musnah kerana letusan gunung Tambora. Tapak tersebut terletak 25 km sebelah barat kaldera, di dalam hutan, 5 km dari pantai. pasukan tersebut harus melewati endapan batu apung vulkanik dan abu dengan tebal 3 m.

Tim tersebut menggunakan radar penembus tanah untuk mencari lokasi rumah kecil yang terkubur. Mereka menggali kembali rumah dan mereka menemukan sisa dua orang dewasa, dan juga mangkuk perunggu, peralatan besi dan artifak lainnya. Reka bentuk dan dekorasi artifak memiliki kesamaan dengan artifak dari Vietnam dan Kemboja.[8] Uji cuba dilakukan menggunakan teknik karbonisasi memperjelas bahawa mereka terbentuk dari pensil arang yang dibentuk oleh panas magma. Semua orang, rumah dan kebudayaan dibiarkan seperti saat mereka berada tahun 1815. Sigurdsson menyebut kebudayaan ini sebagai Pompeii dari pasukanur.[26][27] Berdasarkan artifak yang ditemukan, yang majoriti benda perunggu, pasukan menyatakan bahawa orang-orang tersebut tidak miskin. Bukti sejarah menunjukkan bahawa orang di pulau Sumbawa terkenal di Hindia pasukanur untuk madu, kuda, kayu sepang (caesalpinia sappan), memproduksi dye merah, dan cendana yang digunakan untuk dupa dan pengubatan.[8] Daerah ini diketahui produktif dalam bidang pertanian.

Penemuan arkeologi memperjelas bahawa terdapat kebudayaan yang hancur kerana letusan tahun 1815. Sebutan Kerajaan Tambora yang hilang disebut oleh media.[28][29] Dengan penemuan ini, Sigurdsson bermaksud untuk kembali ke Tambora tahun 2007 untuk mencari sisa desa, dan berharap dapat menemukan istana.[8]

Ekosistem[sunting | sunting sumber]

Tim penelitian yang dipimpin oleh ahli botani Switzerland, Heinrich Zollinger, tiba di pulau Sumbawa tahun 1847.[30] Misi Zollinger adalah untuk mempelajari letusan dan pengaruhnya terhadap ekosistem tempatan. Ia adalah orang pertama yang memanjat ke puncak gunung Tambora setelah letusan gunung tersebut. Gunung tersebut masih tertutup oleh asap. Ketika Zollinger memanjat, kakinya tenggelam beberapa kali melalui kerak permukaan tipis menuju lapisan hangat yang seperti sulfur. Beberapa tumbuh-tumbuhan kembali tumbuh dan beberapa pohon diamati di lereng yang lebih rendah. Hutan Casuarina dicatat pada 2.200-2.550 m.[31] Beberapa Imperata cylindrica juga dapat ditemukan.

Penduduk mulai tinggal di gunung Tambora pada tahun 1907. Penanaman kopi dimulai pada tahun 1930-an di lereng bahagian barat laut gunung Tambora, di desa Pekat.[32] Hutan hujan yang disebut Duabangga moluccana telah tumbuh dengan ketinggian 1.000-2.800 m.[32] Penanaman tersebut mencakupi daerah seluas 80.000 hektar (800 km²). Hutan hujan ditemukan oleh pasukan Belanda, dipimpin oleh Koster dan De Voogd tahun 1933.[32] Mereka memulai perjalanan di "daerah hampir tandus, kering dan panas" dan mereka memasuki "hutan hebat" dengan "raksasa hutan yang besar dan megah". Pada ketinggian 1.100 m, mereka memasuki hutan montane. Pada ketinggian 1.800 m , mereka menemukan Dodonaea viscosa yang didominasi oleh pohon Casuarina. Di puncak, mereka menemukan sedikit Anaphalis viscida dan Wahlenbergia.

56 spesies burung ditemukan tahun 1896, termasuk Crested White-eye.[33] 12 spesies lainnya ditemukan pada tahun 1981. Beberapa penelitian ahli ilmu haiwan menemukan spesies burung lainnya di gunung, menghasilkan ditemukannya lebih dari 90 spesies burung. Kakatua-kecil Jambul-kuning, Murai Asia, Tiong Emas, Ayam hutan Hijau dan Perkici Pelangi diburu untuk dijual dan dipelihara oleh penduduk setempat. Gosong berkaki-jingga diburu untuk dimakan. Eksploitasi burung menyebabkan berkurangnya populasi burung. Yellow-crested Cockatoo hampir punah di pulau Sumbawa.[33]

Sejak tahun 1972, perusahaan penebangan komersial telah beroperasi di daerah ini, yang menyebabkan ancaman terhadap hutan hujan. Perusahaan penebangan memegang izin untuk menebang kayu di daerah seluas 20.000 hektar (200 km²), atau 25% dari jumlah luas daerah.[32] Bahagian hutan hujan lainnya digunakan untuk berburu. Di antara tanah berburu dan tanah penebangan, terdapat cagar alam, temat rusa, kerbau, babi hutan, kelawar, rubah terbang, dan berbagai spesies reptilia dan burung dapat ditemukan.[32]

Pengamatan[sunting | sunting sumber]

Populasi Indonesia meningkat dengan cepat sejak letusan tahun 1815. Pada tahun 2006, populasi Indonesia telah mencapai 222 juta jiwa,[34] dan 130 juta penduduk berada di pulau Jawa dan Bali.[35] Sebuah letusan gunung berapi sebesar letusan Tambora tahun 1815 akan menyebabkan kematian yang lebih besar, sehingga aktivitas vulkanik di Indonesia terus diamati, termasuk gunung Tambora.

Aktivitas seismologi di Indonesia diamati oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Indonesia. Pos pengamatan untuk gunung Tambora terletak di desa Doro Peti.[36] Mereka memfokuskan aktivitas seismik dan tektonik dengan menggunakan seismometer. Sejak letusan tahun 1880, tidak terdapat peningkatan aktivitas seismik.[37] Pengamatan terus dilakukan di dalam kaldera, terutama di kawah Doro Api Toi.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi telah menegaskan peta mitigasi bahaya gunung Tambora. Dua zon yang dinyatakan adalah zon bahaya dan zon waspada.[36] Zon bahaya adalah daerah yang secara langsung terpengaruh oleh letusan: aliran piroklastik, aliran lava dan jatuhnya piroklastik lainnya. Daerah ini, termasuk kaldera dan sekelilingnya, meliputi daerah seluas 58,7 km². Orang dilarang tinggal di zon berbahaya. Zon waspada termasuk daerah yang mungkin dapat secara langsung terpengaruh oleh letusan: aliran lahar dan batuan apung lainnya. Luas dari daerah waspada sebesar 185 km², termasuk desa Pasanggrahan, Doro Peti, Rao, Labuan Kenanga, Gubu Ponda, Kawindana Toi dan Hoddo. Sungai yang disebut sungai Guwu yang terletak di bahagian selatan dan barat laut gunung Tambora juga dimasukkan ke dalam zon waspada.[36]

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. 1.0 1.1 1.2 1.3 "Tambora". Global Volcanism Program. Smithsonian Institution. http://www.volcano.si.edu/world/volcano.cfm?vnum=0604-04=. 
  2. "MOUNTAINS OF THE INDONESIAN ARCHIPELAGO". Peaklist. Peaklist.org. http://www.peaklist.org/WWlists/ultras/indonesia.html. Capaian 2009-05-01. 
  3. "Gunung Tambora". Peakbagger. Peakbagger.com. http://www.peakbagger.com/peak.aspx?pid=11008. Capaian 2009-05-01. 
  4. 4.00 4.01 4.02 4.03 4.04 4.05 4.06 4.07 4.08 4.09 4.10 4.11 4.12 4.13 Richard B. Stothers (1984). "The Great Tambora Eruption in 1815 and Its Aftermath". Science 224 (4654): 1191–1198. http://dx.doi.org/10.1126/science.224.4654.1191. 
  5. 5.0 5.1 5.2 Degens, E.T.; Buch, B (1989). "Sedimentological events in Saleh Bay, off Mount Tambora". Netherlands Journal of Sea Research 24 (4): 399–404. http://dx.doi.org/10.1016/0077-7579(89)90117-8. 
  6. 6.00 6.01 6.02 6.03 6.04 6.05 6.06 6.07 6.08 6.09 6.10 6.11 6.12 6.13 6.14 Oppenheimer, Clive (2003). "Climatic, environmental and human consequences of the largest known historic eruption: Tambora volcano (Indonesia) 1815". Progress in Physical Geography 27 (2): 230–259. http://dx.doi.org/10.1191/0309133303pp379ra. 
  7. 7.0 7.1 7.2 Tanguy, J.-C.; Scarth, A., Ribière, C., Tjetjep, W. S. (1998). "Victims from volcanic eruptions: a revised database". Bulletin of Volcanology 60 (2): 137–144. http://dx.doi.org/10.1007/s004450050222. 
  8. 8.0 8.1 8.2 8.3 8.4 Universiti Rhode Island (2006-02-27). URI volcanologist discovers lost kingdom of Tambora. Kenyataan akhbar. Dicapai pada 2006-10-6.
  9. 9.0 9.1 9.2 9.3 Foden, J. (1986). "The petrology of Tambora volcano, Indonesia: A model for the 1815 eruption". Journal of Volcanology and Geothermal Research 27 (1–2): 1–41. http://dx.doi.org/10.1016/0377-0273(86)90079-X. 
  10. "Hobi Mendaki Gunung - Menyambangi Kawah Raksasa Gunung Tambora", Sinar Harapan, 2003. Dicapai pada 14 November. (Indonesia) 
  11. Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat dan pasukanur. Potential Tourism as Factor of Economic Development in the Districts of Bima and Dompu. Kenyataan akhbar. Dicapai pada 14 November.
  12. 12.0 12.1 Aswanir Nasution. "Tambora, Nusa Tenggara Barat" (dalam bahasa dalam bahasa Indonesia). Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Indonesia. http://merapi.vsi.esdm.go.id/?static/volcano/tambora/main.html. Capaian 13 November. 
  13. Foden, J; Varne, R. (1980). "The petrology and tectonic setting of Quaternary—Recent volcanic centres of Lombok and Sumbawa, Sunda arc". Chemical Geology 30 (3): 201–206. http://dx.doi.org/10.1016/0009-2541(80)90106-0. 
  14. 14.0 14.1 Sigurdsson, H.; Carey, S. (1983). "Plinian and co-ignimbrite tephra fall from the 1815 eruption of Tambora volcano". Bulletin of Volcanology 51 (4): 243–270. http://dx.doi.org/10.1007/BF01073515. 
  15. 15.0 15.1 15.2 "Geology of Tambora Volcano". Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. http://www.vsi.esdm.go.id/volcanoes/tambora/geology.html. Capaian 10 Oktober. 
  16. 16.0 16.1 16.2 16.3 16.4 16.5 "Tambora Eruptive History". Global Volcanism Program. Smithsonian Institution. http://www.volcano.si.edu/world/volcano.cfm?vnum=0604-04=&volpage=erupt. Capaian 13 November. 
  17. "Tambora Historic Eruptions and Recent Activities". Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. http://www.vsi.esdm.go.id/volcanoes/tambora/history.html. Capaian 13 November. 
  18. 18.0 18.1 18.2 18.3 18.4 18.5 Raffles, S. 1830: Memoir of the life and public services of Sir Thomas Stamford Raffles, F.R.S. &c., particularly in the government of Java 1811–1816, and of Bencoolen and its dependencies 1817–1824: with details of the commerce and resources of the eastern archipelago, and selections from his correspondence. London: John Murray, cited by Oppenheimer (2003).
  19. 19.0 19.1 19.2 Briffa, K.R.; Jones, P.D., Schweingruber, F.H. and Osborn T.J.. "Influence of volcanic eruptions on Northern Hemisphere summer temperature over 600 years". Nature 393: 450–455. http://dx.doi.org/10.1038/30943. 
  20. Stothers, Richard B. (2004). "Density of fallen ash after the eruption of Tambora in 1815". Journal of Volcanology and Geothermal Research 134: 343–345. http://dx.doi.org/10.1016/j.jvolgeores.2004.03.010. 
  21. Monk, K.A.; Fretes, Y., Reksodiharjo-Lilley, G. (1996). The Ecology of Nusa Tenggara and Maluku. Hong Kong: Periplus Editions Ltd.. m/s. hal. 60. ISBN 962-593-076-0. 
  22. Zollinger (1855): Besteigung des Vulkans Tamboro auf der Insel Sumbawa und Schiderung der Eruption desselben im Jahren 1815, Wintherthur: Zurcher and Fürber, Wurster and Co., cited by Oppenheimer (2003).
  23. Petroeschevsky (1949): A contribution to the knowledge of the Gunung Tambora (Sumbawa). Tijdschrift van het K. Nederlandsch Aardrijkskundig Genootschap, Amsterdam Series 2 66, 688–703, cited by Oppenheimer (2003).
  24. "Large Holocene Eruptions". Global Volcanism Program. Smithsonian Institution. http://www.volcano.si.edu/world/largeeruptions.cfm. Capaian 7 November. 
  25. Dai, J.; Mosley-Thompson and L.G. Thompson (1991). "Ice core evidence for an explosive tropical volcanic eruption six years preceding Tambora". Journal of Geophysical Research (Atmospheres) 96: 17,361–17,366. 
  26. "'Pompeii of the East' discovered", BBC News, 28 Februari 2006. Dicapai pada 9 Oktober. 
  27. "Indonesian Volcano Site Reveals ‘Pompeii of the East’ (Update1)", Bloomberg Asia, 28 Februari 2006. Dicapai pada 9 Oktober. 
  28. "‘Lost Kingdom’ Discovered on Volcanic Island in Indonesia", National Geographic, 27 Februari 2006. Dicapai pada 9 Oktober. 
  29. "'Lost kingdom' springs from the ashes", International Herald Tribune, 1 Maret 2006. Dicapai pada 9 Oktober. Diarkibkan drpd. yang asli di 12 March 2006. 
  30. "Heinrich Zollinger". Zollinger Family History Research. http://www.zollinger-genealogy.com/FamousZollingers/heinrichzollinger.php. Capaian 14 November. 
  31. Zollinger (1855) cited by Trainor (2002).
  32. 32.0 32.1 32.2 32.3 32.4 de Jong Boers, B. (1995). "Mount Tambora in 1815: A Volcanic Eruption in Indonesia and its Aftermath". Indonesia 60: 37–59. http://e-publishing.library.cornell.edu:80/Dienst/UI/1.0/Summarize/seap.indo/1106964023. 
  33. 33.0 33.1 Trainor, C.R. (2002). "Birds of Gunung Tambora, Sumbawa, Indonesia: effects of altitude, the 1815 catalysmic volcanic eruption and trade". Forktail 18: 49–61. http://www.orientalbirdclub.org/publications/forktail/18pdfs/Trainor-Tambora.pdf. 
  34. Badan Pusat Statistik (1 September 2006). Tingkat Kemiskinan di Indonesia Tahun 2005–2006. Kenyataan akhbar. Dicapai pada 26 September.
  35. Calder, Joshua (3 Mei 2006). "Most Populous Islands". World Island Information. http://www.worldislandinfo.com/POPULATV2.htm. Capaian 26 September. 
  36. 36.0 36.1 36.2 "Tambora Hazard Mitigation". Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. http://merapi.vsi.esdm.go.id/?static/volcano/tambora/bahaya.html. Capaian 13 November. 
  37. "Tambora Geophysics" (dalam bahasa dalam bahasa Indonesia). Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Indonesia. http://merapi.vsi.esdm.go.id/?static/volcano/tambora/geofisika.html. Capaian 13 November. 

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]

  • C.R. Harrington (ed.). The Year without a summer? : world climate in 1816, Ottawa : Canadian Museum of Nature, 1992. ISBN 0-660-13063-7
  • Henry and Elizabeth Stommel. Volcano Weather: The Story of 1816, the Year without a Summer, Newport RI. 1983. ISBN 0-915160-71-4

Pautan luar[sunting | sunting sumber]

Templat:Gunung di Indonesia