Maharaja Go-Daigo

Daripada Wikipedia, ensiklopedia bebas.
Lompat ke: pandu arah, cari
maharaja Go-Daigo
Maharaja Jepun ke-96
Masa bertahta:1318-18 September 1339
Go-Daigo.jpg
Ibu kota Kyoto, Yoshino
Istana Istana Nijō Tominokōji (Kyoto), Gunung Yoshino
Nama asli Takaharu
Lahir 26 November 1288
Wafat 19 September 1339
Makam Tō no Onomisasagi (Yoshino,Prefektur Nara)
Ayah maharaja Go-Uda
Ibu Fujiwara Tadako

maharaja Go-Daigo (後醍醐天皇 Godaigo Tennō?) atau ditulis maharaja Godaigo (26 November 1288 - 19 September 1339) adalah maharaja Jepun ke-96. Nama aslinya (imina) adalah Takaharu (尊治?). Berdasarkan dekrit maharaja tahun 1926, maharaja Go-Daigo tidak lagi disebut sebagai maharaja Jepun ke-95, melainkan maharaja Jepun ke-96.

Biografi[sunting | sunting sumber]

maharaja Go-Daigo dilahirkan 26 November 1288 (Shōō tahun 1 bulan 11 hari 2) sebagai putera kedua maharaja ke-91 maharaja Go-Uda dari garis keturunan Daikaku-ji. Pengangkatan dirinya sebagai putera dilakukan tahun 1302. Pada tahun 1304 diangkat sebagai Dazai no Sochi (kepala kantor Dazaifu), sehingga dipanggil Sochinomiya. Ibu kandungnya bernama Fujiwara no Tadako alias Dantenmon-in, putri anggota majelis tinggi bernama Itsutsuji Tadatsugu yang menjadi putri angkat Naidaijin bernama Kazan-in Moritsugu.

Ia ditunjuk sebagai putra mahkota pada tahun 1308 oleh maharaja Hanazono dari garis keturunan Jimyō-in, dan naik tahta di usia 31 tahun sebagai maharaja Go-Daigo pada tahun 1318. Namun, selama tiga tahun pertama masa pemerintahannya, maharaja Go-Daigo hanya menjadi maharaja tituler. Ayah kandungnya, mantan maharaja Go-Uda menjalankan sistem pemerintahan dari balik biara.

Dalam silsilah kemaharajaan, maharaja Go-Daigo dilahirkan dari percabangan garis keturunan utama. Sejak awalnya, faksi garis keturunan Daikaku-ji hanya menobatkan maharaja Go-Daigo sebagai pejabat sementara maharaja. Setelah putera mahkota bernama putera Kuniyoshi (anak almarhum maharaja Go-Nijō) beranjak dewasa, maharaja Go-Daigo harus turun tahta.

Kedudukan maharaja Go-Daigo yang hanya sekadar pejabat sementara maharaja menyebabkan anak keturunannya tidak berhak atas tahta. Ia sendiri tidak menyangka bahwa dirinya hanya dijadikan maharaja tituler bagi mantan maharaja Go-Uda yang memerintah dari balik biara. Kekecewaan maharaja Go-Daigo membuat dirinya semakin antipati terhadap Keshogunan Kamakura yang menentukan jalannya suksesi kemaharajaan.

Pada tahun 1324, kantor Rokuhara Tandai yang memata-matai istana maharaja mengungkap rencana maharaja Go-Daigo untuk menggulingkan Keshogunan Kamakura. Pembantu maharaja Go-Daigo yang paling dipercaya, Hino Suketomo dijatuhi hukuman buang ke Pulau Sado dan terjadi Pemberontakan Shōchū. Walaupun terlibat, maharaja Go-Daigo tidak menerima hukuman apa-apa. Secara diam-diam, rencana menggulingkan Keshogunan Kamakura kembali disusun. Kali ini dengan bantuan biksu Monkan dari kuil Daigo-ji dan biksu Enkan dari kuil Hosshō-ji yang dijadikan pembantu pribadinya.

Pada tahun 1329, maharaja Go-Daigo melangsungkan upacara mengirim teluh ke Keshogunan Kamakura dengan kedok upacara mendoakan keselamatan istri maharaja yang akan melahirkan. Selain itu, maharaja Go-Daigo mendekati kekuatan perlawanan dari kuil-kuil Buddha dan Shinto di Nara yang dipimpin kuil Kōfuku-ji dan Enryaku-ji. Sementara itu, kalangan bangsawan istana yang mendukung garis keturunan Daikaku-ji mulai terbelah dua menjadi faksi pendukung maharaja Go-Daigo dan faksi pendukung putera Kuniyoshi. Di pihak yang berseberangan terdapat keluarga istana pendukung putera Kuniyoshi dari garis keturunan Jimyō-in yang mendapat restu dari Keshogunan Kamakura. Akibatnya, pendukung garis keturunan Daikaku-ji berada dalam posisi sulit. Setelah putera Kuniyoshi meninggal kerana sakit, maharaja Go-Daigo ditekan habis-habisan agar turun tahta.

Pada tahun 1331, rencana menggulingkan Keshogunan Kamakura kembali terungkap setelah dibocorkan bangsawan istana Yoshida Sadafusa yang dijadikan pembantu terdekat maharaja Go-Daigo. Setelah mengetahui dirinya dalam bahaya, maharaja Go-Daigo melarikan diri dari istana Kyoto dengan membawa Tiga Harta Suci. Bersama pendukungnya, maharaja Go-Daigo bertahan di Gunung Kasagi (sekarang termasuk wilayah Prefektur Kyoto). Namun pasukan keshogunan yang mengepungnya jauh lebih kuat, dan maharaja Go-Daigo ditangkap. Peristiwa ini sering dikenal sebagai Perang Genkō.

Tahun berikutnya (1332), maharaja Go-Daigo dibuang ke Pulau Oki. Sebagai penggantinya, keshogunan menobatkan maharaja Kōgon dari garis keturunan Jimyō-in sebagai maharaja yang baru. Keshogunan memang sudah sejak lama mempersiapkan maharaja Kōgon sebagai pengganti almarhum putera Kuniyoshi. Sementara itu, putera Morinaga (putra maharaja Go-Daigo) bersama Kusunoki Masashige asal Provinsi Kawachi dan Akamatsu Norimura (Enshin) asal Provinsi Harima melancarkan pemberontakan di berbagai daerah. Di tengah keadaan kacau, Go-Daigo melarikan diri dari pembuangannya di Pulau Oki dengan bantuan Nawa Nagatoshi dan anggota klan Nawa. Perlawanan untuk menumbangkan keshogunan dipimpin Go-Daigo dari Gunung Senjō, Provinsi Hōki. Keshogunan Kamakura mengirim Ashikaga Takauji untuk menghancurkan perlawanan Go-Daigo, namun Takauji membelot ke pihak Go-Daigo dan menghancurkan Rokuhara Tandai di Kyoto. Sementara itu, Nitta Yoshisada menyerang Kamakura dan menewaskan Hōjō Takatoki beserta anggota keluarga klan Hōjō.

Restorasi Kemmu[sunting | sunting sumber]

Rencana utama: Restorasi Kemmu

Setelah Keshogunan Kamakura tumbang, klan Akamatsu dan klan Kusunoki menjemput Go-Daigo untuk kembali menduduki tahta kemaharajaan di Kyoto. Go-Daigo menyatakan tahta maharaja Kōgon tidak sah dan menurunkannya dari tahta. maharaja Go-Daigo kembali bertahta dan memulai pemerintahan baru yang dikenal sebagai masa Restorasi Kemmu. Sebagai pewaris tahta, maharaja Go-Daigo tidak menunjuk keluarga almarhum kakaknya, maharaja Go-Nijō yang juga berasal garis utama keturunan Daikaku-ji. Anak keturunan sendiri dijadikannya sebagai pewaris tahta, padahal maharaja Go-Daigo tidak dilahirkan dari garis keturunan utama. Keputusan yang diambil maharaja Go-Daigo mengundang ketidakpuasan di dalam kelompok pendukung garis keturunan Daikaku-ji yang seharusnya berpihak pada dirinya.

Di atas permukaan, Restorasi Kemmu berusaha menghidupkan kembali kejayaan zaman kuno. Kekuasaan sepenuhnya berada di tangan maharaja. Pemerintahan dijalankan bangsawan istana, sedangkan kalangan samurai dihapus. Kebijakan pemerintah menyebabkan ketidakpuasan rakyat di daerah, khususnya kalangan samurai. Penyebabnya antara lain adalah pembaruan yang dilakukan tergesa-gesa, ketidakpuasan atas tanggapan pemerintah mengenai tuntutan hak atas tanah, ketidakadilan dalam pembagian hadiah balas jasa, dan rencana pembangunan istana baru untuk maharaja. Di Kyoto terjadi aksi corat-coret bernada protes yang menjelek-jelekkan maharaja dan pemerintah. Corat-coret tersebut dipasang di daerah Nijō yang terletak di tepian Sungai Kamo, dekat istana maharaja.

Pada tahun 1335, Ashikaga Takauji berangkat untuk memadamkan Pemberontakan Nakasendai walaupun tidak mendapat izin maharaja. Setelah selesai, Takauji menduduki Kamakura dan menolak perintah maharaja untuk pulang. Dengan caranya sendiri, Takauji menyita tanah milik klan Nitta di wilayah Kanto. Tanah tersebut dibagi-bagikan sebagai hadiah bagi samurai anak buahnya. maharaja Go-Daigo lalu mengirim Nitta Yoshisada dan pasukannya untuk menghabisi Takauji, tapi justru dikalahkan pasukan Ashikaga dalam Pertempuran Hakone-Takenoshita. Pada akhirnya, Kyoto jatuh di tangan Ashikaga Takauji, dan maharaja Go-Daigo melarikan diri ke Gunung Hiei.

Setelah berdamai dengan pihak Ashikaga, maharaja Go-Daigo menyerahkan Tiga Harta Suci kepada maharaja Kōmyō. Setelah itu, maharaja Go-Daigo melarikan diri dari Kyoto. Istana Selatan (Nanchō) didirikannya di Yoshino sebagai tandingan dari Istana Utara (Hokuchō) yang ada di Kyoto. Masa kemaharajaan terbelah dua menjadi Istana Selatan dan Istana Utara disebut zaman Nanboku-cho.

maharaja Go-Daigo menyatakan Tiga Harta Suci yang berada di tangan maharaja Kōmyō sebagai barang palsu. Para putera dikirimnya ke daerah-daerah untuk menunjukkan bahwa maharaja Go-Daigo adalah maharaja yang sah, namun gagal mengubah keadaan dan jatuh sakit. Pada 15 Agustus 1339, putera Noriyoshi yang kembali ke Yoshino mewarisi tahta sebagai maharaja Go-Murakami. Keesokan harinya, Go-Daigo mangkat di usia 51 tahun.

maharaja Go-Murakami yang berkedudukan di Istana Sementara Sumiyoshi, mengadakan upacara mendoakan arwah maharaja Go-Daigo di kuil Shōgonjōdo-ji, Provinsi Settsu. Kuil tersebut adalah milik klan Tsumori yang bertugas turun-temurun sebagai pengurus Sumiyoshi Taisha (kuil Shinto yang mendukung Istana Selatan). Di pihak yang berseberangan, Ashikaga Takauji mendirikan kuil Tenryū-ji di Kyoto untuk berdamai dengan arwah maharaja Go-Daigo yang dihormatinya.

Silsilah[sunting | sunting sumber]

Templat:Maharaja Kamakura Akhir Templat:Maharaja Istana Utara Selatan

Pembantu terdekat[sunting | sunting sumber]

Permaisuri, istri, dan selir[sunting | sunting sumber]

Keturunan[sunting | sunting sumber]

Nama zaman sewaktu bertahta[sunting | sunting sumber]

Bibliografi[sunting | sunting sumber]

  • Kemmu Nenjū-gyōji berisi panduan protokoler istana yang ditulis maharaja Go-Daigo selama dirinya bertahta. Ditulis dalam bahasa Jepun dengan aksara kanji bercampur katakana/hiragana, buku tersebut terdapat dalam Gunshoruijū (koleksi dokumen bersejarah yang dikumpulkan di zaman Edo).

Makam[sunting | sunting sumber]

Makam maharaja Go-Daigo disebut Tō no Onomisasagi dan terletak di kuil Nyoirin-ji, Gunung Yoshino, Prefektur Nara.[1] Berbeda dengan makam maharaja yang menghadap ke selatan, makam maharaja Go-Daigo menghadap ke utara. Konon, ia selalu berharap bisa kembali ke Kyoto.

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]

  • Muramatsu Takeshi, Teiō Go-Daigo "chūsei" no hikari to kage. Tokyo: Chūōkōronsha, 1981. ISBN 4-12-200828-X
  • Amino Yoshihiko. Igyō no ōken (異形の王権). Tokyo: Heibonsha, 1993. ISBN 4-582-76010-4
  • Mori Shigeaki. Go-Daigo tennō: nanboku-chō dōran o irodotta haō (後醍醐天皇 : 南北朝動乱を彩った覇王). Tokyo: Chūōkōronshinsha, 2000. ISBN 4-12-101521-5
  • Satō Kazuhiro, Kunio Higuchi, ed. Go-Daigo tennō no subete. Tokyo: Shin-Jinbutsuoraisha, 2004. ISBN 4-404-03212-9

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

(Jepun) Tentang maharaja Go-Daigo