Mau'izah al hasanah

Daripada Wikipedia, ensiklopedia bebas.
Lompat ke: pandu arah, cari

HAKIKAT MAU’IZAH (CERAMAH) Sebagian orang yang berasumsi bahwa mau’izhah (lebih dikenal oleh masyarakat kita dengan mau’izhah hasanah, pent) hanya berbentuk menyajikan kisah-kisah semata, untaian kata yang mampu melembutkan dan mengharukan hati. Namun, sesuai dengan tekstual Al-Qur’an, mau’izhah (hasanah) adalah pembicaraan tentang tauhid. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan tentang Luqman dalam firman-Nya.

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi mau’izhah kepadanya : “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar zhalim yang besar” [Luqman : 13]

Ayat di atas menyebutkan bahwa ra’sul mau’izhah (inti mau’izhah) adalah pembicaraan tentang tauhid. Dalam hadits Al-Irbadh bin Sariyah Radhiyallahu ‘anhu, ia menceritakan.

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyampaikan mau’izhah kepada kami, air mata bercucuran karenanya dan hati-hati menjadi takut. Seakan-akan itu merupakan mau’izhah orang yang mau pergi meninggalkan (kami). “Wahai Rasulullah, sampaikan wasiat kepada kami”, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku berwasiat kepada kalian agar bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, mendengar dan taat kepada penguasa, walaupun seorang budak hitam memimpin kalian. Sesungguhnya orang yang hidup (panjang) dari kalian akan menyaksikan perselisihan yang banyak. Maka, kewajiban kalian adalah memegangi Sunnahku….” [HR At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad]

Dengan memperhatikan hadits diatas, ternyata mau’izhah (hasanah) itu berupa pesan ketakwaan (tauhid) pembicaraan tentang manhaj dan perintah memegang Sunnah yang terangkum dalam mau’izhah.

Jadi, penceramah sejati, ialah orang yang melembutkan hati manusia dengan dakwah kepada tauhid dan berpegang teguh dengan Sunnah. Membersihkan hati mereka dengan Al-Qur’anul Karim, Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan biografi generasi Salafush Shalih dan mengajak hati mereka menuju cara pemahaman Islam yang benar (manhaj shahih). Inilah mau’izhah yang sebenarnya. Bukan dengan cara membawakan kisah-kisah dan hikayat-hikayat yang lemah, maupun kata-kata yang dibuat-buat dan jauh dari cahaya Al-Kitab dan Sunnah.

Masih banyak berkembang fenomena para da’i yang membawakan hadits-hadits dan riwayat-riwayat palsu untuk merebut hati manusia. Mungkin saja ada yang berkata “bukankah diperbolehkan bertumpu pada hadits dha’if dalam urusan fadhailul a’mal dan at-targhib wa-tarhib? Jawabannya, berdasarkan pendapat yang rajih, hukumnya tidak boleh. Bahkan ulama yang memperbolehkannya, telah menetapkan beberapa syarat yang sebenarnya hampir mustahil untuk dipenuhi, dan dijadikan pedoman serta berkumpul dalam sebuah hadits dha’if.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah dalam Tabyiniil-Ajab fi ma Warada fi Fadhil Rajab dan muridnya Ash-Shakawi rahimahullah dalam Al-Qaulul Badi Fish-Shalati was-Salami Alasl Habibi Asy-Syafi’ telah menggariskan empat syarat, yaitu : kelemahannya tidak parah, berada dalam konteks amalan yang syar’i, tidak boleh diyakini dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam saat mengamalkan atau menggunakannya sebagai dalil (istidlal), dan hendaklah diriwayatkan dengan bentuk tamridh (lafazh yang menunjukkan kelemahan riwayat), bukan dengan bentuk ketegasan mengenai kepastian kebenaran riwayat itu. Seperti qila, yuqalu, yurwa, (dikatakan, diriwayatkan, dan lafazh-lafazh lain yang menunjukkan kelemahan derajatnya. pent)

Imam Abu Syamah Al-Maqdisi rahimahullah dalam kitab Al-Ba’its fi Inkaril Bida’ wal Hawadits, bahkan menilai syarat terakhir belum sempurna, sehingga harus ditambah dengan keterangan “wajib diterangkan kelemahannya secara terang-terangan”. Sebab, tidak semua orang mengetahui istilah-istilah di atas. Empat syarat ini cukup sulit terpenuhi seorang pembicara, muballigh atau pengajar.

Para ulama telah memperingatkan umat dari para tukang dongeng (al-qashshash). Mereka ini berada pada masa tertentu, dan akhirnya akan lenyap begitu saja ; karena modal yang mereka miliki telah habis. Kata al-mau’izah secara bahasa berarti “pengajaran atau nasehat”. Jadi, al-mau’izah al-hasanah adalah pengajaran atau nasehat yang baik. Jika dikaitkan dengan konteks ayat, maka frase qur’ani tersebut menunjukkan cara berdakwah yang disenangi, mendekatkan manusia kepadanya dan tidak menjerakannya, memudahkan dan tidak menyulitkan. Seorang juru dakwah harus bersifat penuh kelembutan, tidak berupa larangan terhadap sesuatu yang tidak dilarang, tidak menjelek-jelekkan atau membongkar kesalahan audiensnya. Kelemahan dan kelembutan dalam menasehati, terkadang mampu meluluhkan hati yang keras dan menjinakkan kalbu yang liar. Dengan demikian, juru dakwah harus memberi kepuasan jiwa individu atau masyarakat yang menjadi sasarannya dengan cara yang baik, seperti memberi nasehat, pengajaran, atau teladan yang baik, agar audiens bisa menerimanya dengan baik. Makna Al-Mau'izhah al-hasanah • 1. Pelajaran dan peringatan yang baik. 2. Al-mau'izah adalah memberi peringatan dengan kebajikan yang membuat hati senang ( Al-Khalil ) 3. Al-burhan (bukti, dalil) dan al-khithab (pidato) ( Adab AI-Bahts wal Munazharah ) 4. Allah Ta'ala menghubungkan kata al-mau'izhah dengan al hasanah. Ada al-mau'izhah yang tidak baik, namun yang diperintahkan oleh Allah adalah mau'izhah yang baik (hasanah). 5. Dakwah ilallah dari orang yang tidak mengambil pelajaran dengan apa yang diperingatkan itu, atau tidak melaksanakan sendiri apa yang diserukan itu, bukanlah termasuk mau'izhah yang baik. 6. Nasihat dan peringatan, perkataan yang jelas dan lembut, serta tarhib dan targhib. ( Al-Bayanuni )

Berdakwah melalui nasihat dan pengajaran yang baik (mauizah al- hasanah). Perkataan mauizah al-hasanah membawa maksud sebagai jalan untuk menyampaikan dakwah dan uslub berdakwah bertujuan untuk mendekati bukan menjauhkan, memudahkan bukan menyusahkan, mengasihi dan bukan menakutkan. Menurut Imam al-Ghazali, mauizah al-hasanah adalah beberapa pengajaran dan nasihat yang berdasarkan kepada apa yang terkandung dalam al-Quran dan aspek perkhabaran yang mengembirakan dan ancaman yang menakutkan kemudian disertai dengan kesabaran dan keikhlasan dalam nasihat yang diberikan.

Beberapa ciri mauizah al-hasanah adalah seperti nasihat yang menjurus kepada keredhaan Allah s.w.t.; nasihat dan pengajaran yang dapat melembutkan hati serta meninggalkan kesan yang mendalam, ia juga perlu mengandungi unsur at-targhib dan at-tarhib iaitu galakan dan pencegahan; merujukkan contoh tauladan yang terbaik dan akhlak yang terpuji sebagai model untuk diikuti; serta mendedahkan kebaikan dan kebajikan Islam bagi menarik minat dan keinginan kepada Islam.

Mau’izhah Metode ini dipergunakan untuk meyuruh atau mendakwahi orang-orang awam, yaitu orang yang belum dapat berfikir secara kritis atau ilmu pengetahuannya masih rendah. Mereka pada umumnya mengikuti sesuatu tanpa pertimbangan terlebih dahulu dan masih berpegang pada adat istiadat yang turun temurun. Kepada mereka ini hendak disajikan materi yang mudah dipahami dan disampaikan dengan bahasa yang sederhana sehingga mudah dimengerti.

Metode mau’izah khasanah menurut Ibnu Syayyidiqi adalah memberi ingat kepada orang lain dengan fahala dan siksa yang dapat menaklukkan hati. 2) Mau’izhah Metode ini dipergunakan untuk meyuruh atau mendakwahi orang-orang awam, yaitu orang yang belum dapat berfikir secara kritis atau ilmu pengetahuannya masih rendah. Mereka pada umumnya mengikuti sesuatu tanpa pertimbangan terlebih dahulu dan masih berpegang pada adat istiadat yang turun temurun. Kepada mereka ini hendak disajikan materi yang mudah dipahami dan disampaikan dengan bahasa yang sederhana sehingga mudah dimengerti.