Rohana Kudus

Daripada Wikipedia, ensiklopedia bebas.
Lompat ke: pandu arah, cari

Rohana Kudus (lahir di Koto Gadang, Agam, Sumatera Barat, 20 Disember 1884 – meninggal di Jakarta, 17 Ogos 1972 pada umur 87 tahun) adalah wartawan Indonesia. Ia lahir dari ayahnya yang bernama Mohamad Rasjad Maharadja Soetan dan ibunya bernama Kiam. Rohana Kudus adalah kakak tiri dari Sutan Syahrir, Perdana Menteri Indonesia yang pertama dan juga mak tuo (bibi) dari penyair terkenal Chairil Anwar. Ia pun adalah sepupu Agus Salim. Rohana hidup di zaman yang sama dengan Kartini, dimana akses perempuan untuk mendapat pendidikan yang baik sangat terhad. Ia adalah perdiri surat khabar perempuan pertama di Indonesia.

Latar balakang[sunting | sunting sumber]

Rohana adalah seorang perempuan yang mempunyai komitmen yang kuat pada pendidikan terutama untuk kaum perempuan. Pada zamannya Rohana termasuk salah satu dari segelintir perempuan yang percaya bahwa diskriminasi terhadap perempuan, termasuk kesempatan untuk mendapat pendidikan adalah tindakan semena-semena dan harus dilawan. Dengan kecerdasan, keberanian, pengorbanan serta perjuangannya Rohana melawan ketidakadilan untuk perubahan nasib kaum perempuan.

Walaupun Rohana tidak bisa mendapat pendidikan secara formal namun ia rajin belajar dengan ayahnya, seorang pegawai pemerintah Hindia-Belanda yang selalu membawakan Rohana bahan bacaan dari kantor. Keinginan dan semangat belajarnya yang tinggi membuat Rohana cepat menguasai materi yang diajarkan ayahnya. Dalam umur yang masih sangat muda Rohana sudah bisa menulis dan membaca, dan berbahasa Belanda. Selain itu ia juga belajar abjad Arab, Latin, dan Arab-Melayu. Saat ayahnya ditugaskan ke Alahan Panjang, Rohana bertetanga dengan pejabat Belanda atasan ayahnya. Dari istri pejabat Belanda itu Rohana belajar menyulam, menjahit, merenda, dan merajut yang merupakan keahlian perempuan Belanda. Disini ia juga banyak membaca majalah terbitan Belanda yang memuat berbagai berita politik, gaya hidup, dan pendidikan di Eropa yang sangat digemari Rohana.

Pendidikan dan Wirausaha[sunting | sunting sumber]

Berbekal semangat dan pengetahuan yang dimilikinya setelah kembali ke kampung dan berkahwin pada usia 24 tahun dengan Abdul Kudus yang berprofesi sebagai notaris. Rohana mendirikan sekolah kemahiran khusus perempuan pada tarikh 11 Februari 1911 yang diberi nama Sekolah Kerajinan Amai Setia. Di sekolah ini diajarkan pelbagai kemahiran untuk perempuan, kemahiran menguruskan kewangan, tulis-baca, budi pekerti, pendidikan agama dan Bahasa Belanda. Banyak sekali rintangan yang dihadapi Rohana dalam mewujudkan cita-citanya. Jatuh bangun memperjuangkan nasib kaum perempuan penuh dengan pertembungan sosial menghadapi pemuka adat dan kebiasaan masyarakat Koto Gadang, bahkan fitnah yang tak kunjung menderanya seiring dengan keinginannnya untuk memajukan kaum perempuan. Namun gejolak sosial yang dihadapinya justru membuatnya tegar dan semakin yakin dengan apa yang diperjuangkannya.

Selain berkiprah di sekolahnya, Rohana juga menjalin kerjasama dengan kerajaan Belanda kerana ia sering menempah peralatan dan keperluan jahit-menjahit untuk kepentingan sekolahnya. Disamping itu juga Rohana menjadi perantara untuk memasarkan hasil kerajinan muridnya ke Eropah yang memang memenuhi syarat eksport. Ini menjadikan sekolah Rohana berasaskan industri rumah tangga serta koperasi simpan pinjam dan jual beli yang anggotanya semua perempuan yang pertama di Minangkabau.

Banyak pemimpin Belanda yang kagum atas kemampuan dan kiprah Rohana. Selain menghasilkan berbagai kerajinan, Rohana juga menulis puisi dan artikel serta fasih berbahasa Belanda. Tutur katanya setara dengan orang yang berpendidikan tinggi, wawasannya juga luas. Kiprah Rohana menjadi topik perbualan di Belanda. Berita perjuangannya ditulis di surat khabar terkemuka dan disebut sebagai perintis pendidikan wanita pertama di Sumatera Barat.

Keinginan untuk berkongsi cerita tentang perjuangan memajukan pendidikan kaum perempuan di kampungnya ditunjang kebiasaannya menulis berakhir dengan diterbitkannya surat khabar perempuan yang diberi nama Sunting Melayu pada tarikh 10 Julai 1912. Sunting Melayu merupakan surat khabar perempuan pertama di Indonesia yang pemimpin redaksi, redaktur dan penulisnya adalah perempuan.

Kisah sukses Rohana di sekolah kerajinan Amai Setia tak berlangsung lama. Pada tarikh 22 Oktober 1916 seorang muridnya yang telah dididiknya hingga pintar menjatuhkannya dari jabatan Direktris dan Peningmeester kerana tuduhan penyelewengan penggunaan kewangan. Rohana harus menghadapi beberapa kali persidangan yang diadakan di Bukit Tinggi, ditemani suaminya, seorang yang mengerti undang-undang dan sokongan seluruh keluarga. Setelah beberapa kali persidangan tuduhan pada Rohana tidak terbukti, jabatan di sekolah Amai Setia kembali diserahkan padanya, namun dengan halus ditolaknya kerana dia berniat pindah ke Bukit Tinggi.

Di Bukit Tinggi Rohana mendirikan sekolah dengan nama "Rohana School". Rohana menguruskan sekolahnya sendiri tanpa minta bantuan siapa pun untuk mengelakkan permasalahan yang tak diingini berulang kembali. Rohana School sangat terkenal muritnya banyak, tidak hanya dari Bukittinggi tapi juga dari daerah lain. Hal ini disebabkan Rohana sudah cukup popular dengan hasil karyanya yang bermutu dan juga jawatannya sebagai Pemimpin Redaksi Sunting Melayu membuat kewujudannya tidak diragukan.

Tak puas hati dengan ilmunya, di Bukit Tinggi, Rohana memperkaya keterampilannya dengan belajar membordir pada orang Cina dengan menggunakan mesin jahit Singer. Kerana jiwa perniagaan juga kuat, selain belajar membordir Rohana juga menjadi agen mesin jahit untuk murid-murid di sekolahnya sendiri. Rohana adalah perempuan pertama di Bukit Tinggi yang menjadi agen mesin jahit Singer yang sebelum ini hanya dikuasai orang Cina.

Dengan kepandaian dan kepopularannya Rohana mendapat tawaran mengajar di sekolah Dharma Putra. Di sekolah ini muridnya tidak hanya perempuan tapi ada juga laki-laki. Rohana diberi kepercayaan mengisi pelajaran kemahiran menyulam dan merenda. Semua guru di sini adalah lulusan sekolah guru kecuali Rohana yang tidak pernah menempuh pendidikan formal. Namun Rohana tidak hanya pintar mengajar menjahit dan menyulam tetapi juga mengajar mata pelajaran agama, budi pekerti, Bahasa Belanda, politik, sastera, dan teknik menulis jurnalistik.

Rohana menghabiskan masa sepanjang hidupnya dengan belajar dan mengajar. Mengubah paradigma dan pandangan masyarakat Koto Gadang terhadap pendidikan untuk kaum perempuan yang menuding perempuan tidak perlu menandingi laki-laki dengan bersekolah segala. Namun dengan bijak Rohana menjelaskan "Perputaran zaman tidak akan pernah membuat perempuan menyamai laki-laki. Perempuan tetaplah perempuan dengan segala kemampuan dan kewajibanya. Yang harus berubah adalah perempuan harus mendapat pendidikan dan perlakuan yang lebih baik. Perempuan harus sihat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah yang kesemuanya hanya akan dipenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan." Emansipasi yang ditawarkan dan dilakukan Rohana tidak menuntut persamaan hak wanita dengan laki-laki namun lebih kepada pengukuhan fungsi semulajadi perempuan itu sendiri secara kudratnya. Untuk berfungsi sebagai perempuan sejati dengan betul juga perlu ilmu pengetahuan dan kemahiran untuk itulah diperlukannya pendidikan untuk perempuan.

Pergerakan[sunting | sunting sumber]

Saat Belanda meningkatkan tekanan dan serangannya terhadap kaum pribumi, Rohana bahkan turut membantu pergerakan politik dengan tulisannya yang membakar semangat juang para pemuda. Rohana pun mempelopori penubuhan dapur awam dan badan sosial untuk membantu para gerila. Dia juga mencetuskan idea bernas dalam penyeludupan senjata dari Koto Gadang ke Bukit Tinggi melalui Ngarai Sianok dengan cara menyembunyikannya dalam sayur-sayuran dan buah-buahan yang kemudian dibawa ke Payakumbuh dengan kereta api.

Hingga ajalnya menjemput, dia masih terus berjuang. Termasuk ketika merantau ke Lubuk Pakam dan Medan. Di sana dia mengajar dan memimpin surat khabar Perempuan Bergerak. Kembali ke Padang, ia menjadi redaktur surat khabar Radio yang diterbitkan Cina-Melayu di Padang dan surat khabar Cahaya Sumatera. Perempuan yang meninggal dunia pada 17 Ogos 1972 itu mengabdikan dirinya kepada bangsa dan negara, serta menjadi kebanggaan bagi kaum hawa yang diperjuangkannya.

Demikianlah Rohana Kudus menghabiskan 88 tahun umurnya dengan pelbagai kegiatan yang berorientasikan pada pendidikan, jurnalistik, perniagaan, dan bahkan politik. Kalau dicermati begitu banyak kiprah yang telah diusung Rohana. Selama hidupnya ia menerima penghargaan sebagai Wartawati Pertama Indonesia (1974), pada Hari Akhbar Nasional ke-3, 9 Februari 1987, Menteri Penerangan Harmoko menganugerahinya sebagai Perintis Akhbar Indonesia. Dan pada tahun 2008 Republik Indonesia menganugerahkan Bintang Jasa Utama.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  • Tamar Djaja, Rohana Kudus: Riwayat Hidup dan Perjuangannya, Jakarta: Mutiara, 1980
  • Rudolf Mrazek. Sjahrir: Politik dan Pengasingan di Indonesia. Jakarta, Yayasan Obor Indonesia, 1996.
  • Fitriyanti, Roehana Koeddoes Perempuan Sumatera Barat, Jakarta: Yayasan Jurnal Perempuan, 2001
  • Fitriyanti, Rohana Kudus Wartawan Perempuan Pertama indonesia, Yayasan d' Nanti, Jakarta, 2005

Pranala luar[sunting | sunting sumber]