Kara-kara

Daripada Wikipedia, ensiklopedia bebas.

Kara-kara
Arya.komak.bulak lor.2019.0.jpg
Kacang kara di pekarangan rumah warga Jatibarang, Indramayu
Pengelasan saintifik
Alam:
(tanpa pangkat):
(tanpa pangkat):
Order:
Keluarga:
Genus:
Lablab
Spesies:
purpureus
Sinonim

Cupania sapida Voigt

Kara-kara, kara, kacang kara, kekara, kacang sepat kacang bidukkacang bado atau kacang komak adalah sejenis kacang dari famili Fabaceae (Leguminosae). Tanaman ini terutama dikembangkan sebagai penghasil bahan makanan bijiran dan sayuran; namun juga baik sebagai bahan makanan ternakan, pupuk hijau, tanaman penutup tanah, dan tanaman hias. Spesies ini adalah satu-satunya anggota genus monotipik Lablab.[1]

Peristilahan[sunting | sunting sumber]

Tumbuhan ini memiliki banyak nama setempat lain antaranya:[2]

Botani[sunting | sunting sumber]

Pelat botani menurut Blanco

Tumbuhan tahunan ini membelit; merumpun rendah atau memanjat hingga 6 m tingginya; akarnya dalam. Dedaunnya lebat majmuk beranak daun tiga, dengan anak daun bundar telur melebar, 5—15 sm x 4–15 sm, bertepi rata, hampir gundul atau berambut halus; duduk daun berseling.[3]

Jambak bunganya tandan yang kaku di ketiak, panjang tangkainya 4–23 sm dan panjang rakis 2–24 cm, dengan banyak buku berisi 1-5 kuntum bunga. Bunga dengan mahkota putih, jambon, merah, atau ungu; bertangkai pendek yang bersegi-empat dan berbulu jarang; benang sari 10 helai dalam dua tukal. Buah lenggainya bervariasi bentuk dan warnanya; pipih atau menggembung; 5–20 cm x 1–5 sm; lurus atau melengkung; biasanya dengan 3-6 biji bundar telur yang beraneka dalam ukuran dan warna.[3]

Asal usul dan kegunaan[sunting | sunting sumber]

Karangan bunga
Biji kekera muda, diolah
Nilai pemakanan per 100 g (3.5 oz)
Tenaga 209 kJ (50 kcal)
Karbohidrat 9.2 g
Lemak 0.27 g
Protein 2.95 g
Tiamina (vit. B1) 0.056 mg (5%)
Riboflavin (vit. B2) 0.088 mg (7%)
Niasin (vit. B3) 0.48 mg (3%)
Folat (vit. B9) 47 μg (12%)
Vitamin C 5.1 mg (6%)
Kalsium 41 mg (4%)
Besi 0.76 mg (6%)
Magnesium 42 mg (12%)
Mangan 0.21 mg (10%)
Fosforus 49 mg (7%)
Kalium 262 mg (6%)
Zink 0.38 mg (4%)
Link to USDA Database entry
Dikukus, dimasak tanpa garam, ditiriskan
Peratusan dianggarkan
menggunakan syor A.S. untuk orang dewasa.
Sumber: USDA Nutrient Database

Asal usul kacang ini diperkirakan dari India, Asia Tenggara, atau Afrika. Tanaman ini mula ditanam dan dikembangkan terutama di India, Asia Tenggara, Mesir, dan Sudan.[3]

Di pelbagai wilayah kepulauan Indonesia, polong yang muda digemari sebagai sayuran[2] dimasak rebus seperti kacang buncis, dicampurkan ke dalam kari,[3] atau –di wilayah Jawa Timur– dimasak sebagai sayur asam. Biji yang muda, begitu pun daun-daun yang muda, pucuk, dan karangan bunganya, kerap direbus dan dilalap.[3] Bijinya yang tua dan kering dimanfaatkan serupa kacang[3] yang mana dapat diproses menjadi tempe,[4] diolah menjadi tepung kaya protein (PRF, Protein Rich Flour),[5] atau bahkan dikembangkan lebih lanjut sebagai bahan daging tiruan.[6]

Pada musim kering yang panjang ketika rumput sukar tumbuh, kekara sering dibudidayakan sebagai sumber makanan ternakan.[2] Hijauan ini tidak dilahap serta-merta tetapi kadangkala memerlukab tempoh pembiasaan hingga beberapa hari sebelum ternak mahu memakannya. Komak juga perlu dicampur dengan hijauan lain, seperti dedaunan atau kacang-kacangan lain, agar ternak tidak mengalami kembung. Pemberian komak dapat meningkatkan dengan segera isi badan lembu dan isipadu susu yang dapat dihasilkan.[7]

Polongan muda kacang kekera

Akar pokok kacang kekera berbintilan merumahkan bakteria Rhizobium yang simbiotik mengikat nitrogen; meskipun hal ini tidak selalu mudah terjadi dengan galur-galur Rhizobium lokal. Di samping itu, pokok kekera memperkaya kandungan nitrogen tanah melalui dekomposisi daun-daun dan rantingnya yang berguguran.[7]

Bila tanah kebun dipersiapkan dengan baik, kekera dapat tumbuh dengan cepat menutup tanah terbuka. Pokok yang tumbuh mantap mampu menghadapi persaingan dengan aneka gulma di kebun.[7] Kultivar kekera tertentu menghasilkan bunga dan polong yang berwarna indah, sehingga acap dijadikan tanaman hias.

Kultivar[sunting | sunting sumber]

Kekara sejak lama diketahui memiliki banyak kultivar Rumphius pada 1690-an telah menyebutkan adanya dua bentuk yang disebutnya sebagai Cacara (=kekara) perennis dan Cacara alba atau Cacara puty (=kekara putih)[8] Kini bentuk-bentuk itu umumnya digolongkan ke dalam tiga kelompok kultivar:[3]

  • Kelompok kv. Lablab (tersebar luas)
  • Kelompok kv. Ensiformis (Asia Tenggara, Afrika Timur)
  • Kelompok kv. Bengalensis (Asia Selatan, Afrika Timur)

Galeri[sunting | sunting sumber]

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Lablablab: Lablab purpureus, general information. Diarkibkan 2020-07-15 di Wayback Machine University of Agricultural Sciences, Bangalore, India.
  2. ^ a b c Heyne, Karel (1987). Tumbuhan Berguna Indonesia. 2 (ed. 1916). Bogor: Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. m/s. 1067–68.
  3. ^ a b c d e f g Shivashankar, G.; Kulkarni, R.S. (1989). L.J.G. van der Maesen; S. Somaatmadja (penyunting). Plant Resources of South-East Asia. 1: Pulses. Bogor, Indonesia: PROSEA (Plant Resources of South-East Asia) Foundation. Dicapai pada 3 Sep 2013 – melalui Proseabase.
  4. ^ Harnani, S. 2009. Studi Karakteristik Fisikokimia Dan Kapasitas Antioksidan Tepung Tempe Kacang Komak (Lablab Purpureus (L.) Sweet)
  5. ^ Nafi, A., T. Susanto, A. Subagio. 2006. Development of Protein Rich Flour (PRF) from Hyacinth Bean (Lablab purpureus (L) Sweet) and Lima bean (Phaseolus lunatus) Diarkibkan 2015-06-10 di Wayback Machine. Jurnal Teknologi Dan Industri Pangan, Vol 17, No 3.
  6. ^ Bisnis OL: AGROBISNIS: Daging Tiruan Dari Kecambah Kacang KomakTemplat:Pranala mati. Rabu, 31 Julai 2013
  7. ^ a b c FAO: Lablab purpureus (L.) Sweet Diarkibkan 2005-01-30 di Wayback Machine
  8. ^ Rumpf, G.E. 1741-50. Herbarium Amboinense:plurimas conplectens arbores, frutices, herbas, plantas terrestres ... Pars 5: 378, 380, Tab. 136. Amstelaedami: Apud Fransicum Changuion, Hermannum Uytwerf.

Pautan luar[sunting | sunting sumber]