Keris

Daripada Wikipedia, ensiklopedia bebas.
Jump to navigation Jump to search
Keris
Kris display.jpg
Keris sebagai Karya warisan lisan dan tidak ketara
NegaraMalaysia, Indonesia, Thailand, Brunei
Rujukan112
RegionAsia-Pasifik
Sejarah inskripsi
Inskripsi2008
SenaraiRepresentative

Keris (Jawi: کريس, bahasa Jawa: ꦏꦼꦫꦶꦱ꧀;[1]) ialah sejenis senjata pendek Austronesia yang digunakan sejak melebihi 600 tahun dahulu. Senjata ini memang unik di dunia Nusantara dan boleh didapati di kawasan berpenduduk Austronesia seperti Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand Selatan, Filipina Selatan (Mindanao) dan Brunei.

Nama yang digunakan untuk keris berbeza mengikut daerah misalnya sundang di Mindanao, kedutan di Bali dan kareh di Sumatera. Perkataan keris dikatakan berasal daripada bahasa Jawa Kuno iaitu malang kerik yang bermaksud bercekak pinggang. Ini merujuk kepada patung orang bercekak pinggang pada hulu keris pada peringkat awal.[2][Note 1]

Keris digunakan untuk mempertahankan diri (misalnya sewaktu bersilat) dan sebagai alat kebesaran diraja. Senjata ini juga merupakan lambang kedaulatan orang Melayu. Keris yang paling masyhur ialah keris Taming Sari yang merupakan senjata Hang Tuah, seorang pahlawan Melayu yang terkenal.

Keris berasal dari Pulau Jawa dan gambaran keris terdapat di Candi Borobudur[3] [4] dan menyebar ke seluruh Nusantara. Keris purba telah digunakan antara abad ke-9 dan abad ke-14. Senjata ini terbahagi kepada tiga bahagian iaitu mata, hulu dan sarung. Antara lain, terdapat kepercayaan bahawa keris mempunyai semangatnya yang tersendiri.[5]

Keris menurut amalan Melayu tradisional perlu dijaga dengan cara diperasapkan pada masa-masa tertentu, malam Jumaat misalnya. Ada juga amalan mengasamlimaukan keris sebagai cara untuk menjaga logam keris dan juga untuk menambah bisanya.

Keris Indonesia telah terdaftar di UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia Tidak Ketara Manusia sejak 2008.[6]

Peristilahan

Istilah "keris" diamati mula muncul pada batu bersurat seawal abad ke-9 Masihi. Namun diperkirakan asal mula penyebutan kata "keris" merupakan singkatan bahasa Jawa dari Mlungker-mlungker kang bisa ngiris "[Benda] berliku-liku yang bisa menghiris/membelah [sesuatu]". Kajian ilmiah perkembangan bentuk keris kebanyakan didasarkan pada analisis figur di relief candi atau patung. Sementara itu, pengetahuan mengenai fungsi keris dapat dilacak dari beberapa prasasti dan laporan-laporan penjelajah asing ke Nusantara.

Senjata ini mempunyai banyak nama setempat yang diberikan dari satu budaya ke satu budaya yang lain:

Bahagian-bahagian keris

Hulu

Hulu, pegangan atau landaian[8] keris (bahasa Jawa: gaman) mempunyai corak boleh diperlihatkan (gandik[9]) yang bermacam-macam motifnya. untuk keris Bali ada yang bentuknya menyerupai dewa, pedande (pendeta), raksasa, penari, pertapa hutan dan ada yang diukir dengan kinatah emas dan batu mulia dan biasanya bertatahkan batu mirah delima.

Pegangan keris Sulawesi menggambarkan burung laut. Hal itu sebagai perlambang terhadap sebagian profesi masyarakat Sulawesi yang merupakan pelaut, sedangkan burung adalah lambang dunia atas keselamatan. Seperti juga motif kepala burung yang digunakan pada keris Riau Lingga, dan untuk daerah-daerah lainnya sebagai pusat pengembangan tosan aji seperti Aceh, Bangkinang (Riau), Palembang, Sambas, Kutai, Bugis, Luwu, Jawa, Madura dan Sulu, keris mempunyai ukiran dan perlambang yang berbeda. Selain itu, materi yang dipergunakan pun berasal dari aneka bahan seperti gading, tulang, logam, dan yang paling banyak yaitu kayu.

Untuk pegangan keris Jawa, secara garis besar terdiri dari sirah wingking ( kepala bagian belakang ), jiling, cigir, cetek, bathuk (kepala bagian depan),weteng dan bungkul.

Sarung

Sarung, warangka (dalam bahasa Jawa) atau kumpang (bahasa Banjar), adalah komponen keris yang mempunyai fungsi tertentu, khususnya dalam kehidupan sosial masyarakat Jawa, paling tidak karena bagian inilah yang terlihat secara langsung. Warangka yang mula-mula dibuat dari kayu (yang umum adalah jati, cendana, timoho, dan kemuning). Sejalan dengan perkembangan zaman terjadi penambahan fungsi wrangka sebagai pencerminan status sosial bagi penggunanya. Bagian atasnya atau ladrang-gayaman sering diganti dengan gading.

Secara garis besar terdapat dua bentuk warangka, yaitu jenis warangka ladrang yang terdiri dari bagian-bagian: angkup, lata, janggut, gandek, godong (berbentuk seperti daun), gandar, ri serta cangkring. Dan jenis lainnya adalah jenis wrangka gayaman (gandon) yang bagian-bagiannya hampir sama dengan wrangka ladrang tetapi tidak terdapat angkup, godong, dan gandek.

Aturan pemakaian bentuk wrangka ini sudah ditentukan, walaupun tidak mutlak. Wrangka ladrang dipakai untuk upacara resmi, misalkan menghadap raja, acara resmi keraton lainnya (penobatan, pengangkatan pejabat kerajaan, perkawinan, dll) dengan maksud penghormatan. Tata cara penggunaannya adalah dengan menyelipkan gandar keris di lipatan sabuk (stagen) pada pinggang bagian belakang (termasuk sebagai pertimbangan untuk keselamatan raja ). Sedangkan wrangka gayaman dipakai untuk keperluan harian, dan keris ditempatkan pada bagian depan (dekat pinggang) ataupun di belakang (pinggang belakang).

Dalam perang, yang digunakan adalah keris wrangka gayaman, pertimbangannya adalah dari sisi praktis dan ringkas, karena wrangka gayaman lebih memungkinkan cepat dan mudah bergerak, karena bentuknya lebih sederhana.

Ladrang dan gayaman merupakan pola-bentuk wrangka, dan bagian utama menurut fungsi wrangka adalah bagian bawah yang berbentuk panjang ( sepanjang wilah keris ) yang disebut gandar atau antupan,maka fungsi gandar adalah untuk membungkus wilah (bilah) dan biasanya terbuat dari kayu ( dipertimbangkan untuk tidak merusak wilah yang berbahan logam campuran ) .

Karena fungsi gandar untuk membungkus, sehingga fungsi keindahannya tidak diutamakan, maka untuk memperindahnya akan dilapisi seperti selongsong-silinder yang disebut pendok . Bagian pendok ( lapisan selongsong ) inilah yang biasanya diukir sangat indah, dibuat dari logam kuningan, suasa ( campuran tembaga emas ), perak, emas . Untuk daerah di luar Jawa ( kalangan raja-raja Bugis, Goa, Palembang, Riau, Bali ) pendoknya terbuat dari emas, disertai dengan tambahan hiasan seperti sulaman tali dari emas dan bunga yang bertaburkan intan berlian.

Untuk keris Jawa, menurut bentuknya pendok ada tiga macam, yaitu (1) pendok bunton berbentuk selongsong pipih tanpa belahan pada sisinya, (2) pendok blewah (blengah) terbelah memanjang sampai pada salah satu ujungnya sehingga bagian gandar akan terlihat, serta (3) pendok topengan yang belahannya hanya terletak di tengah . Apabila dilihat dari hiasannya, pendok ada dua macam yaitu pendok berukir dan pendok polos (tanpa ukiran).

Balang -- Bahagian sarung keris yang lurus.[10]

Bilah

Bilah ini ditempa dari logam menjadi senjata tajam. Ia terdiri dari bagian-bagian tertentu yang tidak sama untuk setiap bilahan yang biasa disebut "dapur" atau penamaan ragam bentuk pada bilah-bilah (ada puluhan bentuk dapur). Bilah ini dipasangkan pada pangkal disebut paksi[11] (Jawa Timur), pesi (Jawa Barat) puting (Riau) atau punting (Sarawak, Brunei dan Semenanjung Melayu) yang berupa bulat panjang seperti pensil panjangnya antara 5 cm sampai 7 cm, dengan penampang sekitar 5 mm sampai 10 mm.

Bilah ini terpisah dari hulu keris pada bahagian yang disebut ganja[12] atau aring.[13] Ia terbahagi kepada:

  • Ganja datang atau ganja rawan - ganja yang dilekatkan pada bilah.
  • Ganja iras atau ganja menumpu - ganja yang bersambung dgn bilahnya.

"Ganja" ini dianggap mewakili lambang yoni sedangkan paksi/pesi/punting melambangkan "lingga"

Bilah keris berbentuk tajam dengan banyak liku (lok atau kelok[14]). Bilangan lok ini dikira dari pangkal ke arah hujung keris dan dari sisi cembung pada kedua-dua sisi seberang-menyeberang (kanan-kiri), maka bilangan terakhir adalah banyaknya luk pada wilah-bilah dan jumlahnya selalu ganjil atau gasal: bilangan paling kecil adalah tiga dan terbanyak adalah luk tiga belas. Keris yang jumlah loknya lebih dari tiga belas biasanya disebut keris kalawija.

Komponen lain

  • Batir-batir -- Perhiasan pada tuli-tuli keris yang dibuat daripada emas.[15]
  • Biji timun -- Sejenis ukiran, sejenis garis-garis pada mata pisau (keris).[16]
  • Bunga pamor -- Lukisan pada keris kerana waja putih yang ditempa pada bilah keris.[17]
  • Cincin pacat kenyang -- Cincin yang besar dan tebal pada satu bahagian (dipakai untuk melindungi jari sewaktu memegang keris).[18]
  • Dagu keris -- Hujung ganja keris.[19]
  • Kurai -- Corak (gambar, barik-barik) pada bilah keris dan lain-lain yang berpamor.[20]
  • Lambai gajah -- Bahagian mata keris (yang terletak di bawah dagu keris).[21]
  • Merubi -- Bentuk hulu keris yang seperti ubi.[22]
  • Paksi -- Puting (bahagian keris dan lain-lain) yang masuk ke dalam hulunya.
  • Panjut -- Warna putih pada hujung mata keris.[23]
  • Pendongkok / Dongkok keris -- Gelang-gelang antara hulu dan bilah keris, pemendak (dulang-dulang) keris.[24] Kedongkok.[25] Pemendak.[26]
  • Penduk -- Penyalut pada sarung keris daripada emas (perak dan lain-lain).[27] Terapan.[28]
  • Penongkok -- (Kedah) Emas dan lain-lain yang disalut pada hulu keris.[29]
  • Pestaka -- Kuasa buruk atau baik yang ada pada keris (lembing dan lain-lain).[30]
  • Sampir -- Bahagian sarung keris yang di atas sekali.[31] Warangka (Jawa).[32]
  • Sigi -- Gelang-gelang daripada besi dan lain-lain (untuk me­nguatkan pegangan hulu pada puting keris dan lain-lain), temin.[33]
  • Tapih -- Salut pada sarung keris Jawa.[34]
  • Tebu-tebu -- Gelang-gelang (pada batang tombak, hulu keris, dan lain-lan).[35]
  • Tuli-tuli -- Sejenis tali (daripada benang sutera, emas, perak, rotan, dan lain-lain) untuk melekatkan sarung keris pada tali pinggang.[36]

Pembuatan keris

  • Besi pamor -- Sejenis baja putih yang ditempa pada keris dan lain-lain (yang menimbulkan kurai).[37]
  • Ekor buaya -- Sejenis alat yang digunakan untuk membuat keris.[38]
  • Jabung -- Sejenis perekat yang dibuat daripada gambir dan damar (digunakan untuk melekatkan keris pada hulunya), gala-gala, pakal.[39]
  • Katimaha -- (Jawa) Sejenis tumbuhan (pokok yang kayunya digunakan untuk membuat hulu dan sarung keris dan lain-lain), temahai, timaha, timanga, ketimaha, Kleinhovia hospita.[40] Ketimaha (Jk).[41]
  • Kayu pelet -- Kayu yang berbelang-belang (dari pokok Kleinhevia hospita yang selalu digunakan utk mem­buat sarung keris dan lain-lain).[42]
  • Kupu-kupu -- Sejenis tumbuhan (pokok renek yang kayunya keras dibuat hulu keris dan lain-lain), Bauhinia tomentosa.[43]
  • Malau -- Sejenis damar atau pelekat yang digunakan untuk mengetatkan keris, parang, dan lain-lain pada hulunya; embalau.[44]

Jenis

Keris khas

Kris Yogyakarta dengan pegangan Semar

Secara umumnya, keris boleh dikategorikan kepada:

  1. Keris Semenanjung
  2. Keris Bugis
  3. Keris Jawa
  4. Keris Sumatera
  5. Keris Madura
  6. Keris Patani
  7. Keris Bali
  8. Keris Sajen
  9. Keris Picit[Note 2]

Keris umum

  • Keris (anak) alang -- Keris yang sederhana panjang bilahnya.[45]
  • Keris (hulu) pekaka -- Sejenis keris dari Patani (hulunya berbentuk kepala burung pekaka).[46]
  • Keris alang -- Keris yang sedang atau sederhana panjangnya.[47]
  • Keris berapit -- Keris yang pada sarungnya dibubuhi dawai mas atau perak.[48]
  • Keris berlok (berkeluk) -- Keris yang berkeluk-keluk (tidak lurus) bilahnya.[49]
  • Keris cerita -- Keris yang bilahnya berkeluk sembilan atau lebih.[50]
  • Keris ganja seiras -- Keris sepukal (keris yang hulu dan matanya dibuat daripada besi yang satu).[51]
  • Keris harubi / Keris merubi / Keris bawang sebongkol -- Sejenis keris yang berhulukan emas (khas untuk raja-raja).[52]
  • Keris kalamisani -- Sejenis keris Jawa (yang lebar, lurus dan berkeluk-keluk di pangkalnya).[53]
  • Keris melela -- Keris yang tidak berpamor.[54]
  • Keris pandak (pendek) -- Keris yang pendek bilahnya.[55]
  • Keris panjang -- Keris yang panjang bilahnya.[56]
  • Keris parung -- Sari keris yang berlok-lok dan berbentuk ular.[57]
  • Keris parung sari -- Keris yang bilahnya berkeluk tujuh atau kurang.[58]
  • Keris pasupati -- Sejenis keris.[59]
  • Keris pendawa -- Sejenis keris.[60]
  • Keris pendua -- Keris yang digunakan sebagai keris cadangan (bukan keris utama).[61]
  • Keris penyalang / Keris salang -- Keris yang digunakan untuk menyalang (sebagai menjalankan hukuman bunuh).[62][63]
  • Keris sempana -- Keris yang bilahnya berkeluk tujuh atau kurang.[64]
  • Keris sempena -- Keris yang berlok tiga (lima, tujuh).[65]
  • Keris sepukal -- a) keris ganja iras; b) keris yang lurus matanya atau bilahnya (bukan keris yang berlok).[66]
  • Keris sundang -- Sejenis keris yang lebar bilahnya seperti bilah pedang.[67]
  • Keris tempa Melaka -- Keris buatan Melaka.[68]
  • Keris teterapan -- Keris yang beralur panjang di tengah-tengah bilahnya.[69]
  • Keris wasiat -- Keris pusaka.[70]
  • Petaram -- (sastera lama) Sejenis keris kecil yang dipakai oleh perem­puan.[71]
  • Senderik -- Sejenis keris pendek.[72]

Galeri

Nota kaki

  1. ^ Mohd Zainuddin Haji Abdullah & Mohd Shahrim Senik, 2007, ms 17
  2. ^ Mohd Zainuddin Haji Abdullah & Mohd Shahrim Senik, 2007, ms 21

Rujukan

  1. ^ Kamus Pepak Basa Jawa, Sudaryanto/Pranowo, 2001, #1359
  2. ^ Mohad Zainuddin Haji Abdullah & Mohd Shahrim Senik (2007). Senjata Warisan. Dewan Bahasa dan Pustaka & Lembaga Muzium Selangor. ISBN 9789836298072.
  3. ^ Borobudur: Golden Tales of the Buddhas, edited by John N. Miksic, Marcello Tranchini.
  4. ^ Chamber's Encyclopaedia, Volume 9, International Learnings Systems, 1968 - Encyclopedias and dictionaries
  5. ^ Pogadaev, V. Magia Krisa (The Magic of Kris). Azia i Afrika Segodnya (Asia and Africa Today. Moscow, No. 4, 2010, 67-69
  6. ^ "UNESCO - Indonesian Kris". ich.unesco.org (dalam bahasa Inggeris). Dicapai pada 2020-10-24.
  7. ^ See: Javanese language: Politeness
  8. ^ "landaian - Pusat Rujukan Persuratan Melayu @ DBP". Kamus Dewan Edisi Empat. Dewan Bahasa dan Pustaka. Dicapai pada 12 November 2012.
  9. ^ "gandik - Pusat Rujukan Persuratan Melayu @ DBP". Kamus Dewan Edisi Empat. Dewan Bahasa dan Pustaka. Dicapai pada 12 November 2012.
  10. ^ "balang V - Pusat Rujukan Persuratan Melayu @ DBP". Kamus Dewan Edisi Empat. Dewan Bahasa dan Pustaka. Dicapai pada 12 November 2012.
  11. ^ "paksi I - Pusat Rujukan Persuratan Melayu @ DBP". Kamus Dewan Edisi Empat. Dewan Bahasa dan Pustaka. Dicapai pada 12 November 2012.
  12. ^ "ganja II - Pusat Rujukan Persuratan Melayu @ DBP". Kamus Dewan Edisi Empat. Dewan Bahasa dan Pustaka. Dicapai pada 12 November 2012.
  13. ^ "aring I - Pusat Rujukan Persuratan Melayu @ DBP". Kamus Dewan Edisi Empat. Dewan Bahasa dan Pustaka. Dicapai pada 12 November 2012.
  14. ^ "lok II - Pusat Rujukan Persuratan Melayu @ DBP". Kamus Dewan Edisi Empat. Dewan Bahasa dan Pustaka. Dicapai pada 12 November 2012.
  15. ^ "batir-batir - Pusat Rujukan Persuratan Melayu @ DBP". Kamus Dewan Edisi Empat. Dewan Bahasa dan Pustaka. Dicapai pada 12 November 2012.
  16. ^ "biji timun - Pusat Rujukan Persuratan Melayu @ DBP". Kamus Dewan Edisi Empat. Dewan Bahasa dan Pustaka. Dicapai pada 12 November 2012.
  17. ^ "bunga pamor - Pusat Rujukan Persuratan Melayu @ DBP". Kamus Dewan Edisi Empat. Dewan Bahasa dan Pustaka. Dicapai pada 12 November 2012.
  18. ^ "cincin pacat kenyang - Pusat Rujukan Persuratan Melayu @ DBP". Kamus Dewan Edisi Empat. Dewan Bahasa dan Pustaka. Dicapai pada 12 November 2012.
  19. ^ "dagu keris - Pusat Rujukan Persuratan Melayu @ DBP". Kamus Dewan Edisi Empat. Dewan Bahasa dan Pustaka. Dicapai pada 12 November 2012.
  20. ^ "kurai - Pusat Rujukan Persuratan Melayu @ DBP". Kamus Dewan Edisi Empat. Dewan Bahasa dan Pustaka. Dicapai pada 12 November 2012.
  21. ^ "lambai gajah - Pusat Rujukan Persuratan Melayu @ DBP". Kamus Dewan Edisi Empat. Dewan Bahasa dan Pustaka. Dicapai pada 11 November 2012.
  22. ^ "merubi - Pusat Rujukan Persuratan Melayu @ DBP". Kamus Dewan Edisi Empat. Dewan Bahasa dan Pustaka. Dicapai pada 12 November 2012.
  23. ^ "panjut I - Pusat Rujukan Persuratan Melayu @ DBP". Kamus Dewan Edisi Empat. Dewan Bahasa dan Pustaka. Dicapai pada 12 November 2012.
  24. ^ "dongkok keris - Pusat Rujukan Persuratan Melayu @ DBP". Kamus Dewan Edisi Empat. Dewan Bahasa dan Pustaka. Dicapai pada 12 November 2012.
  25. ^ "kedongkok - Pusat Rujukan Persuratan Melayu @ DBP". Kamus Dewan Edisi Empat. Dewan Bahasa dan Pustaka. Dicapai pada 11 November 2012.
  26. ^ "pemendak - Pusat Rujukan Persuratan Melayu @ DBP". Kamus Dewan Edisi Empat. Dewan Bahasa dan Pustaka. Dicapai pada 12 November 2012.
  27. ^ "penduk - Pusat Rujukan Persuratan Melayu @ DBP". Kamus Dewan Edisi Empat. Dewan Bahasa dan Pustaka. Dicapai pada 12 November 2012.
  28. ^ "terapan - Pusat Rujukan Persuratan Melayu @ DBP". Kamus Dewan Edisi Empat. Dewan Bahasa dan Pustaka. Dicapai pada 12 November 2012.
  29. ^ "penongkok - Pusat Rujukan Persuratan Melayu @ DBP". Kamus Dewan Edisi Empat. Dewan Bahasa dan Pustaka. Dicapai pada 12 November 2012.
  30. ^ "pestaka - Pusat Rujukan Persuratan Melayu @ DBP". Kamus Dewan Edisi Empat. Dewan Bahasa dan Pustaka. Dicapai pada 12 November 2012.
  31. ^ "sampir I - Pusat Rujukan Persuratan Melayu @ DBP". Kamus Dewan Edisi Empat. Dewan Bahasa dan Pustaka. Dicapai pada 12 November 2012.
  32. ^ "warangka - Pusat Rujukan Persuratan Melayu @ DBP". Kamus Dewan Edisi Empat. Dewan Bahasa dan Pustaka. Dicapai pada 11 November 2012.
  33. ^ "sigi II - Pusat Rujukan Persuratan Melayu @ DBP". Kamus Dewan Edisi Empat. Dewan Bahasa dan Pustaka. Dicapai pada 12 November 2012.
  34. ^ "tapih II - Pusat Rujukan Persuratan Melayu @ DBP". Kamus Dewan Edisi Empat. Dewan Bahasa dan Pustaka. Dicapai pada 12 November 2012.
  35. ^ "tebu-tebu - Pusat Rujukan Persuratan Melayu @ DBP". Kamus Dewan Edisi Empat. Dewan Bahasa dan Pustaka. Dicapai pada 12 November 2012.
  36. ^ "tuli-tuli - Pusat Rujukan Persuratan Melayu @ DBP". Kamus Dewan Edisi Empat. Dewan Bahasa dan Pustaka. Dicapai pada 12 November 2012.
  37. ^ "besi pamor - Pusat Rujukan Persuratan Melayu @ DBP". Kamus Dewan Edisi Empat. Dewan Bahasa dan Pustaka. Dicapai pada 12 November 2012.
  38. ^ "ekor buaya - Pusat Rujukan Persuratan Melayu @ DBP". Kamus Dewan Edisi Empat. Dewan Bahasa dan Pustaka. Dicapai pada 12 November 2012.
  39. ^ "jabung I - Pusat Rujukan Persuratan Melayu @ DBP". Kamus Dewan Edisi Empat. Dewan Bahasa dan Pustaka. Dicapai pada 12 November 2012.
  40. ^ "katimaha - Pusat Rujukan Persuratan Melayu @ DBP". Kamus Dewan Edisi Empat. Dewan Bahasa dan Pustaka. Dicapai pada 12 November 2012.
  41. ^ "ketimaha - Pusat Rujukan Persuratan Melayu @ DBP". Kamus Dewan Edisi Empat. Dewan Bahasa dan Pustaka. Dicapai pada 12 November 2012.
  42. ^ "kayu pelet - Pusat Rujukan Persuratan Melayu @ DBP". Kamus Dewan Edisi Empat. Dewan Bahasa dan Pustaka. Dicapai pada 12 November 2012.
  43. ^ "kupu-kupu III - Pusat Rujukan Persuratan Melayu @ DBP". Kamus Dewan Edisi Empat. Dewan Bahasa dan Pustaka. Dicapai pada 12 November 2012.
  44. ^ "malau - Pusat Rujukan Persuratan Melayu @ DBP". Kamus Dewan Edisi Empat. Dewan Bahasa dan Pustaka. Dicapai pada 12 November 2012.
  45. ^ "keris (anak) alang - Pusat Rujukan Persuratan Melayu @ DBP". Kamus Dewan Edisi Empat. Dewan Bahasa dan Pustaka. Dicapai pada 12 November 2012.
  46. ^ "keris (hulu) pekaka - Pusat Rujukan Persuratan Melayu @ DBP". Kamus Dewan Edisi Empat. Dewan Bahasa dan Pustaka. Dicapai pada 12 November 2012.
  47. ^ "keris alang - Pusat Rujukan Persuratan Melayu @ DBP". Kamus Dewan Edisi Empat. Dewan Bahasa dan Pustaka. Dicapai pada 11 November 2012.
  48. ^ "keris berapit - Pusat Rujukan Persuratan Melayu @ DBP". Kamus Dewan Edisi Empat. Dewan Bahasa dan Pustaka. Dicapai pada 12 November 2012.
  49. ^ "keris berlok - Pusat Rujukan Persuratan Melayu @ DBP". Kamus Dewan Edisi Empat. Dewan Bahasa dan Pustaka. Dicapai pada 12 November 2012.
  50. ^ "keris cerita - Pusat Rujukan Persuratan Melayu @ DBP". Kamus Dewan Edisi Empat. Dewan Bahasa dan Pustaka. Dicapai pada 12 November 2012.
  51. ^ "keris ganja seiras - Pusat Rujukan Persuratan Melayu @ DBP". Kamus Dewan Edisi Empat. Dewan Bahasa dan Pustaka. Dicapai pada 11 November 2012.
  52. ^ "keris harubi - Pusat Rujukan Persuratan Melayu @ DBP". Kamus Dewan Edisi Empat. Dewan Bahasa dan Pustaka. Dicapai pada 11 November 2012.
  53. ^ "keris kalamisani - Pusat Rujukan Persuratan Melayu @ DBP". Kamus Dewan Edisi Empat. Dewan Bahasa dan Pustaka. Dicapai pada 12 November 2012.
  54. ^ "keris melela - Pusat Rujukan Persuratan Melayu @ DBP". Kamus Dewan Edisi Empat. Dewan Bahasa dan Pustaka. Dicapai pada 11 November 2012.
  55. ^ "keris pandak - Pusat Rujukan Persuratan Melayu @ DBP". Kamus Dewan Edisi Empat. Dewan Bahasa dan Pustaka. Dicapai pada 11 November 2012.
  56. ^ "keris panjang - Pusat Rujukan Persuratan Melayu @ DBP". Kamus Dewan Edisi Empat. Dewan Bahasa dan Pustaka. Dicapai pada 11 November 2012.
  57. ^ "keris parung - Pusat Rujukan Persuratan Melayu @ DBP". Kamus Dewan Edisi Empat. Dewan Bahasa dan Pustaka. Dicapai pada 11 November 2012.
  58. ^ "keris parung sari - Pusat Rujukan Persuratan Melayu @ DBP". Kamus Dewan Edisi Empat. Dewan Bahasa dan Pustaka. Dicapai pada 11 November 2012.
  59. ^ "keris pasupati - Pusat Rujukan Persuratan Melayu @ DBP". Kamus Dewan Edisi Empat. Dewan Bahasa dan Pustaka. Dicapai pada 12 November 2012.
  60. ^ "keris pendawa - Pusat Rujukan Persuratan Melayu @ DBP". Kamus Dewan Edisi Empat. Dewan Bahasa dan Pustaka. Dicapai pada 12 November 2012.
  61. ^ "keris pendua - Pusat Rujukan Persuratan Melayu @ DBP". Kamus Dewan Edisi Empat. Dewan Bahasa dan Pustaka. Dicapai pada 11 November 2012.
  62. ^ "keris penyalang - Pusat Rujukan Persuratan Melayu @ DBP". Kamus Dewan Edisi Empat. Dewan Bahasa dan Pustaka. Dicapai pada 11 November 2012.
  63. ^ "keris salang - Pusat Rujukan Persuratan Melayu @ DBP". Kamus Dewan Edisi Empat. Dewan Bahasa dan Pustaka. Dicapai pada 12 November 2012.
  64. ^ "keris sempana - Pusat Rujukan Persuratan Melayu @ DBP". Kamus Dewan Edisi Empat. Dewan Bahasa dan Pustaka. Dicapai pada 12 November 2012.
  65. ^ "keris sempena - Pusat Rujukan Persuratan Melayu @ DBP". Kamus Dewan Edisi Empat. Dewan Bahasa dan Pustaka. Dicapai pada 11 November 2012.
  66. ^ "keris sepukal - Pusat Rujukan Persuratan Melayu @ DBP". Kamus Dewan Edisi Empat. Dewan Bahasa dan Pustaka. Dicapai pada 12 November 2012.
  67. ^ "keris sundang - Pusat Rujukan Persuratan Melayu @ DBP". Kamus Dewan Edisi Empat. Dewan Bahasa dan Pustaka. Dicapai pada 11 November 2012.
  68. ^ "keris tempa Melaka - Pusat Rujukan Persuratan Melayu @ DBP". Kamus Dewan Edisi Empat. Dewan Bahasa dan Pustaka. Dicapai pada 12 November 2012.
  69. ^ "keris teterapan - Pusat Rujukan Persuratan Melayu @ DBP". Kamus Dewan Edisi Empat. Dewan Bahasa dan Pustaka. Dicapai pada 11 November 2012.
  70. ^ "keris wasiat - Pusat Rujukan Persuratan Melayu @ DBP". Kamus Dewan Edisi Empat. Dewan Bahasa dan Pustaka. Dicapai pada 11 November 2012.
  71. ^ "petaram - Pusat Rujukan Persuratan Melayu @ DBP". Kamus Dewan Edisi Empat. Dewan Bahasa dan Pustaka. Dicapai pada 12 November 2012.
  72. ^ "senderik - Pusat Rujukan Persuratan Melayu @ DBP". Kamus Dewan Edisi Empat. Dewan Bahasa dan Pustaka. Dicapai pada 12 November 2012.

Pautan luar