Kesultanan Asahan

Daripada Wikipedia, ensiklopedia bebas.
Jump to navigation Jump to search
Fail:Asahan-arms.gif
Lambang Kesultanan Asahan
Bendera Kesultanan Asahan

Kesultanan Asahan diasaskan pada tahun 1630 di wilayah yang sekarang menjadi Kabupaten Asahan. Kesultanan ini dijatuhkan Belanda pada tahun 1865. Kerajaan ini meresa{ ke dalam negara Indonesia pada tahun 1946.

Raja Abdul Jalil, Sultan pertama Asahan merupakan putera Sultan Iskandar Muda. Asahan menjadi bawahan Aceh sampai awal abad ke-19.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Pengasasan[sunting | sunting sumber]

Perjalanan Sultan Aceh, Sultan Iskandar Muda ke Johor dan Malaka tahun 1612 dapat dikatakan sebagai permulaan sejarah Asahan. Dalam perjalanan tersebut, rombongan Sultan Iskandar Muda berehat di kawasan hulu sebatang sungai yang kemudian dinamakan Asahan. Perjalanan dilanjutkan ke "tanjung" yang merupakan kuala antara sungai Asahan dengan sungai Silau, kemudian bertemu dengan Raja Simargolang. Di tempat itu juga Sultan Iskandar Muda mendirikan sebuah pelataran sebagai "Balai" untuk tempat menghadap, yang kemudian berkembang menjadi perkampungan. Perkembangan daerah ini cukup pesat sebagai pusat pertemuan perdagangan dari Aceh dan Melaka, sekarang ini dikenal dengan "Tanjung Balai".[1]

Sultan pertama[sunting | sunting sumber]

Dari hasil perkawinan Sultan Iskandar Muda dengan Siti Ungu Selendang Bulan, anak dari Raja Pinang Awan yang bergelar “Marhum Mangkat di Jambu” lahirlah seorang putera yang bernama Abdul Jalil yang menjadi cikal bakal dari kesultanan Asahan. Abdul Jalil dinobatkan menjadi Sultan Asahan I. Pemerintahan kesultanan Asahan bermula pada tahun 1630 iaitu sejak pelantikan Sultan Asahan yang I s/d XI.[1]

Asahan ialah sebuah kerajaan kecil yang menjadi bawahan Aceh, maka secara automatik, struktur kekuasaan tertinggi berada di tangan Sultan Aceh. Di daerah Asahan sendiri, terlepas dari relasinya dengan Aceh, kekuasaan tertinggi berada di tangan Sultan, yang bergelar Yang Dipertuan Besar/Sri Paduka Raja. Jawatan yang lebih rendah ialah Yang Dipertuan Muda. Untuk daerah Kawasan Batubara dan kawasan yang lebih kecil, pemerintahan dijalankan oleh para datuk.[2]

Penguasaan Belanda[sunting | sunting sumber]

Pada tanggal 12 September 1865, kesultanan Asahan berjaya dikuasai oleh Belanda. Sejak itu, kekuasaan pemerintahan dipegang oleh Belanda. Kekuasaan pemerintahan Belanda di Asahan/Tanjung Balai dipimpin oleh seorang Kontroler, yang diperkuat dengan Gouverments Besluit tanggal 30 September 1867, Nomor 2 tentang pembentukan Afdeling Asahan yang berkedudukan di Tanjung Balai dan pembahagian wilayah pemerintahan dibagi menjadi tiga, yaitu:[1]

  1. Onder Afdeling Batubara
  2. Onder Afdeling Asahan
  3. Onder Afdeling Labuhan Batu

Sultan Asahan[sunting | sunting sumber]

Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah II (pemerintahan 1888-1915)

Templat:Artikel Sampai sekarang Kesultanan Asahan sudah memiliki 13 orang Sultan yang berkuasa, walaupun Sultan terakhir lebih merupakan Kepala Keluarga dari kerabat kerajaan yang masih ada. Sultan Asahan I, Sultan Abdul Jalil ialah putera Sultan Iskandar Muda dari Kesultanan Aceh yang menikah dengan Siti Ungu Putri Berinai (Siti Unai), puteri Raja Halib (al-Marhum Mankat di-Jambu), dari Pinangawan.[3]

Kehidupan Sosial Budaya[sunting | sunting sumber]

Sebagai kesultanan yang berada dalam pengaruh kebuadayaan Islam, maka di Asahan juga berkembang kehidupan keagamaan yang cukup baik. Bahkan, ada seorang ulama terkenal yang lahir dari Asahan, iaitu Syeikh Abdul Hamid. Baginda lahir tahun 1880 (1298 H), dan wafat pada 18 Februari 1951 (10 Rabiul Awal 1370 H). Datuk, nenek dan ayahnya berasal dari Talu, Minangkabau. Syekh Abdul hamid belajar agama di Mekah, kerana itu, baginda sangat disegani oleh para ulama zaman itu.[2]

Dalam perkembangannya, murid-murid Syekh Abdul Hamid inilah yang kelak mendirikan organisasi Jamiyyatul Washliyyah. Sebuah organisasi yang berasaskan aliran sunni dan mazhab Syafi'i. Dalam banyak hal, organisasi ini memiliki persamaan dengan Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI) yang didirikan oleh para ulama Minangkabau. Adanya banyak persamaan ini, kerana memang para ulama tersebut saling bersahabat baik sejak mereka menuntut ilmu di Mekkah. Pandangan para tokoh agama ini sangat berbeda dengan paham reformis yang dibawa oleh para ulama muda Minangkabau, seperti Dr. Haji Abdul Karim Amrullah. Oleh sebab itu, sering terjadi polemik di antara para pengikut kedua paham yang berbeda ini.[2]

Di paruh pertama abad ke-20, sekitar tahun 1916, di Asahan telah berdiri sebuah sekolah yang disebut Madrasah Ulumul Arabiyyah. Sebagai direktur pertama, ditunjuk Syekh Abdul Hamid. Dalam perjalanannya, madrasah Ulumul Arabiyah ini kemudian berkembang menjadi salah satu pusat pendidikan Islam yang penting di Asahan, bahkan termasuk di antara madrasah yang terkenal di Sumatera Utara, sebanding dengan Madrasah Islam Stabat, Langkat, Madrasah Islam Binjai dan Madrasah al-Hasaniyah Medan. Di antara ulama terkenal lulusan sekolah Asahan ini adalah Syeikh Muhammad Arsyad Thalib Lubis (1908-1972).[2]

Peninggalan tertulis warisan Kerajaan Asahan hanya berkaitan dengan buku-buku di bidang keagamaan yang dikarang oleh para ulama untuk kepentingan pengajaran. Berikut ini beberapa buah buku yang dikarang oleh Syeikh Abdul Hamid di Asahan, yaitu:

  1. Ad-Durusul Khulasiyah
  2. Al-Mathalibul Jamaliyah
  3. Al-Mamlakul `Arabiyah.
  4. Nujumul Ittiba.
  5. Tamyizut Taqlidi Minal Ittiba.
  6. Al-Ittiba.
  7. Al-Mufradat.
  8. Mi`rajun Nabi.

Rujukan[sunting | sunting sumber]

Pautan lua[sunting | sunting sumber]