Pesantren

Pesantren (atau pesantrian) ialah sebuah sekolah berasrama tradisional Islam di Indonesia. Pesantren biasanya terletak di rumah persendirian, pondok atau masjid. Pembelajarannya merangkumi teks-teks Islam klasik dan pemikiran santri, yang diajar oleh pengajar yang dipanggil kiai.[1] Menurut satu tradisi popular, sistem pendidikan pesantren berasal dari tradisi asrama Jawa pondokan,ashram untuk penganut Hindu atau vihara untuk penganut Buddha mempelajari falsafah agama, seni mempertahankan diri, dan meditasi. Institusi yang serupa terdapat di seluruh dunia Islam dan dipanggil pondok di Malaysia dan Selatan Thailand, balai di Brunei, serta madrasah di India dan Pakistan dan sebahagian besar dunia berbahasa Arab. Pesantren bertujuan untuk memperdalam pengetahuan al-Quran, terutamanya melalui pengajian bahasa Arab, tradisi tafsir, hadis Nabi, fiqah dan logik.
Sebagai perbadanan sosial, pesantren telah memainkan peranan penting di Indonesia sejak dahulu. Mereka menekankan nilai-nilai teras keikhlasan, kesederhanaan, kemandirian, perpaduan dan pengawalan diri. Lelaki dan wanita muda dipisahkan daripada keluarga mereka, yang menyumbang kepada rasa komitmen individu terhadap agama dan ikatan erat dengan seorang guru. [2] [1]
Seorang tokoh pesantren terkemuka di Indonesia ialah Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Presiden Indonesia yang keempat. Beliau berpendidikan dari pesantren semasa mudanya dan merupakan cucu kepada kiai yang mengasaskan pertubuhan politik keagamaan Indonesia, Nahdlatul Ulama. Gus Dur mengetuai pertubuhan itu dari 1984 hingga 1999, dan selepas tamat menjadi presiden, beliau kembali mengajar di pesantrennya di Ciganjur, Jagakarsa.
Penamaan
[sunting | sunting sumber]Istilah pesantren berasal daripada perkataan akar santri ("pelajar") -- pe-santri-an atau tempat santri.[3](m/s.48) "Pesantren" terbitan kata سانتري santri merujuk kepada para pelajar badan sebegini;[4][5]:48 C.C. Berg mengusulkannya serapan Sanskrit शास्त्रिन् śāstrin bererti "orang-orang yang tahu kitab suci agama Hindu" (sekembar kata sastera) lalu dilihat menunjukkan kemiripan pendidikan ini kepada badan-badan seumpama dalam kalangan anak muda yang dilatih menjadi pendeta pada zaman Hindu-Buddha.[6][7]
Lihat juga
[sunting | sunting sumber]- Islam di Indonesia
- Madrasah
- Surau
- Kiai, gelaran kehormat bagi pemimpin pesantren
- Kitab kuning
- Kota santri
Catatan
[sunting | sunting sumber]- ^ a b Dhofier, Zamakhsyari. "The Pesantren Tradition: A Study of the Role of the Kyai in the Maintenance of the Traditional Ideology of Islam in Java Tempe" (PDF). Arizona State University Program for Southeast Asian Studies Monograph Series. m/s. xxvii. Ralat petik: Tag
<ref>tidak sah, nama "Dhoffer1980" digunakan secara berulang dengan kandungan yang berbeza - ^ Vickers, Adrian (2005). A History of Modern Indonesia. Cambridge University Press. m/s. 55. ISBN 0-521-54262-6.
- ^ Ronald Lukens-Bull 2005 A Peaceful Jihad: Negotiating Identity and Modernity in Muslim Java. New York: Palgrave Macmillan
- ^ en Roorda, Gericke (1901). "santri". Javaansch-Nederlandsch Handwoordenboek. 16: Sa–SaKa. E. J. Brill: Leiden, Belanda. m/s. 1: 646-7 – melalui Sastra Jawa kelolaan Yayasan Sastra Lestari.
KN. een priester leerling, die op een priesterschool leert en dient om later priester te kunnen worden; in de dorpen, een bediende als vee- of buffelhoeder (vrg. cantrik)...pêsantrèn, een priesterschool PL. I, 63, -seminarium;
- ^ Lukens-Bull, Ronald (2005). "A Peaceful Jihad: Negotiating Identity and Modernity in Muslim Java". New York: Palgrave Macmillan.
- ^ Efendi, Ferry; Makhfudli (2009). Keperawatan Kesehatan Komunitas: Teori dan Praktik dalam Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika. m/s. 313. ISBN 9789793027944. Dicapai pada 22 September 2022.
- ^ Raditya, Iswara N (21 October 2019). "Sejarah & Asal Usul Kata Santri: Berasal dari Bahasa Sanskerta?". Tirto. Dicapai pada 12 February 2021.