Provinsi Maluku
Maluku | |
|---|---|
| Provinsi Maluku | |
| Motto: | |
![]() Peta interaktif bagi Maluku | |
| Koordinat: 3°42′18″S 128°10′12″T / 3.70500°S 128.17000°T | |
| Negara | |
| Wilayah | Kepulauan Maluku |
| Ibu kota dan bandar terbesar | Ambon |
| Kerajaan | |
| • Body | Pemerintah Provinsi Maluku |
| • Gabenor | Hendrik Lewerissa (Gerindra) |
| • Naib Gabenor | Abdullah Vanath |
| • Badan perundangan | Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Maluku (DPRD) |
| Keluasan | |
• Jumlah | 46,158.27 km2 (17,821.81 batu persegi) |
| • Pangkat | Ke-15 di Indonesia |
| Highest elevation | 3,027 m (9,931 ft) |
| Penduduk | |
• Jumlah | 1,970,563 |
| • Kepadatan | 43/km2 (110/batu persegi) |
| [1] | |
| Demografi | |
| • Kelompok etnik | Etnik bercampur yang ketara; Alfur, Ambon, Cina, Bugis, Buton, Jawa, orang Indonesia lain |
| • Agama (2021) | Islam (52.85%) Kristian (46.3%) - Protestan (39.4%) - Katolik (6.9%) Hinduisme (0.32%) Buddhisme (0.02%) Agama rakyat (0.55%)[2] |
| • Bahasa | Indonesia (rasmi), Melayu Ambon (lingua franca), bahasa-bahasa lain |
| Zon waktu | UTC+09 (Waktu Indonesia Timur) |
| ISO 3166 code | ID-MA |
| HDI (2024) | ▲ 0.734[3] (ke-25) – tinggi |
| Tapak sesawang | malukuprov.go.id |
Maluku ialah provinsi di Indonesia. Ia terletak di Indonesia Timur, di antara Sulawesi dan New Guinea Barat, dan terdiri daripada rantau tengah dan selatan di Kepulauan Maluku. Ia bersebelahan langsung dengan Maluku Utara, Papua Barat Daya, dan Papua Barat di utara; Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara di barat; Laut Banda, Australia, Timor-Leste, dan Nusa Tenggara Timur di selatan; dan Laut Arafura, Papua Tengah, dan Papua Selatan di timur. Luas tanahnya ialah 46,158.27 km2, dan jumlah penduduk provinsi ini pada banci 2010 ialah 1,533,506 orang,[4] meningkat kepada 1,848,923 pada banci 2020,[5] dan anggaran rasmi pada pertengahan 2025 ialah 1,970,563 orang (terdiri daripada 996,157 lelaki dan 974,396 perempuan), meningkat kira-kira 25,000 per tahun.[1] Bandar terbesar dan ibu kota provinsi Maluku ialah Ambon di Pulau Ambon yang kecil.
Maluku mempunyai dua agama utama, iaitu Islam yang pada banci 2020 dianuti oleh 52.85% penduduk provinsi dan Kristian dipeluk oleh 46.3% penduduk (39.4% Protestantisme dan 7.0% Katolik).[2]
Semua Kepulauan Maluku sebahagian daripada satu provinsi tunggal dari 1950 hingga 1999. Pada 1999, bahagian utara Maluku (kemudian terdiri daripada Kabupaten Maluku Utara, Kabupaten Halmahera Tengah dan Kota Ternate) berpisah untuk membentuk provinsi Maluku Utara yang berasingan, terpisah daripada provinsi Maluku (Selatan) yang tinggal oleh Laut Seram.
Sosial budaya
[sunting | sunting sumber]Kaum
[sunting | sunting sumber]Kaum Maluku merupakan salah satu suku kaum Melanesia Pasifik, yang masih berkerabat dengan Fiji, Tonga, dan beberapa bangsa kepulauan yang tersebar di kepulauan Lautan Pasifik.
Banyak bukti kuat yang merujuk bahawa Maluku memiliki ikatan tradisi dengan bangsa-bangsa kepulauan Pasifik, seperti bahasa, lagu-lagu daerah, makanan, serta perangkat peralatan rumah tangga, dan alat musik khas, contohnya Ukulele (yang terdapat pula dalam tradisi budaya Hawaii).
Mereka lazimnya mempunyai kulit gelap, rambut ikal, kerangka tulang besar dan kuat, dan profil tubuh yang lebih atletik berbanding dengan kaum-kaum lain di Indonesia, kerana mereka merupakan suku kaum kepulauan yang mana aktiviti laut seperti berlayar dan berenang merupakan kegiatan utama bagi kaum pria.
Pada masa kini, banyak di antara mereka yang sudah memiliki darah campuran dengan suku lain, perkahwinan dengan suku Minahasa, Sumatra, Jawa, bahkan dengan bangsa Eropah (lazimnya Belanda) sudah lazim pada masa kini, dan melahirkan keturunan-keturunan baru, yang mana sudah bukan kaum Melanesia tulen lagi.
Bahasa
[sunting | sunting sumber]Bahasa Melayu Ambon merupakan salah satu bentuk bahasa Melayu, begitu juga dengan Bahasa Indonesia. Sejak dahulu kala Bahasa Melayu teragih dan dipakai penutur-penuturnya di beragam daerah di Indonesia dan Asia Tenggara, seperti:
- P. Sumatera (Sumatera Utara, [[Kepulauan Riau, Jambi),
- P. Jawa (Melayu Jakarta),
- Nusa Tenggara Timur (Bahasa Melayu Kupang), Makassar,
- Maluku: Melayu Ambon, Melayu Dobo
- Maluku Utara: Ternate
- Malaysia, Brunei, Filipina dsb.[6]
Sejarah Bahasa Melayu Ambon dan Bahasa Indonesia Baku
[sunting | sunting sumber]Bahasa Melayu berasal dari barat Indonesia (dulu disebut barat Nusantara) dan telah berabad-abad menjadi bahasa antara suku di seluruh kepulauan Nusantara. Sebelum bangsa Portugis menjejaki Ternate pada tahun 1512, bahasa Melayu telah digunakan di Maluku sebagai bahasa perdagangan.
Bahasa Melayu Ambon berbeza dengan bahasa Melayu Ternate kerana pada zaman dahulu suku-suku di Ambon dan yang tentunya mempengaruhi perkembangan bahasa Melayu Ambon sangat berbeza dengan suku-suku yang ada di Ternate. Misalnya bahasa Melayu Ambon mendapat banyak dipengaruhi oleh bahasa Melayu Makassar. Kemudian pada abad ke-16, Portugis menjajah Maluku sehingga banyak kosa kata bahasa Portugis memasuki bahasa Melayu Ambon. Akhirnya orang Belanda memasuki Maluku, sehingga ada banyak kosa kata serapan daripada bahasa Belanda yang diterima ke dalam bahasa Melayu Ambon. Pada zaman Belanda inilah, bahasa Melayu Ambon dipakai sebagai bahasa pengantar di sekolah-sekolah, di gereja-gereja, dan juga dalam terjemahan beberapa kitab dari Alkitab. Bahasa Indonesia yang baku[6] biasanya digunakan di seluruh Republik Indonesia dalam situasi rasmi, atau dengan kata lain dalam konteks formal, seperti di sekolah-sekolah dan di kantor-kantor pemerintah.
Perbezaan antara Bahasa Melayu Ambon dan Bahasa Indonesia Baku
[sunting | sunting sumber]Silahkan merujuk pada
- R.Bolton, M. Riupassa dan J. Tjia. Pedoman Membaca dan Menulis Bahasa Ambon (Edisi Percubaan) (booklet). Mei 2005. 24 Halaman
- Don van Minde. Melayu Ambong: Phonology, Morphology, Syntax. Penerbit: Research School CNWS, Leiden University. The Netherland: 1997. 390 Halaman. ISBN 90-73782-94-5
Agama dan Kepercayaan
[sunting | sunting sumber]Kebanyakan penduduk di Maluku memeluk agama Kristian atau Islam. Hal ini disebabkan oleh pengaruh penjajahan Portugis dan Sepanyol sebelum Belanda yang telah menyebarkan agama Kristian, dan pengaruh Kesultanan Ternate dan Tidore yang menyebarkan agama Islam di wilayah Maluku serta Pedagang Arab di pesisir Pulau Ambon dan sekitarnya sebelumnya. Namun sebelum kedua agama besar tersebut masuk maluku, bangsa Maluku percaya akan nenek moyang serta roh-roh nenek moyang. Dari tutur beberapa kampung dan suku di Pulau Seram (baik yang Nasrani maupun Muslim), terbetik kisah kepercayaan kuno (ancient) yaitu NUHU. Atau dengan kata lain mereka percaya akan mithology banjir besar, manusia memiliki satu bahasa dari awalnya (serta kejadian Menara Babel), dll. Dari buku-buku Kebudayaan yang diterbitkan P & K sendiri tentang suku Wamale dan Alune (di Pulau Seram bagian barat) ada kisah tersediri. Dan terakhir dari Roy Elen (Cambridge University) telah menerbitkan klasifikasi binatang menurut suku Nuaulu (di Seram Tengah). Tutur rakyat di Manusela selalu mengarah kepada Nuhu (atau kesejajaran dengan kisah dari Kitab-Kitab Suci agama-agama besar), batas-batas suku-suku besar tersebut ditentukan dengan KERINGnya muka air dari permukaan bumi! Kemiripan ini juga terjadi dengan suku-suku melanesia lainnya di Hawaii, serta kemiripan nama seperti Waikiki di Hawaii dengan nama-nama kampung di Pulau Seram dan Pulau Buru (Maluku). Di Seram ada juga kampung yang bernama Sawai dan Wahai. [Referensi Roy Elen Thn:2000an, Buku P&K Tahun: 1980an.
Ketika agama-agama besar masuk, mereka (pimpinan agama ybs.) sangat terkejut melihat beberapa suku sudah duluan mengenal kisah Nuh dan banjir besar. Kesimpulan: Ini menambah khazanah suku-suku/bangsa-bangsa lainnya didunia yang memiliki kisah Nuh. Seperti bangsa Irak, Cina, Hawaii, India dll.
Perikanan
[sunting | sunting sumber]Sosial Budaya
[sunting | sunting sumber]Dalam masyarakat Maluku dikenal suatu sistem hubungan sosial yang disebut Pela
Pemerintahan
[sunting | sunting sumber]Kabupaten dan Kota
[sunting | sunting sumber]Templat:Daftar Daerah Tingkat II Maluku
Daftar Gabernor
[sunting | sunting sumber]| No. | Tempoh | Nama Gabernor | Keterangan |
| 1 | 1950 - 1955 | Mr. J.J. Latuharhary | |
| 2 | 1955 - 1960 | M. Djosan | |
| 3 | 1960 - 1965 | Muhammad Padang | |
| 4 | 1965 - 1968 | G.J. Latumahina | |
| 5 | 1968 - 1973 | Soemitro | |
| 6 | 1973 - 1975 | Soemeru | |
| 7 | 1975 - 1980 | Hasan Slamet | |
| 8 | 1980 - 1985 | Hasan Slamet | |
| 9 | 1985 - 1990 | Sebastian Soekoso | |
| 10 | 1990 - 1993 | Sebastian Soekoso | |
| 11 | 1993 - 1998 | M. Akib Latuconsina | |
| 12 | 1998 - 2003 | Dr.M.Saleh Latuconsina | |
| 13 | 2003 - 2008 | Brigjen TNI (Purn) Karel Alberth Ralahalu |
Lihat juga
[sunting | sunting sumber]Rujukan
[sunting | sunting sumber]- ^ a b c Badan Pusat Statistik, Jakarta, 27 February 2026, Provinsi Maluku Dalam Angka 2026 (Katalog-BPS 1102001.81)
- ^ a b "Persentase Pemeluk Agama Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Maluku 2019". www.maluku.kemenag.go.id. Diarkibkan daripada yang asal pada September 28, 2020. Dicapai pada 24 September 2020.
- ^ "Indeks Pembangunan Manusia 2024" (dalam bahasa Indonesia). Statistics Indonesia. 2024. Dicapai pada 15 November 2024.
- ^ Biro Pusat Statistik, Jakarta, 2011.
- ^ Badan Pusat Statistik, Jakarta, 2021.
- ^ a b Kutipan: "Cerita Natal Bahasa Melayu Dobo, Terbit tahun: 2005
Bibliografi
[sunting | sunting sumber]- Ajisaka, Arya; Damayanti, Dewi (2010). Mengenal Pahlawan Indonesia [Knowing Indonesian Heroes] (dalam bahasa Indonesia) (ed. Revised). Jakarta: Kawan Pustaka. ISBN 978-979-757-430-7.
- Chauvel, Richard (1990). Nationalists, Soldiers and Separatists: The Ambonese islands from colonialism to revolt 1880-1950. Leiden: KITLV Press. ISBN 978-90-6718-025-2.
- Bertrand, Jacques (2004). Nationalism and ethnic conflict in Indonesia. Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-52441-4.
- Conboy, Kenneth; Morrison, James (1999). Feet to the Fire CIA Covert Operations in Indonesia, 1957–1958. Annapolis: Naval Institute Press. ISBN 1-55750-193-9.
- Hedman, Eva-Lotta E. (2008). Conflict, violence, and displacement in indonesia. Cornell South East Asia Program Publications. m/s. 29–231. ISBN 978-0-87727-775-0.
- Sidel, John Thayer (2007). Riots, pogroms, jihad: religious violence in Indonesia. NUS Press. ISBN 978-9971-69-357-2.
- War History Office of the National Defense College of Japan (2016). Remmelink, Willem (penyunting). The Invasion of the Dutch East Indies (PDF). Leiden: Leiden University Press. ISBN 978-90-8728-237-0.
