Sunda

Daripada Wikipedia, ensiklopedia bebas.
(Dilencongkan dari Suku Sunda)
Pergi ke pandu arah Pergi ke carian
Suku Sunda
Urang Sunda
Urang Sunda
ᮅᮛᮀ ᮞᮥᮔ᮪ᮓ
ꦈꦫꦁꦱꦸꦤ꧀ꦝ
Notable Sundanese 2.jpg
Jumlah penduduk
± 45.000.000
Kawasan ramai penduduk
Indonesia (2010)41.359.454[1]
       Jawa Barat30.950.858
       Banten6.724.227
       DKI Jakarta1.423.576
       Lampung901.087
       Jawa Tengah451.781
       Sumatra Selatan180.018
       Sumatra Utara82.140
       Jambi79.926
       Riau79.289
       Kalimantan Timur56.080
       Bengkulu52.665
       Kalimantan Barat50.166
       Kepulauan Riau49.849
       Jawa Timur47.127
       Kalimantan Tengah28.694
       Sulawesi Tenggara25.436
       Kalimantan Selatan24.754
       Daerah Istimewa Yogyakarta23.921
       Bangka Belitung19.613
       Sumatera Barat16.221
       Sulawesi Tengah15.178
       Papua13.646
       Aceh12.508
       Bali11.720
       Sulawesi Selatan10.934
       Papua Barat8.050
       Nusa Tenggara Barat4.759
       Maluku4.571
       Sulawesi Utara2.975
       Maluku Utara2.644
       Sulawesi Barat1.805
       Gorontalo1.316
Jepun (2015)1.500[2]
Bahasa
Sunda, Indonesia, serta bahasa-bahasa lainnya (bergantung kepada di mana masyarakat Sunda bertempat tinggal)
Agama
Mayoritas
 • 99.85% 15px Islam Sunni
Minoritas
 • 0.08% 12px Kristen (Protestan & Katolik)
 • 0.06% Kepercayaan asli (Sunda Wiwitan)
 • 0.01% Lainnya (18px Buddha dan 15px Hindu)
Kumpulan etnik berkaitan
Suku Betawi & Suku Jawa.

Sunda adalah sebuah kumpulan etnik yang menduduki bahagian barat Pulau Jawa di Indonesia dengan jumlah penduduk sebanyak 34 juta (15,41% dari penduduk Indonesia). Kebanyakan orang Sunda menganut agama Islam dan mereka menutur sebuah bahasa yang dipanggil, Basa Sunda. Orang Portugis merujuk dalam Suma Oriental bahwa Orang Sunda bersifat jujur dan pemberani. Karakter orang Sunda yang periang dan jenaka seringkali ditampilkan melalui tokoh popular dalam cerita Sunda yaitu Kabayan dan tokoh popular dalam wayang golek yaitu Cepot, anak daripada Semar. Mereka bersifat riang, jenaka, dan banyak akal, tetapi seringkali nakal. Orang sunda juga adalah yang pertama kali melakukan hubungan diplomatik secara sejajar dengan bangsa lain. Sang Hyang Surawisesa atau Raja Samian adalah raja di Nusantara yang terawal melakukan hubungan diplomatik dengan bangsa lain pada abad ke 15 iatu dengan orang Portugis di Malaka. Hasil dari diplomasinya dituangkan dalam Naskhah Perjanjian Sunda-Portugal (Padrão).

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Menurut Rouffaer (1905: 16) menyatakan bahwa kata Sunda berasal dari akar kata sund atau kata suddha dalam bahasa Sanskerta yang mempunyai pengertian bersinar, terang, putih (Williams, 1872: 1128, Eringa, 1949: 289). Dalam bahasa Jawa Kuno (Kawi) dan bahasa Bali pun terdapat kata sunda, dengan pengertian: bersih, suci, murni, tak tercela/bernoda, air, tumpukan, pangkat, waspada (Anandakusuma, 1986: 185-186; Mardiwarsito, 1990: 569-570; Winter, 1928: 219). Orang Sunda meyakini bahwa memiliki etos atau karakter Kasundaan, sebagai jalan menuju keutamaan hidup. Karakter Sunda yang dimaksud adalah cageur (sehat), bageur (baik), bener (benar), singer (mawas diri), dan pinter (cerdas). Karakter ini telah dijalankan oleh masyarakat yang bermukim di Jawa bagian barat sejak zaman kerajaan Kerajaan Salakanagara, Kerajaan Tarumanagara, Kerajaan Sunda-Galuh, Kerajaan Pajajaran hingga sekarang .

Nama Sunda mulai digunakan oleh raja Purnawarman pada tahun 397 untuk menyebut ibukota Kerajaan Tarumanagara yang didirikannya. Untuk mengembalikan pamor Tarumanagara yang semakin menurun, pada tahun 670, Tarusbawa, penguasa Tarumanagara yang ke-13, mengganti nama Tarumanagara menjadi Kerajaan Sunda. Kemudian peristiwa ini dijadikan alasan oleh Kerajaan Galuh untuk memisahkan negaranya dari kekuasaan Tarusbawa. Dalam posisi lemah dan ingin menghindarkan perang saudara, Tarusbawa menerima tuntutan raja Galuh. Akhirnya kawasan Tarumanagara dipecah menjadi dua kerajaan, yaitu Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh dengan Sungai Citarum sebagai batasnya. Tanah Sunda saat ini melangkaui tiga Provinsi di bahagian barat Jawa iatu Banten, DKI Jakarta dan Jawa barat. Meskipun berada di Pulau Jawa, mereka tidak mahu disebut orang Jawa.

Bahasa[sunting | sunting sumber]

Bahasa Sunda digunakan oleh lebih kurang 34 juta orang dan merupakan bahasa kedua paling banyak digunakan di Indonesia selepas Bahasa Jawa. Bahasa ini ditutur oleh mereka di bahagian selatan Provinsi Banten, Jakarta dan di kebanyakan tempat di Jawa Barat. Ada terdapat beberapa dialek dalam bahasa Sunda, mulai dari dialek Sunda-Banten, hingga dialek Sunda-Jawa Tengahan yang mulai tercampur bahasa Jawa. Para pakar bahasa biasanya membedakan enam dialek yang berbeda. Dialek-dialek ini adalah:

* Dialek Barat
* Dialek Utara
* Dialek Selatan
* Dialek Tengah Timur
* Dialek Timur Laut
* Dialek Tenggara

Dialek Barat dipertuturkan di daerah Banten selatan. Dialek Utara mencakup daerah Sunda utara termasuk kota Bogor dan beberapa bagian Pantura. Lalu dialek Selatan adalah dialek Priangan yang mencakup kota Bandung, kota Tasikmalaya dan sekitarnya. Sementara itu dialek Tengah Timur adalah dialek di sekitar kota Majalengka. Dialek Timur Laut adalah dialek di sekitar kota Kuningan, dialek ini juga dipertuturkan di beberapa bagian kota Brebes, Jawa Tengah. Dan akhirnya dialek Tenggara adalah dialek sekitar kota Ciamis.

Seni Pertunjukan[sunting | sunting sumber]

Seni pertunjukan orang Sunda adalah kaya dengan pelbagai jenis muzik gamelan degung, angklung, kawih Cianjuran, tarian Jaipong dan wayang golek yang merupakan gabungan dari pelbagai pengaruh budaya.

Sistem Kekerabatan[sunting | sunting sumber]

Akad nikah adat Sunda di depan penghulu dan saksi.

Sistem keluarga dalam suku Sunda bersifat bilateral, garis keturunan ditarik dari pihak bapak dan ibu. Dalam keluarga Sunda, bapak yang bertindak sebagai kepala keluarga. Ikatan kekeluargaan yang kuat dan peranan agama Islam yang sangat mempengaruhi adat istiadat mewarnai seluruh sendi kehidupan suku Sunda. Dalam suku Sunda dikenal adanya pancakaki yaitu sebagai istilah-istilah untuk menunjukkan hubungan kekerabatan. Dicontohkannya, pertama, saudara yang berhubungan langsung, ke bawah, dan vertikal. Yaitu anak, incu (cucu), buyut (piut), bao, canggahwareng atau janggawareng, udeg-udeg, kaitsiwur atau gantungsiwur. Kedua, saudara yang berhubungan tidak langsung dan horizontal seperti anak paman, bibi, atau uwak, anak saudara kakek atau nenek, anak saudara piut. Ketiga, saudara yang berhubungan tidak langsung dan langsung serta vertikal seperti keponakan anak kakak, keponakan anak adik, dan seterusnya. Dalam bahasa Sunda dikenal pula kosa kata sajarah dan sarsilah (salsilah, silsilah) yang maknanya kurang lebih sama dengan kosa kata sejarah dan silsilah dalam bahasa Indonesia. Makna sajarah adalah susun galur/garis keturunan.

Masakan Khas[sunting | sunting sumber]

Beberapa jenis makanan jajanan tradisional Indonesia yang berasal dari tanah sunda, seperti nasi timbel, gurami bakar, sayur asem, sayur lodeh, pepes, lalaban, dll.

Profesi[sunting | sunting sumber]

Mayoritas masyarakat Sunda berprofesi sebagai petani, dan berladang, ini disebabkan tanah Sunda yang subur.[3] Sampai abad ke-19, banyak dari masyarakat Sunda yang berladang secara berpindah-pindah.

Selain bertani, masyarakat Sunda seringkali memilih untuk menjadi pengusaha dan pedagang sebagai mata pencariannya, meskipun kebanyakan berupa wirausaha kecil-kecilan yang sederhana. Chairul Tanjung, Eddy Kusnadi Sariaatmadja, dan Sandiaga Uno merupakan contoh-contoh pengusaha berdarah Sunda yang berhasil. Chairul Tanjung dan Eddy Kusnadi Sariaatmadja bahkan masuk ke dalam daftar 40 orang terkaya di Indonesia yang dirilis majalah Forbes pada tanggal 29 November 2012. Selain itu banyak artis yang berasal dari etnik Sunda seperti Armand Maulana, Betharia Sonata, Rossa, Melly Goeslaw, Nicky Astria, Nike Ardilla, Poppy Mercury, Iis Dahlia, Julia Perez, Desy Ratnasari, Rhoma Irama, Erwin Gutawa, Sule, Raffi Ahmad, Cita Citata dan lain sebagainya.

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Naim, Akhsan; Syaputra, Hendry (2011). Kewarganegaraan, Suku Bangsa, Agama, dan Bahasa Sehari-Hari Penduduk Indonesia: Hasil Sensus Penduduk 2010 (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Badan Pusat Statistik. m/s. 34–38. ISBN 9789790644175.
  2. ^ "Sikap Luwes Rahasia Perantau Sunda di Jepang". ANTARAJABAR. 2015. Diarkibkan daripada yang asal pada 2021-08-07. Dicapai pada 2021-08-07. Unknown parameter |dead-url= ignored (bantuan)
  3. ^ Hendayana, Yayat. Jawa Barat 2010, Terdepan atau Terpinggirkan?. Pikiran Rakyat.