Nama Jawa

Daripada Wikipedia, ensiklopedia bebas.
Lompat ke: pandu arah, cari

Nama Jawa adalah cara penamaan yang digunakan baik oleh orang Jawa maupun suku lain yang dipengaruhi oleh budaya dan bahasa Jawa, misalnya Tionghoa-Jawa. Banyak di antara mereka yang hanya memiliki satu nama (nama depan), namun ada pula yang memakai nama ayah mereka di belakang nama mereka (nama patronimik) ataupun yang menggunakan nama keluarga.

Nama Jawa umumnya berasal dari bahasa Jawa; banyak di antaranya yang diturunkan dari bahasa Sanskerta. Nama dengan awalan "Su-" dan "Wa-" banyak ditemui di antara pemilik nama Jawa. Selain diambil dari bahasa Jawa, nama Jawa juga dipengaruhi oleh nama Arab, terutama di antara penduduk yang memiliki tradisi Islam yang kuat, seperti di pesisir utara Jawa. Perpaduan budaya Islam dan Jawa juga menghasilkan nama-nama yang merupakan bentuk Jawa dari nama Arab, misalnya Slamet (dari salam), Sarip (dari sharif), Saliki (dari salihin), dll.

Nama tunggal[sunting | sunting sumber]

Banyak orang Jawa yang hanya memiliki nama tunggal, misalnya presiden Indonesia pertama dan kedua, Soekarno dan Soeharto. Rakyat biasa banyak yang hanya memiliki nama tunggal, sedangkan orang-orang yang memiliki pangkat atau kedudukan di masyarakat biasanya menggunakan lebih dari satu nama. Walaupun demikian, jarang di antara pemilik nama Jawa yang menggunakan nama keluarga.

Karena pengaruh kebudayaan luar, banyak orang yang menambahkan nama kepada nama tunggal mereka. Contoh: Albertus Soegijopranoto, uskup Indonesia pertama, menggunakan nama baptis Albertus di depan nama tunggalnya, Soegijopranoto.

Nama patronimik orang Jawa[sunting | sunting sumber]

Nama patronimik adalah nama depan ayah yang digunakan oleh anaknya. Contohnya adalah nama presiden Indonesia ke-4, Abdurrahman Wahid, yang diturunkan dari Wahid Hasyim, ayahnya, yang diturunkan dari Hasyim Asyari, pendiri Nahdlatul Ulama. Demikian pula dengan nama presiden Indonesia ke-5, Megawati Sukarnoputri, yang diturunkan dari nama ayahnya, Soekarno, presiden Indonesia yang pertama.

Walaupun orang Jawa menganut sistem patrilineal, namun bukan menjadi kebiasaan orang Jawa untuk menggunakan nama keluarga, kecuali keturunan orang Jawa di Suriname.

Lihat juga[sunting | sunting sumber]

Rujukan dan pautan luar[sunting | sunting sumber]