Diskriminasi terhadap Cina-Indonesia

Daripada Wikipedia, ensiklopedia bebas.
Jump to navigation Jump to search

Diskriminasi dan kekerasan terhadap orang-orang keturunan China di Indonesia telah dicatatkan setidaknya sejak tahun 1740, ketika Pemerintah Kolonial Belanda membunuh sehingga mencapai 10,000 orang keturunan China selama peristiwa Geger Pacinan. Sejak masa itu, diskriminasi dan kekerasan telah dicatat baik oleh pemerintah asing dan Indonesia. Kejadian terburuk terjadi pada tahun 1998, ketika ratusan orang China tewas dan puluhan lainnya diperkosa selama rusuhan Mei 1998.

Diskriminasi dapat mengambil bentuk kekerasan, diksi atau penggunaan bahasa, dan undang-undang yang sangat terhad. Kerana diskriminasi ini, China-Indonesia telah mengalami krisis identiti, tidak dapat diterima oleh China dan penduduk Indonesia asli.

Bentuk[sunting | sunting sumber]

Kekerasan[sunting | sunting sumber]

Bahasa[sunting | sunting sumber]

Perundang-undangan[sunting | sunting sumber]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Latar belakang[sunting | sunting sumber]

Era penjajahan[sunting | sunting sumber]

Pendudukan Jepang dan Revolusi Nasional (1942–1949)[sunting | sunting sumber]

Orde Lama (1949–1965)[sunting | sunting sumber]

Orde Baru (1965-1998)[sunting | sunting sumber]

Reformasi (1998-sekarang)[sunting | sunting sumber]

Punca[sunting | sunting sumber]

Kesan[sunting | sunting sumber]

Selama Orde Lama dan Orde Baru, Cina-Indonesia pada umumnya memenuhi pembatasan hukum sebaik yang mereka boleh. Namun, Rusuhan Mei 1998 menyebabkan perubahan dalam sikap, termasuk kegiatan politik yang lebih besar dan ketegasan.[1] Selain itu, diskriminasi menyebabkan krisis identiti etnik, dengan Cina-Indonesia yang memiliki ikatan yang kuat Cina berasa tidak diterima oleh rakyat Indonesia, dan mereka dengan ikatan yang kuat Indonesia menginginkan persamaan hak.[2]

Lihat juga[sunting | sunting sumber]

Rujukan[sunting | sunting sumber]

Catatan kaki

  1. ^ Tan 2008, m/s. 218.
  2. ^ Tan 2008, m/s. 29.

Bibliografi

Sumber daring

  • "Ethnic Chinese tell of mass rapes". BBC. 23 June 1998. Dicapai 15 May 2009. 
  • Daihani, Dadan Umar; Purnomo, Agus Budi (2001). "The May 1998 Riot in Jakarta, Indonesia, Analyzed with GIS". Dicapai 15 May 2009. 
  • "Kota Solo Penuh Asap". Kompas (dalam bahasa Indonesian). Jakarta. 15 May 1998. m/s. 11.  Parameter |trans_title= tidak diketahui diabaikan (bantuan)
  • "Amuk Massa Landa Boyolali". Kompas (dalam bahasa Indonesian). Jakarta. 16 May 1998. m/s. 7.  Parameter |trans_title= tidak diketahui diabaikan (bantuan)
  • Wijayanta, Hanibal W.Y. (1 June 1998). "Percik Bara Seantero Nusantara" (dalam bahasa Indonesian). Jakarta: Forum Keadilan: 18–22.  Parameter |trans_title= tidak diketahui diabaikan (bantuan); Parameter |coauthors= tidak diketahui diabaikan (guna |author=) (bantuan)