Prasangka

Daripada Wikipedia, ensiklopedia bebas.
Jump to navigation Jump to search

Prasangka atau prejudis [pré-ju-dis] merujuk kepada perasaan yang terkesan terhadap seseorang individu berdasarkan hubungannya dalam sesebuah kelompok, sama ada ia berdasarkan jantina, gender, kaum/etnik, kepercayaan dan agama, warganegara, kekurangan upaya, seksualiti, pekerjaan dan sebagainya; sama ada ia positif mahupun negatif.[1]

Gambaran umum[sunting | sunting sumber]

Pentakrifan[sunting | sunting sumber]

Menurut Worchel dan kawan-kawan (2000), pengertian prasangka dibatasi sebagai sifat negatif yang tidak dapat dibenarkan terhadap suatu kelompok dan individu anggotanya. Prasangka atau prejudice merupakan perilaku negatif yang mengarahkan kelompok pada individualis berdasarkan pada keterbatasan atau kesalahan informasi tentang kelompok. Prasangka juga dapat didefinisikan sebagai sesuatu yang bersifat emosional, yang akan mudah sekali menjadi motivator munculnya ledakan sosial.

Menurut Mar’at (1981), prasangka sosial adalah dugaan-dugaan yang memiliki nilai positif atau negatif, tetapi biasanya lebih bersifat negatif. Sedangkan menurut Brehm dan Kassin (1993) pula, prasangka sosial adalah perasaan negatif terhadap seseorang semata-mata berdasarkan kepada keanggotaan mereka dalam kelompok tertentu.

Menurut David O. Sears dan kawan-kawan (1991), prasangka sosial adalah penilaian terhadap kelompok atau seorang individu yang terutama didasarkan pada keanggotaan kelompok tersebut, di sini bermaksudnya prasangka sosial ditujukan pada orang atau kelompok orang yang berbeda dengannya atau kelompoknya. Prasangka sosial memiliki mutu suka dan tidak suka pada objek yang diprasangkainya, dan keadaan ini akan mempengaruhi tindakan atau perilaku seseorang yang berprasangka tersebut.

Selanjutnya Kartono, (1981) menguraikan bahawa prasangka merupakan penilaian yang terlampau tergesa-gesa, berdasarkan generalisasi yang terlampau cepat, sifatnya berat sebelah dan dibarengi tindakan yang menyederhanakan suatu realitas.

Prasangka sosial menurut Papalia dan Sally, (1985) adalah sikap negatif yang ditujukan pada orang lain yang berbeda dengan kelompoknya tanpa adanya alasan yang mendasar pada pribadi orang tersebut. Lebih lanjut diuraikan bahawa prasangka sosial berasal dari adanya persaingan yang secara berlebihan antara 2 individu atau kelompok. Selain itu proses pembelajaran juga berperanandalam pembentukan prasangka sosial dan kesemuanya ini akan terintegrasi dalam keperibadian seseorang.

Allport, (dalam Zanden, 1984) menguraikan bahawa prasangka sosial merupakan suatu sikap yang membenci kelompok lain tanpa adanya alasan yang objektif untuk membenci kelompok tersebut. Kossen (1986) selanjutnya menguraikan bahawa prasangka sosial merupakan gejala yang interen yang meminta tindakan pra hukum, atau membuat keputusan-keputusan berdasarkan bukti yang tidak cukup. Dengan demikian bila seseorang berupaya memahami orang lain dengan baik maka tindakan prasangka sosial tidak perlu terjadi.

Menurut Sears, individu yang berprasangka pada umumnya memiliki sedikit pengalaman peribadi dengan kelompok yang diprasangkai. Prasangka cenderung tidak didasarkan pada fakta objektif, tetapi didasarkan pada fakta minimum yang diinterpretasi secara subjektif. Maka dalam hal ini, prasangka melibatkan penilaian apriori kerana memperlakukan objek sasaran prasangka (target prasangka) tidak berdasarkan karakteristik unik atau khusus dari individu, tetapi melekatkan karakteristik kelompoknya yang menonjol.

John E. Farley mengelaskan prasangka ke dalam tiga kategori iaitu:[2]

  • Prasangka kognitif, merujuk pada apa yang dianggap benar.
  • Prasangka afektif, merujuk pada apa yang disukai dan tidak disukai.
  • Prasangka konatif, merujuk pada bagaimana kecenderungan seseorang dalam bertindak.

Beberapa jenis diskriminasi terjadi disebabkan prasangka ke atas perkara tertentu dalam kebanyakan masyarakat lalu tidak disetujui.

Ciri-ciri[sunting | sunting sumber]

Ciri-ciri prasangka sosial menurut Brigham (1991) dapat dilihat dari kecenderungan individu untuk membuat kategori sosial (social categorization). Kategori sosial adalah kecenderungan untuk membagii dunia sosial menjadi dua kelompok, iaitu“kelompok kita” (in group) dan “kelompok mereka” (out group). In group adalah kelompok sosial di mana individu merasa dirinya dimiliki atau memiliki (“kelompok kami”). Sedangkan out group adalah grup di luar grup sendiri (“kelompok mereka”). Timbulnya prasangka sosial dapat dilihat dari perasaan in group dan out group yang menguat.

Ciri-ciri dari prasangka sosial berdasarkan penguatan perasaan in group dan out group adalah :

Proses generalisasi terhadap perbuatan anggota kelompok lain[sunting | sunting sumber]

Menurut Ancok dan Suroso (1995), jika ada salah seorang individu daripada kelompok luar berbuat negatif, maka akan digeneralisasikan pada semua anggota kelompok luar. Sedangkan jika ada salah seorang individu yang berkelakuan negatif daripada kelompok sendiri, maka perbuatan negatif tersebut tidak akan dipukulratakan pada anggota kelompok sendiri lainnya.

Persaingan sosial[sunting | sunting sumber]

Persaingan sosial merupakan suatu cara yang digunakan oleh anggota kelompok untuk meningkatkan harga dirinya dengan membandingkan kelompoknya dengan kelompok lain dan menganggap kelompok sendiri lebih baik daripada kelompok lain.

Penilaian ekstrem terhadap anggota kelompok lain[sunting | sunting sumber]

Individu melakukan penilaian terhadap anggota kelompok lain baik penilaian positif ataupun negatif secara berlebihan. Biasanya penilaian yang diberikan berupa penilaian negatif.

Pengaruh persepsi selektif dan ingatan masa lalu[sunting | sunting sumber]

Pengaruh persepsi selektif dan ingatan masa lalu biasanya dikaitkan dengan stereotaip. Stereotaip adalah keyakinan (belief ) yang menghubungkan sekelompok individu dengan ciri-ciri sifat tertentu atau anggapan tentang ciri-ciri yang dimiliki oleh anggota kelompok luar. Jadi, stereotaip adalah prakonsepsi ide mengenai kelompok, suatu image yang pada umumnya sangat sederhana, kaku, dan klise serta tidak akurat yang biasanya timbul kerana proses generalisasi. Sehingga apabila ada seorang individu memiliki stereotaip yang relevan dengan individu yang mempersepsikannya, maka akan langsung dipersepsikan secara negatif.

Perasaan runsing (scope goating)[sunting | sunting sumber]

Menurut Brigham (1991), perasaan keresahan (scope goating) adalah rasa kerunsingan atau kegelisahan seseorang yang membuak sehingga memerlukan suatu tindakan kekerasan sebagai ungkapan rasa benci ke atas ketidakmampuannya menghadapi kegagalan. Kekecewaan akibat persaingan antara masing-masing individu dan kelompok menjadikan seseorang mencari pengganti untuk mengungkapkan keresahan kepada objek lain. Objek lain tersebut biasanya memiliki kekuatan yang lebih rendah dibandingkan dengan dirinya sehingga membuat individu mudah berprasangka

Agresi antara kelompok[sunting | sunting sumber]

Agresi biasanya timbul akibat cara berfikir yang rasialis, sehingga menyebabkan seseorang cenderung berperilaku agresif.

Dogmatisme[sunting | sunting sumber]

Dogmatisme adalah sekumpulan kepercayaan yang dianut seseorang berkaitan dengan masalah tertentu, salah satunya adalah mengenai kelompok lain. Bentuk dogmatisme dapat berupa etnosentrisme dan favoritisme. Etnosentrisme adalah paham atau kepercayaan yang menempatkan kelompok sendiri sebagai pusat segala-galanya. Sedangkan, favoritisme adalah pandangan atau kepercayaan individu yang menempatkan kelompok sendiri sebagai yang terbaik, paling benar, dan paling bermoral.

Sumber-Sumber Penyebab Prasangka Sosial[sunting | sunting sumber]

Sumber penyebab prasangka secara umum dapat dilihat berdasarkan tiga pandangan, iaitu :

Prasangka Sosial[sunting | sunting sumber]

Sumber prasangka sosial, antara lain :

Ketidaksetaraan sosial[sunting | sunting sumber]

Ketidaksetaraan sosial ini dapat berasal dari ketidaksetaraan status dan prasangka serta agama dan prasangka. Ketidaksetaraan status dan prasangka merupakan kesenjangan atau perbedaan yang mengiring ke arah prasangka negatif. Sebagai contoh, seorang majikan yang memandang budak sebagai individu yang malas, tidak bertanggung jawab, kurang berambisi, dan sebagainya, kerana secara umum ciri-ciri tersebut ditetapkan untuk para budak. Agama juga masih menjadi salah satu sumber prasangka. Sebagai contoh kita menganggap agama yang orang lain anut itu tidak sebaik agama yang kita anut.

Identitas sosial[sunting | sunting sumber]

Identitas sosial merupakan bagian untuk menjawab “siapa aku?” yang dapat dijawab bila kita memiliki keanggotaan dalam sebuah kelompok. Kita megidentifikasikan diri kita dengan kelompok tertentu (in group), sedangkan ketika kita dengan kelompok lain kita cenderung untuk memuji kebaikan kelompok kita sendiri.

Konformitas[sunting | sunting sumber]

Konformitas juga merupakan salah satu sumber prasangka sosial. Menurut penelitian bahawa orang yang berkonformitas memiliki tingkat prasangka lebih tinggi dibandingkan dengan yang tidak berkonformitas

Prasangka secara emosional[sunting | sunting sumber]

Prasangka secara Emosional sering kali timbul dipicu oleh situasi sosial, pada hal faktor emosi juga dapat memicu prasangka sosial. Secara emosional, prasangka dapat dipicu oleh keresahan dan agresi, kepribadian yang dinamis, dan kepribadian otoriter.

keresahan dan Agresi Rasa sakit sering membangkitkan pertikaian[sunting | sunting sumber]

Salah satu sumber keresahan adalah adanya kompetisi. Ketika dua kelompok bersaing untuk memperebutkan sesuatu, misalnya pekerjaan, rumah, dan derajat sosial, pencapaian goal salah satu pihak dapat menjadikan keresahan bagi pihak yang lain.

Kepribadian yang dinamis Status[sunting | sunting sumber]

Untuk dapat merasakan diri kita memiliki status, kita memerlukan adanya orang yang memiliki status dibawah kita. Salah satu kelebihan psikologi tentang prasangka adalah adanya sistem status, iaitu perasaan superior. Contohnya adalah ketika kita mendapatkan nilai terbaik dikelas, kita merasa menang dan dianggap memiliki status yang lebih baik.

Kepribadian Otoriter[sunting | sunting sumber]

Emosi yang ikut berkontribusi terhadap prasangka adalah kepribadian diri yang otoriter. Sebagai contoh, pada studi orang dewasa di Amerika, Theodor Adorno dan kawan-kawan (1950) menemukan bahawa pertikaian terhadap kaum Yahudi sering terjadi berdampingan dengan pertikaian terhadap kaum minoritas.

Prasangka Kognitif[sunting | sunting sumber]

Memahami stereotaip dan prasangka akan membantu memahami bagimana otak bekerja. Selama sepuluh tahun terakhir, pemikiran sosial mengenai prasangka adalah kepercayaan yang telah distereotaipkan dan sikap prasangka timbul tidak hanya kerana pengkeadaanan sosial, sehingga mampu menimbulkan pertikaian,akan tetapi juga merupakan hasil dari proses pemikiran yang normal. Sumber prasangka kognitif dapat dilihat dari kategorisasi dan simulasi distinktif. Kategorisasi merupakan salah satu cara untuk menyedehanakan lingkungan kita, iaitu dengan mengkelompokkan objek-objek berdasarkan kategorinya. Biasanya individu dikategorikan berdasarkan jenis kelamin dan etnik. Sebagai contoh, Tom (45 tahun), orang yang memiliki darah Afrika-Amerika. Dia merupakan seorang agen real estat di Irlandia Baru. Kita memiliki gambaran dirinya adalah seorang pria yang memiliki kulit hitam, daripada kita menggambarkannya sebagai pria berusia paruh baya, seorang bisnisman, atau penduduk bagian selatan. Berbagai penelitian mengekspos kategori orang secara spontan terhadap perbedaan ras yang menonjol. Selain menggunakan kategorisasi sebagai cara untuk merasakan dan mengamati dunia, kita juga akan menggunakan stereotaip. Seringkali orang yang berbeda, mencolok, dan terlalu ekstrem dijadikan perhatian dan mendapatkan perlakuan yang kurang ajar. Berdasarkan pada perspektif tersebut, sumber utama penyebab timbulnya prasangka adalah faktor individu dan sosial. Menurut Blumer, (dalam Zanden, 1984) salah satu penyebab terjadinya prasangka sosial adalah adanya perasaan berbeda dengan kelompok lain atau orang lain misalnya antara kelompok mayoritas dan kelompok minoritas. Berkaitan dengan kelompok mayoritas dan minoritas tersebut di atas Mar’at,(1988) menguraikan bahawa prasangka sosial banyak ditimbulkan oleh beberapa hal sebagai berikut :

  1. Kekuasaan faktual yang terlihat dalam hubungan kelompok mayoritas dan minoritas.
  2. Fakta akan perlakuan terhadap kelompok mayoritas dan minoritas.
  3. Fakta mengenai kesempatan usaha antara kelompok mayoritas dan minoritas. Fakta mengenai unsur geografik, di mana keluarga kelompok mayoritas dan minoritas menduduki daerah-daerah tertentu.
  4. Posisi dan peranan dari sosial ekonomi yang pada umumnya dikuasai kelompok mayoritas
  5. Potensi energi eksistensi dari kelompok minoritas dalam mempertahankan hidupnya

Prasangka sosial terhadap kelompok tertentu bukanlah suatu tanggapan yangdibawa sejak lahir tetapi merupakan sesuatu yang dipelajari. Menurut Kossen (1986) seseorang akan belajar dari orang lain atau kelompok tertentu yang menggunakan jalan pintas mental prasangka. Jadi, seseorang memiliki prasangka terhadap orang lain kerana terjadinya proses belajar.

Faktor-faktor yang mempengaruhi[sunting | sunting sumber]

Proses pembentukan prasangka sosial menurut Mar’at (1981) dipengaruhi oleh beberapa faktor iaitu:

Keperibadian[sunting | sunting sumber]

Dalam perkembangan kepribadian seseorang akan terlihat pula pembentukan prasangka sosial. Kepribadian otoriter mengarahkan seseorang membentuk suatu konsep prasangka sosial, kerana ada kecenderungan orang tersebut selalu merasa curiga, berfikir dogmatis dan berpola pada diri sendiri.

Pendidikan dan status[sunting | sunting sumber]

Semakin tinggi pendidikan seseorang dan semakin tinggi status yang dimilikinya akan mempengaruhi cara berfikirnya dan akan meredusir prasangka sosial.

Pendidikan ibu bapa[sunting | sunting sumber]

Dalam hal ini orang tua memiliki nilai-nilai tradisional yang dapat dikatakan berperanan sebagai suatu "ideologi keluarga" yang akan mempengaruhi prasangka sosial.

Kelompok[sunting | sunting sumber]

Kelompok memiliki norma dan nilai tersendiri dan akan mempengaruhi pembentukan prasangka sosial pada kelompok tersebut. Oleh kerananya norma kelompok yang memiliki fungsi otonom dan akan banyak memberikan informasi secara realistis atau secara emosional yang mempengaruhi sistem sikap individu.

Politik dan ekonomi[sunting | sunting sumber]

Politik dan ekonomi sering memberi kesan besar terhadap pembentukan prasangka sosial. Pengaruh politik dan ekonomi telah banyak mencetuskan terjadinya prasangka sosial terhadap kelompok lain misalnya kelompok minoritas.

Komunikasi[sunting | sunting sumber]

Komunikasi juga memiliki peranan penting dalam memberikan informasi yang baik dan komponen sikap akan banyak dipengaruhi oleh media massa seperti radio, televisi, yang kesemuanya hal ini akan mempengaruhi pembentukan prasangka sosial dalam diri seseorang.

Hubungan sosial[sunting | sunting sumber]

Hubungan sosial merupakan suatu media dalam mengurangi atau mempertinggi pembentukan prasangka sosial. Sehubungan dengan proses belajar sebagai sebab yang menimbulkan terjadinya prasangka sosial pada orang lain, maka dalam hal ini orang tua dianggap sebagai guru utama kerana pengaruh mereka paling besar pada tahap modeling pada usia anak-anak sekaligus menanamkan perilaku prasangka social kepada kelompok lain. Modelling sebagai proses meniru perilaku orang lain pada usia anak-anak, maka orang tua dianggap memainkan peranan yang cukup besar. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Ashmore dan DelBoka,(dalam Sears et all, 1985) yang menunjukkan bahawa orang tua memiliki peranan yang penting dalam pembentukan prasangka sosial dalam diri anak. Jadi, terdapat korelasi antara sikap etnik dan rasial orang tua dengan sikap etnik dan rasial pada diri anak. Dari uraian singkat tersebut di atas dapat disimpulkan bahawa prasangka social terjadi disebabkan adanya perasaan berbeda dengan orang lain atau kelompok lain. Selain itu prasangka sosial disebabkan oleh adanya proses belajar, juga timbul disebabkan oleh adanya perasaan membenci antara individu atau kelompok misalnya antara kelompok mayoritas dan kelompok minoritas. Rose (dalam Gerungan, 1991) menguraikan bahawa faktor yang mempengaruhi prasangka sosial adalah faktor kepentingan perseorangan atau kelompok tertentu,yang akan memperoleh keuntungan atau rezekinya apabila mereka memupuk prasangka sosial. Prasangka sosial yang demikian digunakan untuk mengeksploitasi golongan-golongan lainnya demi kemajuan perseorangan atau golongan sendiri. Prasangka sosial pada diri seseorang menurut Kossen (1986) dipengaruhi oleh ketidaktahuan dan ketiadaan tentang objek atau subjek yang diprasangkainya. Seseorang sering sekali menghukum atau memberi penilaian yang salah terhadap objek atau subjek tertentu sebelum memeriksa kebenarannya, sehingga orang tersebut memberi penilaian tanpa mengetahui permasalahannya dengan jelas, atau dengan kata lain penilaian tersebut tidak didasarkan pada fakta-fakta yang cukup. Selanjutnya Gerungan, (1991) menguraikan bahawa prasangka sosial dipengaruhioleh kurangnya pengetahuan dan pengertian akan fakta-fakta kehidupan yang sebenarnya dari golongan-golongan orang yang diprasangkainya.

Teori-teori prasangka sosial[sunting | sunting sumber]

Prasangka merupakan hasil dari interaksi sosial, maka prasangka sebagian besar disebabkan oleh faktor sosial. Berikut terdapat beberapa teori psikologi yang dapat menjelaskan bagaimana faktor sosial yang telah dijelaskan diatas dapat menyebabkan munculnya prasangka dan mengapa prasangka muncul dalam interaksi sosial, iaitu: teori konflik realistik, teori belajar sosial, teori kognitif,teori psikodinamika, teori kategorisasi sosial, teori perbandingan sosial, teoribiologi dan deprivasi relative

Teori Konflik Realistik[sunting | sunting sumber]

Teori ini memandang bahawa terjadinya kompetisi (biasanya persaingan memperoleh sumber-sumber langka, seperti ekonomi dan kekuasaan) dan konflik antara kelompok dapat meningkatkan kecenderungan untuk berprasangka dan mendiskriminasikan anggota out group. Kompetisi yang terjadi antara dua kelompok yang saling mengancam akan menimbulkan permusuhan dan menciptakan penilaian negatif yang bersifat timbale balik. Jadi, prasangka merupakan konsekuensi dari konflik nyata yang tidak dapat dielakan. Judd dan Park (1988) menyatakan bahawa ketika kelompok ada dalam situasi kompetisi maka akan memunculkan efek homogenitas out group , iaitu kecenderungan untuk m elihat semua anggota dari out group adalah sama atau homogen semakin intensif. LeVine dan Campbel (1972) menyebut kompetisi yang terjadi sebagai konflik kelompok yang realistik. Biasanya terjadi kerana kedua kelompok bersaing untuk memperebutkan sumber langka yang sama. Contoh dari teori konflik realistik adalah prasangka anti-Negro di Selatan (Amerika Serikat) yang menyatakan bahawa penyebabnya adalah konflik kelompok yang realistis. Pada saat itu, di daerah Selatan relatif miskin, dan sangat tergantung pada perkebunan kapuk dan tembakau, serta industri yang relatif kecil. Ladang kerja sedikit dan jauh, sehingga kelas pekerja berdasarkan jenis kulit mengalami persaingan. Individu negro merupakan pekerja yang tidak terampil dan kurang terdidik berusaha memperebutkan ladang kerja yang langka itu dengan individu kulit putih yang pada dasarnya merupakan pekerja yang terampil dan terdidik. Berdasarkan teori, konflik yang terjadi antara kedua kelompok tersebut menumbuhkan rasialisme dan menunjang timbulnya diskriminasi kerja terhadap individu Negro, kerana individu kulit putih memiliki kekuatan ekonomi dan politik yang lebih besar.

Teori Belajar Sosial[sunting | sunting sumber]

Menurut teori belajar sosial, prasangka adalah sesuatu yang dipelajari seperti halnya individu belajar nilai-nilai sosial yang lain. Prasangka biasanya diperoleh anak-anak melalui proses sosialisasi. Anak-anak banyak yang menginternalisasikan norma-norma mengenai stereotaip dan perilaku antara kelompok yang ditetapkan oleh orang tua dan teman sebaya. Selain dari orang tua dan teman sebaya, media massa juga menjadi sumber anak untuk mempelajari stereotaip dan prasangka. Contoh dari teori belajar sosial adalah di Amerika, banyak anak kulit putih yang mungkin melihat tuanya bersikap diskriminatif terhadap individu kulit hitam, mendengar ucapan-ucapan orang tuanya yang meremehkan kulit hitam, dan melarang anaknya untuk bermain dengan anak-anak kulit hitam. Dalam perkembangan selanjutnya, mereka akan mendengar pembicaraan teman-teman sebayanya yang mengatakan bahawa individu kulit hitam adalah jelek dan mereka akan dikucilkan jika kelihatan bermain dengan kulit hitam. Orang tua mereka juga menekankan cerita-cerita yang mengatakan individu kulit hitam merupakan pelanggar hukum. Sehingga dari kejaadian-kejadian tersebut anak diajarkan untuk berprasangka terhadap individu kulit hitam. Anak-anak memiliki model orang tua dan teman sebaya yanag berprasangka dan juga menghukum jika ia bermain dengan individu kulit hitam, dengan demikian anak belajar untuk membenci kulit hitam.

Teori Kognitif[sunting | sunting sumber]

Teori kognitif menjelaskan bagaimana cara individu berfikir mengenai prasangka (objek yang dijadikan sasaran untuk diprasangkai) dan bagaimana individu memproses informasi dan memahami secara subjektif mengenai dunia dan individu lain. Dalam mengamati individu lain, seseorang berusaha mengembangkan kesan yang terstruktur mengenai individu lain dengan cara melakukan proses kategorisasi. Kategorisasi sering kali didasarkan pada isyarat yang sangat jelas dan menonjol, seperti warna kulit, bentuk tubuh, dan logat bahasa. Berdasarkan teori kognitif, prasangka timbul kerana adanya atribusi dan perbedaan antara in group dan out group

Teori Atribusi[sunting | sunting sumber]

Atribusi adalah proses bagaimana kita mencuba menafsirkan dan menjelaskan perilaku individu lain, iaitu untuk melihat sebab tindakan mereka. Menurut teori atribusi, prasangka disebabkan oleh individu sebagai pengamat melakukan atribusi yang “bias” terhadap target prasangka. Thomas Pettigrew (1979), Emmot, Pettigrew dan Johnson (1983) mengemukakan bahawa individu yang berprasangka cenderung melakukan “ultimate attribution error”, yang merupakan perluasan dari “fundamental attribution error”. Pettigrew juga menyebutkan adanya ketidakkonsistenan atribusi individu yang berprasangka terjadi kerana target prasangka menunjukkan perilaku positif, iaitu:

  1. Kasus yang terkecuali (exceptional case) – Individu yang berprasangka akan memandang tindakan positif individu yang ditunjukkan target prasangka sebagai kasus yang terkecuali. Sebagai contoh,individu kulit putih yang melihat individu kulit hitam memiliki perilaku yang baik akan menyebutkan bahawa individu kulit hitam tersebut berbeda dari individu kulit hitam lainnya.
  2. Nasib baik atau keberuntungan istimewa (luck or special advantage) – Individu yang berprasangka melihat target prasangka bertindak positif, maka mereka akan mempersepsikan hal tersebut bukan sebagai potensi atau pembawaan yang baik dari target prasangka, melainkan target prasangka sedang mengalami nasib baik atau mendapatkan keberuntungan.
  3. Konteks situasional – Individu yang berprasangka melihat target prasangka bertindak positif, makamereka akan mempersepsikan hal tersebut lebih banyak dipengaruhi olehfaktor paksaan situasi (konformitas), bukan disebabkan oleh faktor disposisikepribadiannya.
  4. Usaha dan motivasi yang tinggi – Individu yang berprasangka melihat target prasangka bertindak positif (misalnya berprestasi), maka mereka akan mempersepsikan hal tersebut bukansebagai usaha dan motivasi target prasangka untuk mencapai kesuksesan,bukan kerana kemampuannya.
  5. In group dan out group – Secara umum, in group dapat diartikan sebagai suatu kelompok di manaseseorang mempunyai perasaan memiliki dan “common identity” (identitasumum). Sedangkan out group adalah suatu kelompok yang dipersepsikan jelasberbeda dengan “ in group ”. Adanya perasaan “ in group” sering menimbulkan “ingroup bias”, iaitu kecenderungan untuk menganggap baik kelompoknya sendiri. Menurut Henry Tajfel (1974) dan Michael Billig (1982) In group bias merupakan refleksi perasaan tidak suka pada out group dan perasaan suka pada ingroup . Hal tersebut terjadi kemungkinan kerana loyalitas terhadap kelompok yang dimilikinya yang pada umumnya disertai devaluasi kelompok lain. Berdasarkan Teori Identitas Sosial, Henry Tajfel dan John Tunner (1982)mengemukakan bahawa prasangka biasanya terjadi disebabkan oleh “in groupfavoritism”, iaitu kecenderungan untuk mendiskriminasikan dalam perlakuan yang lebih baik atau menguntungkan in group di atas out group. Berdasarkan teori tersebut, masing-masing dari kita akan berusaha meningkatkan harga diri kita,iaitu : identitas pribadi (personal identity ) dan identitas sosial yang berasal darikelompok yang kita miliki. Jadi, kita dapat memperteguh harga diri kita dengan prestasi yang kita miliki secara pribadi dan bagaimana kita membandingkan dengan individu lain. Identitas sosial merupakan keseluruhan aspek konsep diri seseorang yang berasal dari kelompok sosial mereka atau kategori keanggotaan bersama secara emosional dan hasil evaluasi yang bermakna. Artinya, seseorang memiliki kelekatan emosional terhadap kelompok sosialnya. Kelekatan itu sendiri muncul setelah menyadari keberadaannya sebagai anggota suatu kelompok tertentu.Orang memakai identitas sosialnya sebagai sumber dari kebanggaan diri danharga diri. Semakin positif kelompok dinilai maka semakin kuat identitaskelompok yang dimiliki dan akan memperkuat harga diri. Sebaliknya jikakelompok yang dimiliki dinilai memiliki prestise yang rendah maka hal itu jugaakan menimbulkan identifikasi yang rendah terhadap kelompok. Dan apabila terjadi sesuatu yang mengancam harga diri maka kelekatan terhadap kelompok akan meningkat dan perasaan tidak suka terhadap kelompok lain juga meningkat.Demikan pula akhirnya prasangka diperkuat.Sebagai upaya meningkatkan harga diri, seseorang akan selalu berusaha untuk memperoleh identitas sosial yang positif. Upaya meningkatkan identitas sosial yang positif itu diantaranya dengan membesar-besarkan kualitas kelompok sendirisementara kelompok lain dianggap kelompok yang inferior. Secara alamiah memang selalu terjadi in group bias yakni kecenderungan untuk menganggap kelompok lain lebih memiliki sifat-sifat negatif atau kurang baik dibandingkan kelompok sendiri. Tidak setiap orang memiliki derajat identifikasi yang sama terhadap kelompok. Ada yang kuat identifikasinya dan ada pula yang kurang kuat. Orang dengan identifikasi social yang kuat terhadap kelompok cenderung untuk lebih berprasangka daripada orang yang identifikasinya terhadap kelompok rendah. Secara umum derajat identifikasi seseorang terhadap kelompok dibedakan menjadi dua yakni, high identifiers dan low identifiers. High identifiers mengidentifikasikan diri sangat kuat, bangga, dan rela berkorban demi kelompok. Hal ini misalnya ditunjukkan dengan melindungi dan membela kelompok kala mendapatkan imej yang buruk. Dalam situasi yang mengancam kelompok, orang dengan high identifiers akan menyusun strategi kolektif untuk menghadapi ancaman tersebut. Sebaliknya low identifiers kurang kuat mengidentifikasikan kedalam kelompok. Orang dengan identifikasi rendah terhadap kelompok ini akan membiarkan kelompok terpecah-pecah dan melepaskan diri mereka darikelompok ketika berada dibawah ancaman. Mereka juga merasa bahawa anggota-anggota kelompok kurang homogen.Teori identitas sosial memiliki dua prediksi, iaitu : (1)ancaman terhadap hargadiri seseorang akan meningkatkan kebutuhan untuk in group favoritism dan (2)ekspresi in group pada gilirannya meningkatkan harga diri seseorang. MenurutWorchel dan kawan-kawan (2000), biasanya loyalitas dan in group favoritism akan lebih muncul dan lebih intens pada kelompok minoritas daripada kelompok mayoritas.Pada dasarnya, timbulnya in group bias selain bergantung pada tendensiseseorang untuk berinteraksi secara primer dengan anggota kelompok merekasendiri, juga bergantung pada pola interaksi yang ada antara kelompok. Jikainteraksi anatr kelompok jauh, maka gap antara kelompok akan lebar dan dapatmemperbesar kemungkinan timbulnya in group bias.

Teori psikodinamika[sunting | sunting sumber]

Menurut teori psikodinamika, prasangka adalah agresi yang dialihkan. Pengalihan agresi terjadi apabila sumber keresahan tidak dapat diserang kerana rasatakut dan sumber keresahan itu benar-benar tidak ada. Prasangka juga dapat timbulakibat terganggunya fungsi psikologi dalam diri individu tersebut.Berdasarkan teori psikodinamika, prasangka timbul kerana adanya rasakeresahan dan kepribadian yang otoriter:

  1. Teori keresahan. Menurut teori keresahan, prasangka merupakan manifestasi dari “displaced aggression” sebagai akibat dari keresahan. Asumsi dasar teori ini adalah jika tujuanseseorang dirintangi atau dihalangi, maka individu tersebut akan mengalamikeresahan. keresahan yang dialami akan membawa individu tersebut pada perasaanbermusuhan terhadap sumber penyebab keresahan. Hal itulah yang menyebabkanindividu seringkali mengkambing hitamkan individu lain yang kurang memilikikekuasaan.
  2. Kepribadian Otoriter. Adorno, Frenkel, Brunswick, Levinson dan Sanfok (1950) pada bukunya yangberjudul The Authoritarian Personality menyebutkan bahawa prasangka adalahhasil dari karakteristik kepribadian tertentu yang disebut dengan istilahkepribadian otoriter. taip kepribadian ini ditandai dengan super ego yang ketatdan kaku, id yang kuat, dan struktur ego yang lemah. Kepribadian otoriterberkembang kerana perasaan bermusuhan yang latent kepada oarng tua yang rigid (kaku) dan tidak terlalu banyak menuntut.Sebagai contoh, anak yang memiliki orang tua dangan pola pengasuhanotoriter akan memiliki anggapan bahawa orang tua selalu benar kerana memilikikuasa akan dirinya dirumah. Hal itu dapat menyebabkan permusuhan dasar anak terhadap orang tuanya. Namun kerana anak tidak berani untuk mengarahkan permusuhannya langsung kepada orang tuanya, ia akan mengarahkan permusuhanitu kepada temannya yang lemah atau tidak memiliki kekuasaan.

Teori kategorisasi sosial[sunting | sunting sumber]

Dunia merupakan kekompleksan yang tiada batas. Melalui kategorisasi kita membuatnya menjadi sederhana dan bisa kita mengerti. Melalui kategorisasi kita membedakan diri kita dengan orang lain, keluarga kita dengan keluarga lain,kelompok kita dengan kelompok lain, etnik kita dengan etnik lain. Pembedaan kategori ini bisa berdasarkan persamaan atau perbedaan. Misalnya persamaan tempat tinggal, garis keturunan, warna kulit, pekerjaan, kekayaan yang relatif sama dan sebagainya akan dikategorikan dalam kelompok yang sama. Sedangkan perbedaan dalam warna kulit, usia, jenis kelamin, tempat tinggal, pekerjaan,tingkat pendidikan dan lainnya maka dikategorikan dalam kelompok yang berbeda. Mereka yang memiliki kesamaan dengan diri kita akan dinilai satu kelompok dengan kita atau in group . Sedangkan mereka yang berbeda dengan kita akan dikategorikan sebagai out group. Seseorang pada saat yang sama bias dikategorikan dalam in group ataupun out group sekaligus. Misalnya Sandi adalah tetangga kita, jadi sama-sama sebagai anggota kelompok pertetanggaan lingkungan RT. Pada saat yang sama ia merupakan lawan kita kerana ia bekerja pada perusahaan saingan kita. Jadi, Sandi termasuk satu kelompok dengan kita (ingroup) sekaligus bukan sekelompok dengan kita (out group) . Kategorisasi memiliki dua efek fundamental yakni melebih-lebihkan perbedaan antara kelompok dan meningkatkan kesamaan kelompok sendiri. Perbedaan antara kelompok yang ada cenderung dibesar-besarkan dan itu yang sering di ekspos sementara kesamaan yang ada cenderung untuk diabaikan. Disisilain kesamaan yang dimiliki oleh kelompok cenderung sangat dilebih-lebihkan dan itu pula yang selalu diungkapkan. Sementara itu perbedaan yang ada cenderung diabaikan. Sebagai contoh perbedaan antara etnik jawa dan etnik batak akan cenderung di lebih-lebihkan, misalnya dalam bertutur kata di mana etnik jawa lembut dan etnik Batak kasar. Lalu, orang-orang seetnik cenderung untuk merasa sangat identik satu sama lain padahal sebenarnya di antara mereka relatif cukup berbeda. Ukuran kelompok adalah faktor penting dalam menilai apakah di antara anggota-anggotanya relatif sama ataukah plural. Kelompok minoritas menilai dirinya lebih similar dalam kelompok, sementara kelompok mayoritas menilai dirinya kurang similar. Anggota kelompok minoritas juga mengidentifikasikan diri lebih kuat ke dalam kelompok ketimbang anggota kelompok yang lebih besar. Kelompok yang minoritas juga menilai dirinya lebih berada di dalam ancaman dibanding kelompok yang lebih besar. Keadaan ini menyebabkan kelompok minoritas tidak mudah percaya, sangat berhati-hati dan lebih mudah berprasangka terhadap kelompok mayoritas. Kecemasan berlebih itu tidak kondusif dalam harmonisasi hubungan sosial. kerana sebagaimana yang dikatakan oleh Islam dan Hewstone (1993) hubungan yang cenderung meningkatkan kecemasan akan mengurangi sikap yang baik terhadap kelompok lain. Pengkategorian cenderung mengkontraskan antara dua pihak yang berbeda. Jika yang satu dinilai baik maka kelompok lain cenderung dinilai buruk. Kelompok sendiri biasanya akan dinilai baik, superior, dan layak dibangga kanuntuk meningkatkan harga diri. Sementara itu disaat yang sama, kelompok lain cenderung dianggap buruk, inferior, dan memalukan. Keadaan ini bias menimbulkan konflik kerana masing-masing kelompok merasa paling baik. Keadaan konflik ini baik terbuka ataupun tidak melahirkan prasangka. Oakes, Haslam & Turner (1994) menyatakan bahawa kategorisasi sosial juga akanmelahirkan diskriminasi antara kelompok jika memenuhi keadaan berikut : Derajat subjek mengidentifikasi dengan kelompoknya. Semakin tinggi derajat identifikasi terhadap kelompok semakin tinggi kemungkinan melakukan diskriminasi. Menonjol tidaknya kelompok lain yang relevan. Bila kelompok yang relevan cukup menonjol maka kecenderungan untuk terjadi diskriminasi juga besar. Derajat di mana kelompok dibandingkan pada dimensi-dimensi itu (kesamaan,kedekatan, perbedaan yang ambigu). Semakin sama, semakin dekat, dan semakin ambigu yang dibandingkan maka kemungkinan diskriminasi akan mengecil. Penting dan relevankah membandingkan dimensi-dimensi dengan identitas kelompok. Semakin penting dan relevan dimensi yang dibandingkan dengan identitas kelompok maka kemungkinan diskriminasi juga semakin besar.Status relatif in group dan karakter perbedaan status antara kelompok yang dirasakan. Semakin besar perbedaan yang dirasakan maka diskriminasi juga semakin mungkin terjadi

Teori perbandingan sosial[sunting | sunting sumber]

Kita selalu membandingkan diri kita dengan orang lain dan kelompok kitadengan kelompok lain. Hal-hal yang dibandingkan hampir semua yang kita miliki,mulai dari status sosial, status ekonomi, kecantikan, karakter kepribadian dansebagainya. Konsekuensi dari pembandingan adalah adanya penilaian sesuatulebih baik atau lebih buruk dari yang lain. Melalui perbandingan sosial kita jugamenyadari posisi kita di mata orang lain dan masyarakat. Kesadaran akan posisiini tidak akan melahirkan prasangka bila kita menilai orang lain relatif memilikiposisi yang sama dengan kita. Prasangka terlahir ketika orang menilai adanyaperbedaan yang mencolok. Artinya keadaan status yang tidak seimbanglah yangakan melahirkan prasangka (Myers, 1999). Dalam masyarakat yang perbedaankekayaan anggotanya begitu tajam prasangka cenderung sangat kuat. Sebaliknyabila status sosial ekonomi relatif setara prasangka yang ada kurang kuat.Para sosiolog menyebutkan bahawa prasangka dan diskriminasi adalah hasildari stratifikasi sosial yang didasarkan distribusi kekuasaan, status, dan kekayaanyang tidak seimbang di antara kelompok-kelompok yang bertentangan (Manger,1991). Dalam masyarakat yang terstruktur dalam stratifikasi yang ketat, kelompok dominan dapat menggunakan kekuasaan mereka untuk memaksakan ideologiyang menjustifikasi praktik diskriminasi untuk mempertahankan posisimenguntungkan mereka dalam kelompok sosial. Hal ini membuat kelompok dominan berprasangka terhadap pihak-pihak yang dinilai bisa menggoyahkanhegemoni mereka. Sementara itu kelompok yang didominasipun berprasangkaterhadap kelompok dominan kerana kecemasan akan dieksploitasi

Teori biologi[sunting | sunting sumber]

Menurut pendekatan ini prasangka memiliki dasar biologis. Hipotesisnya adalah bahawa kecenderungan untuk tidak menyukai kelompok lain dan hal-hal lain yang bukan milik kita merupakan warisan yang telah terpetakan dalam genkita. Pendekatan biologis ini berasal dari sosiobiologi. Rushton dalam Baron danByrne (1991) mengistilahkan pendekatan ini sebagai genetic similarity theory . Asumsi dari teori ini adalah bahawa gen akan memastikan kelestariannya dengan mendorong reproduksi gen yang paling baik yang memiliki kesamaan. Bukti dari hal ini adalah bisa dilacaknya nenek moyang kita melalui DNA kerana kita dengan nenek moyang kita memiliki kesamaan gen. Maka, menurut teori ini orang-orang yang memiliki kemiripan satu sama lain atau yang menunjukkan pola sifat yang mirip sangat mungkin memiliki gen-gen yang lebih serupa dibandingkan dengan yang tidak memiliki kemiripan satu sama lain. Misalnya orang-orang yang berasal dari etnik yang sama memiliki gen yang relatif lebih mirip daripada dengan orang dari etnik yang berbeda. Menurut teori kesamaan gen, faktor kesamaaan gen dalam satu etnik dimungkinkan sebagai faktor yang menyebabkan individu berperilaku lebih murah hati terhadap anggota etniknya daripada kepada etnik yang berbeda. Rushton juga menyebutkan bahawa ketakutan dan kekurang percayaan terhadap orang asing telah terpola dalam gen, sebab meskipun orang asing tidak membahayakan sama sekali, kecenderungan curiga dan tidak percaya tetap ada. Hal ini memberikan kontribusi nyata terhadap munculnya prasangka. Banyak ilmuwan menolak teori sosiobiologis. Teori ini dinilai tidak bias dipertanggungjawabkan. Mereka yang menolak berpendapat bahawasanya prasangka semata-mata merupakan produk dari adanya interaksi sosial dan kecenderungan kepribadian tertentu.

Deprivasi Relatif[sunting | sunting sumber]

Deprivasi relatif adalah keadaan psikologis di mana seseorang merasakan ketidakpuasan atas kesenjangan atau kekurangan subjektif yang dirasakannya pada saat keadaan diri dan kelompoknya dibandingkan dengan orang atau kelompok lain. Keadaan deprivasi bisa menimbulkan persepsi adanya suatu ketidakadilan. Sedangkan perasaan mengalami ketidakadilan yang muncul kerana deprivasi akan mendorong adanya prasangka (Brown, 1995). Misalnya di suatu wilayah, sekelompok etnik A bermata pencaharian sebagai petani padi sawah. Masing-masing keluarga etnik tersebut mengerjakan sawah seluas 2 ha. Rata-rata hasil panen yang didapatkan setiap kali panen (1 kali setahun) adalah 8 ton padi. Mereka sangat puas dengan hasil tersebut dan merasa beruntung. Kemudian datanglah sekelompok etnik B yang juga mengerjakan sawah di wilayah itu dengan luas 2 ha per keluarga. Ternyata, hasil panenan kelompok etnik B jauh lebih banyak (14 ton sekali panen). Sejak itu muncullah ketidakpuasan etnik A terhadap hasil panennya kerana mengetahui bahawa etnik B bisa panen lebih banyak. Ketidakpuasan yang dialami etnik A itu merupakan deprivasi relatif. Pada awal kedatangan etnik B, mereka disambut baik oleh etnik A. Akan tetapi setelah etnik B berhasil memanen padi di sawah barunya, mulailah timbul ketidaksukaan etnik A terhadap etnik B. etnik A menuduh etnik B berkolusi engan petugas pengairan sehingga mendapatkan pengairan yang lebih baik kerananya hasil panennya lebih baik. etnik A mulai merasakan adanya perlakuan yang tidak adil dari petugas pengairan terhadap mereka, meski sebenarnya tidak ada pembedaan perlakuan dari petugas tesebut. Tidak hanya itu, dalam berbagai hal etnik A pun jadi berprasangka terhadap etnik B, dan mulai tidak menerima kehadiran etnik B. Contoh diatas menggambarkan timbulnya prasangka akibat dari deprivasi relatif. Hal demikian seringkali terjadi terutama di daerah-daerah di mana terdapat penduduk asli dan penduduk pendatang yang cukup besar. Contoh paling bagus adalah daerah transmigrasi di mana penduduk asli tinggal tidak jauh dari sana. Sepanjang keadaan ekonomi penduduk asli masih lebih baik daripada transmigran,penerimaan penduduk asli terhadap transmigran akan berjalan baik. Akan tetapi begitu keadaan ekonomi pendatang menjadi lebih baik daripada penduduk asli maka mulai timbullah deprivasi relatif dari penduduk asli, hal mana mulai menimbulkan prasangka dan berbagai gejolak lainnya.

Kesan prasangka[sunting | sunting sumber]

Prasangka sosial menurut Rose, (dalam Gerungan, 1981) dapat merugikan masyarakat secara dan umum dan organisasi khususnya. Hal ini terjadi kerana prasangka sosial dapat menghambat perkembangan potensi individu secara maksimal. Selanjutnya Steplan (1978) menguraikan bahawa prasangka sosial tidak saja mempengaruhi perilaku orang dewasa tetapi juga anak-anak sehingga dapat membatasi kesempatan mereka berkembang menjadi orang yang memiliki toleransi terhadap kelompok sasaran misalnya kelompok minoritas. Rosenbreg dan Simmons, (1971) juga menguraikan bahawa prasangka sosialakan menjadikan kelompok individu tertentu dengan kelompok individu lain berbeda kedudukannya dan menjadikan mereka tidak mahu bergabung atau bersosialisasi. Apabila hal ini terjadi dalam organisasi atau perusahaan akan merusak kerjasama. Selanjutnya diuraikan bahawa prasangka sosial dapat bertahan dalam jangka waktu yang lama kerana prasangka sosial merupakan pengalaman yang kurang menyenangkan bagi kelompok yang diprasangkai tersebut. Kesimpulan yang dapat diambil dari uraian tentang dampak prasangka sosialdi atas adalah bahawa dengan adanya prasangka sosial akan mempengaruhi sikapdan tingkah laku seseorang dalam berbagai situasi. Prasangka sosial dapat menjadikan seseorang atau kelompok tertentu tidak mahu bergabung atau bersosialisasi dengan kelompok lain. Apabila keadaan tersebut terdapat dalam organisasi akan mengganggu kerjasama yang baik sehingga upaya pencapaian tujuan organisasi kurang dapat terealisir dengan baik.

Lihat juga[sunting | sunting sumber]

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Dovidio, J. F.; Gaertner, S. L (2010). "Intergroup bias"". dalam In S. T. Fiske, D. T. Gilbert, & G. Lindzey. The Handbook of Social Psychology. 2 (edisi ke-5). New York: Wiley. .
  2. ^ Farley, pp. 18-19