Sakoku

Daripada Wikipedia, ensiklopedia bebas.
Lompat ke: pandu arah, cari
Kapal jung Cina di Jepun, pada masa awal zaman Sakoku (1644-1648, cetakan blok kayu Jepun).

Sakoku (鎖国 harfiah: negara terkunci / negara terrantai?) adalah Polisi luar negeri Jepun, yang mengatakan bahawa orang asing yang tidak diizinkan memasuki Jepun sementaranya warga Jepun tidak diizinkan meninggalkan Jepun, di bawah ancaman hukuman mati. Polisi tersebut digubalkan ketika Keshogunan Tokugawa berada di bawah pimpinan Tokugawa Iemitsu, melalui sejumlah dekrit dan Polisi yang dikeluarkan pada tempoh tahun 1633-1639. Polisi tersebut berterusan sehingga kedatangan Komodor Matthew Perry pada tahun 1853 dan pembukaan Jepun. Namun, warga Jepun masih dilarang meninggalkan Jepun sehingga berlakunya Restorasi Meiji (1868).

Istilah Sakoku berasal dari karya sastra Sakoku-ron (鎖国論?), yang ditulis oleh Shitsuki Tadao pada tahun 1801. Shitsuki meciptakan kata tersebut ketika sedang menerjemahkan karya-karya Engelbert Kaempfer, pengelana Jerman abad ke-17, yang bercerita mengenai Jepun. Istilah yang paling sering digunakan saat ini untuk merujuk Polisi ini adalah kaikin (海禁 pembatasan laut?).

Di bawah Polisi sakoku, Jepun sebenarnya jauh dari keadaan benar-benar terisolasi. Sebaliknya, Polisi ini adalah suatu sistem di mana peraturan-peraturan ketat diterapkan untuk perdagangan dan hubungan luar negeri oleh keshogunan, dan oleh pihak-pihak feodal tertentu (han) lainnya.

Polisi ini menetapkan bahawa satu-satunya pengaruh Eropah yang diizinkan masuk adalah pabrik (kantor dagang) Belanda di Dejima, Nagasaki. Demikian pula perdagangan dengan Cina juga ditangani di Nagasaki, dan perdagangan ini sangat penting bagi Jepun. Selain itu, perdagangan dengan Korea dilakukan melalui Domain Tsushima (sekarang bagian dari Prefektur Nagasaki), dengan Ainu melalui Domain Matsumae di Hokkaido, dan dengan Kerajaan Ryūkyū melalui Domain Satsuma (di masa kini Prefektur Kagoshima). Selain melakukan hubungan komersial langsung dengan provinsi-provinsi di perbatasan, semua bangsa-bangsa yang diizinkan berdagang tersebut mengirimkan utusan pembawa upeti secara teratur untuk pusat keshogunan di Edo. Di saat para utusan sedang menempuh perjalanan melintasi Jepun, warga Jepun pun sekilas dapat melihat kebudayaan bangsa-bangsa asing tersebut.

Bacaan lanjut[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]