Gereja Presbiterian

Daripada Wikipedia, ensiklopedia bebas.
Jump to navigation Jump to search

Gereja Presbiterian atau Presbytarianisme adalah salah satu mazhab dalam cabang Protestan yang berakar pada gerakan Reformasi pada abad ke-16 di Eropah Barat.[1] Dari segi doktrin dan ajaran, Gereja Presbiterian mengikuti ajaran-ajaran Yohanes Calvin, seorang paderi pembaharu Reformator dari Perancis.[2] Namun demikian secara kelembagaan Gereja Presbiterian sendiri muncul dari Scotland hasil kerja penyebaran John Knox, salah seorang murid Calvin yang paling terkenal.[3] Maka, kerana latar belakang inilah mazhab ini banyak tersebar di negara-negara bekas jajahan United Kingdom di mana banyak orang Scotland cenderung berhijrah seperti di Amerika Syarikat, Australia, New Zealand, India dan sebagainya;[4][5] malah, dari kesan jajahan di Amerika Syarikatlah mazhab ini juga dapat ditemukan di beberapa negara lain hasil jajahan atau pendudukan warganya di sana seperti Korea Selatan dan Filipina.[4][5]

Nama mazhab ini merujuk kepada golongan yang diutamakan mengetuai jemaah gereja, iaitu presbyter (daripada kata Bahasa Yunani: πρεσβύτερος, presbyteros - "orang tua", dipadankan dengan gelaran "penatua").

Ciri-ciri[sunting | sunting sumber]

Salib Huguenot

Perbezaan utama antara mazhab dengan cabang-cabang Protestan lain terletak pada ajaran dan pertubuhannya.[6][3] Dasar utama Gereja ini adalah Calvinisme, meskipun banyak Gereja Presbiterian di masa kini yang tidak terlalu menganggapnya penting.[6][3]

Perkembangan Presbiterianisme di Amerika Syarikat

Gereja Presbiterian pada umumnya dapat dikenali melalui praktik pembaptisan anak, penggunaan kitab Zabur dalam amalan berkidung serta doktrin takdir dalam ajaran keselamatannya.[3][4] Gereja-gereja Presbiterian yang lebih konservatif umumnya menolak penggunaan alat muzik dalam ibadah serta tidak menerima perempuan mengetuai jabatan-jabatan gereja seperti diakon dan penatua (termasuk paderi).[4] Selain itu, para jemaah gereja-gereja ini juga seringkali menggunakan satu cawan yang sama dalam upacara perjamuan kudusdan bahkan ada pula yang menekankan doktrin predestinasi ganda.[4]

Pada masa kini, banyak Gereja Presbiterian yang telah memperbaharui doktrin agama masing-masing bagi memampukan Gereja menjawab tentangan dan halangan baru yang dihadapi dengan beredarnya zaman.[4] Pembaruan ini didasarkan pada tujuan Reformasi yang menekankan ecclesia reformata, ecclesia semper reformanda - "Gereja yang telah diperbaharui adalah Gereja yang (harus) terus-menerus diperbarui."[4]

Kekuasaan tertinggi di kalangan mazhab ini berada di tangan penatua atau presbiter; bhs. Yunani: "presbuteros"), yang terbagi dalam dua golongan, oaitu penatua yang mengajar (pendeta) dan penatua yang memimpin.[6][2] Bersama-sama kedua golongan penatua ini merupakan majlis gereja yang bertanggungjawab memelihara dan menegakkan disiplin jemaah gereja, serta menjalankan misi gereja.[6][2] Tugas-tugas yang berkaitan dengan pengendalian harta benda dan hubungan awam gereja - misalnya pemeliharaan tabung gereja, kewangan gereja, perkhidmatan kepada pengikut yang serba kekurangan atau dilanda kesusahan - diuruskan diakon.[6]

Penatua yang mengajar (pendeta) bertanggungjawab dalam mengajar, menguruskan ibadah jemaah gereja (terutamanya perjamuan).[6][2] Pendeta biasanya dipanggil oleh masing-masing jemaat. Namun pemanggilan ini harus disahkan oleh klasis, yaitu kumpulan beberapa jemaat di suatu wilayah tertentu.[6]

Klasis terdiri atas pendeta dan penatua yang diutus oleh masing-masing gereja yang menjadi anggotanya.[4][5] Pada tingkatan yang lebih tinggi lagi terdapat Sinode, yaitu perhimpunan semua gereja yang tergabung di dalam kelompok denominasi yang sama. Misalnya Sinode GPIB, Sinode GKI, Sinode GMIT, dll.[5] Dalam tradisi Gereja Calvinis, ada Gereja yang memposisikan Klasis dan Sinode bukan sebagai lembaga tetap, melainkan persidangan yang di dalamnya Gereja-gereja bersidang untuk menetapkan keputusan bersama agar dilakukan bersama-sama, sepanjang waktu persidangan yang berikutnya (satu daur adalah waktu di antara dua persidangan).[5] Sebagai pelaksana ketetapan persidangan adalah orang-orang atau badan yang ditetapkan untuk melaksanakan keputusan persidangan.[4][5] Tradisi itu sampai sekarang masih dilakukan di dalam Gereja-gereja Kristian Jawa GKJ.[5]

Gereja Presbiterian sangat mengutamakan pendidikan dan penyelidikan yang terus-menerus terhadap Alkitab, pengembangan tulisan-tulisan teologis, dan penafsiran kembali atas doktrin gereja.[6][4][5] Gereja ini pada umumnya percaya bahawa iman harus diwujudkan dalam kata-kata dan perbuatan, termasuk keramah-tamahan, kemurahan, dan perjuangan yang berkelanjutan untuk menegakkan keadilan sosial dan pembaruan yang tidak terlepas dari pemberitaan Injil Kristus.[6]

Takdir[sunting | sunting sumber]

Ajaran takdir seringkali dikatakan sebagai ciri khas ajaran Calvin, meskipun pada kenyataannya Calvin sendiri tidak terlalu menekankan ajaran ini.[6][7] Ajaran ini menyatakan bahwa Tuhan telah menetapkan setiap orang yang akan diselamatkan-Nya, bahkan sebelum orang itu dilahirkan di dunia.[6][7]

Dalam perkembangannya, sebagian Gereja-gereja Calvinis (Presbiterian dan Hervormd) mengembangkan doktrin takdir ganda.[7] Dalam ajaran ini dikatakan bahawa Tuhan telah menetapkan siapa yang akan diselamatkan-Nya dan masuk ke syurga, serta siapa yang akan dihukum selama-lamanya di neraka, sebelum mereka dilahirkan di dunia.[7] Banyak Gereja Presbiterian dan Hervormd di masa kini yang merasa ajaran ini tidak dapat dipertahankan lagi.[4]

Badan dunia[sunting | sunting sumber]

Gereja-gereja Presbiterian dan Gereja-gereja Hervormd tergabung dalam sejumlah badan dunia, seperti World Alliance of Reformed Churches dan Reformed Ecumenical Council.[4] Kedua badan ini menghimpun Gereja-gereja dari tradisi Calvinis di seluruh dunia.[4] Selain itu ada pula yang tergabung dalam World Council of Churches.[4]

Tokoh-tokoh[sunting | sunting sumber]

Paderi atau teologi[6][7][4]:


Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ C. De Jonge. Pembimbing ke Dalam Sejarah Gereja. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009. Hlm. 34-35.
  2. ^ a b c d Thomas van den End. Harta Dalam Bejana. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009. Hlm. 188-194.
  3. ^ a b c d (Indonesia) Michael Collins & Matthew A. Price. Millenium The Story of Christianity: Menelusuri Jejak Kristianitas. Yogyakarta: Kanisius, 2006. Hlm. 136-137.
  4. ^ a b c d e f g h i j k l m n o H. Berkhof, H. Enklaar. Sejarah Gereja. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993. m/s. 206-207.
  5. ^ a b c d e f g h Jan S. Aritonang. Berbagai Aliran di dalam dan di sekitar Gereja. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1995. Hlm. 52-80.
  6. ^ a b c d e f g h i j k l Ralat petik: Tag <ref> tidak sah; teks bagi rujukan Walker tidak disediakan
  7. ^ a b c d e Ralat petik: Tag <ref> tidak sah; teks bagi rujukan How tidak disediakan

Pautan luar[sunting | sunting sumber]