Pergi ke kandungan

Kabupaten Kampar

Daripada Wikipedia, ensiklopedia bebas.

Rencana ini memaparkan penerangan tentang Kabupaten Kampar, Riau, Sumatera, Indonesia. Sila ke Kampar untuk penerangan daerah Kampar, Perak, Malaysia.


Kabupaten Kampar
Transkripsi bahasa daerah
 • Tulisan Jawiكمڤر
Official seal of Kabupaten Kampar
Peta
Peta
Kabupaten Kampar yang terletak di Sumatra
Kabupaten Kampar
Kabupaten Kampar
Kabupaten Kampar yang terletak di Indonesia
Kabupaten Kampar
Kabupaten Kampar
Koordinat: 0°18′49″U 101°01′07″T / 0.3136°U 101.0185°T / 0.3136; 101.0185
Negara Indonesia
ProvinsiRiau
Ibu kotaBangkinang
Jumlah satuan pemerintahan
Senarai
  • Kecamatan: 21
  • Kelurahan: 8
  • Desa: 250
Kerajaan
 • BupatiAhmad Yuzar
 • Timbalan BupatiMisharti
 • Setiausaha DaerahHambali
 • Ketua DPRD0
Keluasan
 • Jumlah
11,289.28 km2 (4,358.82 batu persegi)
Penduduk
 • Jumlah
876,767
 • Kepadatan78/km2 (200/batu persegi)
Demografi
 • Agama
  • 89,06% Islam
  • 0,04% Buddha
  • 0,01% lainnya[1]
 • BahasaIndonesia, Melayu, Batak, Minang, Jawa
 • IPM 75.59 (2023)
tinggi[3]
Zon waktuUTC+07:00 (WIB)
Kode telepon+62 762 (Bangkinang)
+62 761 (Lipatkain)
Pelat kendaraanBM
DAUIDR 880,181,253,000,- (2020)
Tapak sesawangkamparkab.go.id


Kabupaten Kampar merupakan sebuah kabupaten di provinsi Riau, Indonesia Kabupaten ini dilintasi terus oleh khatulistiwa.

Kabupaten Kampar mempunyai luas wilayah 11,289.28 km² atau 12.26% dari luas wilayah Provinsi Riau dan jumlah penduduk berdasarkan data Kementerian Dalam Negeri pada pertengahan tahun 2024 adalah 876,767 orang.[1][2] Ibu kota Kampar ialah Bangkinang.

Nilai Budaya

Candi Muara Takus

Candi ini berada 130 km dari Pekanbaru, tepatnya di tempat pertemuan sungai Kampar Kanan dan Kampar Kiri. Tempat ini merupakan candi Budha kuno yang merupakan peninggalan sejarah. Candi ini ditemukan oleh amtropolog dari Belanda pada tahun 1893, dipercayai bahwa cansi ini telah dibangun sekitar 7 abad sebelum tahun penemuan.

Namun sangat diyakini bahwa Candi Muara Takus adalah barang peninggalan sejarah beberapa abad yang lalu dan samgat dipercayai oleh masyarakat beragama Budha. Pada tahun 1935, seorang Belanda bernama FM. Schnitger mengunjungi candi dan menyaksikan sesuatu yang aneh. Sepanjang malam dibawah sinar bulan, sekawanan gajah tiba-tiba mendekat dan menundukkan kepala di dekat reruntuhan.

Danau Koto Panjang

Danau ini terletak sekitar 15 km dari Kota Bangkinang, atau 100 km dari Pekanbaru. Danau ini merupakan danau buatan manusia yang tujuannya adalah sebagai waduk untuk proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air – yang mengumpulkan air sejumlah 12.400 ha, dan terdapat 3 pulau di dalamnya.


Gunung Sahilan

Terletak 70 km dari Pekanbaru, merupakan sebuah rumah untuk mengingat bekas kerajaan pada masa lalu yang disebut dengan nama Gunung Sahilan.

Mandi Potang Balimau

Ini adalah sebuah tradisi yang dilakukan penduduk Melayu di Kampar – yang diadakan di Sungai Batang Kampar dalam rangka menyambut bulan Ramadhan. Tujuannya adalah untuk mensucikan hati dan jiwa dan mempersiapkan diri untuk menyambut Ramadhan.

Mauwo Adalah sebuah tradisi masyarakat Kampar untuk menangkap ikan di sebuah danau bernama ‘Bakuok’. Selama upacara ini, hampir seluruh permukaan dipenuhi oleh sampan yang diisi oleh banyak orang, setiap sampan terdiri dari beberapa orang yang mendayung dan menyebarkan jala untuk menangkap ikan.

Pada mulanya, Kampar merupakan sebuah kawasan yang luas, iaitu kawasan yang dilintasi oleh sebatang sungai besar yang dipanggil Sungai Kampar. Berkaitan dengan Prasasti Kedukan Bukit, beberapa ahli sejarah mentafsirkan Minanga Tanvar sebagai bermaksud pertemuan dua sungai, yang dianggap sebagai pertemuan Sungai Kampar Kanan dan Sungai Kampar Kiri. Tafsiran ini disokong oleh penemuan Candi Muara Takus di tebing Sungai Kampar Kanan, yang dianggarkan wujud semasa era Srivijaya.[4]

Berdasarkan Sulalatus Salatin, dinyatakan bahawa terdapat hubungan antara Kesultanan Melayu Melaka dan Kampar. Kemudian disebut juga bahawa Sultan Melaka yang terakhir, Sultan Mahmud Shah, selepas kejatuhan Bintan pada tahun 1526 ke tangan Portugis, melarikan diri ke Kampar, mangkat dua tahun kemudian dan dikebumikan di Kampar.[5] Dalam catatan Portugis, dinyatakan bahawa pada masa itu Kampar diperintah oleh seorang raja, yang juga mempunyai hubungan dengan pemerintah Minangkabau.[6] Tomas Dias, dalam ekspedisinya ke pedalaman Minangkabau pada tahun 1684, menyatakan bahawa beliau mengikuti Sungai Siak dan kemudian tiba di suatu kawasan, berpindah dan meneruskan perjalanannya melalui darat ke Sungai Kampar. Dalam perjalanan ini dia bertemu dengan pihak berkuasa tempatan dan meminta kebenaran untuk pergi ke Pagaruyung.[7]

Pembangunan

[sunting | sunting sumber]

Pada 9 Oktober 2015, Presiden Joko Widodo meninjau lokasi kebakaran hutan dan lahan di Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau.[8]

Kabupaten Kampar dengan keluasan kira-kira 211,289.28 km² merupakan kawasan yang terletak di antara 1°00’40” Lintang Utara hingga 0°27’00” Lintang Selatan dan 100°28’30” – 101°14’30” Bujur Timur. Sempadan Kabupaten Kampar adalah seperti berikut:

Garisan Sempadan

[sunting | sunting sumber]
Utara Kabupaten Rokan Hulu dan Kabupaten Siak
Selatan Kabupaten Kuantan Singingi
Barat Kabupaten Lima Puluh Kota, Kabupaten Sijunjung (Sumatera Barat)
Timur Pekanbaru, Kabupaten Siak dan Kabupaten Pelalawan


Kabupaten Kampar dilintasi oleh dua sungai besar dan beberapa sungai kecil, termasuk Sungai Kampar yang panjangnya ± 413.5 km dengan kedalaman rata-rata 7.7 m dan lebar rata-rata 143 meter. Seluruh bahagian sungai ini termasuk dalam Kabupaten Kampar, yang meliputi Kecamatan XIII Koto Kampar, Bangkinang, Kuok, Kampar, Siak Hulu, dan Kampar Kiri. Kemudian bahagian hulu Sungai Siak sepanjang ± 90 km dengan kedalaman purata 8 – 12 m yang melintasi kecamatan Tapung. Beberapa sungai besar di Kabupaten Kampar masih berfungsi dengan baik sebagai alat pengangkutan, sumber air bersih, penternakan ikan, dan sebagai sumber tenaga elektrik (Loji Janakuasa Hidroelektrik Koto Panjang).

Kabupaten Kampar pada umumnya beriklim tropika, suhu minimum berlaku pada bulan November dan Disember, iaitu 21°C. Suhu maksimum berlaku pada bulan Julai dengan suhu 35 °C. Jumlah hari hujan pada tahun 2009, paling banyak berlaku di sekitar Bangkinang Seberang dan Kampar Kiri.

Kampar pada asalnya terletak di provinsi Sumatra Tengah, ditubuhkan menurut Undang-Undang No. 12 tahun 1956 dengan ibu kota Bangkinang. Kemudian ia dipindahkan ke provinsi Riau, berdasarkan Undang-Undang Darurat No. 19 Tahun 1957 dan disahkan oleh Undang-Undang No. 61 Tahun 1958. Seterusnya, untuk pembangunan kota Pekanbaru, kerajaan tempatan Kampar bersetuju untuk menyerahkan sebahagian wilayahnya bagi tujuan perluasan kota Pekanbaru, yang kemudiannya disahkan oleh Peraturan Pemerintah Indonesia No. 19 Tahun 1987.

Selaras dengan Surat Keputusan Gabenor provinsi Riau Nombor: KPTS. 318VII1987 bertarikh 17 Julai 1987, Daerah Kampar terdiri daripada 19 daerah dengan dua orang Wakil Bupati. Wakil Bupati Wilayah I berkedudukan di Pasir Pengaraian dan Wakil Bupati Wilayah II di Pangkalan Kerinci. Wakil Bupati di Wilayah I menyelaras Daerah Rambah, Tandun, Rokan IV Koto, Kunto Darussalam, Kepenuhan, dan Tambusai, dan Wakil Bupati di Wilayah 2 menyelaras Daerah Langgam, Pangkalan Kuras, Bunut dan Kuala Kampar, sedangkan daerah-daerah lain yang tidak termasuk dalam Wilayah I & II berada langsung di bawah Bupati. Pada 4 Oktober 1999, Kabupaten ini secara rasminya dipecahkan kepada tiga, dengan bekas Wilayah I ditubuhkan sebagai Kabupaten Rokan Hulu yang baru, dan bekas Wilayah II ditubuhkan sebagai Kabupaten Pelalawan yang baru. Dahulunya terdiri daripada 12 dan kemudian 19 daerah (kecamatan), daerah ke-20 dan ke-21 telah diwujudkan.

Pembahagian pentadbiran

[sunting | sunting sumber]

Saat ini (tahun 2008), Kabupaten Kampar memiliki 20 kecamatan, sebagai hasil pemekaran dari 12 kecamatan sebelumnya. Kedua puluh kecamatan tersebut (beserta ibu kota kecamatan) adalah:

  1. Bangkinang (ibu kota: Bangkinang)
  2. Bangkinang Barat (ibu kota: Kuok)
  3. Bangkinang Seberang (ibu kota: Muara Uwai)
  4. Gunung Sahilan (ibu kota: Kebun Durian)
  5. Kampar (ibu kota: Air Tiris)
  6. Kampar Kiri (ibu kota: Lipat Kain)
  7. Kampar Kiri Hilir (ibu kota: Sei.Pagar)
  8. Kampar Kiri Hulu (ibu kota:Gema)
  9. Kampar Timur (ibu kota: Kampar)
  10. Kampar Utara (ibu kota: Desa Sawah)
  11. Perhentian Raja (ibu kota: Pantai Raja)
  12. Rumbio Jaya (ibu kota: Rumbio)
  13. Salo (ibu kota: Salo)
  14. Siak Hulu (ibu kota: Pangkalanbaru)
  15. Tambang (ibu kota: Sei.Pinang)
  16. Tapung (ibu kota: Petapahan)
  17. Tapung Hilir (ibu kota: Pantai Cermin)
  18. Tapung Hulu (ibu kota: Sinama Nenek)
  19. XIII Koto Kampar (ibu kota: Muara Mahat)
  20. Kampar Kiri Tengah (ibu kota: Simalinyang)

Tokoh Kampar

[sunting | sunting sumber]

Lihat juga

[sunting | sunting sumber]
  1. ^ a b c "Visualisasi Data Kependudukan - Kementerian Dalam Negeri 2024" (Visual). www.dukcapil.kemendagri.go.id. Dicapai pada 30 Mac 2026.
  2. ^ a b "Kabupaten Kampar Dalam Angka 2020". www.kamparkab.bps.go.id. Diarkibkan daripada yang asal (pdf) pada 27 November 2021. Dicapai pada 30 Mac 2026.
  3. ^ "Indeks Pembangunan Manusia (Umur Harapan Hidup Hasil Long Form SP2020) 2021-2023". www.bps.go.id. Dicapai pada 30 Mac 2026.
  4. ^ Soekmono, R., (1973 5th reprint edition in 1988), Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2, 2nd ed., Yogyakarta: Penerbit Kanisius, ISBN 979-4132290X.
  5. ^ Winstedt, R., (1962), A History of Malaya, Marican.
  6. ^ Cortesão, A., (1944), The Suma Oriental of Tomé Pires, London: Hakluyt Society, 2 vols.
  7. ^ Haan, F. de, (1896), Naar midden Sumatra in 1684, Batavia-'s Hage, Albrecht & Co.-M. Nijhoff. 40p. 8vo wrs. Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde, Deel 39.
  8. ^ Datangi Lokasi Kebakaran di Riau, Jokowi Akui Luas Lahan Terbakar Sangat Luas Diarkibkan 25 September 2018 di Wayback Machine - PresidenRI.go.id - 9 Oktober 2015 .