Pembaharuan Taika

Daripada Wikipedia, ensiklopedia bebas.
Jump to navigation Jump to search
Antara kesan pembaharuan taika adalah senibina di Jepun yang seolah-olah senibina di China, Pembaharuan juga telah banyak memberi pengaruh China di Jepun

Pembaharuan Taika (大化の改新, Taika no Kaishin) adalah set doktrin yang ditubuhkan oleh Maharaja Kōtoku (孝徳天皇 Kōtoku-tennō) pada tahun 645. Ia ditulis sebaik sahaja selepas kematian Putera Shōtoku,dan kekalahan Puak Soga (蘇我氏 Soga no uji), yang menyatu padukan Jepun.Putera Mahkota Naka no Ōe (seorang yang nantinya di tahtakan sebagai Maharaja Tenji), Nakatomi no Kamatari, dan maharaja Kōtoku bersama-sama memulakan pembaharuan tersebut. Maharaja Kōtoku slepas itu mengambil nama "Taika" (大化), atau "Pembaharuan Besaran".

Pembaharuan dimulakan dengan pembaharuan tanah, berdasarkan idea Kongzi dan falsafah dari China,tetapi tujuan utama pembaharuan tersebut adalah untuk pemusatan yang besar dan untuk meningikan kuasa imperial, yang juga berdasarkan struktur kerajaan di China. Para pelajar dan wakil dihatar ke China untuk mempelajari segalanya sperti Sistem Penulisan Cina, kesusteraan, agama, dan seni bina, hinga ke cara pemakanan. Walaupun pada masa kini, kesan dari pembaharuan tersebur masih dapat dilihat pada Budaya Jepun. Semua ini berlaku pada 600-an.

Latar belakang[sunting | sunting sumber]

Peristiwa Isshi[sunting | sunting sumber]

Peristiwa Isshi dalam lukisan asal zaman Edo (kiri atas: Maharaja Kōgyoku). Lukisan milik Kuil Tanzan (Sakurai, Prefektur Nara)

Klan Soga selama empat generasi, dimulai dari Soga no Iname, Soga no Umako, Soga no Emishi, dan Soga no Iruka memegang kekuasaan pemerintahan di Jepang. Kemarahan Nakatomi no Kamatari (nantinya disebut Fujiwara no Kamatari) memuncak akibat pemerintahan sewenang-wenang oleh klan Soga. Ia menginginkan pengembalian kekuasaan ke tangan Maharaja. Namun niatnya batal setelah mendekati Putera Karu karena merasakan dia bukanlah tokoh yang tepat.

Nakatomi no Kamatari kemudian mendekati Putera Naka no Ōe. Kisah pertemuan keduanya dalam pertandingan kemari telah menjadi kisah terkenal. Keduanya sama-sama belajar dari biksu Minabuchi no Shōan, dan akhirnya berdua menyusun rencana menggulingkan klan Soga. Putera Naka no Ōe menikahi puteri dari Soga no Ishikawanomaro yang merupakan musuh Soga no Emishi dan Soga no Iruka. Sebagai hasilnya, Naka no Ōe dapat bersekutu dengan Soga no Ishikawanomaro, dan memperoleh dukungan dari Saeki no Komaro dan Katsuragi no Wakainukai no Amita.

Selanjutnya, pada tahun ke-4 berkuasanya Maharaja Kōgyoku (tahun 645) di istana bernama Itabukinomiya, Naka no Ōe dan Nakatomi no Kamatari berhasil membunuh Soga no Iruka. Hari berikutnya, Soga no Emishi tewas bunuh diri setelah membakar sendiri rumah kediamannya, dan berakhirlah pemerintahan klan Soga.

Awal pemerintahan baru[sunting | sunting sumber]

Setelah terjadinya Peristiwa Isshi, Maharaja Kōgyoku turun tahta dan penerusnya adalah Putra Mahkota Naka no Ōe. Namun setelah Naka no Ōe berunding dengan Kamatari diputuskan agar Putera Karu yang naik tahta sebagai Maharaja Kōtoku, dibantu Putera Naka no Ōe menjadi putera mahkota. Peristiwa tersebut diperkirakan mengulangi keadaan yang terjadi ketika Maharaja Suiko bertakhta sementara Putera Shōtoku sebagai putera mahkota memegang kendali pemerintahan. Maharaja Kōtoku dan Putera Mahkota Naka no Ōe didampingi Menteri Kiri Abe no Uchimaro, Menteri Kanan Soga no Kura no Yamada no Ishikawanomaro, dan Nakatomi no Kamatari sebagai Menteri Dalam (naijin). Mereka dibantu dua cendekiawan kekaisaran, Takamuko no Kuromaro dan biksu Min.

Garis besar[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 2 Taika, Maharaja Kōtoku mengeluarkan perintah maharajatentang reformasi pemerintahan yang mengawali Reformasi Taika. Walaupun demikian, peristiwa terbunuhnya Soga no Iruka dan Soga no Emishi juga sering dianggap sebagai awal Reformasi Taika.

Ada empat pasal yang menjadi inti perintah maahraja:

  1. Tanah pribadi berikut penduduknya yang selama ini milik bangsawan disita, semua tanah dan penduduknya menjadi milik Maharaja.
  2. Penataan pemerintah daerah, mulai dari ibu kota hingga provinsi (kuni) hingga daerah (agata) dan prefektur (kōri), serta pembuatan batas-batas wilayah.
  3. Pembuatan surat daftar keluarga (koseki) dan buku laporan kepala keluarga (keichō) untuk keperluan jatah tanah pertanian.
  4. Rakyat dikenakan cukai dan laki-laki dalam keluarga wajib menyumbang tenaga bagi pekerjaan negara.

Rujukan[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]