Kesultanan Deli

Daripada Wikipedia, ensiklopedia bebas.
Lompat ke: pandu arah, cari
Putera Deli, Langkat dan Serdang.

Kesultanan Deli ialah sebuah kesultanan yang didirikan pada tahun 1669 oleh Tuanku Panglima Perunggit di wilayah bernama Tanah Deli (kini Medan, Indonesia). Kerajaan Deli merupakan sebuah kerajaan ufti sehingga tahun 1814 dan menjadi sebuah kesultanan merdeka pada tahun 1814 selepas mendapat kemerdekaan daripada Kesultanan Siak.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Menurut Hikayat Deli, seorang pemuka Aceh bernama Muhammad Dalik menjadi laksamana di Kesultanan Aceh. Muhammad Dalik, yang kemudiannya juga dikenali sebagai Gocah Pahlawan dan bergelar Laksamana Khuja Bintan (ada pula sumber yang mengeja Laksamana Kuda Bintan), adalah keturunan daripada Amir Muhammad Badar ud-din Khan, seorang bangsawan dari Delhi, India yang mengahwini Putri Chandra Dewi, puteri Sultan Samudera Pasai. Dia mendapat kepercayaan dari Sultan Aceh untuk menjadi wakil bekas wilayah Kerajaan Haru yang berpusat di daerah Sungai Lalang-Percut.

Dalik mendirikan Kesultanan Deli yang masih di bawah Kesultanan Aceh pada tahun 1630. Setelah Dalik meninggal pada tahun 1653, puteranya Tuanku Panglima Perunggit mengambil alih kekuasaan dan pada tahun 1669 mengumumkan memisahkan kerajaannya dari Aceh. Ibu kotanya berada di Labuhan, kira-kira 20 km dari Medan.

Satu pertikaian dalam pergantian tampuk kekuasaan pada tahun 1720 menyebabkan Deli terpecah dan terbentuknya Kesultanan Serdang. Setelah itu, Kesultanan Deli sempat direbut Kesultanan Siak Sri Indrapura dan Aceh.

Pada tahun 1858, Tanah Deli menjadi milik Belanda setelah Sultan Siak, Sharif Ismail, menyerahkan tanah kekuasaannya tersebut kepada mereka. Pada tahun 1861, Kesultanan Deli secara rasmi diakui merdeka dari Siak dan Aceh. Hal ini menyebabkan Sultan Deli bebas untuk memberikan hak-hak lahan kepada Belanda mahupun perusahaan-perusahaan luar negeri yang lain. Pada masa ini Kesultanan Deli berkembang pesat. Perkembangannya dapat terlihat dari semakin kayanya pihak kesultanan berkat usaha perladangan terutamanya tembakau dan lain-lain. Selain itu, beberapa bangunan peninggalan Kesultanan Deli juga menjadi bukti perkembangan daerah ini pada masa itu, misalnya Istana Maimun.

Kesultanan Deli masih tetap wujud sehingga kini meskipun tidak lagi mempunyai kekuatan politik setelah berakhirnya Perang Dunia II dan pengisytiharan kemerdekaan Republik Indonesia.

Sultan[sunting | sunting sumber]

Lihat: Sultan Deli

Sultan Deli dipanggil dengan gelaran Sri Paduka Tuanku Sultan. Jika mangkat, Sultan akan digantikan oleh puteranya.

Rujukan[sunting | sunting sumber]

Pautan luar[sunting | sunting sumber]