Zaman Taishō

Daripada Wikipedia, ensiklopedia bebas.
Lompat ke: pandu arah, cari
Satsuma-samurai-during-boshin-war-period.jpg

Sejarah Jepun

Glosari

Zaman Taishō (大正?)(30 Julai 191225 Disember 1926) adalah salah satu nama zaman pemerintahan Maharaja Jepun sewaktu Maharaja Taishō (Yoshihito) memerintah Jepun, sesudah zaman Meiji dan sebelum zaman Shōwa. Maharaja Yoshihito tidak berada dalam keadaan kesihatan yang baik, sehingga terjadi pergeseran kekuatan politik dari negarawan senior (genrō) ke Parlimen Jepun dan partai-partai politik. Oleh karena itu, zaman ini juga disebut masa gerakan liberal yang disebut demokrasi Taishō. Istilah demokrasi Taishō dipakai untuk membedakan zaman ini dari kekacauan zaman Meiji dan paruh pertama zaman Shōwa ketika Jepun jatuh ke dalam ketenteraan.

Peninggalan zaman Meiji[sunting | sunting sumber]

Setelah Maharaja Meiji wafat pada 30 Julai 1912, Putra Mahkota Yoshihito naik tahta sebagai Maharaja Jepun yang baru dan dimulai zaman baru yang disebut zaman Taishō. Akhir zaman Taishō ditandai dengan besarnya investasi pemerintah di dalam negeri dan luar negeri, serta proyek-proyek pertahanan yang hampir menguras kas negara, dan kurangnya devisa untuk membayar hutang.

Di bidang kebudayaan, pengaruh kebudayaan Barat yang dirasakan Jepun pada zaman Meiji terus berlanjutan. Kobayashi Kiyochika menerapkan gaya-gaya lukisan barat untuk ukiyo-e, sementara Okakura Kakuzō terus mempertahankan seni lukis tradisional Jepun. Mori Ōgai dan Natsume Sōseki ditugaskan belajar di negara Barat, dan membawa pulang pemikiran yang lebih modern.

pemulihan Meiji tahun 1868 tidak hanya membawa perubahan besar dalam bidang ekonomi dan politik di Jepun, namun tanpa harus menjadi korban kolonialisme seperti halnya negara-negara lain di Asia. Selain itu, pemulihan Meiji juga meletakkan landasan bagi pemikiran-pemikiran baru di Jepun seiring dengan perkembangan sosialisme dan proletarianisme di dunia antarabangsa. Kalangan sayap kiri mengumandangkan tuntutan hak suara universal bagi laki-laki, kesejahteraan sosial, hak-hak buruh, dan tunjuk perasaan tanpa kekerasan. Penindasan kegiatan sayap kiri di Jepun menyebabkan aksi sayap kiri yang semakin radikal, dan berakibat pemerintah mengambil tindakan yang makin keras. Peristiwa ini berpuncak dengan dibubarkannya Partai Sosialis Jepun (日本社会党 Nihon Shakaitō) hanya setahun setelah partai ini didirikan pada tahun 1906 dan menandai kegagalan gerakan sosialis.

Awal zaman Taishō ditandai oleh krisis politik 1912-1913. Ketika Saionji Kinmochi mencoba memotong anggaran tentera, Menteri Angkatan Darat mengundurkan diri, dan berakibat pada jatuhnya kabinet Rikken Seiyūkai. Yamagata Aritomo dan Saionji keduanya menolak untuk meneruskan jabatan mereka. Para negarawan senior (genrō) juga tidak dapat menemukan pemecahan masalah. Kemarahan publik atas manipulasi kabinet yang dilakukan tentera, dan dipanggil kembalinya Katsura Tarō sebagai Perdana Menteri untuk ketiga kalinya membuat rakyat menuntut diakhirinya permainan politik para genrō. Walaupun ditentang oleh politikus yang ingin mempertahankan sistem lama, kalangan konservatif membentuk sebuah partai politik sendiri pada tahun 1913. Partai politik konservatif yang diberi nama Rikken Dōshikai tersebut memenangi mayoritas kursi Parlimen pada akhir 1914 dari Rikken Seiyūkai.

Pada 12 Februari 1913, Yamamoto Gonbei menggantikan Katsura Tarō sebagai perdana menteri Jepun. Pada April 1914, Ōkuma Shigenobu diangkat sebagai perdana menteri sebagai pengganti Yamamoto.

Rujukan[sunting | sunting sumber]