Kabupaten Jepara

Daripada Wikipedia, ensiklopedia bebas.
Lompat ke: pandu arah, cari
Kabupaten Jepara
Lambang Kabupaten Jepara
Lambang Kabupaten Jepara
Moto: Trus Karyo Tataning Bumi (erti: Terus Bekerja Keras Membangun Daerah)
Semboyan: Jepara The Beauty Of Java
Julukan: Kota Ukir


Locator kabupaten jepara.gif
Peta lokasi Kabupaten Jepara
Koordinat:
Provinsi Jawa Tengah
Hari jadi 10 April
Dasar hukum UU No. 13/1950
Ibu kota Jepara
Pemerintahan
 - Bupati K.H. Ahmad Marzuqi, SE
 - Wakil Bupati DR.H. Subroto, SE,MM
 - DAU Rp. 276,946,000,000
Luas 1,004.16 km²
Penduduk
 - Total 1,100,000 (2008)
 - Kepadatan 1,033
Demografi
 - Suku bangsa Jawa
 - Agama Islam, Kejawen, dan agama lainnya
 - Bahasa Indonesia, Jawa
 - Zon waktu WIB
 - Kod telefon 0291 (daratan), 0297 (Karimunjawa)
 - Lapangan terbang Dewandaru Airport
Pembahagian pentadbiran
 - Kecamatan 16
 - Kelurahan 194
 - Flora rasmi Durian Petruk
 - Fauna rasmi Elang Laut Dada Putih
 - Tapak web www.jeparakab.go.id

Kabupaten Jepara adalah sebuah kabupaten di provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Ibu kotanya adalah Jepara. Kabupaten ini bersempadan dengan Laut Jawa di barat dan utara; Kabupaten Pati dan Kabupaten Kudus di timur; serta Kabupaten Demak di selatan. Wilayah Jepara juga meliputi Kepulauan Karimunjawa, yang terletak di Laut Jawa.


Isi kandungan

Geografi [sunting]

Kabupaten Jepara terletak di pantura timur Jawa Tengah, di mana bahagian barat dan utara dibatasi oleh laut. Bahagian timur wilayah kabupaten ini merupakan daerah pergunungan. Wilayah Kabupaten Jepara juga meliputi Kepulauan Karimunjawa, yakni gugusan pulau-pulau di Laut Jawa. Dua pulau terbesarnya adalah Pulau Karimunjawa dan Pulau Kemujan. Sebahagian besar wilayah Karimunjawa dilindungi dalam Cagar Alam Laut Karimunjawa. Penyeberangan ke kepulauan ini dilayani oleh kapal ferry yang bertolak dari Lapangan Jepara. Karimunjawa juga terdapat Lapangan Terbang Dewandaru yang didarati pesawat dari Lapangan Terbang Ahmad Yani Semarang.

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2003-2011 [sunting]

Tahun Anggaran Pendapatan (Rp) Belanja (Rp)
2003 340.918.728.000 374.785.025.000
2004 368.576.816.000 392.594.936.000
2005 404.182.246.000 410.061.649.000
2006 547.399.120.000 558.129.120.000
2007 681.954.997.000 713.228.114.000
2008 731.045.136.000 772.785.860.000
2009 762.710.335.000 806.509.538.000
2010 861.177.300.000 911.507.429.000
2011 978.512.731.000 1.033.452.597.000


Sejarah [sunting]

Jauh sebelum adanya kerajaan-kerajaan ditanah jawa. Diujung sebelah utara pulau Jawa sudah ada sekelompok penduduk yang diyakini orang-orang itu berasal dari daerah Yunnan Selatan yang kala itu melakukan migrasi ke arah selatan. Jepara saat itu masih terpisah oleh selat Juwana.

Asal nama Jepara berasal dari perkataan Ujung Para, Ujung Mara dan Jumpara yang kemudian menjadi Jepara, yang berarti sebuah tempat pemukiman para pedagang yang berniaga ke berbagai daerah. Menurut buku “Sejarah Baru Dinasti Tang (618-906 M)” mencatat bahwa pada tahun 674 M seorang musafir Tionghoa bernama I-Tsing pernah mengunjungi negeri Holing atau Kaling atau Kalingga yang juga disebut Jawa atau Japa dan diyakini berlokasi di Keling, kawasan timur Jepara sekarang ini, serta dipimpin oleh seorang raja wanita bernama Ratu Shima yang dikenal sangat tegas.

Menurut seorang penulis Portugis bernama Tome Pires dalam bukunya “Suma Oriental”, Jepara baru dikenal pada abad ke-XV (1470 M) sebagai bandar perdagangan yang kecil yang baru dihuni oleh 90-100 orang dan dipimpin oleh Aryo Timur dan berada dibawah pemerintahan Demak. Kemudian Aryo Timur digantikan oleh putranya yang bernama Pati Unus (1507-1521). Pati Unus mencoba untuk membangun Jepara menjadi kota niaga.

Pati Unus dikenal sangat gigih melawan penjajahan Portugis di Malaka yang menjadi mata rantai perdagangan nusantara. Setelah Pati Unus wafat digantikan oleh ipar Faletehan /Fatahillah yang berkuasa (1521-1536). Kemudian pada tahun 1536 oleh penguasa Demak yaitu Sultan Trenggono, Jepara diserahkan kepada anak dan menantunya yaitu Ratu Retno Kencono dan Pangeran Hadirin, suaminya. Namun setelah tewasnya Sultan Trenggono dalam Ekspedisi Militer di Panarukan Jawa Timur pada tahun 1546, timbulnya geger perebutan tahta kerajaan Demak yang berakhir dengan tewasnya Pangeran Hadiri oleh Aryo Penangsang pada tahun 1549.

Kematian orang-orang yang dikasihi membuat Ratu Retno Kencono sangat berduka dan meninggalkan kehidupan istana untuk bertapa di bukit Danaraja. Setelah terbunuhnya Aryo Penangsang oleh Sutowijoyo, Ratu Retno Kencono bersedia turun dari pertapaan dan dilantik menjadi penguasa Jepara dengan gelar NIMAS RATU KALINYAMAT.

Pada masa pemerintahan Ratu Kalinyamat (1549-1579), Jepara berkembang pesat menjadi Bandar Niaga utama di Pulau Jawa, yang melayani eksport import. Disamping itu juga menjadi Pangkalan Angkatan Laut yang telah dirintis sejak masa Kerajaan Demak.

Sebagai seorang penguasa Jepara, yang gemah ripah loh jinawi karena keberadaan Jepara kala itu sebagai Bandar Niaga yang ramai, Ratu Kalinyamat dikenal mempunyai jiwa patriotisme anti penjajahan. Hal ini dibuktikan dengan pengiriman armada perangnya ke Malaka guna menggempur Portugis pada tahun 1551 dan tahun 1574. Adalah tidak berlebihan jika orang Portugis saat itu menyebut sang Ratu sebagai “RAINHA DE JEPARA”SENORA DE RICA”, yang artinya Raja Jepara seorang wanita yang sangat berkuasa dan kaya raya.

Serangan sang Ratu yang gagah berani ini melibatkan hamper 40 buah kapal yang berisikan lebih kurang 5.000 orang prajurit. Namun serangan ini gagal, ketika prajurit Kalinyamat ini melakukan serangan darat dalam upaya mengepung benteng pertahanan Portugis di Malaka, tentara Portugis dengan persenjataan lengkap berhasil mematahkan kepungan tentara Kalinyamat.

Namun semangat Patriotisme sang Ratu tidak pernah luntur dan gentar menghadapi penjajah bangsa Portugis, yang di abad 16 itu sedang dalam puncak kejayaan dan diakui sebagai bangsa pemberani di Dunia.

Dua puluh empat tahun kemudian atau tepatnya Oktober 1574, sang Ratu Kalinyamat mengirimkan armada militernya yang lebih besar di Malaka. Ekspedisi militer kedua ini melibatkan 300 buah kapal diantaranya 80 buah kapal jung besar berawak 15.000 orang prajurit pilihan. Pengiriman armada militer kedua ini di pimpin oleh panglima terpenting dalam kerajaan yang disebut orang Portugis sebagai “QUILIMO”.

Walaupun akhirnya perang kedua ini yang berlangsung berbulan-bulan tentara Kalinyamat juga tidak berhasil mengusir Portugis dari Malaka, namun telah membuat Portugis takut dan jera berhadapan dengan Raja Jepara ini, terbukti dengan bebasnya Pulau Jawa dari Penjajahan Portugis di abad 16 itu.

Sebagai peninggalan sejarah dari perang besar antara Jepara dan Portugis, sampai sekarang masih terdapat di Malaka komplek kuburan yang di sebut sebagai Makam Tentara Jawa. Selain itu tokoh Ratu Kalinyamat ini juga sangat berjasa dalam membudayakan SENI UKIR yang sekarang ini jadi andalan utama ekonomi Jepara yaitu perpaduan seni ukir Majapahit dengan seni ukir Patih Badarduwung yang berasal dari Negeri Cina.

Menurut catatan sejarah Ratu Kalinyamat wafat pada tahun 1579 dan dimakamkan di desa Mantingan Jepara, di sebelah makam suaminya Pangeran Hadiri. Mengacu pada semua aspek positif yang telah dibuktikan oleh Ratu Kalinyamat sehingga Jepara menjadi negeri yang makmur, kuat dan mashur maka penetapan Hari Jadi Jepara yang mengambil waktu beliau dinobatkan sebagai penguasa Jepara atau yang bertepatan dengan tanggal 10 April 1549 ini telah ditandai dengan Candra Sengkala TRUS KARYA TATANING BUMI atau terus bekerja keras membangun daerah.

Untuk Tahun 2010 ini, Jepara telah mendapatkan sertifikasi Indikasi Geografis terhadap produk Ukirnya yang sangat khas.[1]

Tokoh - tokoh Jepara [sunting]

Pariwisata [sunting]

Wisata Alam [sunting]

  • Pulau Karimunjawa dan gugusannya
  • Pulau Panjang
  • Pulau Mandalika, di Ujungwatu
  • Pantai Kartini, di Bulu
  • Pantai Tirto Samodra, di Bandengan
  • Pantai Empu Rancak, di Karanggondang
  • Pantai Pungkruk, di Mororejo
  • Pantai Guamanik Pecatu, di Ujungwatu
  • Pantai Teluk Awur, di Telukawur
  • Pantai Semat, di Semat
  • Pantai Ombak Mati, di Bondo
  • Cagar Alam Gunung Clering, di Clering
  • Air Terjun Songgo Langit, di Bucu
  • Mbelik (Mata Air) Bidadari dan Jaka Tarub, di Daren
  • Telaga Sejuta Akar, di Bondo
  • Gua Tritip, di Ujungwatu
  • Gua Manik, di Sumanding
  • Wono Pinus Sentra, di Batealit
  • Wisata Alam Sreni Indah, di Bategede

Wisata Sejarah [sunting]

  • Benteng Portugis, di Ujungwatu
  • Benteng VOC, di Ujungbatu
  • Musium R.A Kartini, di Panggang
  • Tempat Plasenta (Ari-ari) R.A Kartini, di Pelemkerep
  • Masjid Mantingan, di Mantingan
  • Gapura Masjid Jami' Baiturrohman I, di Robayan
  • Candi Angin, di Tarung

Wisata Religi (Ziarah) [sunting]

  • Cirosomo (Makam Para Adipati/Bupati yang pernah memimpin Jepara dan keluarga besar R.A Kartini), di Sendang
  • Makam Sultan Hadiri dan Ratu Kalinyamat serta Raden Abdul Jalil (Sunan Jepara), di Mantingan
  • Makam Syeh Siti Jenar, di Kelet
  • Makam Habib Sodiq (Yek Nde), di Kriyan
  • Makam Mbah Roboyo, di Robayan
  • Makam Datuk Gunardi, di Singaraja
  • Makam Habib Ali, di Mayong
  • Makam Ronggo Kusumo, di Manyargading
  • Makam Syeh Abu Bakar, di Pulau Panjang
  • Makam Pangeran Syarif dan Mbah Jenggolo, di Saripan
  • Makam Ki Gede, di Bangsri
  • Makam Syeh Amir Hasan (Sunan Nyamplungan), di Karimunjawa

Wisata Keluarga [sunting]

  • Kura-Kura Ocean Park, di Bulu
  • Tiara Park Waterboom and 3D Theater, di Purwogondo
  • Alamoya Waterboom, di Bapangan
  • Kolam Renang Sinta Pool, di Pecangaan Kulon
  • Agrowisata Jeruk, di Bategede

Wisata Budaya [sunting]

  • Perang Obor, di Tegalsambi
  • Pesta Baratan, di Kalinyamatan
  • Pesta Lomban, di seluruh Pantai Jepara
  • Jembul Tulakan, di Tulakan

Wisata Belanja [sunting]

  • Pasar Kerajinan, di Margoyoso
  • Pasar Apung, di Demaan
  • Pasar Karangrandu (Pasar Jajanan Tradisional), di Karangrandu
  • Pasar Ngabul, di Ngabul
  • Pasar Lelang Mebel, di Rengging
  • Shopping Center Jepara (S.C.J), di Panggang

Rupa-rupa [sunting]

Pindang Serani
Sate Kikil Jepara
Adon-Adon Coro
Ais Gempol
Kacang Oven Jepara

Masakan [sunting]

  • Pindang Serani

Bahan utamanya ikan (diusahakan ikan segar) ditambah bumbu-bumbu : bawang merah, bawang putih, kemiri, kunyit, sereh, jahe, terasi (sedikit), gula merah, garam, merica / lada, daun salam, dan lengkuas. Semua bumbu diracik dan direbus, setelah air mendidih ikan dimasukkan sampai masak. Diusahakan jangan terlalu lama supaya lebih fresh dan protein ikan tidak banyak yang hilang.

  • Soto Jepara

Soto Ayam Jepara rasanya berbeda dengan Soto Ayam Kudus, Semarang, di karenakan adanya Kucai di dalam Soto Jepara.

  • Soto Bumbu

Soto Bumbu adalah soto dari Jepara rasanya sangat berbeda dengan Soto yang lain, karena menggunakan daging sapi, usus sapi, dan babat.

  • Sop Udang

Sop udang sama dengan sop pada umumnya, hanya saja ada memakai kaldu udang ditambah udang goreng dan cabe mentah yang ditumbuk (digeprek). Sop ini akan lebih nikmat dimakan selagi masih panas / hangat.

  • Sup Pangsit Jepara

Sup Pangsit Jepara adalah masakan kesukaan R.A. Kartini.

  • Sayur Keluak Ayam

Sayur Keluak Ayam Adalah makan khas Jepara.

  • Kagape kambing

Kagape kambing mudah di jumpai ketika hari raya Idul Adha.

  • Horok-Horok

Horok-horok adalah tepung sagu yang dikukus. Setelah masak dituang dalam tempayan dan diaduk dengan sisir. Sehingga walaupun kenyal dan liat,namun bentuknya menjadi butiran-butiran kecil menyerupai sterofoam. Untuk menambah rasa, bisa ditambahkan sedikit garam dan dimakan sebagai campuran bakso, gado-gado, pecel, atau sate kikil.

  • Hoyok-Hoyok

Hoyok-hoyok atau disebut juga Oyol-Oyol terbuat dari tepung tapioka di campur dengan air dan ketela, setelah jadi di hidangkan dengan tambahan parutan ketela. Hoyok-hoyok adalah versi manis dari Horok-Horok.

  • Sate Kikil

Sate kikil atau disebut sate cecek adalah yang biasanya di santap untuk lauk makan horok-horok.

  • Urap

Urap adalaha salat atau makanan sayuran khas Jepara.

  • Pecel Ikan Laut Panggang

Adalah ikan laut yang dipanggang (dibakar) dan disajikan bersama sambal santan.

  • Tempong (blenyik)

Ikan teri mentah yang dikeringkan, bentuknya seperti bakwan.

  • Sate Udang dan Sate Kerbau

Makanan [sunting]

Makanan Khas Jepara, yaitu:

  • Rondo Royal (Monyos)
  • Turuk Bintol
  • Klenyem (Lempok)
  • Kenyol (Gantilut)
  • Nogosari
  • Moto Belong
  • Poci
  • Kuluban
  • Bontosan
  • Kacang Oven
  • Kacang Jepara
  • Durian Petruk (Durio Zybethinus Kultivar Petruk)
  • Jeruk Jepara (Limnocitrus Littoralis (miq) Swingle)
  • Latuh/Lato
  • Sutet (Susu Telor Tegangan Tinggi)

Minuman [sunting]

Minuman khas Jepara, yaitu:

  • Adon-Adon Coro
  • Ais Gempol
  • Ais Pleret
  • Dawet Jepara (Ais Cendol)
  • Kopi Tempur
  • Kopi Dapur Kuwat

Seni Budaya [sunting]

Di kabupaten Jepara terdapat berbagai jenis kesenian, antaranya:

  • Tari Kridhajati
  • Barongan Dencong
  • Samroh
  • Gambus
  • Angguk
  • Dagelan
  • Kentrung
  • Emprak
  • Ludruk
  • Ketropak
  • Keroncong

Jenis kesenian tradisional Samroh, Gambus, dan Angguk, semuanya bercorakkan keIslaman. Jenis kesenian tradisional yang lain adalah dagelan, emprak, ketropak, ludruk, kentrung, dan keroncong. Melalui beberapa kesenian tradisional ini, pemerintah menggunakannya untuk menyampaikan pesanan kepada masyarakat misalnya mengenai pembangunan dan keluarga berencana.

Potensi [sunting]

Jepara dikenal sebagai kota ukir, karena terdapat sentra kerajinan ukiran kayu ketenarannya hingga ke luar negeri. Kerajinan mebel dan ukir ini tersebar merata hampir di seluruh kecamatan dengan keahlian masing-masing. Namun sentra perdagangannya terlekat di wilayah Ngabul, Senenan, Tahunan, Pekeng, Kalongan dan Pemuda. Selain itu, Jepara merupakan kota kelahiran pahlawan wanita Indonesia R.A. Kartini.

Potensi Kabupaten Jepara :

  • Industri Mebel Ukir Jepara. Industri ini tersebar luas di hampir semua kecamatan Jepara, kecuali Kecamatan Karimunjawa
  • Kerajinan Patung, di Mulyoharjo
  • Seni Relief, di Senenan
  • Kerajinan Ukir Gebyok, di Gemiring Lor dan Gemiring Kidul
  • Kerajinan Tenun Troso, di Troso
  • Kerajinan Mainan Anak-anak, di Karanganyar
  • Kerajinan Kreneng, di Gidangelo
  • Kerajinan Anyaman Bambu, di Kendengsidialit
  • Kerajian Rotan, di Telukwetan
  • Kerajinan Gerabah, di Mayong Lor
  • Kerajinan Perhiasan Emas, di Margoyoso
  • Kerajinan Monel, di Kriyan
  • Kerajinan Payung Kertas, di Brantaksekarjati
  • Pande Besi, di Purwogondo
  • Konveksi, di Sendang
  • Industri Bordir, di Nalumsari
  • Industri Rokok, di Robayan
  • Industri Roti, di Bugo
  • Industri Genteng, di Mayong Kidul
  • Industri Batu Bata, di Kalipucang Kulon
  • Sentra Jeruk, di Bategede

Kecamatan [sunting]

  • Keling 231,8 km²
  • Kembang 108,1 km²
  • Mlonggo 103,0 km²
  • Batealit 88,9 km²
  • Bangsri 85,4 km²
  • Karimunjawa 71,2 km²
  • Mayong 65,0 km²
  • Nalumsari 57,0 km²
  • Kedung 43,1 km²
  • Tahunan 39,0 km²
  • Pecangaan 35,4 km²
  • Welahan 27,6 km²
  • Jepara 24,7 km²
  • Kalinyamatan 24,2 km²


Rujukan [sunting]

Pautan luar [sunting]

 

Kabupaten Jepara, Jawa Tengah

Kabjepara.jpg

Kecamatan: Bangsri | Batealit | Jepara | Kalinyamatan | Karimunjawa | Kedung | Keling | Kembang | Mayong | Mlonggo | Nalumsari | Pecangaan | Tahunan | Welahan

Jawa Tengah
Lambang Jawa Tengah

Kabupaten: Banjarnegara | Banyumas | Batang | Blora | Boyolali | Brebes | Cilacap | Demak | Grobogan | Jepara | Karanganyar | Kebumen | Kendal | Klaten | Kudus | Magelang | Pati | Pekalongan | Pemalang | Purbalingga | Purworejo | Rembang | Semarang | Sragen | Sukoharjo | Tegal | Temanggung | Wonogiri | Wonosobo

Kota: Magelang | Pekalongan | Salatiga | Semarang | Surakarta | Tegal

Lihat pula: Daftar kabupaten dan kota di Indonesia