Badan Intelijen Negara

Daripada Wikipedia, ensiklopedia bebas.
Jump to navigation Jump to search
Badan Intelijen Negara
The National Intelligence Agency (Indonesia).svg
Logo agensi
Gambaran keseluruhan
DibentukMei 1946
Di bawah bidang kuasaIndonesia
Ibu pejabatJl. Seno Raya, Pejaten Timur - Pasar Minggu. Jakarta Selatan, Jakarta, Indonesia
6°16′08″S 106°51′04″E / 6.269°S 106.851°E / -6.269; 106.851Koordinat: 6°16′08″S 106°51′04″E / 6.269°S 106.851°E / -6.269; 106.851
Eksekutif agensi
  • Budi Gunawan, Kepala
  • Torry Djohar Banguntoro, Wakil kepala
Tapak webwww.bin.go.id

Badan Intelijen Negara (disingkatkan kepada BIN) ialah agensi perisikan utama Indonesia.

Sejarah agensi[sunting | sunting sumber]

1943-1965[sunting | sunting sumber]

Duluan kepada badan ini mula wujud ketika zaman Hindia Timur Belanda diduduki kuasa Jepun tahun 1943. Pada masa itu, Jepun mendirikan versi lokal lembaga perisikan yang terkenal dengan sebutan Sekolah perisikan Militer Nakano. Mantan tentara Pembela Tanah Air (PETA), Zulkifli Lubis, merupakan lulusan sekaligus Komandan perisikan pertama kaum republikan.

Paska kemerdekaan iaitu pada bulan Ogos 1945, Pemerintah Indonesia mendirikan suatu badan perisikan republik yang pertama dinamakan Badan Istimewa. Kolonel Zulkifli Lubis kembali memimpin lembaga itu bersama sekitar 40 mantan tentara Peta yang menjadi penyelidik militer khusus. Setelah memasuki masa pelatihan khusus perisikan di daerah Ambarawa, awal Mei 1946 sekitar 30 pemuda lulusannya menjadi anggota Badan Rahasia Negara Indonesia (Brani). Lembaga ini bertindak sebagai badan pemayung kepada bukan sahaja gerakan perisikan dengan beberapa unit ad hoc, bahkan juga operasi luar negeri.

Pada bulan Julai 1946, Menteri Pertahanan Amir Sjarifuddin membentuk Badan Pertahanan B yang dikepalai seorang mantan komisioner polis. Hasilnya pada 30 April 1947 seluruh badan perisikan digabung di bawah Kementerian Pertahanan termasuk Brani menjadi Bagian V dari Badan Pertahanan B.

Pada tahun 1949, Menteri Pertahanan Sri Sultan Hamengkubuwono IX tidak berpuas hati dengan kinerja dan prestasi yang didapati daripada kegiatan perisikan saat itu yang berjalan sendiri-sendiri tidak terkordinasi dengan baik, maka baginda membentuk suatu "Dinas Chusus" (DC), yang diharapkan mampu menghadapi tantangan ancaman negara dan bangsa kedepan, serta mampu menjaga para pekerja warganegara tersebut. Program rekruitmen DC merupakan program Intellijen dari kader-kader Sipil Non Militer pertama di Indonesia yang dilatih oleh Agensi Perisikan Pusat Amerika Syarikat, Para calon-calon Itellijen dikirim ke Pulau Saipan di Filipina untuk mengikuti program latihan hingga beberapa angkatan yang kemudian, di mana racangan pelatihan ini diteruskan di Indonesia. Para alumnus ditempatkan dalam berbagai-bagai operasi sulit yang sangat tertutup dan mampu menembus titik pusat ("jantung") musuh seperti operasi (Trikora, Dwikora, G30. S PKI, dan sebagainya). DC dikenal dengan nama samaran "Ksatria Graha "yang merupakan kader-kader perisikan profesional terlatih, yang merupakan bagian penting yang tak dapat dilepaskan dari sejarah intellijen Indonesia.

Pada awal tahun 1952, Kepala Staf Angkatan Perang, T.B. Simatupang, mengecilkan struktur lembaga perisikan menjadi Badan Informasi Staf Angkatan Perang (BISAP). Persaingan dengan badan-badan militer sepanjang tahun 1952-1958 menyebabkan seluruh angkatan dan Kepolisian memiliki badan perisikan sendiri-sendiri tanpa koordinasi nasional. Maka pada 5 Desember 1958, Presiden Soekarno membentuk Badan Koordinasi perisikan (BKI) dengan Kolonel Laut Pirngadi sebagai kepala.

Selanjutnya, 10 November 1959, BKI menjadi Badan Pusat perisikan (BPI) yang bermarkas di Jalan Madiun, yang dikepalai oleh DR Soebandrio. Di era tahun 1960-an hingga akhir masa Orde Lama, pengaruh Soebandrio pada BPI sangat kuat diikuti perang ideologi Komunis dan non-Komunis di tubuh militer, termasuk perisikan.

1965-sekarang[sunting | sunting sumber]

Setelah gonjang-ganjing tahun 1965, Soeharto mengepalai Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib). Berikutnya, di seluruh daerah (Komando Daerah Militer/Kodam) dibentuk Satuan Tugas perisikan (STI). Kemudian pada 22 Ogos 1966, Soeharto mendirikan Komando Intelijen Negara (KIN) dengan Brigjen Yoga Sugomo sebagai kepala yang langsung bertanggung jawab kepadanya.

Sebagai lembaga perisikan strategis, maka BPI dilebur ke dalam KIN yang juga memiliki Operasi Khusus (Opsus) di bawah Letkol. Ali Moertopo dengan asisten Leonardus Benyamin (Benny) Moerdani dan Aloysius Sugiyanto. Kurang dari setahun, 22 Mei 1967 Soeharto mengeluarkan Keputusan Presiden (Keppres) untuk mendesain KIN menjadi Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin). Mayjen. Soedirgo merupakan Kepala Bakin pertama.

Pada masa Mayjen. Sutopo Juwono, Bakin memiliki Deputi II di bawah Kolonel Nicklany Soedardjo, perwira Polisi Militer (POM) lulusan Fort Gordon, AS. Pada awal 1965, Nicklany menciptakan unit intel PM, yaitu Detasemen Pelaksana perisikan (Den Pintel) POM. Secara resmi, Den Pintel POM menjadi Satuan Khusus perisikan (Satsus Intel), lalu pada tahun 1976 menjadi Satuan Pelaksana (Satlak) Bakin dan di era 1980-an kelak menjadi Unit Pelaksana (UP) 01.

Mulai tahun 1970 terjadi reorganisasi Bakin dengan tambahan Deputi III pos Opsus di bawah Brigjen. Ali Moertopo. Sebagai orang dalam Soeharto, Opsus dipandang paling prestisius di Bakin, mulai dari urusan domestik Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) Irian Barat dan kelahiran mesin politik Golongan Karya (Golkar) sampai masalah Indocina. Pada tahun 1983, sebagai Wakil Kepala BAKIN, L.B. Moerdani memperluas kegiatan perisikan menjadi Badan perisikan Strategis (Bais). Selanjutnya Bakin tinggal menjadi sebuah direktorat kontra-subversi dari Orde Baru.

Setelah mencopot L.B. Moerdani sebagai Menteri Pertahanan dan Keamanan tahun 1993, Soeharto mengurangi mandat Bais dan mengganti nama menjadi Badan perisikan ABRI (BIA). Pada tahun 2000, Presiden Abdurrahman Wahid mengubah Bakin menjadi Badan Intelijen Negara yang wujud sehingga sekarang

Rujukan[sunting | sunting sumber]

Pautan luar[sunting | sunting sumber]