Pergi ke kandungan

Kerajaan Kutai

Daripada Wikipedia, ensiklopedia bebas.

Kerajaan Kutai atau Kerajaan Kutai Martapura yang saat ini KERAJAAN KUTAI MULAWARMAN ialah kerajaan Hindu Kutai yang memerintah Muara Kaman, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur sekitar kurun ke-4 Masihi hingga abad ke 21 Masihi. Ketika kerajaan ini diasaskan, pakar sejarah berpendapat ia bukanlah kerajaan Hindu. Namun, penggantinya yaitu Mulawarman, menganut agama Hindu.[1]

Namun, berlaku perebutan kuasa antara Kutai Martapura dan Kutai Kartanegara dari tahun 1325M. Anak-anak Maharja Guna Perana Tungga mula memperjuangkan Hak Kekuasaan, manakala Dewan Nala Duta yang memegang Kerajaan di Kerajaan Kutai, ibu kota di Martapura menegaskan bahawa Maha Putri Indra Dewi tidak berhak ke atas Takhta Diraja walaupun baginda menikah dengan seorang bangsawan dari Kutai Kartenegara yang berasal dari keturunan Raja Singosari (Raja Kartanegara) dan saudara Raja Majapahit (Jawa Timur) dan Kerajaan Kutai di Martapura tidak mau tunduk kepada kekuasaan Majapahit, puncaknya di tahun 1635M saat VOC mulai menguasai wilayah di timur kalimantan, sehingga terjadi saat tewasnya Maharaja Derma Setia tewas di tangan Kesultanan Kutai Kartanegara. Dalam peperangan tersebut, raja terakhirnya, Maharaja Dharma Setia terbunuh di tangan Raja Kutai Kartanegara iaitu Aji Pangeran Anum Panji Mendapa, di tahun 1635M itu sendiri adalah masa akhir kekuasannya jadi bagaimana mungkir peperangan itu terjadi karena tahun 1635M Aji Pangeran Anum Panji Mendapa meninggal dunia. Mengenai Kerajaan Kutai di Martapura Muara Kaman tidak diiktiraf oleh Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Kutai Kartanegara di Jahitan Layar yang merupakan Negara Majapahit, juga menjadi perpecahan ini terus terjadi hingga abad abad 21, Kerajaan Kutai Kartanegara dipimpin oleh Aji Muhammad Arifin dan Kerajaan Kutai Martapura dipimpin oleh Alpiansyah (Maharaja Srinala Praditha Alpiansyah Rechza Fachlevie Wangsawarman) selaku DYMM SPBBA MAHARAJA KUTAI MULAWARMAN sejak 03 September 2001.

Di sini kita akan membahas kedua kerajaan ini kerana terdapat keanehan dalam sejarah ini, apakah kerajaan ini dihancurkan oleh serangan Kutai Kartanegara atau memang oleh VOC yang pada tahun 1635 merupakan masa gelap di Kalimantan Timur kerana mengalami masa peralihan kekuasaan.

Asal Mula Kerajaan Kutai Martadipura

[sunting | sunting sumber]
Kerajaan Kutai Mulawarman
350–sekarang
Fail:Situs Kerajaan Kutai Mulawarman Ing Martadipura
Ibu negaraMuara Kaman, Kalimantan Timur
Bahasa yang umum digunakanBahasa Sansekerta, Bahasa Kutai, Bahasa Indonesia
Agama
Hindu
KerajaanMonarki
Sri Maharaja, Srinala - Srinila, Nala - Nila, Tan adalah Gelar Raja-Raja Melaya memiliki makna Tahani artinya Raja dimasa kedautan Sadva Malaya yang ada memerintah tahun 17 Masehi di Muara Kaman 
• Abad 3-4 masehi
Kundungga
• Abad 4-5 masehi
Aswawarman Mulawarman
Alpiansyah
Sejarah 
• Didirikan
350
• Menjadi Wilayah Pemerintah Republik Indonesia
sekarang
Diganti oleh
Negara Kesatuan Republik Indonesia
Sekarang sebahagian dari Indonesia

Kerajaan ini terletak di Muara Kaman, tepatnya di Tebalai Indah atau Balarung (BALARIUNG) Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Situs Kerajaan Kutai Mulawarman Ing Martadipura ada Di Benua Lawas Berubus Muara Kaman Ulu dan disanalah Museum Lesong Batu di Bangun oleh Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara dan Keroton Kesultanan Kutai Kertanegara yang selesai di bangun tahun 1936 di ibukota Pemerintah Kutai Kartanegara yang sekarang menjadi Museum Negeri Mulawarman di Tenggarong.[2] Dalam prasasti Yupa yang bertarikh 400 M[3], Raja Kudungga, adalah Putra Mitroga Cucu Atwangga yang Merupakan keponakan dari Maharatu Agung Salakayana merupakan adik dari seorang raja Kerajaan Champa, bernama Rajendra atau Badrawarman I ialah pengasas kerajaan ini. Beliau mempunyai Putra menantu bernama Wangsakerta atau Maharaja Sri Aswawarman yang memiliki tiga orang putera dan salah satu puteranya ialah Maharaja Sri Mulawarman.[3] Menurut prasasti itu lagi, Mulawarman pernah menganugerahkan pendeta Brahman dua puluh ribu ekor lembu dan sebelumnya dia bersama 2 adiknya mengikuti Kurban Asmamedha yang dilasanakan oleh Aswawarman dan mereka menaklukan benyak wilayah di medan perang sehingga menjadi penguasa besar disebutkan dalam dalam prasasti yupa dengan kata pravatam sadiva malaya penguasa penakluk hebat penakluk besar dari malaya. Bagi memperingati peristiwa ini, pendeta-pendeta itu mencatatnya dalam prasasti Yupa. Mulawarman pula mempunyai seorang putera bernama Sri Nala Wangsa Warman.[3]

Pada abad ke-16, kerajaan di kuasai oleh pengaruh VOC dalam berita tercatat pada tahun 1635 datanglah Kapal VOC terdiri dari 5 buah kapal perang dan 2 buah kapal pemburu VOC memasuki sungai mahakam .[4]

Mari Kita Pahami uraian di sini didalam buku Hikayat Banjar resensi I pada bagian akhir teks bertarikh dari 1663 atau sesudahnya bagian awalnya adalah lebih lama. Teks ini sepanjang 4,787 baris (120 halaman). Edisi teks bersama penjelasan lanjut dari segi konteks sejarah budaya dan kesusteraan diterbitkan oleh ahli filologi Belanda Hans Ras pada 1968. Bagian akhir Hikayat Banjar menceritakan kemelut politik di Kesultanan Banjar yaitu perebutan kekuasaan antara Pangeran Ratu, Raden Bagus dan Pangeran Suria Nata II yang terjadi pada tahun 1663.

Menurut Hikayat Banjar dan Kotawaringin (1663), didalam hikayat bahwa negeri Kutai Kertanegara merupakan salah satu tanah di atas angin (sebelah utara) yang mengirim upeti kepada Maharaja Suryanata, raja Banjar-Hindu (Negara Dipa) pada abad ke-14 hingga kerajaan ini digantikan oleh Kesultanan Banjar.

Sekitar tahun 1620 Negeri Kutai Kertanegara berada di bawah pengaruh Kesultanan Makassar. Sehingga adanya perjanjian atara VOC dan Kesultanan Banjar tahun 1635 menyebutkan VOC membantu Banjar untuk menaklukan Paser dan Kutai untuk di kuasai kembali dalam peristiwa inilah VOC berperaan penting.

Dengan demikian sejak tahun 1636, Kutai diklaim oleh Kesultanan Banjar sebagai salah satu vazalnya karena Banjarmasin sudah memiliki kekuatan militer yang memadai untuk menghadapi serangan Kesultanan Mataram yang berambisi menaklukan seluruh Kalimantan dan sudah menduduki wilayah Sukadana (1622).

Pada tahun 1672 M Kapal VOC bernama Chialoup de Norman di kepalai oleh Kapten Poeloes de Bock beserta Kapten Pool dan Kapten Pieteraz datang lagi ke Kalimantan bagian Timur.

Pada tanggal, 23 Desember 1675 yang di sampaikan oleh VOC kepada pihak Kerajaan Belanda di Netherland, semua hal tersebut di atas merupakan isi dari laporan tersebut kita mengetahui benteng Kotanegara di Muara Kaman di hancurkan oleh VOC bukan oleh Kepangeranan Kutai Kartanegara yang saat ini di bawah kekuasaan Sultan Banjar sesuai dengan Menurut Hikayat Banjar dan Kota Waringin (1663), negeri Kutai merupakan salah satu tanah di atas angin (sebelah utara) yang mengirim upeti kepada Maharaja Suryanata Raja Banjar-Hindu (Negara Dipa) pada abad ke 14 hingga Kerajaan ini di gantikan oleh Kesultanan Banjar.

Hal tersebut terjadi ketika Kiai Martasura diutus ke Makassar dan mengadakan perjanjian dengan I Mangadacinna Daeng Sitaba Karaeng Pattingalloang Sultan Mahmud yaitu Raja Tallo yang menjabat mangkubumi bagi Sultan Malikussaid Raja Gowa tahun 1638-1654.

Terkait laporan Pada tanggal,  7 November 1635 M. Terjadilah peristiwa kedatangan tentara VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie)  dengan membawa 5 buah kapal pemburu dan 2 buah kapal bersenjata meriam dan lainya memasuki sungai Mahakam pimpinan kapal-kapal tersebut adalah Kapten Gerit Thomassen Pool, pada saat itu di Kerajaan Sagara di kutanegara Muara Kaman di Maharaja Setiya Yuda yang memerintah dalam tahun 1610-1635 M. Pembuktian peristiwa bahwa kekuasaan Kerajaan Kutai Mulawarman masih ada adalah Pada Tahun 1720 M – 1782  Didalam Nisan Makam Raja-Raja Pantun dalam Tahun 1782M diketahui beberapa Raja Memerintah di Kerajaan Pantun beribukota di Gelombang Jo (Muara Bengkal) Sungai Pantun dan ada 5 Raja tercatat memerintah sebenarnya sebelum tahun 1720 ada 2 Raja Pantun Memerintah yang merupakan anak keturunan Maharaja Sri Mulawarman yang berada di Sungai Pantun dan daftar Raja-Raja Pantun Sebagai Berikut :

1.    Marga bergelar Maharaja Nata Kusuma I

2.     Tan Panjang

3.    Pangeran Megan bergelar Maharaja Nata Kusuma II memerintah di tahun 1720 

4.     Maharaja Dipati Suryamendasar

5.    Raden Bongkok Raja Pantun Muara Bengkal terakhir di tahun 1782.

Pada tanggal, 20 Oktober 1756 M Ditandatanganinya perjanjian antara Kepangeranan Kutai Kertanegara dengan Sultan Banjar tentang wilayah Kutai dalam Wilayah Sultan Banjar. Karena VOC bermaksud menyatukan daerah-daerah di Kalimantan sebagai daerah kekuasaan VOC. Kepangeranan Kutai menyatakan dirinya di bawah pengaruh La Maddukelleng (Raja Wajo) yang anti VOC. Pangeran Amir, pewaris Mahkota Kesultanan Banjar yang sah di bantu pamannya  Arung Turawe (kelompok anti VOC) berusaha merebut tahta tetapi mengalami kegagalan.

Senarai Penguasa

[sunting | sunting sumber]
  1. Tan Samburakai
  2. Tan Mampi
  3. Tan Pihatu
  4. Tan Meretam
  5. Tan Tembayat
  6. Tan Serdang (Pemerintahan Tahani teakhir Sebagai Raja Malaya atau Pravatam Sadiva Malaya yang beralih kepada Pemerintahan Kerajaan Sagara di tahun 350M)
  7. Maharaja Sri Kudungga
  8. Maharaja Sri Aswawarman
  9. Maharaja Sri Mulawarman
  10. Maharaja Sri Nala Wangsawarman
  11. Maharaja Marawijaya Warman
  12. Maharaja Gajayana Warman
  13. Maharaja Wijaya Tungga Warman
  14. Maharaja Jaya Tungga Naga Warman
  15. Maharaja Nala Singa Warman
  16. Maharaja Nala Parana Tungga
  17. Maharaja Gadingga Warman Dewa
  18. Maharaja Indra Warman Dewa
  19. Maharaja Sangga Warman Dewa
  20. Maharaja Singa Wargala Warman Dewa
  21. Maharaja Candrawarman
  22. Maharaja Prabu Mula Tungga Dewa
  23. Maharatu Mayang Mulawarni (Mahaputri Pidara Putih)
  24. Maharaja Nala Indra Dewa
  25. Maharaja Indra Mulya Warman Dewa
  26. Maharaja Sri Langka Dewa
  27. Maharaja Guna Parana Dewa
  28. Dewan Perwalian Nala Duta (Perwalian Raja Memangku Tan Reniq)
  29. Maharaja Wijaya Warman
  30. Maharaja Indra Mulya
  31. Maharaja Sri Aji Dewa
  32. Maharaja Mulia Putera
  33. Maharaja Nala Pradita
  34. Maharaja Indra Paruta
  35. Maharaja Dharma Setia
  36. Maharaja Setiayuda
  37. Maharaja Setia Guna
  38. Srinala Prana
  39. Srinala Singga
  40. Srinala Singa Yuda
  41. Srinala Marta
  42. Srinala Mayang
  43. Srinala Pati Lingka
  44. Srinala Guna Danda
  45. Srinala Raja Tuha Maja
  46. Srinala Salong
  47. Srinala Kerincing Wangsa Warman
  48. Srinala Jamal gelar Maharaja Wangsa Dipura
  49. Srinila Dedong gelar Maharatu Srinila Indra Mulia Sadewi
  50. Srinala Maskoer gelar Maharaja Srinala Prabu Wangsawarman
  51. Srinila Rakni gelar Maharatu Srinila Rakni Dewi Gari
  52. Maharaja Srinala Praditha Alpiansyah Rechza Fachlevie Wangsa Warman (Maharaja Kutai Mulawarman
  53. Maharaja Muda Nala Indra Vachruca Dilaya (Putra Mahkota Maharaja Kutai Mulawarman)


Asal Mula Kerajaan Kutai Kartenegera

[sunting | sunting sumber]
Kesultanan Kutai
كسلطانن كوتاي كرتانݢارا ايڠ مرتاڤورا
1300–Sekarang
Bendera Kesultanan Kutai
Bendera
Ibu negaraKutai Lama (1300-1732)
Pemarangan (1732-1782)
Tenggarong (1782-1936)
Kota Bangun (1936-Sekarang)
Bahasa yang umum digunakanKutai, Melayu
Agama
Islam (resmi)
Kaharingan
Animisme
KerajaanMonarki Kesultanan
Sultan 
• 1300-1325
Aji Batara Agung Dewa Sakti
• 1920-1960
Aji Muhammad Parikesit
• 1999-2021
Aji Muhammad Salehuddin II
• 2018-Sampai Sekarang "Koetai Kartanegara"
Adji Muhammad Arifin
Sejarah 
• Didirikan
1300
• Bergabung dengan Indonesia
Sekarang
Didahului oleh
Diganti oleh
Kerajaan Kutai
Kerajaan Majapahit
Republik Indonesia

Kerajaan ini dulunya terletak di Tenggarong, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, namun sejak tahun 1936 ibukota Kerajaan Kutai Martadipura dipindahkan oleh Pemerintah Kutai Kartanegara semenjak keratonnya selesai dibangun dan ditempatkan di Kotabangun, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Kerajaan Kutai Kertanegara diasaskan pada awal abad ke-13 di sebuah kawasan bernama Jaitan Layar atau Kutai Lama (kini sebuah kampung di Daerah Anggana) dengan raja pertamanya, Aji Batara Agung Dewa Sakti (1300-1325). Kerajaan ini disebut dengan nama Kute dalam Kakawin Nagarakretagama (1365), yang merupakan salah satu daerah taklukan di negeri Pulau Tanjungnagara oleh Patih Gajah Mada dari Majapahit.

Pada abad ke-16, Kerajaan Kutai Kertanegara di bawah pimpinan raja Aji Pangeran Sinum Panji Mendapa berjaya menakluki Kerajaan Kutai (atau juga dikenali sebagai Kerajaan Kutai Martapura atau Kerajaan Kutai Dinasti Mulawarman) yang terletak di Muara Kaman. Raja Kutai Kertanegara kemudian menamakan kerajaannya Kerajaan Kutai Kertanegara Ing Martapura sebagai perpaduan antara kedua kerajaan tersebut.

Pada abad ke-17, agama Islam yang disebarkan oleh Tuan Tunggang Parangan diterima baik oleh Kerajaan Kutai Kertanegara yang ketika itu dipimpin oleh Raja Makota. Lebih seabad kemudian, gelaran Raja digantikan dengan gelaran Sultan. Sultan Aji Muhammad Idris (1735-1778) adalah raja Kutai Kertanegara pertama yang menggunakan gelar Sultan. Kemudian nama kerajaan itu diubah menjadi Kesultanan Kutai Kertanegara ing Martapura.[5]

Menurut Hikayat Banjar dan Kotawaringin (1663), tanah Kutai merupakan salah satu negeri di atas bayu (utara) yang menghantar ufti kepada Maharaja Suryanata, raja Banjar-Hindu (Negeri Dipa) pada abad ke-14 hingga kerajaan ini berada. digantikan oleh Kesultanan Banjar. Sekitar tahun 1620 Kutai berada di bawah pengaruh Kesultanan Makassar. Perjanjian antara VOC dan Kesultanan Banjar pada tahun 1635 menyatakan bahawa VOC membantu Banjar untuk menakluki Paser dan Kutai semula. Maka sejak tahun 1636, Kutai diklaim oleh Kesultanan Banjar sebagai salah satu pengikutnya kerana Banjarmasin sudah mempunyai kekuatan militer yang cukup untuk menghadapi serangan Kesultanan Mataram yang mempunyai cita-cita untuk menaklukkan seluruh Kalimantan dan telah menduduki kawasan Sukadana. (1622). Sebelumnya Banjarmasin adalah vazal Kesultanan Demak (pengganti Majapahit), tetapi sejak jatuhnya Demak (1548), Banjarmasin tidak lagi mengirim upeti kepada pemerintah di Jawa. Sekitar tahun 1638 (sebelum perjanjian Bungaya) Sultan Makassar (Gowa-Tallo) meminjam Pasir dan Kutai, Berau dan Karasikan (Kepulauan Sulu/Banjar Kulan) sebagai tempat perdagangan kepada Sultan Banjar IV Mustin Billah/Marhum Panembahan dan berjanji tidak menyerang Banjarmasin. Hal ini terjadi ketika Kiai Martasura diutus ke Makassar dan mengadakan perjanjian dengan I Mangadacinna Daeng Sitaba Karaeng Pattingalloang Sultan Mahmud, yaitu Raja Tallo yang menjabat sebagai mangkubumi bagi Sultan Malikussaid Raja Gowa pada tahun 1638-1654.[6]

Senarai Penguasa

[sunting | sunting sumber]
No. Masa Nama Raja/Sultan K e t e r a n g a n
1 1300-1325 Aji Batara Agung Dewa Sakti *Raja pertama Kutai Kartanegara yang mendirikan kerajaannya di Kutai Lama
2 1325-1360 Aji Batara Agung Paduka Nira  
3 1360-1420 Aji Maharaja Sultan  
4 1420-1475 Aji Raja Mandarsyah  
5 1475-1545 Aji Pangeran Tumenggung Bayabaya  
6 1545-1610 Aji Raja Mahkota Mulia Alam * Raja Kutai Kartanegara pertama yang memeluk agama Islam
7 1610-1635 Aji Dilanggar  
8 1635-1650 Aji Pangeran Sinum Panji Mendapa ing Martapura * Raja yang menaklukkan Kerajaan Kutai Martadipura. Raja kemudian menamakan kerajaannya menjadi Kerajaan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.  
9 1650-1665 Aji Pangeran Dipati Agung ing Martapura  
10 1665-1686 Aji Pangeran Dipati Maja Kusuma ing Martapura  
11 1686-1700 Aji Ragi gelar Ratu Agung *Ratu pertama yang memimpin Kerajaan Kutai Kartanegara
12 1700-1710 Aji Pangeran Dipati Tua(Pangeran Dipati Toewa Ing Martapoera)  
13 1710-1735 Aji Pangeran Anum Panji Mendapa ing Martapura  
14 1735-1778 Aji Muhammad Idris  
15 1778-1780 Aji Muhammad Aliyeddin * Aji Kado melakukan kudeta dengan mengangkat dirinya sebagai Sultan Aji Muhammad Aliyeddin setelah Sultan Aji Muhammad Idris wafat di Wajo, Sulawesi Selatan
16 1780-1816 Aji Muhammad Muslihuddin *Pewaris tahta yang sah dari Sultan Aji Muhammad Idris dan berhasil menggulingkan pemerintahan Aji Kado
17 1816-1845 Aji Muhammad Salehuddin  
18 1850-1899 Aji Muhammad Sulaiman  
19 1899-1910 Aji Muhammad Alimuddin  
20 1920-1960 Aji Muhammad Parikesit *Sultan terakhir setelah pemerintahan kesultanan berakhir pada tahun 1960
21 1999-2018 Haji Aji Muhammad Salehuddin II *Ditetapkan sebagai Sultan Kutai pada tahun 1999 setelah Kesultanan Kutai dihidupkan kembali. Namun upacara penobatan baru dilaksanakan pada 22 September 2001
22
2018-sekarang
Aji Muhammad Arifin *Ditetapkan sebagai Sultan Kutai pada tahun 2018

Templat:Buku Menapak Sejarah Silsilah Maharaja Sri Mulawarman terbitan Deepublish Cetakan Juni 2022 ISBN 978-623--02-4704-0

Lihat Juga

[sunting | sunting sumber]
  1. ^ Sejarah Kerajaan Kutai Martadipura
  2. ^ Keraton Kutai Kartanegara Ing Martadipura yang pada tahun 1936 sekarang dijadikan museum Negeri Mulawarman Menapak Sejarah Silsilah Maharaja Sri Mulawarman terbitan Deepublish Cetakan Juni 2022 ISBN 978-623--02-4704-0
  3. ^ a b c Maklumat daripada Royal Ark
  4. ^ Silsilah Raja Kutai Martadipura
  5. ^ Sutrisno Kutoyo [ed], Sejarah Daerah Kalimantan Timur, Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah 1976/1977, 1978.
  6. ^ Johannes_Jacobus_Ras, Hikayat Banjar terjemahan dalam Bahasa_Malaysia oleh Siti_Hawa_Salleh, Percetakan Dewan Bahasa dan Pustaka, Lot 1037, Mukim Perindustrian PKNS - Ampang/Hulu Kelang - Selangor Darul Ehsan, Malaysia 1990