Eutanasia

Daripada Wikipedia, ensiklopedia bebas.
Jump to navigation Jump to search

Eutanasia merupakan perbuatan mematikan seseorang. Amalan ini melanggar undang-undang di kebanyakan negara. Isu ini banyak menimbulkan kontroversi kerana wujudnya pelbagai persoalan moral dan etika, bukan sahaja terhadap amalan itu, tetapi juga definisinya. Penyokong amalan ini mendakwa bahawa mematikan seseorang yang menghidap penyakit teruk merupakan perbuatan yang berperikemanusiaan. Penentang eutanasia pula melabelkan kaedah ini sebagai bentuk pembunuhan.

Eutanasia boleh dijalankan dengan pelbagai cara, dan pengistilahan yang lebih spesifik diperlukan dalam membincangkan isu eutanasia.

Sejarah eutanasia[sunting | sunting sumber]

Asal usul kata eutanasia[sunting | sunting sumber]

Kata eutanasia berasal dari bahasa Yunani iaitu "eu" (= baik) and "thanatos" (maut, kematian) yang apabila digabungkan berarti "kematian yang baik". Hippokrates pertama kali menggunakan istilah "eutanasia" ini pada "sumpah Hippokrates" yang ditulis pada masa 400-300 SM. Sumpah tersebut berbunyi: "Saya tidak akan menyarankan dan atau memberikan ubat yang mematikan kepada sesiapapun meskipun ubat tersebut telah dimintakan olehnya".

Dalam sejarah undang-undang di England iaitu common law sejak tahun 1300 hingga saat "bunuh diri" ataupun "membantu pelaksanaan bunuh diri" tidak diperbolehkan.

Eutanasia dalam dunia moden[sunting | sunting sumber]

Sejak abad ke-19, eutanasia telah memicu timbulnya perdebatan dan pergerakan di wilayah Amerika Utara dan di Eropah Pada tahun 1828 undang-undang anti eutanasia mula dilaksanakan di negeri New York, disusuli oleh beberapa negeri lain beberapa lama kemudian.

Setelah masa Perang Saudara Amerika Syarikat, beberapa [peguam]] dan doktor mendukung eutanasia agar ia dilakukannya secara sukarela.

Kelompok-kelompok pendukung eutanasia mulanya terbentuk di England pada tahun 1935 dan di Amerika Syarikat pada tahun 1938 yang giat memperjuangkan pelaksanaan eutanasia secara agresif, namun tidak membuahkan hasil di kedua-dua negara tersebut

Pada tahun 1937, eutanasia dengan bantuan doktor dibenarkan di Switzerland selagi pesakit yang terbabit tidak memperoleh sebarang keuntungan daripada tindakan tersebut.

Pada era yang sama, pengadilan Amerika menolak beberapa permohonan dari pesakit kronik dan beberapa orang tua yang memiliki anak cacat yang meminta permohonan eutanasia kepada doktor sebagai suatu bentuk "pembunuhan berdasarkan belas kasihan".

Pada tahun 1939, pasukan Nazi Jerman melakukan suatu tindakan kontroversial dalam suatu "program" eutanasia terhadap anak-anak di bawah umur 3 tahun yang menderita penrencatan mental, cacat tubuh, ataupun gangguan lainnya yang menjadikan hidup mereka dianggap tidak berguna oleh masyarakat tersebut. Program ini dikenal dengan nama Aktion T4 ("Tindakan T4") yang kelak dilaksanakan juga terhadap anak-anak usia di atas 3 tahun dan golongan dewasa.[1]

Eutanasia pada masa setelah perang dunia[sunting | sunting sumber]

Setelah dunia menyaksikan kekejaman Nazi dalam melakukan kejahatan eutanasia, pada era tahun 1940 dan 1950 maka berkuranglah dukungan terhadap eutanasia, terlebih-lebih lagi terhadap tindakan eutanasia yang dilakukan secara tidak sukarela ataupun karena disebabkan oleh cacat genetika.

Eutanasia menurut ajaran agama[sunting | sunting sumber]

Dalam ajaran agama Hindu[sunting | sunting sumber]

Pandangan agama Hindu terhadap euthanasia adalah didasarkan pada ajaran tentang karma, moksa dan ahimsa.

Karma adalah merupakan suatu akibat tepat dari semua jenis kehendak dan maksud perbuatan, yang baik mahupun yang buruk, lahir atau batin sama ada melalui fikiran, kata-kata ataupun tindakan. Sebagai akumulasi terus menerus dari "karma" yang buruk adalah menjadi penghalang "moksa" yaitu suatu ialah kebebasan dari siklus kelahiran semul yang menjadi tujuan utama semua penganut ajaran Hindu.

Ahimsa adalah merupakan prinsip "anti kekerasan" atau pantang menyakiti siapapun juga.

Bunuh diri adalah suatu perbuatan yang terlarang dalam ajaran Hindu dengan alasab bahawa perbuatan tersebut dapat menjadi suatu faktor yang mengganggu saat kelahiran semula kerana tindakan ini menghasilkan "karma" buruk. Kehidupan manusia adalah merupakan suatu kesempatan yang sangat berharga untuk meraih tingkat yang lebih baik dalam kehidupan kembali.

Berdasarkan kepercayaan umat Hindu, apabila seseorang melakukan bunuh diri, maka rohnya tidak akan masuk neraka ataupun surga melainkan tetap berada didunia fana sebagai roh jahat dan berkelana tanpa tujuan hingga ia mencapai masa waktu di mana seharusnya ia menjalani kehidupan (Catatan : misalnya umurnya waktu bunuh diri 17 tahun dan seharusnya ia ditakdirkan hidup hingga 60 tahun maka 43 tahun itulah rohnya berkelana tanpa arah tujuan), setelah itu maka rohnya masuk ke neraka menerima hukuman lebih berat dan akhirnya ia akan kembali ke dunia dalam kehidupan kembali (kelahiran semula) untuk menyelesaikan "karma" nya terdahulu yang belum selesai dijalaninya kembali lagi dari awal.[2]

Dalam ajaran agama Buddha[sunting | sunting sumber]

Ajaran agama Buddha sangat menekankan kepada makna dari kehidupan di mana penghindaran untuk melakukan pembunuhan makhluk hidup adalah merupakan salah satu moral dalam ajaran Buddha. Berdasarkan pada hal tersebut di atas, maka tampak jelas bahwa euthanasia adalah sesuatu perbuatan yang tidak dapat dibenarkan dalam ajaran agama Budha. Selain daripada hal tersebut, ajaran Budha sangat menekankan pada "belas kasih" ("karuna")

Mempercepatkan kematian seseorang secara buat-buatan dilihat sebagai suatu pelanggaran terhadap perintah utama ajaran Budha yang dengan demikian dapat menjadi "karma" negatif kepada siapapun yang terlibat dalam pengambilan keputusan guna memusnahkan kehidupan seseorang tersebut.[3]

Dalam ajaran Islam[sunting | sunting sumber]

Islam mengakui hak seseorang untuk hidup dan mati, namun hak tersebut merupakan anugerah Allah kepada manusia. Hanya Allah yang dapat menentukan detim seseorang itu lahir dan mati (QS 22: 66; 2: 243). Oleh kerana itu, bunuh diri diharamkan dalam syariat Islam meskipun tidak ada teks dalam Al Quran mahupun Hadis yang secara terperinci atau tepatnya melarang bunuh diri. Tambahan lai,g ada sebuah ayat yang menyiratkan hal tersebut, "Dan belanjakanlah (hartamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik." (QS 2: 195), dan dalam ayat lain disebutkan, "Janganlah engkau membunuh dirimu sendiri," (QS 4: 29), yang makna langsungnya adalah "Janganlah kamu saling berbunuhan." Dengan demikian, seorang Muslim (doktor) yang membunuh seorang Muslim lainnya (pesakit) disetarakan dengan membunuh dirinya sendiri.[4]

Eutanasia dalam ajaran Islam disebut qatl ar-rahmah atau taisir al-maut (eutanasia), yaitu suatu tindakan memudahkan kematian seseorang dengan sengaja tanpa merasakan sakit, kerana kasih sayang, dengan tujuan meringankan penderitaan si sakit, baik dengan cara positif maupun negatif.

Dalam suatu persidangan pertama tentang kedoktoran Islam di Kuwait tahun 1981, dinyatakan bahwa tidak ada suatu alasan yang membenarkan dilakukannya eutanasia ataupun pembunuhan berdasarkan belas kasihan (mercy killing) dalam apapun jua alasan.[5]

Eutanasia positif[sunting | sunting sumber]

Yang dimaksud taisir al-maut al-fa'al (eutanasia positif) ialah tindakan memudahkan kematian si pesakit—karena kasih sayang—oleh doktor dengan menggunakan instrumen (alat).

Memudahkan proses kematian secara aktif (eutanasia positif) adalah tidak diperkenankan oleh syara'. Sebab dalam tindakan ini seorang dokter melakukan suatu tindakan aktif dengan tujuan membunuh si sakit dan mempercepatkan kematiannya melalui pemberian ubat secara terlebih dos dan ini termasuk pembunuhan yang haram hukumnya, bahkan termasuk dosa besar yang membinasakan.

Perbuatan demikian itu adalah termasuk dalam kategori pembunuhan meskipun yang mendorongnya itu rasa kasihan kepada si sakit dan untuk meringankan penderitaannya. Karena bagaimanapun si doktor tidaklah lebih pengasih dan penyayang daripada Yang Menciptakannya. Kerana itu, seseorang harus menyerahkan urusan tersebut kepada Allah Ta'ala, kerana Dia-lah yang memberi kehidupan kepada manusia dan yang mencabutnya apabila telah tiba ajal yang telah ditetapkan-Nya.[6]

Eutanasia negatif[sunting | sunting sumber]

Eutanasia negatif disebut dengan taisir al-maut al-munfa'il. Pada eutanasia negatif tidak dipergunakan alat-alat atau langkah-langkah aktif untuk mengakhiri kehidupan si sakit, tetapi ia hanya dibiarkan tanpa diberi pengobatan untuk memperpanjang hayatnya. Hal ini didasarkan pada keyakinan dokter bahwa pengobatan yang dilakukan itu tidak ada gunanya dan tidak memberikan harapan kepada si sakit, sesuai dengan sunnatullah (hukum Allah terhadap alam semesta) dan hukum sebab-akibat.

Di antara masalah yang sudah terkenal di kalangan ulama syara' ialah bahawa mengolubati atau berubat dari penyakit tidak wajib hukumnya menurut jumhur fuqaha dan imam-imam mazhab. Bahkan menurut mereka, mengubati atau berubat ini hanya berkisar pada hukum mubah. Dalam hal ini hanya segolongan kecil yang mewajibkannya seperti yang dikatakan oleh sahabat-sahabat Imam Syafi'i dan Imam Ahmad sebagaimana dikemukakan oleh Syekhul Islam Ibnu Taimiyah, dan sebagian ulama lagi menganggapnya mustahab (sunnah).[7]

Dalam ajaran agama Yahudi[sunting | sunting sumber]

Ajaran agama Yahudi melarang eutanasia dalam berbagai bentuk dan menggolongkannya kedalam "pembunuhan". Hidup seseorang bukanlah miliknya lagi melainkan milik dari Tuhan yang memberikannya kehidupan sebagai pemilik sesungguhnya dari kehidupan. Walaupun tujuannya mulia sekalipun, sebuah tindakan mercy killing ( pembunuhan berdasarkan belas kasihan), adalah merupakan suatu kejahatan berupa campur tangan terhadap kewenangan Tuhan.[8]

Dasar dari larangan ini dapat ditemukan pada Kitab Kejadian dalam alkitab Perjanjian Lama Kej 1:9 yang berbunyi :" Tetapi mengenai darah kamu, yakni nyawa kamu, Aku akan menuntut balasnya; dari segala binatang Aku akan menuntutnya, dan dari setiap manusia Aku akan menuntut nyawa sesama manusia".[9] Pengarang buku : HaKtav v'haKaballah menjelaskan bahwa ayat ini adalah merujuk kepada larangan tindakan eutanasia.[10]

Dalam ajaran Kristian[sunting | sunting sumber]

mazhab Katolik Rom[sunting | sunting sumber]

Sejak pertengahan abad ke-20, pihak Gereja Katolik berusaha untuk memberikan panduan atau pedoman sejelas mungkin mengenai penanganan mereka terhadap mereka yang menderita sakit tidak boleh sembuh langsung, sehubungan dengan ajaran moral gereja mengenai eutanasia dan sistem memanjangkan hidup. Paus Pius XII - yang bukan sahaja menjadi saksi dan mengutuk program-program eugenik dan eutanasia Nazi, tetapi juga kepada saksi pemulaan sistem-sistem modern penunjang hidup, merupakan tokoh pertama yang menguraikan secara jelas masalah moral ini dan menetapkan pedoman. Pada tanggal 5 Mei 1980, Kongregasi Ajaran Iman telah menerbitkan suatu perisytiharan mengenai eutanasia ("Declaratio de euthanasia") [11] yang menguraikan pedoman ini lebih lanjut, khususnya dengan semakin meningkatnya kerumitan sistem-sistem penunjang hidup dan dan semakin giatnya pengalakkan langkah eutanasia sebagai sarana yang sah untuk mengakhiri hidup. Paus Ioannes Paulus II yang prihatin dengan semakin meningkatnya amalan eutanasia ini, dalam ensiklik Injil Kehidupan (Evangelium Vitae) nomor 64 yang memperingatkan kita agar melawan "gejala yang paling mengkhawatirkan dari `budaya kematian' di mana jumlah orang-orang lanjut usia dan lemah yang meningkat dianggap sebagai beban yang mengganggu." Beliau juga menegaskan bahwa eutanasia merupakan tindakan belas kasihan yang keliru dan kelabu: "Belas kasihan yang sejati mendorong agar ikut menanggung sesuatu penderitaan itu bersama-sama. Belas kasihan itu tidak membunuh orang, yang penderitaannya tidak dapat kita tanggung" (Evangelium Vitae, nomor 66)[12][13]

mazhab Protestan[sunting | sunting sumber]

Gereja Protestan terdiri dari berbagai denominasi yang mana memiliki pendekatan yang berbeda-beda dalam pandangannya terhadap eutanasia dan orang yang membantu pelaksanaan eutanasia.

Beberapa pandangan dari berbagai denominasi tersebut misalnya :[14]

  • Gereja Methodis (United Methodist church) dalam buku ajarannya menyatakan bahwa : " penggunaan teknologi kedokteran untuk memperpanjang kehidupan pasien terminal membutuhkan suatu keputusan yang dapat dipertanggung jawabkan tentang hingga kapankah peralatan penyokong kehidupan tersebut benar-benar dapat mendukung kesempatan hidup pasien, dan kapankah batas akhir kesempatan hidup tersebut".
  • Gereja Luteran Amerika Syarikat menggolongkan nutrisi buatan dan hidrasi sebagai suatu perawatan medis yang bukan merupakan suatu perawatan fundamental. Dalam kasus di mana perawatan medis tersebut menjadi sia-sia dan memberatkan, maka secara tanggungjawab moral dapat dihentikan atau dibatalkan dan membiarkan kematian terjadi.

Seorang penganut Kristian percaya bahawa mereka berada dalam suatu posisi yang unik untuk melepaskan pemberian kehidupan dari Tuhan karena mereka percaya bahwa kematian tubuh adalah merupakan suatu awal perjalanan menuju ke kehidupan yang lebih baik.

Lebih jauh lagi, pemimpin gereja Katolik dan Protestan mengakui bahwa apabila pembenaran mengakhiri kehidupan ini secara sah bererti suatu pembenaran tindakan melakukan dosa, juga di masa depan merupakan suatu racun bagi dunia perawatan kesihatan, memusnahkan harapan mereka berubat.

Sejak awalnya, cara pandang yang dilakukan kaum Kristian dalam menanggapi masalah "bunuh diri" dan "pembunuhan berdasarkan belas kasihan (mercy killing) adalah dari sudut "kekudusan kehidupan" sebagai suatu pemberian Tuhan. Mengakhiri hidup dengan alasan apapun juga adalah bertentangan dengan maksud dan tujuan pemberian tersebut.

mazhab Gereja Ortodoks[sunting | sunting sumber]

Pada ajaran Gereja Ortodoks, gereja senantiasa mendampingi orang-orang beriman sejak kelahiran hingga sepanjang perjalanan hidupnya hingga kematian dan alam baka dengan doa, upacara/ritual, sakramen, khotbah, pengajaran dan kasih, iman dan pengharapan. Seluruh kehidupan hingga kematian itu sendiri adalah merupakan suatu kesatuan dengan kehidupan gerejawi. Kematian itu adalah sesuatu yang buruk sebagai suatu simbol pertentangan dengan kehidupan yang diberikan Tuhan. Gereja Ortodoks memiliki pendirian yang sangat kuat terhadap prinsip pro-kehidupan dan oleh karenanya menentang anjuran eutanasia.[15]

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Lihat artikel Aktion T4
  2. ^ Situs religionfacts.com tentang ajaran Hindu
  3. ^ Euthanasia: Murder or Compassion?
  4. ^ Harian Pikiran Rakyat
  5. ^ Situs infoplease.com
  6. ^ Fatwa-fatwa kontemporer
  7. ^ Media Isnet
  8. ^ Euthanasia and Judaism: Jewish Views of Euthanasia and Suicide
  9. ^ Teks Asli Versi King James Version : "Surely for your lifeblood I will demand [a reckoning]; from the hand of every beast I will require it, and from the hand of man. From the hand of every man's brother I will require the life of man.situs sabda.org
  10. ^ The Jewish view on euthanasia
  11. ^ Kongregasi kudus tentang doktrin kehidupan. "Declaration on Euthanasia," May 5, 1980
  12. ^ Evangelium Vitae
  13. ^ "Lihat artikel "Eutanasia Menurut Ajaran Gereja" yang diterjemahkan oleh Yesaya atas izin The Arlington Catholic Herald."
  14. ^ diambil dari situs christianitytoday.com
  15. ^ Stand of the Orthodox Church - Euthanasia

Pautan luar[sunting | sunting sumber]

Neutral[sunting | sunting sumber]

Sokongan[sunting | sunting sumber]

Bantahan[sunting | sunting sumber]