Lapangan Terbang Antarabangsa Kuala Namu

Daripada Wikipedia, ensiklopedia bebas.
Lompat ke: pandu arah, cari
Kuala Namu International Airport
Bandar Udara Internasional Kuala Namu
IATA: KNOICAO: WIMM
Rumusan
Jenis lapangan terbang Public
Pengendali PT Angkasa Pura II
Lokasi Medan

Lapangan Terbang Antarabangsa Kuala Namu (dikenali sebagai Lapangan Terbang Baru Antarabangsa Medan) (Bahasa Indonesia: Bandar Udara Internasional Kuala Namu) adalah sebuah lapangan terbang baru untuk kota Medan, Indonesia. Lokasinya merupakan bekas areal perkebunan PT. Perkebunan Nusantara II Tanjung Morawa, terletak di Kuala Namu, Desa Beringin, Kecamatan Beringin, Kabupaten Deli Serdang. Kuala Namu akan menggantikan Lapangan Terbang Antarabangsa Polonia yang sudah berusia lebih dari 70 tahun. Saat selesai dibangun, Kuala Namu yang diharapkan dapat menjadi lapangan terbang pangkalan transit antarabangsa untuk kawasan Sumatra dan sekitarnya, akan menjadi lapangan terbang terbesar kedua di Indonesia setelah Lapangan Terbang Antarabangsa Soekarno-Hatta.[1]

Latar belakang pembangunan[sunting | sunting sumber]

Pemindahan lapangan terbang ke Kuala Namu telah dicadang sejak tahun 1991. Dalam kunjungan kerja ke Medan, Azwar Anas, Menteri Perhubungan saat itu, berkata bahawa demi keselamatan penerbangan, lapangan terbang akan dipindah ke luar kota.[2]

Persiapan pembangunan diawali pada tahun 1997, namun krisis kewangan yang bermula pada tahun yang sama kemudian memaksa rencana pembangunan ditunda. Sejak saat itu khabar mengenai lapangan terbang ini jarang terdengar lagi, hingga muncul momentum baru saat terjadi kecelakaan pesawat Mandala Airlines pada September 2005 yang jatuh sesaat setelah berlepas dari Polonia. Kecelakaan yang merungut nyawa Gabenor Sumatra Utara Tengku Rizal Nurdin tersebut juga menyebabkan beberapa warga yang tinggal di sekitar wilayah lapangan terbang meninggal dunia akibat letak lapangan terbang yang terlalu dekat dengan pemukiman. Hal ini menyebabkan munculnya kembali seruan agar lapangan terbang di Medan segera dipindahkan ke tempat yang lebih sesuai.

Selain itu, kapasiti Polonia yang telah lebih batasnya juga merupakan faktor direncanakannya pemindahan lapangan terbang.

Pembebasan lahan[sunting | sunting sumber]

Rencana pembangunan selama bertahun-tahun terhambat masalah pembebasan lahan yang belum terselesaikan. Hingga Jun 2006, baru 1,650 hektar lahan yang telah tidak bermasalah (telah diselesaikan sejak 1994), sementara lahan yang dihuni 71 kepala keluarga lainnya masih sedang dirundingkan, namun pada November 2006 dilaporkan bahwa Angkasa Pura II telah menyelesaikan seluruh pembebasan lahan.[3]

Proses pembangunan[sunting | sunting sumber]

Pembangunannya direncanakan akan dilaksanakan sepanjang tiga tahap.[4] Tahap I dimulai pada 29 Jun 2006 dan selesai pada tahun 2009 atau paling lambat 2010. Tahap ini dibangun sendiri oleh pemerintah dengan PT. Angkasa Pura II, dengan pembagian berupa sisi darat (misalnya terminal, kawasan parkir) dibangun Angkasa Pura sementara sisi udara dibangun Direktorat Jenderal Udara dari Departemen Perhubungan. Dana untuk pembangunan Tahap I terdiri dari Rp. 1.3 trilion dari Angkasa Pura dan dana pinjaman sebesar Rp. 2.3 trilion sehingga jumlahnya adalah Rp. 3.6 trilion.[5] Prasarana awal berupa pemagaran panel beton, pemulihan jalan, dan pembuatan pos jaga senilai Rp 6 juta dilakukan dari November 2006 hingga Februari 2007.[4] Pada akhir November 2006 juga diumumkan pemenang tender untuk pasukan perancang lapangan terbang. Dari 18 peserta, tujuh telah melewati proses prakelayakan dan akan bersaing hingga dipilih tiga peserta terbaik, dan seterusnya hanya satu yang terpilih. PT. Wiratman & Associates kemudian terpilih sebagai pemenang tender perancangan lapangan terbang pada Januari 2007.[6] Setelah itu, pemenang diberi waktu lapan bulan untuk merancang lapangan terbang (hingga Ogos 2007). Setelah proses ini selesai, tender pembangunan lapangan terbang yang diperkirakan akan berlangsung selama dua bulan akan dilaksanakan. Jika sesuai jadual, maka pembangunan sisi darat akan dimulai pada November 2007 dan diselesaikan dalam dua tahun.[7] Tahap II yang direncanakan dibangun bersama oleh pemerintah dan investor, akan dimulai tahun 2010.

Pengangkutan[sunting | sunting sumber]

Pembangunan Tahap I disertai pula oleh pembangunan jalur kereta api Railink dari Stesen Aras Kabu di Kecamatan Beringin ke lapangan terbang yang berjarak sekitar 450 meter. Stesen Aras Kabu sendiri terhubung ke Stesen Medan dengan jarak 22.96 km. Diperkirakan jarak tempuh dari Medan hingga Kuala Namu akan berkisar antara 16-30 minit.[8] [9]

Ada pula usulan pembangunan Jalan Tol Medan-Kuala Namu sebagai usaha pengembangan prasarana pengangkutan dari dan ke lapangan terbang. Namun pelaksanaan pembangunan selama waktu pembangunan jalan tol tahun 2005-2010 belum dikabulkan oleh pemerintah pusat.

Luas lapangan terbang dan kapasiti[sunting | sunting sumber]

Tahap 1 lapangan terbang diperkirakan dapat menampung tujuh hingga 10 juta penumpang dan 10,000 pergerakan pesawat pertahun,[5] [10] sementara setelah selesainya Tahap II lapangan terbang ini rencananya akan menampung 25 juta penumpang pertahun.

Luas terminal penumpang yang akan dibangun adalah sekitar 6.5 hektar dengan kemudahan kawasan komersil seluas 3.5 hektar dan kemudahan kargo seluas 1.3 hektar. Lapangan Terbang Antarabangsa Kuala Namu memiliki panjang landasan pacu 3,750 meter, dan boleh didarati oleh pesawat berbadan lebar.

Rujukan[sunting | sunting sumber]