Albatros

Daripada Wikipedia, ensiklopedia bebas.
Lompat ke: pandu arah, cari
Albatros
Julat zaman: Oligocene–Sekarang
Oligocene–Sekarang
Albatros pundak biru (Thalassarche melanophris)
Pengelasan saintifik
Alam: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Aves
Subkelas: Neornithes
Infrakelas: Neoaves
Order: Procellariiformes
Famili: Diomedeidae
G.R. Gray 1840[1]
Genus

Diomedea
Thalassarche
Phoebastria
Phoebetria

Penyebaran populasi (merah)

Albatros, dari keluarga Diomedeidae, adalah burung laut besar dalam order Procellariiformes yang merupakan satu kelompok dengan Procellariidae, Petrel badai dan Petrel penyelam. Burung ini ditemukan secara luas di Lautan Antartika dan Pasifik Utara. Burung ini tidak terdapat di Atlantik Utara, meskipun temuan fosil membuktikan bahawa burung ini dahulu pernah ada di sana. Burung albatros termasuk burung terbang yang paling besar, dan burung albatros besar (genus Diomedea) memiliki panjang sayap yang paling besar melebihi burung lainnya.

Burung albatros sangat efisien di udara, dengan menggunakan teknik terbang melayang dan terbang membumbung untuk dapat terbang pada jarak yang sangat jauh dengan tenaga yang sedikit. Burung ini memakan cumi-cumi, ikan, dan udang, dengan cara memakan hewan yang terdampar, berburu di permukaan air, dan menyelam.

Albatros merupakan burung yang tinggal dalam koloni, memiliki kebiasaan membuat sarang di pulau terpencil di tengah lautan, kadang bercampur dengan beberapa spesies. Burung ini memiliki kebiasaan monogami dengan mempertahankan pasangan seumur hidupnya. Musim berbiak dapat memakan masa lebih daripada satu tahun mulai dari bertelur, dengan satu butir telur untuk satu musim berbiak. Seekor albatros laysan yang diberinama "Wisdom" yang ditemukan di Kepulauan Midway dianggap sebagai burung liar berumur paling tua di dunia. Burung ini pertama kali ditandai pada tahun 1956 oleh Chandler Robbins.[2]

Dari 21 spesies albatros yang diakui oleh IUCN, 19 telah dikategorikan sebagai terancam punah. Jumlah albatros telah menurun di masa lalu kerana perburuan bulu, namun saat ini albatros terancam oleh spesies pendatang, seperti tikus atau kucing liar yang memangsa telur burung, anak burung; oleh pencemaran; dengan adanya penurunan jumlah ikan di beberapa daerah terutamanya kerana penangkapan ikan yang berlebihan, dan kegiatan merawai. Merawai menjadi ancaman terbesar, karena burung yang mencari makan tertarik pada umpan pancing yang akhirnya terkait dan mati. Para pemangku jabatan seperti kerajaan, organisasi pemuliharaan dan industri perikanan sedang melakukan upaya untuk mengurangi jumlah burung yang tanpa sengaja tertangkap.

Biologi[sunting | sunting sumber]

Taksonomi dan evolusi[sunting | sunting sumber]

Sampai saat ini jumlah spesies albatros masih dalam perdebatan para ilmuwan, dari mulai 13 sampai 24 spesies. Jumlah yang paling banyak diterima adalah 21 spesies yang terdiri dari 4 genus, yakni: Albatros besar, (Diomedea), Albatros mollymawk (Thalassarche), Albatros pasifik-utara (Phoebastria), dan Albatros hitam (Phoebetria).[3]

Pengelompokan taksonomi albatros sudah lama menjadi sumber perdebatan. Sibley-Ahlquist taxonomy menempatkan albatros dalam burung laut, burung pemangsa dan banyak juga yang dikelompokkan ke dalam ordo yang lebih besar, Ciconiiformes, sedangkan organisasi ornitologi di Amerika Utara, Eropa, Afrika Selatan, Australia dan Selandia Baru memasukkan albatros ke dalam ordo Procellariiformes. Albatros dapat dipisahkan dari Procellariiformes baik dari segi genetik maupun dari karakteristik morfologi, ukuran, bentuk kaki dan rongga hidung.[3]

Di dalam familia tersebut, penetapan genus telah menjadi perdebatan selama lebih dari seratus tahun. Pada awalnya dimasukkan dalam genus tunggal Diomedea, yang kemudian di susun ulang oleh Reichenbach dan dikelompokkan ke dalam empat genus yang berbeda pada tahun 1852, beberapa kali disatukan dan dipisah kembali dalam 12 nama genus yang berbeda (meskipun tidak pernah melebihi delapan genus dalam satu waktu yang sama) pada tahun 1965 (Diomedea, Phoebastria, Thalassarche, Phoebetria, Thalassageron, Diomedella, Nealbatrus, Rhothonia, Julietata, Galapagornis, Laysanornis, dan Penthirenia).[4]

Pada 1965 dalam rangka untuk mengembalikan beberapa ordo kembali dalam klasifikasi albartos, mereka menggolongkan dalam dua genus, Phoebetria (albatros hitam yang tampaknya paling dekat menyerupai procellarids dan yang pada saat itu disebut promitive) dan Diomedea (sisanya).[5]

Hubungan filogeni keempat genus albatros. Berdasarkan Nunn et al. 1996.

Berdasarkan penelitian terakhir Gary Nunn dari American Museum of Natural History (1996) dan beberapa peneliti lain di seluruh dunia yang mempelajari DNA mitokondria dari 14 spesies, menemukan bahwa ada empat grup monofiletik pada albatros.[6] Mereka mengusulkan dihidupkannya kembali dua nama genus, Phoebastria untuk albatros pasifik-utara dan Thalassarche untuk albatros mollymawk , serta albatros besar tetap masuk dalam genus Diomedea dan albatros hitam tetap masuk dalam genus Phoebetria. Baik serikat ornitolog Inggris serta Afrika Selatan memisahkan albatros dalam empat genus seperti yang disarankan Gary Nunn, dan perubahan ini dapat diterima oleh mayoritas peneliti.

Meskipun sudah ada kesepakatan mengenai jumlah genus, namun tidak demikian untuk jumlah spesies. Pada masa lalu, sekitar 80 takso yang berbeda telah di usulkan oleh beberapa peneliti, kebanyakan dari takso tersebut merupakan kesalahan pengidentifikasian burung muda.[7]

Berdasarkan hasil penelitian terhadap genus albatros, tahun 1998 Roberson dan Nunn mengusulkan untuk merevisi taksonomi albatros dengan 24 spesies yang berbeda,[4] dimana sebelumnya sudah disepakatai 14 spesies. Usul ini mengangkat banyak subspesies menjadi spesies, namun usul ini banyak menuai kritik karena mereka tidak menggunakan informasi penelaahan sejawat untuk menjustifikasi pemisahan tersebut. Sejak saat itu beberapa penelitian lebih lanjut dilakukan guna mendukung atau menolak pemisahan tersebut. Sebuah penelitian tahun 2004 melakukan analisa DNA mitokondria dan Mikrosatelit setuju dengan kesimpulan bahwa Albatros antipodean dan Albatros tristan berbeda dengan Albatros wandering seperti yang disarankan Robertson dan Nunn, namun Albatros gibson, Diomedea gibsoni, tidak berbeda dengan Albatros antipodean.[8] Selebihnya, sebagian besar dari usul tersebut dapat diterima oleh IUCN dan para peneliti yang lain, yakni sebanyak 21 spesies. Pada tahun 2004 Penhallurick dan Wink mengusulkan untuk mengurangi jumlah spesies menjadi 13 dengan menggabungkan Albatros amsterdam dengan Albatros wandering,[9] meskipun naskah tersebut memiliki kontroversi.[7][10] Semua pihak menyepakati tentang perlunya penelitian lebih lanjut untuk memperjelas masalah ini.

Tiga burung di Atol Midway, 1958

Penelitian molekular Sibley dan Ahlquist tentang evolusi keluarga burung telah menempatkan radiasi adaptive dari Procellariiformes pada periode Oligosen (35-30 juta tahun yang lalu), meskipun bisa jadi grup ini berasal dari masa sebelum itu, namun fosil seringkali selalu dikaitkan dengan urutan, burung laut yang dikenal sebagai Tytthostonyx yang ditemukan pada akhir jaman kapur (70 juta tahun yang lalu). Bukti molekuler menunjukkan bahwa petrel badai merupakan yang pertama kali menyimpang dari leluhurnya, setelah itu albatros dan diikuti oleh procellarids serta petrel penyelam. Fosil albatros yang paling tua ditemukan di bebatuan dari masa Eosen sampai Oligosen, meskipun sebagian diantaranya hanya secara tentatif dimasukkan ke dalam keluarga albatros dan sama sekali tidak mirip dengan spesies yang masih hidup. Mereka adalah Murunkus (pertengahan Eosen dari Uzbekistan), Manu (awal Oligosen dari Selandia Baru), serta folis yang belum dideskripsikan dari masa akhir Oligosen dari Carolina Selatan. Serupa dengan yang terakhir itu, Plotornis awalnya dianggap sebagai petrel namun sekarang sudah diterima sebagai albatros. Plotornis tersebut berasal dari (pertengahan Miosen dari Perancis, saat terjadinya perpecahan antara ke empat genus modern sebagaimana dibuktikan oleh Phoebastria californica dan Diomedea milleri, keduanya berasal dari pertengahan Miosen dari California. Hal ini menunjukkan bahwa perpecahan antara albatros besar dan albatros pasifik-utara terjadi pada 15 juta tahun yang lalu. Fosil serupa ditemukan di belahan bumi selatan yang menunjukkan perpecahan antara albatros hitam dan albatros mollymawk pada 10 juta tahun yang lalu.[3]

Catatan fosil dari belahan bumi utara lebih lengkap dibandingkan dari selatan, dan banyak fosil yang ditemukan di Atlantik Utara, dimana saat ini tidak ada lagi albatros. Sisa-sisa koloni albatros ekor-pendek telah ditemukan di kepulauan Bermuda,[11] dan kebanyakan fosil albatros dari Atlantik Utara berasal dari genus Phoebastria (Albatros pasifik-utara); satu Phoebastria anglica telah ditemukan di endapan Carolina Utara dan Inggris. Karena evolusi konvergen khususnya pada tulang tungkai dan kaki, sisa-sisa prasejarah burung kaki-palsu (pseudotooth) (Pelagornithidae) mungkin keliru bagi albatros yang sudah punah, Manu bisa jadi memiliki kasus seperti itu, dan hampir dipastikan tulang paha albatros raksasa dari awal jaman Pleistosen.[12] Formasi Dainichi di Kakegawa (Jepang) sebenarnya adalah dari salah satu burung kaki-palsu terakhir.

Morfologi dan terbang[sunting | sunting sumber]

Tidak seperti kebanyakan ‘’Procellariiformes’’, albatros, seperti albatros kaki-hitam ini dapat berjalan dengan baik di atas tanah.

Albatros merupakan kelompok burung yang besar sehingga yang sangat besar; burung ini merupakan yang terbesar dalam procellariiformes. Paruhnya besar, kuat serta hujungnya tajam, rahang bahagian atas berakhir pada sendi yang besar. Paruh ini terdiri dari beberapa lempengan keras, dan sepanjang sisi adalah dua "saluran", lubang hidung panjang. Saluran hidung semua albatros berada di sepanjang sisi paruh, tidak seperti Procellariiformes yang lain, dimana saluran hidung berada di sepanjang bagian atas paruh. Saluran ini memungkinkan albatros untuk mengukur kecepatan udara yang tepat pada saat terbang. Albatros membutuhkan pengukuran kecepatan udara yang akurat untuk melakukan manuver luncuran yang dinamis.Karna albatros mencari makan sambil terbang, bau tidak menjadi hal yang penting, karena objek apapun di dalam laut tidak bisa di baui oleh burung yang terbang dengan cepat. Indera pendeteksi makanan yang utama adalah penglihatannya. Seperti kebanyakan Procellariiformes , mereka menggunakan penciuman saat mencari makan untuk menemukan lokasi yang potensial memiliki sumber makanan.[13] Kaki albatros tidak memiliki jari belakang dan ketiga jari bagian depan terhubung oleh selaput secara sempurna. Procellariiformes memiliki kaki yang kuat, pada kenyataannya, hampir unik dalam ordo mereka, dan petrel raksasa mampu berjalan dengan baik di atas tanah.[14]

Albatros, seperti Procellariiformes lainnya, perlu mengurangi kandungan garam dalam tubuh, karena mereka meminum air laut. Semua burung memiliki kelenjar hidung yang membesar di dasar paruh, di atas mata mereka. Kelenjar ini tidak aktif pada spesies yang tidak memerlukannya, tapi Procellariiformes memang membutuhkan. Para ilmuwan tidak dapat menjelaskan prosesnya secara tepat, tetapi secara umum kelenjar tersebut dapat menghilangkan garam yang membentuk larutan garam 5% yang akan menetes keluar dari hidung mereka, atau pada beberapa burung larutan garam ini akan dipaksa dikeluarkan melalui lubang hidung.[15]

Kebanyakan albatros dewasa memiliki bulu dengan variasi warna gelap pada sayap atas dan belakang, bagian bawah berwarna putih, menyerupai camar.[14] Namun demikian, albatros raja-selatan memiliki bulu yang hampir sepenuhnya putih, kecuali ujung dan tepi sayap pada burung jantan, albatros amsterdam memiliki bulu menyerupai bulu burung remaja dengan warna cokelat di sekitar dada. Beberapa spesies albatros mollywawk dan albatros pasifik-utara memiliki tanda pada wajah seperti garis mata atau warna abu-abu atau kuning pada kepala dan tengkuknya. Tiga spesies albatros, albatros kaki-hitam dan dua albatros hitam sepenuhnya menyimpang dari pola warna yang umum dimana warna bulu mereka hampir seluruhnya coklat gelap (atau abu-abu gelap pada albatros abu-abu. Perlu waktu beberapa tahun bagi albatros dari mulai menetas sampai mendapatkan pola bulu burung dewasa.[3]

Potret albatros raja-selatan (Diomedea epomophora). Perhatikan paruhnya yang besar serta bengkok bengkok dan lubang hidung.

Bentangan sayap albatros besar (genus Diomedea) merupakan yang paling besar diantara semua burung, melebihi 340 cm, meskipun bentangan sayap spesies lain bisa dikatakan lebih kecil 175 cm.[16] Sayap albatros kaku dan melengkung, dengan tepi yang menebal serta ramping. Albatros menjelajah jauh dengan dua tehnik yang biasa digunakan oleh burung laut dengan sayap panjang, terbang melayang dan terbang membumbung. Terbang melayang merupakan gerakan naik mengikuti angin dan turun mengikuti angin untuk mendapatkan energi vertikal dari kemiringan angin. Burung akan turun mengikuti kecepatan angin lalu memutar ke arah angin yang lebih lambat di atas air, menanjak sampai mendekati batas kecepatan, lalu memutar turun lagi untuk mempercepat dengan ketinggian yang lebih tinggi, angin yang lebih kencang dan gravitasi. Begitu seterusnya. Manuver ini memungkinkan burung menjelajah sampai 1000 km dalam sehari tanpa mengepakkan sayap sekalipun. Tenaga yang dikeluarkan hanyalah untuk bergerak memutar ke kiri dan ke kanan dalam setiap putaran. Terbang membumbung memanfaatkan gelombang angin yang naik . Albatros memiliki rasio luncuran sekitar 22:1 sampai 23:1; artinya untuk setiap 1 meter mereka menurun, mereka dapat menempuh 22 meter ke depan.[3] Kemampuan membumbung mereka ditunjang oleh lembaran urat yang mengunci sayap saat sayap tersebut terbuka penuh, yang memungkinkan sayap tetap terentang tanpa ada tarikan otot, sebuah adaptasi morfologi yang sama dengan petrel raksasa.[17]

Lepas landas merupakan saat dimana albatros mengepakkan sayap untuk terbang, dan merupakan bagian yang paling membutuhkan energi.

Albatros menggabungkan tehnik membumbung dengan kemampuan memprediksi cuaca; albatros dari belahan bumi selatan yang terbang ke utara dari koloni mereka akan mengambil rute searah jarum jam, dan albatros yang terbang ke selatan akan mengambil rute berlawanan jarum jam.[14] Albatros mampu beradaptasi dengan sangat baik terhadap gaya hidup ini. Detak jantung mereka saat terbang sangat mendekati detak jantung mereka saat beristirahat. Efisiensi ini yang membuat aspek yang paling menyita energi mereka saat mencari makan bukan karena jauhnya jarak, melainkan saat mereka mendarat, lepas landas serta saat mereka memburu sumber makanan.[18] Meskipun saat ini belum bisa dibuktikan secara langsung, namun albatros dianggap mampu tidur sambil terbang.[19]

Tingginya efisiensi perjalanan jarak jauh ini yang mendasari keberhasilan albatros mencari sumber makanan dalam jarak yang jauh, dengan menghabiskan energi yang sedikit untuk mencari sumber makanan. Adaptasi mereka untuk terbang melayang membuat mereka tergantung pada angin dan gelombang, sayap mereka yang panjang juga tidak cukup kuat untuk digunakan terbang mengepak dalam waktu yang lama. Pada saat angin laut tidak bertiup, albatros akan beristirahat di permukaan laut, sampai angin berhembus lagi. Albatros pasifik-utara dapat terbang dengan gaya mengepak-meluncur, dimana mereka mengepakkan sayap diikuti dengan meluncur.[20] Saat lepas landas, albatros perlu mengambil ancang-ancang untuk memungkinkan udara yang cukup untuk bergerak di bawah sayap untuk memberikan gaya angkat.[14]

Teknik terbang melayang albatros ini menginspirasi perancang pesawat terbang; insinyur pesawat terbang dari Jerman Johannes Traugott dan teman-temannya telah memetakan pola penerbangan albatros dan mencari cara menerapkan hal ini dalam pesawat terbang, khususnya pesawat tanpa awak.[21]

Pengagihan dan penyebaran di laut[sunting | sunting sumber]

Distribusi albatros di seluruh dunia (warna biru).

Kebanyakan albatros pelbagai di belahan bumi selatan dari Antartika sehingga Australia, Afrika Selatan dan Amerika Selatan. Namun terdapat pengecualian untuk empat albatros Pasifik-utara, di mana tiga daripadanya terdapat di Pasifik Utara dari Hawaii sehingga Jepun, California dan Alaska; dan satu albatros bergelombang, berkembang biak di Kepulauan Galapagos dan mencari makan di pesisir Amerika Selatan. Keperluan akan terdapatnya angin yang membolehkan albatros terbang melayang menjadi alasan sebahagian besar albatros tinggal di garis lintang yang lebih tinggi, kecuali albatros bergelombang yang mampu tinggal di perairan khatulistiwa di sekitar kepulauan Galapagos disebabkan oleh air sejuk yang disebapkan arus Humboldt yang mengakibatkan terdapatnya angin.[3]

Albatros tersebar di sebahagian besar wilayah laut dan secara teratur mengelilingi dunia.

Tidak diketahui secara pasti mengapa albatros boleh pupus di Atlantik Utara, walaupun kenaikan permukaan air laut yang disebabkan pemanasan interglasial dianggarkan telah menenggelamkan tempat tanah jajahan albatros ekor-pendek yang telah digali di Bermuda. [11] beberapa spesies dari selatan kadang-kadang mengembara sehingga ke Atlantik Utara dan terdampar di sana selama beberapa dekad. Salah satunya albatros kening-hitam yang kembali ke tanah jajahan Gannet di Scotland untuk berkembang biak.[22]

Pengesanan menggunakan satelit GPS membantu saintis mengetahui bagaimana albatros mencari makan merentasi lautan. Mereka tidak melakukan penghijrahan tahunan, tetapi tersebar secara luas setelah masa mengawannya, dalam kes spesies dari hemisfera bumi selatan, mereka sering melakukan perjalanan mengelilingi kutub.[23] Bukti juga menunjukkan bahawa spesies yang berbeza mempunyai kadar liputan yang berbeza di lautan.Sebuah perbandingan relung memburu dari dua spesies yang masih berkerabat yang berkembang biak di Pulau Capmbell albatros campbell dan albatros kepala-abu-abu menunjukkan bahawa albatros campbell lebih banyak mencari makan di dataran tinggi Capmbell sedangkan albatros kepala-abu-abu lebih sering mencari makan di zon pelagik. Albatros wandering juga bertindak balas keras terhadap batimetri, mencari makan hanya di perairan yang lebih dalam dari 1000 m Bukti juga menunjukkan bahawa spesies yang berbeza mempunyai kadar liputan yang berbeza di lautan.Sebuah perbandingan relung memburu dari dua spesies yang masih berkerabat yang berkembang biak di Pulau Capmbell albatros campbell dan albatros kepala-abu-abu menunjukkan bahawa albatros campbell lebih banyak mencari makan di dataran tinggi Capmbell sedangkan albatros kepala-abu-abu lebih sering mencari makan di zon pelagik. Albatros wandering juga bertindak balas keras terhadap batimetri, mencari makan hanya di perairan yang lebih dalam dari 1000 m jadi dilihat dari data pemetaan satelit salah seorang saintis menyatakan "Hampir boleh dikatakan bahawa burung memahami dan mematuhi tanda 'Dilarang Masuk' ketika kedalaman air kurang daripada 1000 m.”[3] Bukti juga menunjukkan bahwa jenis kelamin yang berbeza dari spesies yang sama mencari makan di tempat yang berbeza; pemerhatian yang dilakukan terhadap albatros tristan yang mencari makan di Pulau Gough menunjukkan bahawa burung jantan akan memburu di bahagian barat kepulauan sedangkan burung betina memburu di bahagian timur kepulauan.[3]

Makanan[sunting | sunting sumber]

Makanan utama albatros adalah cephalopoda, ikan, crustacea dan jeroan,[14] walaupun kadang-kadang mereka juga mencari bangkai dan zooplankton.[14] Perlu dicatat bahwa untuk kebanyakan spesies, pemahaman yang mendalam tentang makanan mereka hanya diketahui saat musim berkembang biak, saat albatros secara teratur kembali ke daratan sehingga memungkinkan untuk dilakukan penelitian. Pentingnya masing-masing sumber makanan tersebut berbeda-beda dari masing-masing spesies, dan bahkan dari populasi ke populasi, sebagian hanya memilih cumi-cumi saja, yang lain lebih memilih krill atau ikan. Dari kedua albatros yang ditemukan di Hawaii, satu diantaranya yakni albatros kaki-hitam lebih banyak memangsa ikan, sementara albatros laysan lebih banyak memangsa cumi-cumi.[14]

Albatros abu-abu seringkali menyelam untuk mencari makanan, dan mereka dapat menyelam sampai kedalaman 12 m.

Dari catatan data diketahui bahwa albatros lebih sering makan di siang hari. Dari analisa bangkai cumi-cumi yang dimuntahkan oleh albatros menunjukkan bahwa banyak dari cumi-cumi yang dimakan terlalu besar untuk ditangkap hidup-hidup, dan termasuk spesies perairan menengah yang berada di luar jangkauan albatros, menunjukkan bahwa untuk beberapa spesies (seperti albatros wandering) bangkai cumi-cumi merupakan makanan yang penting. Sumber dari bangkai cumi-cumi tersebut masih dalam perdebatan, sebagian dipastikan dari industri penangkapan cumi-cumi, namun di alam berasal dari cumi-cumi yang mati setelah bertelur serta muntahan paus pemakan cumi-cumi (paus sperma, paus pilot serta paus hidung-botol)[24] Makanan spesies yang lain seperti albatros alis-hitam atau albatros kepala-abu-abu kaya dengan spesies cumi-cumi yang kecil yang tenggelam setelah mati.[3] Juga albatros bergelombang telah diamati melakukan kleptoparasitisme, mengganggu angsa-batu untuk merebut makanannya, menjadikannya satu satunya anggota ordo yang sering melakukan hal tersebut.[25]

Sampai sekarang albatros dianggap lebih banyak mencari makan di permukaan air, berenang di permukaan dan menangkap cumi-cumi atau ikan yang terdorong keatas oleh gelombang, perdator atau mati. Melalui alat pencatat kedalaman mini yang dipasang pada burung memberikan data kedalaman maksimum yang dapat ditempuh oleh burung, menunjukkan bahwa meskipun beberapa spesies seperti albatros wandering tidak pernah menyelam lebih dari satu meter, namun beberapa spesies seperti albatros abu-abu memiliki rata-rata kedalaman menyelam mendekati 5 meter dan mampu menyelam sedalam 12,5 meter.[26] Albatros juga teramati mampu menukik dari udara untuk menangkap mangsa yang ada di air.[27]

Berkembang biak dan menari[sunting | sunting sumber]

Albatros merupakan burung yang hidup dalam koloni, biasanya bersarang di pulau-pulau terpencil, dimana koloni akan tinggal di daratan yang lebih luas, mereka ditemukan di daerah tanjung yang terbuka yang dapat menjangkau lautan dari beberapa arah, seperti koloni di Semenanjung Otago di Dunedin, Selandia Baru. Banyak albatros buller dan albatros kaki-hitam membuat sarang di bawah pohon di hutan terbuka.[28] Kepadatan koloni mereka beragam, dari koloni yang sangat padat seperti pada koloni albatros mollymawk (albatros alis-hitam di Kepulauan Falkland yang memiliki kepadatan 70 sarang per 100 m²) sampai koloni yang lebih longgar dan membuat sarang dengan jarak yang berjauhan seperti albatros hitam dan albatros besar. Semua koloni albatros tinggal di pulau yang secara histori bebas dari mamalia daratan. Albatros merupakan burung yang sangat filopatri, artinya mereka akan kembali ke tempat dimana mereka menetas untuk berkembang biak. Kecenderungan ini begitu kuat, penelitian yang dilakukan terhadap albatros laysan menunjukkan bahwa rata-rata jarak dari mulai mereka menetas sampai mereka menentukan daerah kekuasaannya adalah 22 meter.[29]

Albatros dapat hidup lebih lama dari burung lainnya. Kebanyakan spesies dapat bertahan sampai 50 tahun, rekor yang tercatat berasal dari albatros raja-utara dimana burung ini diberi tanda saat ia sudah dewasa, dan masih bertahan 51 tahun sejak ia diberi tanda, sehingga perkiraan umur burung tersebut adalah 61 tahun.[30]

Menunjuk langit adalah salah satu aksi stereotipe tarian berbiak albatros laysan.

Albatros membutuhkan waktu yang lama sebelum mencapai kematangan seksual, setelah berumur sekitar lima tahun, namun meskipun mereka sudah matang secara seksual, mereka tidak langsung berkembang biak selama beberapa tahun (beberapa spesies sampai 10 tahun). Burung dewasa yang belum pernah berbiak akan mengikuti koloni yang akan berbiak, menghabiskan beberapa tahun mempelajari ritual dan tarian berbiak yang rumit.[31] Saat burung kembali ke koloni untuk pertama kalinya, mereka sudah bisa memiliki tingkah laku stereotipe yang menciptakan "bahasa" albatros, namun mereka belum bisa "membaca" perilaku yang diperagakan oleh burung lain atau untuk merespon dengan tepat.[14] Setelah periode "trial and error" burung-burung muda tersebut belajar sintaksis tersebut dan menyempurnakan tariannya. Burung-burung muda tersebut akan makin cepat menguasai bahasa ini jika mereka berada dekat dengan burung dewasa. Repertoar tingkah laku albatros melibatkan sinkronisasi kinerja berbagai aksi seperti bersolek, menunjuk, memanggil, mengatup ngatupkan paruh, menatap, serta kombinasi dari perilaku-perilaku tersebut.[32] Saat burung kembali ke koloni, ia akan menari dengan banyak pasangan, namun setelah beberapa tahun ia akan memilih satu sebagai pasangan yang akan bertahan seumur hidup.

Albatros melakukan ritual yang rumit dan melelahkan untuk memastikan bahwa mereka memilih pasangan yang tepat dan untuk mengenal pasangan dengan sempurna, karena bertelur dan membesarkan anak merupakan hal yang besar. Bahkan untuk spesies yang dapat menyelesaikan siklus bertelur dalam kurun satu tahun, jarang bertelur setiap tahun berturut-turut.[3] Albatros besar seperti albatros wandering membutuhkan waktu lebih dari satu tahun dari mulai telur diletakkan sampai bulu-bulu anak burung tersebut tumbuh sempurna. Albatros hanya bertelur satu biji dengan warna putih bintik-bintik cokelat kemerahan, sepanjang musim berbiak,[28] jika telur tersebut hilang atau pecah, mereka tidak akan bertelur lagi sepanjang tahun tersebut. Telur terbesar memiliki berat 200 - 510 gram.[28] Pasangan albatros sangat jarang "bercerai", dan biasanya hanya terjadi setelah beberapa tahun gagal berkembang biak.[3]

Semua albatros dari selatan membuat sarang dengan ukuran yang besar, menggunakan rumput, semak-semak, tanah, lumut, dan bahkan bulu pinguin,[28] sementara tiga spesies dari pasifik utara membuat sarang yang seadanya. Di sisi lain, albatros bergelombang tidak membuat sarang bahkan menggeser telurnya di sekitar teritorial pasangannya sejauh 50 meter, sehingga kadang-kadang ia kehilangan telurnya.[33] Untuk seluruh spesies albatros, kedua pasangan baik jantan atau betina akan mengerami telurnya secara bergantian dalam periode satu hari sampai tiga minggu. Masa mengeram 70 sampai 80 hari (semakin besar albatros semakin lama masa mengeram), yang merupakan masa mengerami paling lama untuk selurung jenis burung. Proses mengerami sangan menghabiskan energi, sehingga induk albatros bisa kehilangan 83 gram berat tubuhnya dalam sehari.[34]

Setelah menetas, anak albatros masih dierami dan dijaga selama tiga minggu[16] sampai anak tersebut cukup besar untuk menjaga diri serta menghangatkan diri sendiri. Pada masa ini, induk burung akan bergantian memberi anaknya makanan saat mereka tidak sedang bertugas menjaga anak tersebut. Setelah periode ini selesai, anak burung ini akan diberi makan teratur seperti induknya. Induk burung akan menyesuaikan interval pemberian makanan sesuai dengan lamanya waktu berburu jarak pendek serta jarak jauh, menyediakan makanan kira-kira 12% dari berat tubuhnya (sekitar 600 gram). Makanannya terdiri dari cumi-cumi, ikan dan krill segar serta minyak perut, makanan yang penuh energi yang mudah dibawa dari pada makanan yang belum dicerna. Minyak ini diproduksi dalam organ di dalam perut yang bernama proventikulus dari makanan yang dicerna oleh sebagian besar Procellariiformes dan memberi mereka bau yang khas.[35]

Albatros menjaga anaknya sampai mereka cukup besar untuk menjaga diri serta menghangatkan diri sendiri.

Anak albatros memerlukan waktu yang lama untuk menjadi dewasa. Pada albatros besar, memakan waktu sampai 280 hari, bahkan untuk albatros yang lebih kecil masih memakan waktu antara 140 sampai 170 hari..[36] Seperti kebanyakan burung laut, anak albatros akan mendapatkan berat yang cukup bahkan lebih berat dari induknya, dan sebelum mereka belajar terbang mereka menggunakannya untuk membangun kondisi tubuh (terutama menumbuhkan bulu mereka untuk terbang), biasanya pada saat mereka siap terbang, berat tubuhnya akan sama dengan induknya. Antara 15% sampai 65% dari mereka akan bertahan hidup untuk berkembang biak.[28] Pada masa ini albatros akan ditinggal oleh induknya yang akan kembali setelah mereka memiliki bulu lengkap. Induk ini tidak sadar telah meninggalkan anaknya di sarang. Penelitian pada penyebaran burung muda di laut menunjukkan bahwa burung memiliki perilaku migrasi bawaan, sebuah kode genetik navigasi, yang membantu burung muda saat mereka pertama kali keluar ke lautan.[37]

Albatros dan manusia[sunting | sunting sumber]

Etimologi[sunting | sunting sumber]

Nama "Albatros" diambil dari Bahasa Arab al-câdous atau al-ġaţţās (secara harafiah berarti penyelam). Awalnya mereka lebih dikenal dengan nama "Burung goonie", khususnya yang ada di Pasifik Utara. Di daerah selatan, nama "mollymawk" masih digunakan di beberapa tempat. Nama Diomedea, diberikan oleh Linnaeus, diambil dari tokoh dongeng pejuang Yunani Diomedes yang berubah menjadi burung. Akhirnya nama ordo Procellariiformes diambil dari bahasa Latin procella yang berarti “badai”.[38]

Albatros dalam budaya[sunting | sunting sumber]

"1837 Woodcut" dari jurnal "O Panorama"

Albatros telah dikenal sebagai "Burung yang paling legendaris".[36] Albatros menjadi lambang sentral dalam puisi The Rime of the Ancient Mariner karya Samuel Taylor Coleridge; Dalam puisi poète maudit karya Charles Baudelaire juga menjadikan albatros sebagai metamorfosa. Hal ini berasal dari puisi Coleridge yang menggunakan albatros sebagai metamorfosa, seseorang yang memiliki beban atau hambatan dikatakan "membawa albatros di lehernya", yang merupakan hukuman yang diberikan kepada marinir yang membunuh albatros. Berawal dari puisi itu, terdapat legenda urban yang menyebar mengatakan bahwa para pelaut yang menembak atau menyakiti albatros akan mendapat bencana, pada kenyataannya, pelaut sering membunuh dan memakan albatros,[22] seperti yang dilaporkan oleh James Cook pada 1772. Disisi lain ada laporan yang mengatakan pelaut menangkap albatros kemudian melepaskannya lagi.[39] Alasannya yaitu karena albatros sering dianggap sebagai jiwa para pelaut yang wafat,[40] jadi membunuhnya dianggap sebagai pembawa sial.[39] Kepala albatros yang ditangkap dengan pengait digunakan dalam lambang Cape Horner, juga kapten kapal yang telah mengelilingi Tanjung Horn akan mendapat sebutan "albatros" dari organisasi Cape Horners.[39]

Dalam golf, memukul tiga angka di bawah par akhir-akhir ini diistilahkan dengan "albatros", hal ini sebagai kelanjutan dari istilah birdie serta eagle.[41]

Suku Māori menggunakan tulang sayap albatros untuk membuat seruling.[42]

Penganalisis burung[sunting | sunting sumber]

Albatros sangat terkenal bagi para penganalisis burung, dan jajahan mereka menjadi tujuan pelancongan yang terkenal bagi ekopelancongan. Perjalanan untuk penganalisis burung sering dilakukan menuju daerah pesisir seperti Monterey, Kaikoura, Wollongong, Sydney, Port Fairy, Hobart dan Cape Town, untuk menganalisis zon pelagik burung laut, dan albatros sangat mudah tertarik terhadap kapal penganalisis ini dengan menyebarkan minyak ikan ke laut. Mengunjungi jajahan albatros menjadi sangat terkenal, jajahan Albatros raja-utara di Taiaroa Head menarik 40,000 pengunjung dalam masa setahun,[3] dan jajahan yang lebih tepencil menjadi kunjungan kapal persiaran yang berlayar di kepulauan sub-Antartika.

Ancaman dan konservasi[sunting | sunting sumber]

Terlepas dari status legendaris yang sering didapat, albatros tidak lepas dari tekanan manusia, baik secara langsung atau tidak langsung. Ditemukannya albatros oleh orang Polinesia dan suku Indian Aleut mengakibatkan perburuan albatros, dan dalam beberapa kasus albatros telah musnah di beberapa pulau (seperti di Pulau Paskah). Saat masyarakat Eropa mulai mengadakan pelayaran, mereka juga mulai berburu albatros, "memancing" mereka dari kapal untuk dimakan atau menembak mereka untuk olah raga.[43] Olah raga seperti ini mencapai puncaknya saat mendekati batas Australia dan hanya berhenti saat laju kapal terlalu cepat, dan aturan yang melarang penggunaan senjata untuk alasan keamanan. Pada abad ke-19, koloni albatros, khususnya yang dari Pasifik Utara, diburu untuk dijual bulunya, mengakibatkan spesies Albatros ekor-pendek terancam punah.[14]

Albatros alis-hitam ini telah terjerat tali pancing yang panjang.

Pada abad ke 21, spesies albatros telah dimasukkan dalam daftar merah oleh IUCN, 19 spesies dinyatakan "terancam", dan 2 lainnya dinyatakan "hampir terancam".[44] Tiga spesies dinyatakan kritis, yakni Albatros amsterdam, Albatros tristan dan Albatros bergelombang. Salah satu ancaman utama adalah memancing dengan tali panjang yang dilakukan secara komersial, yang secara tidak sengaja albatros serta burung laut lainnya memakan umpan yang dipasang yang akhirnya membunuhnya. Diperkirakan dalam satu tahun sekitar 100.000 albatros terbunuh karena hal ini. Penangkapan ikan liar memperburuk masalah ini.[3][45]

Di Atol Midway, tabrakan antara Albatros laysan dan pesawat terbang telah mengakibatkan kematian manusia dan burung serta gangguan pada operasi penerbangan militer. Penelitian telah dilakukan pada akhir 1950 dan awal 1960 yang meneliti hasil dari metode untuk mengontrol seperti terbunuhnya burung, perataan tanah yang dapat menghilangkan arus naik dan merusak tempat bersarang tahunan burung.[46] Bangunan tinggi seperti menara kontrol dan menara radio telah membunuh 3000 burung sepanjang 1964 - 1965 sebelum akhirnya menara tersebut di bongkar. Penutupan fasilitas penerbangan militer di Pulau Midway pada 1993 telah mengurangi terbunuhnya albatros karena bertabrakan dengan pesawat militer. Pengurangan aktifitas manusia di pulau tersebut juga telah membantu mengurangi kematian burung, meskipun pencemaran karena cat di dekat bangunan militer masih terus meracuni burung.[47] Bulu albatros populer pada awal abad ke 20. Pada tahun 1909 saja, lebih dari 300.000 albatros dibunuh di Atol Midway dan Pulau Laysan untuk diambil bulunya.[16]

Ancaman lain untuk albatros adalah spesies pendatang, seperti tikus atau kucing liar, yang secara langsung menyerang albatros atau telur dan anaknya. Albatros telah berevolusi untuk berkembang biak di pulau-pulau di mana tidak terdapat mamalia darat serta mereka belum dapat bertahan melawan mereka. Bahkan spesies sekecil tikus dapat mengancam albatros, di Pulau Gough anak-anak Albatros tristan diserang dan dimakan hidup-hidup oleh tikus rumah pendatang.[48] Spesise pendatang juga membawa dampak secara tidak langsung, sapi menghabiskan rumput yang berada di kepulauan Amsterdam mengancam kehidupan albatros amsterdam, di pulau-pulau lain tanaman pendatang juga mengurangi potensi habitat bersarang.[3]

Sisa-sisa anak Albatros laysan menunjukkan plastik yang tertelan sebelum kematiannya, termasuk tutup botol dan korek api

Masalah lain yang dihadapi albatros adalah menelan plastik, seperti yang dihadapi oleh kebanyakan burung laut. Jumlah plastik di laut telah meningkat secara dramatis sejak catatan pertama pada tahun 1960, yang berasal dari limbah yang dibuang oleh kapal atau anjungan lepas pantai, sampah di pantai dan limbah yang terbawa dari sungai sampai ke laut. Albatros tidak mampu mencerna, sehingga plastik tersebut tertinggal di dalam perut. Hal ini mengakibatkan kapasitas perut untuk menyimpan makanan menjadi berkurang dan mengakibatkan albatros menjadi kelaparan. Studi burung di Pasifik Utara telah menunjukkan bahwa menelan plastik berhubungan dengan penurunan berat badan serta kondisi tubuh.[49] Plastik ini kadang-kadang dimuntahkan oleh induk albatros saat memberi makan anaknya. Penelitian pada anak albatros laysan di Midway Atoll menunjukkan bahwa banyaknya anak albatros yang mati karena menelan plastik sebanding dengan anak albatros sehat yang mati karena kecelakaan. Meski bukan menjadi penyebab langsung kematian, plastik ini menyebabkan stress fisiologis dan menyebabkan anak burung merasa kenyang saat diberi makan sehingga mengurangi asupan makanan dan kemampuan bertahan hidup.[50]

Ilmuwan dan ahli konservasi (khususnya BirdLife International beserta rekanannya, yang mengkampanyekan penyelamatan albatros) bekerja bersama dengan pemerintah dan nelayan untuk menemukan solusi pada ancaman yang mengancam albatros. Teknik seperti memasang pancing dengan tali panjang pada malam hari, mewarnai umpan dengan warna biru, memasang umpan dibawah permukaan laut, menambah berat pemberat tali pancing dan menggunakan pengusir burung dapat mengurangi jumlah burung yang tertangkap.[51] Sebagai contoh, sebuah studi kolaboratif antara ilmuwan dan nelayan di Selandia Baru berhasil menguji perangkat pengaturan bawah air untuk metode memancing dengan tali panjang yang mengatur kedalaman kail dibawah kemampuan menyelam spesies albatros yang memiliki status rentan.[52] Penggunaan beberapa teknik ini dalam pencarian ikan Dissostichus eleginoides di Kepulauan Falkland diperkirakan telah mengurangi jumlah Albatros alis-hitam yang tertangkap dalam 10 tahun terakhir.[53] Para konsevator juga telah bekerja merestorasi pulau untuk menghilangkan spesies pendatang yang mengancam satwa liar, yang melindungi albatros dari predator pendatang.

Salah satu langkah penting untuk melindungi albatros dan burung laut lainnya adalah perjanjian internasional tahun 2001, yakni Perjanjian konservasi albatrosses dan petrel, yang mulai berlaku pada tahun 2004 dan telah diratifikasi oleh negara-negara tiga belas, Australia, Argentina, Brasil dan Chili, Ekuador, Selandia Baru, Spanyol, Afrika Selatan, Perancis, Peru, Uruguay dan Inggris.[54] Perjanjian itu mengharuskan negara-negara untuk mengambil tindakan khusus untuk mengurangi tangkapan, polusi dan untuk menghilangkan spesies pendatang dari pulau-pulau tempat albatros dan petrel bersarang.[55]

Spesies[sunting | sunting sumber]

Ketika ini, albatros terbahagi kepada empat genus, namun jumlah spesies masih menjadi perdebatan. IUCN dan BirdLife International membahagikan albatros kepada 22 spesies, pihak berkuasa lain membahagi albatros kepada 14 spesies, dan ada yang mengusulkan untuk mengurangkan kepada 13 spesies.

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. Brands, Sheila (14 August 2008). http://www.taxonomy.nl/Main/Classification/51470.htm "Systema Naturae 2000 / Classification – Family Diomedeidae". Project: The Taxonomicon. Diarkibkan daripada yang asal pada 16 June 2009. http://web.archive.org/web/20090616173813/ http://www.taxonomy.nl/Main/Classification/51470.htm. Capaian 17 February 2009. 
  2. Pattison, Darcy. "Wisdom, the Midway Albatross". Wisdom, the Midway Albatross: Surviving the Japanese Tsunami and other Disasters for Over 60 Years. Mims House. http://albatross.darcypattison.com. 
  3. 3.00 3.01 3.02 3.03 3.04 3.05 3.06 3.07 3.08 3.09 3.10 3.11 3.12 3.13 Brooke, M. (2004). Albatrosses And Petrels Across The World Oxford University Press, Oxford, UK ISBN 0-19-850125- 0
  4. 4.0 4.1 Robertson, C. J. R. and Nunn, G. B. (1998) "Towards a new taxonomy for albatrosses" in: Proceedings First International Conference on the Biology and Conservation of Albatrosses, G.Robertson & R.Gales (Eds), Chipping Norton:Surrey Beatty & Sons, 13–19,
  5. Alexander, W. B.; Fleming, C. A.; Falla, R. A.; Kuroda, N. H.; Jouanin, C.; Rowan, M. K.; Murphy, R. C.; Serventy, D. L. dll. (1965). "Correspondence: The families and genera of the petrels and their names". Ibis 107 (3): 401–5. doi:10.1111/j.1474- 919X.1965.tb07326.x. 
  6. Nunn, G. B.; Cooper, J.; Jouventin, P.; Robertson, C. J. R.; Robertson, G. G. (1996). 113n04/p0784-p0801.pdf "Evolutionary relationships among extant albatrosses (Procellariiformes: Diomedeidae) established from complete cytochrome-b gene sequences" (PDF). Auk 113 (4): 784–801. doi:10.2307/4088857. http://sora.unm.edu/sites/default/files/journals/auk/v 113n04/p0784-p0801.pdf. 
  7. 7.0 7.1 Double, M.C. & Chambers, G.K., (2004). "The need for the parties to the Agreement on Albatrosses and Petrels (ACAP) to establish a robust, defendable and transparent decision-making process for the construction and maintenance of their species lists ". Proceedings of the Scientific Meeting of Agreement on Albatrosses and Petrels (ACAP), Hobart, Australia, 8–9 November 2004
  8. Burg, T.M.; Croxall, J.P. (2004). "Global population structure and taxonomy of the wandering albatross species complex". Molecular Ecology 13 (8): 2345–2355. doi:10.1111/j.1365-294X.2004.02232.x. PMID 15245406. 
  9. Penhallurick, J.; Wink, M. (2004). "Analysis of the taxonomy and nomenclature of the Procellariiformes based on complete nucleotide sequences of the mitochondrial cytochrome b gene". Emu 104 (2): 125 –147. doi:10.1071/MU01060. 
  10. Rheindt, F. E.; Austin, J. (2005). act=view_file&file_id=MU04039.pdf "Major analytical and conceptual shortcomings in a recent taxonomic revision of the Procellariiformes – A reply to Penhallurick and Wink (2004)" (PDF). Emu 105 (2): 181 –186. doi:10.1071/MU04039. http://www.publish.csiro.au/? act=view_file&file_id=MU04039.pdf. 
  11. 11.0 11.1 Olson, S.L.; Hearty, P.J. (2003). "Probable extirpation of a breeding colony of Short-tailed Albatross (Phoebastria albatrus) on Bermuda by Pleistocene sea-level rise". Proceedings of the National Academy of Sciences 100 (22): 12825–12829. doi:10.1073/pnas.1934576100. 
  12. Gelasian, formerly Late Pliocene
  13. Lequette, B.; Verheyden, C.; Jowentin, P. (1989). r/v091n03/p0732-p0735.pdf "Olfaction in Subantarctic seabirds: Its phylogenetic and ecological significance" (PDF). The Condor 91 (3): 732–135. doi:10.2307/1368131. JSTOR 1368131. http://sora.unm.edu/sites/default/files/journals/condo r/v091n03/p0732-p0735.pdf. 
  14. 14.0 14.1 14.2 14.3 14.4 14.5 14.6 14.7 14.8 Tickell, W.L.N. (2000). Albatrosses. Sussex:Pica Press, ISBN 1- 873403-94-1
  15. Ehrlich, Paul R.; Dobkin, David, S.; Wheye, Darryl (1988). The Birders Handbook (edisi First). New York, NY: Simon & Schuster. m/s. 29–31. ISBN 0-671-65989-8. 
  16. 16.0 16.1 16.2 Humann, Alec; Brinkley, Edward S. (2001). "Albatrosses". In Elphick, Chris; Dunning Jr., John B.; Sibley, David Allen. The Sibley Guide to Bird Life and Behavior. illustrated by David Allen Sibley (edisi 1st.). New York: Alfred A. Knopf. m/s. 132–135. ISBN 0-679- 45123-4. 
  17. Pennycuick, C. J. (1982). "The flight of petrels and albatrosses (Procellariiformes), observed in South Georgia and its vicinity". Philosophical Transactions of the Royal Society of London B 300 (1098): 75–106. doi:10.1098/rstb.1982.0158. 
  18. Weimerskirch, H; Guionnet, T; Martin, J; Shaffer, SA; Costa, DP. (2000). "Fast and fuel efficient? Optimal use of wind by flying albatrosses". Proc Biol Sci 267 (1455): 1869–74. doi:10.1098/rspb.2000.1223. PMC 1690761. PMID 11052538. //www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1690761/. 
  19. -albatross.html "Animal Facts – Albatross: Do albatrosses sleep while flying?". OnlineMathLearning.com. http://www.onlinemathlearning.com/animalfacts -albatross.html. Capaian 6 April 2012. 
  20. Warham, J. (1996). The Behaviour, Population, Biology and Physiology of the Petrels. London:Academic Press, ISBN 0-12-735415-8
  21. Daniel Stone (7 September 2012). 0912-albatross-flight-airplane-design-traugott- science/ "Albatross's Effortless Flight Decoded—May Influence Future Planes". National Geographic. http://news.nationalgeographic.com/news/2012/09/12 0912-albatross-flight-airplane-design-traugott- science/. 
  22. 22.0 22.1 Cocker, M., & Mabey, R., (2005) Birds Britannica London:Chatto & Windus, ISBN 0-7011-6907-9
  23. Croxall, J. P.; Silk, J.R.D.; Phillips, R.A.; Afanasyev, V.; Briggs, D.R. (2005). "Global Circumnavigations: Tracking year-round ranges of nonbreeding Albatrosses". Science 307 (5707): 249–250. doi:10.1126/science.1106042. PMID 15653503. 
  24. Croxall, J.P.; Prince, P.A. (1994). type=1&fid=221341&jid=ANS&volumeId=6&issueId=02&aid=22 1340 "Dead or alive, night or day: how do albatrosses catch squid?". Antarctic Science 6 (2): 155–162. doi:10.1017/S0954102094000246. http://journals.cambridge.org/action/displayFulltext? type=1&fid=221341&jid=ANS&volumeId=6&issueId=02&aid=22 1340. 
  25. Spear, Larry; David G. Ainley (1993). "Kleptoparasitism by Kermadec Petrels, Jaegers, and Skuas in the Eastern Tropical Pacific: Evidence of Mimicry by Two Species of Pterodroma". The Auk 110 (2): 222–233. JSTOR 4088550. 
  26. Prince, P.A.; Huin, N.; Weimerskirch, H. (1994). "Diving depths of albatrosses". Antarctic Science 6 (3): 353–354. doi:10.1017/S0954102094000532. 
  27. Cobley, N.D. (1996). "An observation of live prey capture by a Black-browed Albatross Diomedea melanophrys" (PDF). Marine Ornithology 24: 45–46. http://www.marineornithology.org/PDF/24/24_10.pdf. 
  28. 28.0 28.1 28.2 28.3 28.4 Robertson, C. J. R. (2003). "Albatrosses (Diomedeidae)". In Hutchins, Michael. Grzimek's Animal Life Encyclopedia. 8 Birds: 1. (edisi 2). Farmington Hills, MI: Gale Group. pp. 113–116. ISBN 0-7876- 5784-0. 
  29. Fisher, H.I. (1976). "Some dynamics of a breeding colony of Laysan Albatrosses". Wilson Bulletin 88 (1): 121–142. JSTOR 4160718. 
  30. Robertson, C.J.R. (1993). "Survival and longevity of the Northern Royal Albatross Diomedea epomophora sanfordi at Taiaroa Head" 1937–93". Emu 93 (4): 269–276. doi:10.1071/MU9930269. 
  31. Jouventin, P.; Monicault, G. de; Blosseville, J.M. (1981). "La danse de l'albatros, Phoebetria fusca". Behaviour 78: 43–80. doi:10.1163/156853981X00257. 
  32. Pickering, S.P.C.; Berrow, S.D. (2001). "Courtship behaviour of the Wandering Albatross Diomedea exulans at Bird Island, South Georgia" (PDF). Marine Ornithology 29: 29–37. http://www.marineornithology.org/PDF/29_1/29_1_6.pdf. 
  33. Anderson, D.J. & Cruz, F. (1998) "Biology and management of the Waved Albatross at the Galapagos Islands, pp. 105–109 in Albatross Biology and Conservation (Roberston, G. & Gales, R. eds) Chipping Norton:Surrey Beatty and & Sons ISBN 0- 949324-82-5
  34. Warham, J. (1990) The Petrels – Their Ecology and Breeding Systems London: Academic Press.
  35. Warham, J. (1976). df "The incidence, function and ecological significance of petrel stomach oils" (PDF). Proceedings of the New Zealand Ecological Society 24 (3): 84–93. http://www.nzes.org.nz/nzje/free_issues/ProNZES24_84.p df. 
  36. 36.0 36.1 Carboneras, C. (1992) "Family Diomedeidae (Albatross)" in Handbook of Birds of the World Vol 1. Barcelona:Lynx Edicions, ISBN 84-87334 -10-5
  37. Åkesson, S.; Weimerskirch, H. (2005). "Albatross Long-Distance Navigation: Comparing Adults And Juveniles". Journal of Navigation 58 (3): 365–373. doi:10.1017/S0373463305003401. 
  38. Gotch, A. F. (1995) [1979]. "Albatrosses, Fulmars, Shearwaters, and Petrels". Latin Names Explained. A Guide to the Scientific Classifications of Reptiles, Birds & Mammals. New York, NY: Facts on File. m/s. 190. ISBN 0-8160-3377- 3. 
  39. 39.0 39.1 39.2 From the website of the Cape Horners' organization caphorniers.cl: ale.htm A.I.C.H. Emblem. (retrieved 24 February 2011). Synthesis of an article written by the International Secretary General of the A.I.C.H., Captain Roger GHYS, as published in LE COURRIER DU CAP N°3 of December, 1999. By Rear Admiral Roberto BENAVENTE, President, Chilean Section AICH
  40. Eyers, Jonathan (2011). Don't Shoot the Albatross!: Nautical Myths and Superstitions. A&C Black, London, UK. ISBN 978-1-4081-3131-2.
  41. http://www.scottishgolfhistory.net/bogey_par.htm#Albatross
  42. Mclean, Mervyn (1982). "A Chronological and Geographical Sequence of Maori Flute Scales". Man 17 (1): 1 23–157. doi:10.2307/2802105. JSTOR 2802105. 
  43. Safina, C. (2002) Eye of the Albatross: Visions of Hope and Survival New York: Henry Holt & Company ISBN 0-8050 -6229-7
  44. IUCN, 2004. freetext=Albatross&modifier=phrase&criteria=wholedb&ta xa_species=1&redlistCategory%5B% 5D=allex&redlistAssessyear%5B%5D=all&country%5B% 5D=all&aquatic%5B%5D=all&regions%5B%5D=all&habitats% 5B%5D=all&threats%5B%5D=all&Submit.x=104&Submit.y=16 Red List: Albatross Species. Retrieved July 27, 2007.
  45. Brothers, NP. (1991). "Albatross mortality and associated bait loss in the Japanese longline fishery in the southern ocean". Biological Conservation 55 (3): 255–268. doi:10.1016/0006-3207(91)90031-4. 
  46. Fisher, Harvey I. (May 1966). "Airplane-Albatross Collisions on Midway Atoll". The Condor 68 (3): 229–242. doi:10.2307/1365556. JSTOR 1365556. 
  47. id=118 Audubon Watchlist. Laysan Albatross (Phoebastria immutabilis). audubon2.org
  48. BBC News, 2005. Albatross chicks attacked by mice. Retrieved March 6, 2006.
  49. Spear, L.B.; Ainley, D.G.; Ribic, C.A. (1995). "Incidence of plastic in seabirds from the tropical Pacific, 1984–91: relation with distribution of species, sex, age, season, year and body weight". Marine Environmental Research 40 (2): 123–146. doi:10.1016/0141-1136(94)00140-K. 
  50. Auman, H.J., Ludwig, J.P., Giesy, J.P., Colborn, T., (1997) Plastic-Ingestion1997.htm "Plastic ingestion by Laysan Albatross chicks on Sand Island, Midway Atoll, in 1994 and 1995." in Albatross Biology and Conservation, (ed by G. Robinson and R. Gales). Surrey Beatty & Sons:Chipping Norton. pp. 239–44
  51. Food and Agriculture Organisation (1999) url_file=/DOCREP/005/W9817E/W9817E00.HTM "The incidental catch of seabirds by longline fisheries: worldwide review and technical guidelines for mitigation". FAO Fisheries Circular No. 937. Food and Agriculture Organization of the United Nations, Rome.
  52. O'Toole, Decland; Molloy, Janice (2000). "Preliminary performance assessment of an underwater line setting device for pelagic longline fishing" (PDF). New Zealand Journal of Marine and Freshwater Research 34 (3): 455–461. doi:10.1080/00288330.2000.9516947. http://www.rsnz.org/publish/nzjmfr/2000/36.pdf. 
  53. Reid, A.T.; Sullivan, B.J.; Pompert, J.; Enticott, J.W.; Black, A.D. (2004). "Seabird mortality associated with Patagonian Toothfish (Dissostichus eleginoides) longliners in Falkland Islands waters". Emu 104 (4): 317–325. doi:10.1071/MU03002. 
  54. Agreement on the Conservation of Albatrosses and Petrels. acap "Parties To ACAP". Agreement on the Conservation of Albatrosses and Petrels. http://www.acap.aq/resources/parties-to- acap. Capaian 22 January 2011. 
  55. ACAP (2009). document/1191-acap-agreement "Amended, Third Session of the Meeting of the Parties". Agreement on the Conservation of Albatrosses and Petrels. http://www.acap.aq/instruments/download- document/1191-acap-agreement. Capaian 22 January 2011. 

Pautan Luar[sunting | sunting sumber]