Empayar Makedonia

Daripada Wikipedia, ensiklopedia bebas.
(Dilencongkan dari Macedon)
Jump to navigation Jump to search
Makedonia

Μακεδονία
Makedonía
800s SM–146 SM
Ibu kotaAigai kemudian Pella
Bahasa lazimAncient Macedonian, later Attic/Koine Greek
Agama
Agama Greek purba
PemerintahanBeraja
Raja 
• 808–778 BC
Karanos
• 359–336 BC
Philip II
• 336–323 BC
Alexander Agung
• 221–179 BC
Philip V
Era sejarahAntikuiti klasik
• Karanos mengasaskan Wangsa ArgeadKaranos mengasaskan Wangsa Argead
800s SM
Ditakluk Republik Rom dalam Perang Makedonia Keempat
Mata wangDrakhma Yunani
Diganti oleh
Kerajaan Pregamon
Empayar Seleucid
Kerajaan Ptolemy
Republik Rom

Empayar Macedon atau Empayar Macedonia (Bahasa Yunani: Μακεδονία) adalah nama kerajaan Yunani purba di bahagian paling utara Yunani Purba, bersempadan dengan kerajaan Epirus di barat dan wilayah Thrake di timur. Selama suatu tempoh yang singkat, kerajaan ini merupakan negara terkuat di Timur Tengah, setelah Alexander Agung menakluk hampir semua wilayah dunia yang terkenal waktu itu, menandai tempoh Helenis dalam sejarah Yunani.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Sejarawan-sejarawan Yunani Klasik seperti Herodotus dan Thoukydides mencatat sebuah legenda yang menyatakan bahawa raja-raja Makedonia dari Dinasti Argeadai adalah keturunan Temenos, raja Argos, sehingga raja-raja tersebut dapat mengklaim bahawa Herakles adalah salah satu leluhur mereka, dan bahawa mereka adalah keturunan langsung Zeus, dewa utama dalam mitologi Yunani.[1] Pernyataan bahawa keluarga Argeadai merupakan keturunan Temenos diterima kebenarannya oleh para juri Hellanodikai dalam ajang Olimpiade Kuno, sehingga Raja Aleksander I dari Makedonia (Templat:Reign) diperbolehkan ikut bertanding berkat identitas Yunani-nya.[2] Tidak banyak yang diketahui mengenai masa pemerintahan ayah Aleksander, iaitu Amintas I dari Makedonia (Templat:Reign), pada periode Arkais.[3] Namun, terdapat pula legenda lain yang menyatakan bahawa pendiri Dinasti Argeadai adalah Perdikas I dari Makedonia atau Karanos dari Makedonia, dan terdapat lima atau delapan raja sebelum Amintas I.[4]

Kerajaan Makedonia terletak di sepanjang sungai Haliakmon dan Aksios di kawasan Makedonia Hilir yang terletak di sebelah utara Gunung Olimpus. Sejarawan Robert Malcolm Errington menduga bahawa salah satu raja Argeadai terawal mendirikan kota Aigai (sekarang Vergina) sebagai ibu kota mereka pada pertengahan abad ke-7 SM.[5] Sebelum abad ke-4 SM, kerajaan tersebut mencakup kawasan di sekitaran bagian barat dan tengah wilayah Makedonia di Yunani modern.[6] Kerajaan tersebut secara bertahap meluas ke wilayah Makedonia Hulu, yang ditinggali oleh suku Linkestis dan Elimiotis (keduanya termasuk ke dalam puak Yunani), dan ke kawasan Ematia, Eordaia, Botiaia, Migdonia, Krestonia, dan Almopia (wilayah-wilayah yang ditempati oleh berbagai suku bangsa seperti Trakia dan Frigia).[7] Orang-orang non-Yunani yang tinggal bersebelahan dengan Makedonia adalah orang Trakia yang tinggal di kawasan timur laut, Iliria di barat laut, dan Paionia di utara, sementara wilayah Tesalia di selatan dan Epiros di barat ditinggali oleh orang Yunani dengan budaya yang serupa dengan orang Makedonia.[8]

[[Berkas:Oktadrachm of Alexander I 498 – 454 BCE.jpg|jmpl|250px|kiri|Sebuah koin perak oktadrakhma Aleksander I dari Makedonia (Templat:Reign), yang dibuat sekitar tahun 465–460 SM, dan menampilkan seseorang yang sedang berkuda dan mengenakan khlamis (jubah pendek) dan petasos (tutup kepala) sembari membawa dua tombak]] Setahun setelah Darius I dari Persia (Templat:Reign) melancarkan serangan ke Eropa melawan orang-orang Skitia, Paionia, Trakia, dan beberapa negara-kota Yunani di Balkan, jenderal Persia Megabazus menggunakan cara diplomasi untuk membujuk Amintas I agar bersedia menjadi vasal Kekaisaran Akemeniyah, sehingga dimulailah periode Makedonia Akemeniyah.[note 1] Hegemoni Akemeniyah sempat terganggu oleh Pemberontakan Ionia (499–493 SM), tetapi jenderal Persia Mardonius berhasil mengembalikan kekuasaan Akemeniyah di Makedonia.[9] Makedonia diberikan otonomi yang besar dan tidak pernah dijadikan satrapi (seakan provinsi atau negeri) Akemeniyah, tetapi wilayah tersebut tetap dituntut untuk menyediakan pasukan kepada Akemeniyah.[10] Aleksander I memberikan dukungan ketenteraan Makedonia kepada Xerxes I (Templat:Reign) selama serangan kedua pada 480–479 SM, dan pasukan Makedonia bahkan bertarung di pihak Persia dalam Pertempuran Platea pada tahun 479 SM.[11] Setelah kemenangan besar Yunani di Salamis pada 480 SM, Aleksander I ditugaskan sebagai diplomat Akemeniyah dengan tugas mengusulkan perjanjian perdamaian dan persekutuan dengan Atena, tetapi tawaran tersebut ditolak mentah-mentah.[12] Tak lama sesudahnya, pasukan Akemeniyah terpaksa mundur dari daratan Eropa, alhasil berakhirlah kekuasaan Persia di Makedonia.[13]

Keterlibatan dalam peradaban Yunani Klasik[sunting | sunting sumber]

Meskipun awalnya merupakan vasal Persia, Aleksander I dari Makedonia tetap menjalin hubungan diplomatik yang bersahabat dengan bekas musuh-musuhnya di Yunani, iaitu Liga Delia yang dipimpin oleh Atena dan Liga Peloponesos pimpinan Sparta.[14] Namun, penerus Aleksander I yang bernama Perdikas II (Templat:Reign) memimpin Kerajaan Makedonia dalam empat konflik terpisah melawan Atena; pada saat yang sama, wilayah Makedonia di timur laut terancam oleh serangan-serangan yang dilancarkan oleh seorang penguasa Trakia yang bernama Sitalkes dari Kerajaan Odrisia.[15] Mulanya negarawan Atena Perikles berupaya menggalakkan pendirian permukiman di daerah Sungai Strimon di dekat Kerajaan Makedonia, dan kota Amfipolis didirikan pada 437/436 SM agar Atena dapat memperoleh persediaan emas dan perak ditambah dengan kayu dan damar gegala untuk angkatan laut Atena.[16] Perdikas sempat tidak mengambil tindakan dan mungkin malah menyambut kedatangan Atena karena mereka sama-sama bermusuhan dengan orang-orang Trakia.[17] Keadaan berubah setelah Atena bersekutu dengan saudara dan sepupu Perdikas II yang telah memberontak melawannya.[17] Maka meletuslah dua perang terpisah antara Makedonia dan Atena dari tahun 433 dan 431 SM.[17] Raja Makedonia membalas tindakan Atena dengan mendukung pemberontakan di wilayah sekutu Atena di Kalkidiki dan berhasil mengambil alih kota Potidaia yang strategis.[18] Kota Potidaia lalu dikepung oleh Atena setelah mereka merebut kota Therma dan Veria dari Makedonia, tetapi pengepungan tersebut mengalami kegagalan; Therma kemudian dikembalikan kepada Makedonia dan sebagian besar wilayah Kalkidiki pun diserahkan kepada Atena sesuai dengan perjanjian perdamaian yang ditengahi oleh Sitalkes, yang memberikan bantuan ketenteraan kepada Atena untuk mendapatkan sekutu-sekutu Trakia yang baru sebagai gantinya.[19]

Pada 429 SM, di tengah berkecamuknya Perang Peloponesos (431–404 SM) antara Atena dan Sparta, Perdikas II mengirim bantuan ketenteraan kepada Sparta di Akarnania, tetapi pasukan Makedonia terlambat datang, sehingga pasukan Atena dapat memenangkan Pertempuran Naupaktus.[20] Pada tahun yang sama, pasukan Atena mencoba membalas tindakan ini dengan meyakinkan Sitalkes untuk menyerang Makedonia, tetapi Atena menolak mengirimkan angkatan lautnya untuk membantu Sitalkes di Kalkidiki, kemungkinan karena Atena merasa takut dengan ambisi sang raja Trakia.[21] Sitalkes mundur dari Makedonia akibat kurangnya persediaan untuk para tentara pada musim dingin.[22] Pada 424 SM, Perdikas II membantu meyakinkan sekutu-sekutu Atena di Trakia untuk membelot dan bersekutu dengan Sparta.[23] Sebagai gantinya, jenderal Sparta Brasidas bersedia membantu Perdikas II memadamkan pemberontakan Arabaios, penguasa Linkestis (di Makedonia Hulu), meskipun ia sempat mengungkapkan kekhawatirannya karena Arabaios didukung oleh pasukan Iliria dalam jumlah yang besar dan juga karena sekutu Sparta di Kalkidiki rentan diserang Atena ketika pasukan Sparta sedang disibukkan di tempat lain.[24] Dalam Pertempuran Linkestis, pasukan Makedonia panik dan melarikan diri sebelum pertarungan dimulai, sehingga Brasidas mengamuk, dan pasukan-pasukannya menjarah kereta kuda pengangkut perbekalan milik Makedonia yang telah ditinggalkan.[25] Akibatnya, Perdikas II berbalik melawan Sparta dan kembali bersekutu dengan Atena, sehingga menghadang bala bantuan Liga Peloponesos di Tesalia dan memaksa Arabaios dan para pemberontak lainnya untuk menyerah dan menerima raja Makedonia sebagai penguasa mereka.[26]

[[Berkas:Didrachm of Archelaos I King of Macedonia.jpg|jmpl|kiri|300px|Koin didrakhma Makedonia yang dibuat pada masa pemerintahan Arkelaos I dari Makedonia (Templat:Reign)]] Brasidas wafat pada tahun 422 SM, yang juga merupakan tahun ketika Atena dan Sparta menyetujui Perjanjian Perdamaian Nikias yang membebaskan Makedonia dari segala kewajiban untuk membantu sekutunya, Atena.[27] Setelah kemenangan Sparta dalam Pertempuran Mantinea pada tahun 418 SM, Sparta membentuk sebuah persekutuan dengan Argos, dan Perdikas II sendiri ingin bergabung dengan persekutuan ini karena terdapat kemungkinan bahawa sekutu-sekutu Sparta akan tetap berada di Kalkidiki.[28] Namun, setelah Argos mendadak berbalik mendukung Atena, angkatan laut Atena dapat memblokade pelabuhan-pelabuhan Makedonia dan menyerang Kalkidiki pada tahun 417 SM.[29] Perdikas II mengajak berdamai pada 414 SM dan membentuk sebuah persekutuan dengan Atena yang kemudian akan dilanjutkan oleh putranya sekaligus penerusnya, Arkelaos I (Templat:Reign).[30] Alhasil angkatan laut Atena memberikan dukungan kepada Arkelaos I selama pengepungan Pidna oleh Makedonia pada tahun 410 SM, dan sebagai gantinya Makedonia memasok Atena dengan kayu dan peralatan laut.[31]

Meskipun Arkelaos I menghadapi beberapa pemberontakan di dalam negeri dan harus menghalau serangan Iliria yang dipimpin oleh Siras dari Linkestis, ia mampu merambah ke wilayah Tesalia dengan mengirim bantuan ketenteraan kepada sekutu-sekutunya.[32] Walaupun ia masih mempertahankan Aigai sebagai pusat upacara dan keagamaan, Arkelaos I memindahkan ibu kota kerajaan ke utara di Pela, yang pada saat itu terletak di pinggir danau yang dihubungkan oleh sebuah sungai ke Laut Aegea.[33] Ia memperkuat mata uang Makedonia dengan mencetak koin-koin yang memiliki kandungan perak yang lebih tinggi serta dengan mengeluarkan koin tembaga yang terpisah.[34] Istana kerajaannya diisi oleh cendekiawan-cendekiawan ternama seperti seorang dramawan Atena yang bernama Euripides.[35] Setelah pembunuhan Arkelaos I (diduga akibat hubungan homoseksual dengan hamba muda di istananya), Kerajaan Makedonia mengalami kekacauan; dari tahun 399 hingga 393 SM, terdapat paling tidak empat penguasa: Orestes (putra Arkelaos  I), Aeropos II (paman, wali raja, dan pembunuh Orestes), Pausanias (putra Aeropos II), dan Amintas II (yang menikahi putri bungsu Arkelaos I).[36] Tidak banyak yang diketahui mengenai masa yang kacau ini, tetapi masa ini berakhir setelah Amintas III (Templat:Reign, putra Aridaios dan cucu Amintas I) membunuh Pausanias dan merebut takhta Makedonia.[37]

[[Berkas:Coin of Amyntas III-161113.jpg|jmpl|300px|Koin stater perak Amintas III dari Makedonia (Templat:Reign)]] Amintas III sempat melarikan diri dari kerajaannya sekitar tahun 393 atau 383 SM (berdasarkan catatan-catatan sejarah yang saling bertentangan), dalam rangka menghindari serangan besar-besaran yang dilancarkan oleh suku Dardani dari Iliria yang dipimpin oleh Bardilis.[note 2] Seorang pengklaim takhta yang bernama Argaios memerintah selama kepergian Amintas III, tetapi Amintas III kemudian dapat kembali ke kerajaannya dengan bantuan sekutu-sekutunya di Tesalia.[38] Amintas III juga hampir dilengserkan oleh pasukan kota Olintos yang memimpin Liga Kalkidiki, tetapi berkat bantuan dari Teleutias (saudara Raja Sparta Agesilaos II), pasukan Makedonia berhasil membuat Olintos menyerah dan membubarkan Liga Kalkidiki pada 379 SM.[39]

Aleksander II (putra dari Euridike I dan Amintas III, Templat:Reign) menggantikan ayahnya dan langsung menyerbu Tesalia dan mengobarkan perang melawan tagus (pemimpin ketenteraan tertinggi Tesalia) Aleksander dari Ferai, dan mereka berhasil menaklukkan kota Larisa.[40] Pasukan Tesalia ingin menjatuhkan Aleksander II sekaligus Aleksander dari Ferai, sehingga mereka meminta bantuan kepada Pelopidas dari Tivai; Pelopidas berhasil merebut kembali Larisa dan kemudian menerima sandera berupa adik kandung Aleksander II (yang kelak akan menjadi Raja Filipus II, Templat:Reign), sesuai dengan ketentuan perjanjian yang telah disepakati dengan Makedonia.[41] Setelah nyawa Aleksander dicabut oleh saudara iparnya, Ptolemaios dari Aloros, Ptolemaios bertindak sebagai wali untuk Raja Perdikas III (adik Aleksander II, Templat:Reign); setelah Perdikas III mencapai usia dewasa pada tahun 365 SM, ia memerintahkan agar Ptolemaios dihukum mati.[42] Masa kekuasaan Perdikas III merupakan masa kestabilan politik dan pemulihan keuangan.[43] Namun, serangan dari Atena yang dipimpin oleh Timoteos (anak Konon) mengakibatkan jatuhnya kota Metone dan Pidna, dan kemudian keadaan semakin memburuk setelah Bardilis dari Iliria kembali melancarkan serangan yang berujung pada kematian Perdikas III dan 4.000 pasukan Makedonia dalam pertempuran.[44]

Kebangkitan Makedonia[sunting | sunting sumber]

Rencana utama: Kebangkitan Makedonia
Kiri: patung dada Filipos II dari Makedonia (Templat:Reign) yang dibuat pada periode Helenistik, kini disimpan di Ny Carlsberg Glyptotek. Kanan: patung dada Filipos II yang lain, tetapi yang ini adalah tiruan yang dibuat oleh Romawi pada abad ke-1 M, kini disimpan di Museum Vatikan. Kiri: patung dada Filipos II dari Makedonia (Templat:Reign) yang dibuat pada periode Helenistik, kini disimpan di Ny Carlsberg Glyptotek. Kanan: patung dada Filipos II yang lain, tetapi yang ini adalah tiruan yang dibuat oleh Romawi pada abad ke-1 M, kini disimpan di Museum Vatikan.
Kiri: patung dada Filipos II dari Makedonia (Templat:Reign) yang dibuat pada periode Helenistik, kini disimpan di Ny Carlsberg Glyptotek. Kanan: patung dada Filipos II yang lain, tetapi yang ini adalah tiruan yang dibuat oleh Romawi pada abad ke-1 M, kini disimpan di Museum Vatikan.

jmpl|400px|Peta Kerajaan Makedonia pada saat kematian Filipos II pada tahun 336 SM (biru muda), sementara wilayah Makedonia sebelumnya pada tahun 431 SM ditandai dengan garis-garis merah. Kuning adalah wilayah dependensi Makedonia Filipos II berusia dua puluh empat tahun saat ia naik takhta pada 359 SM.[45] Berkat kemampuan diplomasinya, ia berhasil meyakinkan orang-orang Trakia yang dipimpin oleh Berisades untuk tidak lagi membantu salah seorang pengklaim takhta Makedonia yang bernama Pausanias, dan ia juga berhasil membuat Atena menghentikan dukungan mereka kepada seorang pengklaim takhta yang lain, iaitu Argaios II.[46] Ia melakukannya dengan menyuap orang-orang Trakia dan Paionia (yang merupakan sekutu Trakia), dan juga dengan menyepakati perjanjian dengan Atena yang menyatakan bahawa Makedonia menarik balik tuntutannya atas kota Amfipolis.[47] Selain itu, ia berhasil berdamai dengan orang-orang Iliria yang sempat mengancam wilayah perbatasan Makedonia.[48]

Filipos II menjalani masa pemerintahan awalnya dengan merombak pasukan Makedonia. Ia mengubah susunan, peralatan, dan pelatihan pasukannya, termasuk dengan memperkenalkan formasi falangs Makedonia yang bersenjatakan tembiang panjang (sarissa), dan reformasi ini terbukti mujarab setelah mereka berhasil mengalahkan Iliria dan Paionia.[49] Catatan-catatan sejarah kuno yang saling berseberangan telah memicu perdebatan di kalangan ahli modern mengenai seberapa besar sumbangsih para pendahulu Filipos II terhadap reformasi ketenteraan ini, dan sejauh mana gagasannya dipengaruhi oleh masa-masa remajanya saat ia ditawan di Tivai sebagai sandera politik, khususnya setelah ia bertemu dengan jenderal Epaminondas.[50]

Orang Makedonia dan orang-orang Yunani pada umumnya mempraktikkan monogami, tetapi Filipos II melakukan poligami dan mempunyai tujuh istri, dan mungkin hanya satu istrinya yang tidak memiliki latar belakang sebagai persembahan tanda kesetiaan dari keluarga ningrat atau sekutu barunya.[note 3] Ia menikah dengan Fila dari Elimeia yang berasal dari golongan ningrat Makedonia Hulu, serta seorang putri Iliria yang bernama Audata dengan tujuan membentuk persekutuan.[51] Untuk membentuk persekutuan dengan Larisa di Tesalia, ia menikahi seorang bangsawati Tesalia yang bernama Filina pada tahun 358 SM, dan dari pernikahannya ini Filipos II dikaruniai seorang putra yang kelak akan memerintah dengan nama Filipos III Aridaios (Templat:Reign).[52] Pada 357 SM, ia menikahi Olimpias untuk bersekutu dengan Aribas, Raja Epiros dan Molosoi. Pernikahan tersebut dikaruniai seorang putra yang kemudian memerintah dengan sebutan Aleksander III (lebih dikenal dengan julukan Aleksander Agung) dan mengklaim sebagai keturunan Akhilles dalam legenda melalui garis keturunan Raja Epiros.[53] Tidak diketahui secara pasti apakah raja-raja Akemeniyah-lah yang berpengaruh terhadap praktik poligami Filipos II, meskipun pendahulunya Amintas III memiliki tiga putra yang diyakini lahir dari istri keduanya, Gigaea: Arkelaos, Aridaios, dan Menelaus.[54] Filipos II memerintahkan penghukuman mati Arkelaos pada 359 SM, sementara dua bersaudara yang lain melarikan diri ke Olintos, yang kemudian menjadi sebuah casus belli untuk memulai Perang Olintia (349–348 SM).[55]

Saat Atena sedang disibukkan dengan Perang Sosial (357–355 SM), Filipos II merebut kembali Amfipolis dari Atena pada 357 SM dan pada tahun berikutnya juga berhasil menguasai kembali Pidna dan Potidaia; ia lalu menyerahkan Potidaia kepada Liga Kalkidiki seperti yang telah dijanjikan sebelumnya.[56] Pada 356 SM, ia mengambil alih Krinides dan mendirikan kembali kota tersebut dengan nama Filipi, sementara salah satu jenderalnya yang bernama Parmenion berhasil mengalahkan raja Iliria Grabos dari Grabaei.[57] Selama pengepungan Methone tahun 355–354 SM, Filipos II kehilangan mata kanannya akibat tembakan panah, tetapi tetap berhasil merebut kota tersebut dan memperlakukan para penduduknya dengan baik, tidak seperti Potidaia yang telah diperbudak rakyatnya.[note 4]

Filipos II lalu turut serta dalam Perang Suci Ketiga (356–346 SM). Perang ini dimulai setelah Fokis menaklukkan dan menjarah kuil Apollo di Delfi daripada harus melunasi denda yang belum dibayarkan, sehingga meletuslah perang antara Liga Amfiktionia dan Fokis serta perang saudara antara para anggota Liga Tesalia yang bersekutu dengan Fokis atau Tivai.[58] Kampanye ketenteraan yang dikobarkan oleh Filipos II melawan Ferai di Tesalia pada 353 SM (atas desakan dari Larisa) sempat mengalami kegagalan akibat dua kekalahan besar di tangan jenderal Fokis Onomarkos.[note 5] Walaupun begitu, Filipos II berhasil mengalahkan Onomarkos dalam Pertempuran Lapangan Krokus pada 352 SM, sehingga Filipos II terpilih sebagai pemimpin (arkhon) Liga Tesalia, mendapatkan satu kursi di Dewan Amfiktionia, dan dapat membentuk persekutuan dengan Ferai melalui pernikahan dengan Nikesipolis, kemenakan tiran Iason dari Ferai.[59]

Setelah bertempur melawan penguasa Trakia Kersobleptes, pada tahun 349 SM, Filipos II memulai perang melawan Liga Kalkidiki, yang telah didirikan kembali pada 375 SM.[60] Meskipun Karidemos dari Atena mencoba membantu Kalkidiki,[61] Olintos ditaklukan oleh Filipos II pada 348 SM, sementara para penduduknya dijual sebagai budak, termasuk beberapa warga Atena.[62] Atena berupaya meyakinkan sekutu-sekutunya untuk melancarkan serangan balasan (termasuk pidato-pidato Demostenes), tetapi upaya-upaya ini gagal, sehingga pada 346 SM Atena menyepakati Perjanjian Perdamaian Filokrates dengan Makedonia.[63] Perjanjian tersebut menyatakan bahawa Atena akan mencabut klaim atas wilayah pesisir Makedonia, Kalkidiki, dan Amfipolis; sebagai gantinya, orang-orang Atena yang telah diperbudak akan dilepaskan, dan Filipos II juga memberikan jaminan bahawa mereka tak akan menyerang permukiman-permukiman Atena di Kersonesos Trakia.[64] Sementara itu, Fokis dan Termopilai ditaklukan oleh pasukan Makedonia, para perampok kuil Delfi dihukum mati, dan Filipos II memperoleh dua kursi Fokis di Dewan Amfiktionia serta jabatan pembawa acara dalam ajang Pesta Olahraga Pitia.[65] Atena awalnya menentang keanggotaan Makedonia di dewan dan menolak hadir dalam ajang tersebut sebagai tanda protes, tetapi pada akhirnya mereka bersedia menerimanya, mungkin setelah diyakinkan oleh Demostenes dalam orasinya, Tentang Perdamaian.[66]

Kiri: sebuah Niketerion (medali kemenangan) yang menampilkan gambar raja Filipos II dari Makedonia, dari abad ke-3 M, kemungkinan dibuat pada masa pemerintahan Kaisar Romawi Alexander Severus. Kanan: reruntuhan Filipeion di Olimpia, Yunani, yang dibangun oleh Filipos II dari Makedonia untuk merayakan kemenangannya dalam Pertempuran Kaironeia pada tahun 338 SM.[67] Kiri: sebuah Niketerion (medali kemenangan) yang menampilkan gambar raja Filipos II dari Makedonia, dari abad ke-3 M, kemungkinan dibuat pada masa pemerintahan Kaisar Romawi Alexander Severus. Kanan: reruntuhan Filipeion di Olimpia, Yunani, yang dibangun oleh Filipos II dari Makedonia untuk merayakan kemenangannya dalam Pertempuran Kaironeia pada tahun 338 SM.[67]
Kiri: sebuah Niketerion (medali kemenangan) yang menampilkan gambar raja Filipos II dari Makedonia, dari abad ke-3 M, kemungkinan dibuat pada masa pemerintahan Kaisar Romawi Alexander Severus. Kanan: reruntuhan Filipeion di Olimpia, Yunani, yang dibangun oleh Filipos II dari Makedonia untuk merayakan kemenangannya dalam Pertempuran Kaironeia pada tahun 338 SM.[67]

Dalam rentang waktu beberapa tahun sesudahnya, Filipos II merombak pemerintahan-pemerintahan setempat di Tesalia, berperang melawan penguasa Iliria Pleuratos I, melengserkan Aribas di Epiros dan menggantikannya dengan saudara ipar Filipos II, Aleksander I (melalui pernikahan Filipos II dengan Olimpias), serta mengalahkan Kersobleptes di Trakia. Dengan ini ia dapat memperluas kendali Makedonia ke wilayah Helespontos untuk mengantisipasi serangan dari Akemeniyah.[68] Pada tahun 342 SM, Filipos II menaklukkan sebuah kota Trakia yang terletak di wilayah yang kini menjadi bagian dari Bulgaria, dan lalu mengganti namanya menjadi Filipopolis (sekarang Plovdiv).[69] Perang melawan Atena meletus pada tahun 340 SM, sementara Filipos II disibukkan oleh pengepungan terhadap kota Perintos dan Bizantion yang mengalami kegagalan, disusul dengan perang melawan Skitia di sepanjang sungai Donau yang berhasil dimenangkan oleh Makedonia, serta keterlibatan Makedonia dalam Perang Suci Keempat melawan Amfisa pada 339 SM.[70] Tivai kemudian mengusir garnisun Makedonia dari Nikea (dekat Termopilai), sehingga Tivai bergabung dengan Atena, Megara, Korintos, Akhaia, dan Euboia dalam upaya terakhir mereka untuk membendung Makedonia dalam Pertempuran Kaironeia pada 338 SM.[71] Setelah Makedonia berhasil memenangkan pertempuran tersebut, Filipos II mendirikan sebuah oligarki di Tivai, tetapi mereka tidak mengambil tindakan keras terhadap Atena, karena mereka masih ingin memanfaatkan angkatan laut mereka dalam rencana penyerangan terhadap Akemeniyah.[72] Ia lalu membentuk Liga Korintos yang meliputi negara-negara kota Yunani besar kecuali Sparta. Walaupun Kerajaan Makedonia secara resmi tidak tergabung ke dalam liga tersebut, pada tahun 337 SM, Filipos II terpilih sebagai pemimpin (hegemon) dewan liga tersebut (sinedrion) serta panglima tertinggi (strategos autokrator) dalam kampanye ketenteraan yang akan datang melawan Akemeniyah.[73] Salah satu alasan yang mendasari keputusan Filipos II untuk menyerang Akemeniyah mungkin adalah ketakutan di Yunani bahawa Persia akan kembali melakukan serangan.[74] Persia menawarkan bantuan kepada Perintos dan Bizantion pada 341–340 SM, mengingat Makedonia perlu menguasai kawasan Trakia dan Laut Aegea untuk mempersiapkan serangan ke Akemeniyah, sementara Raja Persia Artaxerxes III terus memperkukuh kekuasaannya atas provinsi-provinsi di Anatolia barat.[75] Filipos II sendiri menginginkan wilayah Anatolia barat, karena sumber daya alam di tempat tersebut jauh lebih kaya daripada di Balkan.[76]

Setelah Filipos II menikahi Kleopatra Euridike (keponakan jenderal Atalus), perbincangan mengenai calon penerus yang baru selama pesta pernikahan membuat murka istri Filipos II, Olimpias, dan anak mereka, Aleksander (yang juga merupakan veteran Pertempuran Kaironeia).[77] Aleksander dan Olimpias bersama-sama melarikan diri ke Epiros sebelum akhirnya Aleksander dipanggil lagi ke Pela oleh Filipos II.[77] Saat Filipos II berencana menjodohkan anaknya Aridaios dengan Ada dari Karia (putri seorang satrap Persia di Karia yang bernama Pixodarus), Aleksander meminta agar dirinya yang dinikahkan dengan Ada. Filipos lalu membatalkan pernikahan tersebut dan mengasingkan para penasihat Aleksander (Ptolemaios, Nearkos, dan Harpalos).[78] Agar tetap rukun dengan Olimpias, Filipos II menikahkan putri mereka Kleopatra dengan saudara Olimpia (dan paman Kleopatra), Aleksander I dari Epiros, tetapi Filipos II malah dibunuh oleh penjaganya Pausanias dari Orestis saat pesta pernikahan tersebut digelar, sehingga ia digantikan oleh Aleksander pada 336 SM.[79]

Kekaisaran[sunting | sunting sumber]

Kiri: patung dada Aleksander Agung karya pemahat Atena Leokaris, dari tahun 330 SM, kini disimpan di Museum Akropolis, Atena. Kanan: patung dada Aleksander Agung, tiruan buatan Romawi dari masa kekaisaran (abad ke-1 atau ke-2 SM) berdasarkan patung perunggu karya pemahat Yunani Lisipos, tiruan ini kini disimpan di Louvre, Paris. Kiri: patung dada Aleksander Agung karya pemahat Atena Leokaris, dari tahun 330 SM, kini disimpan di Museum Akropolis, Atena. Kanan: patung dada Aleksander Agung, tiruan buatan Romawi dari masa kekaisaran (abad ke-1 atau ke-2 SM) berdasarkan patung perunggu karya pemahat Yunani Lisipos, tiruan ini kini disimpan di Louvre, Paris.
Kiri: patung dada Aleksander Agung karya pemahat Atena Leokaris, dari tahun 330 SM, kini disimpan di Museum Akropolis, Atena. Kanan: patung dada Aleksander Agung, tiruan buatan Romawi dari masa kekaisaran (abad ke-1 atau ke-2 SM) berdasarkan patung perunggu karya pemahat Yunani Lisipos, tiruan ini kini disimpan di Louvre, Paris.

jmpl|400px|Wilayah kekuasaan Makedonia pada tahun kematian Aleksander Agung (323 SM)

Para ahli modern telah memperdebatkan kemungkinan keterlibatan Aleksander III dan ibunya Olimpias dalam pembunuhan Filipos II, terutama mengingat bahawa Filipos II sudah memutuskan untuk tidak melibatkan Aleksander dalam rencana serangannya ke Asia dan sebagai gantinya akan menjadikannya sebagai wali raja Yunani dan wakil hegemon Liga Korintos; faktor lain yang membuat ahli-ahli mencurigai keterlibatan mereka berdua adalah kemungkinan lahirnya calon penerus laki-laki yang lain dari pernikahan Filipos II dengan istri barunya, Kleopatra Euridike.[note 6] Aleksander III (Templat:Reign) dinyatakan sebagai raja oleh sebuah majelis yang terdiri dari para tentara dan ningrat, dengan Antipatros dan Parmenion sebagai tokoh-tokoh paling penting di majelis tersebut.[80] Pada akhir masa pemerintahan dan karier militernya pada 323 SM, Aleksander menguasai sebuah kekaisaran yang membentang di Yunani daratan, Asia Kecil, Syam, Mesir Kuno, Mesopotamia, Persia, dan berbagai wilayah di Asia Tengah dan Selatan (termasuk wilayah yang sekarang menjadi Pakistan).[81] Salah satu tindakan pertamanya adalah memakamkan ayahnya di Aigai.[82] Para anggota Liga Korintos memberontak setelah mendengar kabar kematian Filipos II, tetapi pemberontakan tersebut tak lama kemudian dipadamkan oleh pasukan ketenteraan dan juga dengan menggunakan diplomasi, sehingga Aleksander terpilih sebagai hegemon liga tersebut yang akan melaksanakan rencana serangan ke Akemeniyah.[83]

Pada tahun 335 SM, Aleksander mengobarkan perang melawan salah satu suku Trakia yang disebut Tribali di Haemus Mons dan di sepanjang sungai Donau, sehingga suku tersebut terpaksa menyerah di Pulau Peuke.[84] Tak lama setelahnya, raja Iliria Kleitos dari Dardani mengancam akan menyerang Makedonia, tetapi Aleksander mengambil tindakan terlebih dahulu dengan mengepung suku Dardani di Pelion (sekarang di Albania).[85] Ketika Tivai kembali memberontak melawan Liga Korintos dan mengepung garnisun Makedonia di Kadmia, Aleksander meninggalkan front Iliria dan bergerak menuju Tivai, yang kemudian ia kepung.[86] Setelah berhasil menembus tembok kota, pasukan Aleksander membunuh 6.000 orang, menawan 30.000 warga, dan membakar kota tersebut hingga rata dengan tanah sebagai peringatan terhadap negara-negara Yunani lainnya (kecuali Sparta) supaya mereka tidak mencoba menentang Aleksander.[87]

Sepanjang karier militernya, Aleksander memenangkan setiap pertempuran yang ia pimpin secara langsung.[88] Kemenangan pertamanya melawan bangsa Persia di Asia Kecil dalam Pertempuran Granikos pada 334 SM diwujudkan dengan mengirimkan kontingen kavaleri kecil sebagai pengalih perhatian agar pasukan infanterinya dapat menyeberangi sungai, dan lalu disusul oleh serbuan dari kavaleri sahabat "hetairoi".[89] Aleksander memimpin serbuan kavaleri dalam Pertempuran Isos pada 333 SM, sehingga Raja Persia Darius III dan tentaranya terpaksa melarikan diri.[89] Meskipun jumlah pasukannya lebih unggul, Darius III lagi-lagi terpaksa mundur akibat kekalahan dalam Pertempuran Gaugamela pada 331 SM.[89] Sang Raja Persia kemudian ditangkap dan dihukum mati oleh seorang satrap Baktria sekaligus kerabatnya, Besos, pada 330 SM. Aleksander lalu memburu dan menghukum mati Besos di sebuah tempat yang sekarang berada di Afganistan, sesambil menguasai kawasan Sogdia.[90] Dalam Pertempuran Hidaspes pada tahun 326 SM (sekarang di Punjab), gajah-gajah perang Raja Puru dari Paurawa mengancam pasukan Aleksander, alhasil Aleksander memerintahkan pasukannya untuk membentuk barisan terbuka, mengepung gajah-gajah, dan lalu menjatuhkan pengendali gajah dengan menggunakan tembiang sarissa.[91] Ketika pasukan Makedonia mengancam akan melakukan pemberontakan pada 324 SM di Opis, Babilonia (sekarang di dekat Baghdad, Irak), Aleksander malah menawarkan gelar-gelar ketenteraan Makedonia dan tanggung jawab yang lebih besar kepada para perwira Persia, sehingga pasukannya terpaksa memohon pengampunan dalam perjamuan makan yang diadakan untuk merukunkan kembali Persia dan Makedonia.[92]

jmpl|kiri|300px|Mosaik Perburuan Rusa, dari Pela sekitar tahun 300 SM; orang di sebelah kanan diyakini adalah Aleksander Agung dengan gaya rambutnya yang khas yang disebut anastole; orang di sebelah kiri yang memegang kapak bermata dua (dikaitkan dengan Hefaistos) diduga adalah Hefaistion, salah satu sahabat Aleksander yang paling setia. Aleksander mungkin telah melemahkan pemerintahannya sendiri dengan menunjukkan tanda-tanda megalomania.[93] Selain mengeluarkan propaganda yang efektif seperti kisah pemotongan Ikatan Gordia, ia juga berupaya menggambarkan dirinya sebagai seorang dewa hidup dan putra Zeus setelah ia mengunjungi orakel di Siwah, Gurun Libya (sekarang Mesir), pada 331 SM.[94] Pada tahun 327 SM, ia mencoba meminta bawahannya untuk bersujud di hadapannya di Baktra, yang merupakan sebuah tindakan proskinesis yang diserap dari praktik di istana Persia, tetapi upaya ini dicap sebagai penistaan agama oleh bawahan-bawahannya di Makedonia dan Yunani setelah seorang sejarawan istana yang bernama Kalistenes menolak mengikuti ritual tersebut.[93] Ketika Aleksander membunuh Parmenion di Ekbatana (sekarang dekat Hamadan, Iran) pada 330 SM, hal ini menjadi "gejala melebarnya jurang antara kepentingan raja dengan kepentingan negara dan rakyatnya", sebagaimana diamati oleh Errington.[95] Pembunuhan Kleitos yang Hitam pada 328 SM oleh Aleksander juga disebut sebagai tindakan yang "berdendam dan sembrono" oleh Dawn L. Gilley dan Ian Worthington.[96] Selain itu, Aleksander meneruskan kebiasaan poligami ayahnya; ia mendorong pasukannya untuk menikahi perempuan-perempuan di Asia, dan ia memberikan contoh secara langsung dengan menikahi Roxana, seorang putri Baktria yang berasal dari Sogdia.[97] Aleksander kemudian menikahi Stateira II (putri sulung Darius III) dan Parisatis II (putri bungsu Artaxerxes III) dalam upacara pernikahan Susa pada 324 SM.[98]

Sementara itu, di Yunani, Raja Sparta Agis III berupaya memimpin pemberontakan Yunani melawan Makedonia.[99] Ia dikalahkan pada 331 SM dalam Pertempuran Megalopolis oleh Antipatros.[note 7] Sebelum Antipatros berangkat untuk melancarkan kampanye ketenteraan di Peloponesos, gubernur Trakia yang bernama Memnon berhasil dibujuk untuk tidak memberontak dengan menggunakan cara diplomasi.[100] Antipatros menyerahkan urusan hukuman terhadap Sparta kepada Liga Korintos yang dikepalai oleh Aleksander, yang pada akhirnya memutuskan untuk mengampuni Sparta asalkan mereka mengirim lima puluh bangsawan sebagai sandera.[101] Kekuasaan Antipatros tidak terlalu disukai di Yunani akibat tindakannya (mungkin atas perintah dari Aleksander) yang menempatkan pasukan-pasukan Makedonia di kota-kota dan mengasingkan orang-orang yang tidak puas dengan kepemimpinannya, tetapi pada tahun 330 SM, Aleksander mengumandangkan bahawa tirani-tirani yang ada di Yunani akan dihapuskan dan kebebasan Yunani akan dipulihkan.[102]

jmpl|400px|Kerajaan-kerajaan diadokhoi sekitar tahun 301 SM, setelah Pertempuran Ipsos

  •      Kerajaan Ptolemaios I Soter
  • [[Berkas:Diadochi LA.svg|

  •      Kerajaan Kasandros
  •      Kerajaan Lisimakos
  •      Kerajaan Seleukos Nikator
  •      Epiros
  • Lain-lain

  •      Kartago
  •      Republik Roma
  •      Negara-negara Yunani
  • ]] [[Berkas:Coins of Philip III Arrhidaeus. 323-317 BC.jpg|jmpl|Koin stater emas Filipos III Aridaios (Templat:Reign) yang menampilkan gambar Atena (kiri) dan Nike (kanan)]] Setelah Aleksander Agung menjemput ajal di Babilonia pada 323 SM, Olimpias langsung melayangkan tuduhan kepada Antipatros dan faksinya bahawa mereka telah meracuninya, meskipun tak ada bukti yang membenarkan hal ini.[103] Akibat ketiadaan pewaris takhta secara resmi, komando ketenteraan Makedonia pun terpecah: satu pihak menyatakan saudara tiri Aleksander, Filipos III Aridaios (Templat:Reign), sebagai raja, sementara yang lainnya berpihak kepada bayi putra Aleksander dari pernikahannya dengan Roxana, Aleksander IV (Templat:Reign).[104] Sepeninggalan Aleksander, orang-orang Yunani (kecuali Euboia dan Boiotia) juga langsung memberontak melawan Antipatros dan memulai Perang Lamia (323–322 SM).[105] Setelah Antipatros mengalami kekalahan dalam Pertempuran Termopilai pada 323 SM, ia melarikan diri ke Lamia, dan kemudian ia dikepung oleh komandan Atena Leostenes. Antipatros lalu diselamatkan oleh pasukan Makedonia yang dipimpin oleh Leonatos.[106] Antipatros pada akhirnya berhasil memadamkan pemberontakan tersebut. Kematiannya pada 319 SM mengakibatkan kekosongan kekuasaan, sementara dua orang yang dinyatakan sebagai raja menjadi pion dalam perebutan kekuasaan di antara para diadokhoi (bekas jenderal pasukan Aleksander).[107]Peristiwa lain yang terjadi setelah kematian Aleksander adalah pertemuan dewan tentara di Babilonia. Dewan tentara tersebut mengangkat Filipos III sebagai raja dan kiliarkos Perdikas sebagai walinya.[108] Antipatros, Antigonos Monoftalmos, Krateros, dan Ptolemaios membentuk sebuah koalisi melawan Perdikas dalam sebuah perang saudara yang disulut oleh perampasan pengangkut jenazah Aleksander Agung oleh Ptolemaios.[109] Perdikas menyerang Ptolemaios di Mesir untuk menghukumnya, tetapi serangan itu mengalami kegagalan, dan 2.000 pasukannya tewas tenggelam saat sedang bergerak di kawasan Sungai Nil; Perdikas kemudian dibunuh oleh para perwiranya sendiri di tengah kampanye ketenteraan tersebut pada tahun 321 SM.[110] Sementara itu, Eumenes dari Kardia berhasil membunuh Krateros dalam pertempuran, tetapi hal ini tidak terlalu berdampak terhadap jalannya Pembagian Triparadeisos pada tahun 321 SM di Siria, ketika koalisi yang memenangkan perang menyelesaikan permasalahan perwalian raja yang baru dan hak-hak wilayah.[111] Antipatros diangkat sebagai wali atas dua raja. Sebelum Antipatros wafat pada 319 SM, ia mengangkat seorang loyalis Argeadai yang bernama Poliperkones sebagai penerusnya, sehingga melewatkan anak kandung Antipatros, Kasandros, dan menghiraukan hak raja untuk memilih walinya sendiri (karena Filipos III dianggap memiliki kondisi kejiwaan yang tidak stabil), dan juga mengabaikan dewan tentara.[112] Setelah bersekutu dengan Ptolemaios, Antigonos, dan Lisimakos, Kasandros memerintahkan perwiranya Nikanor untuk merebut benteng Munikia di kota pelabuhan Atena, Pireas; tindakan ini melanggar dekret dari Poliperkones yang menyatakan bahawa kota-kota Yunani harus terbebas dari garnisun Makedonia, sehingga meletuslah Perang Diadokhoi Kedua (319–315 SM).[113] Akibat kekalahan-kekalahan Poliperkones, pada tahun 317 SM, Filipos III (dengan keterlibatan istri Filipos III yang aktif secara politik, Euridike II dari Makedonia) secara resmi menjadikan Kasandros sebagai pengganti Poliperkones.[114] Sesudah itu, Poliperkones meminta bantuan dari Olimpias di Epiros.[114] Pasukan gabungan Epiros, Aitolia, dan Poliperkones menyerang Makedonia dan berhasil memaksa pasukan Filipos III dan Euridike untuk menyerah, sehingga Olimpias dapat menghukum mati sang raja dan memaksa sang ratu untuk bunuh diri.[115] Olimpias kemudian memerintahkan agar Nikanor dan puluhan bangsawan Makedonia lainnya dibunuh, tetapi pada musim semi tahun 316 SM, Kasandros berhasil mengalahkan pasukan Olimpias, menangkapnya, dan menyeretnya ke meja hijau atas dakwaan pembunuhan, dan akhirnya Olimpias dijatuhi hukuman mati.[116] Kasandros menikahi putri Filipos II yang bernama Thessalonike dan memperluas kendali Makedonia ke wilayah Iliria hingga mencapai Epidamnos. Pada 313 SM, wilayah tersebut direbut kembali oleh raja Iliria Glaukias dari Taulanti.[117] Pada 316 SM, Antigonos merebut wilayah Eumenes dan memutuskan untuk mengusir Seleukos Nikator dari wilayah Seleukos di Babilonia, sehingga Kasandros, Ptolemaios, dan Lisimakos melayangkan ultimatum terhadap Antigonos pada tahun 315 SM yang menuntut agar ia menyerahkan berbagai wilayah di Asia.[118] Antigonos langsung bersekutu dengan Poliperkones yang berbasis di Korintos, dan Antigonos lalu juga mengeluarkan sebuah ultimatum kepada Kasandros yang menuduhnya sebagai pembunuh Olimpias dan menuntut agar ia menyerahkan keluarga kerajaan, iaitu Raja Aleksander IV dan ibu suri Roxana.[119] Konflik tersebut berlangsung hingga musim dingin tahun 312/311 SM, dan kemudian perjanjian perdamaian yang baru mengakui Kasandros sebagai jenderal Eropa, Antigonos sebagai "yang pertama di Asia", Ptolemaios sebagai jenderal Mesir, dan Lisimakos sebagai jenderal Trakia.[120] Kasandros lalu memerintahkan agar Aleksander IV dan Roxana dihukum mati pada musim dingin tahun 311/310 SM. Kemudian, pada tahun 306–305 SM, para diadokhoi dinyatakan sebagai raja di wilayah mereka masing-masing.[121]

    Zaman Keyunanian[sunting | sunting sumber]

    Patung-patung dada Piros dari Epiros (kiri atas), Demetrios I dari Makedonia (kanan atas), Seleukos I Nikator (kiri bawah), dan Lisimakos (kanan bawah), tiruan buatan Romawi yang berasal dari Villa dei Papiri di Herkulaneum, Museum Arkeologi Nasional Napoli

    Era Yunani Helenistik ditandai dengan percekcokan antara Dinasti Antipatridai yang dipimpin oleh Kasandros (Templat:Reign) melawan Dinasti Antigonidai pimpinan jenderal Makedonia Antigonos I Monofthalmos (Templat:Reign) dan putranya yang kelak akan menjadi raja Demetrios I (Templat:Reign). Kasandros mengepung Atena pada 303 SM, tetapi terpaksa mundur ke Makedonia ketika Demetrios menyerbu Boiotia untuk memutus jalur mundur pasukan Kasandros.[122] Walaupun Antigonos dan Demetrios berupaya membentuk kembali Liga Helenik seperti pada masa Filipos II dengan mereka berdua sebagai hegemon, sebuah koalisi tandingan didirikan oleh Kasandros, Ptolemaios I Soter (Templat:Reign) dari Dinasti Ptolemaik Mesir, Seleukos I Nikator (Templat:Reign) dari Kekaisaran Seleukia, dan Raja Trakia Lisimakos (Templat:Reign); koalisi ini berhasil mengalahkan pasukan Antigonidai dalam Pertempuran Ipsos pada 301 SM, yang menewaskan Antigonos dan memaksa Demetrios untuk melarikan diri.[123]

    Kasandros wafat pada tahun 297 SM, dan putranya Filipos IV yang sakit juga tutup usia pada tahun yang sama; Filipos IV lalu digantikan oleh dua anak laki-laki Kasandros yang lain, iaitu Aleksander V dari Makedonia (Templat:Reign) dan Antipatros II dari Makedonia (Templat:Reign), sementara ibu mereka Thessalonike dari Makedonia bertindak sebagai wali raja.[124] Ketika Demetrios sedang bertempur melawan pasukan Antipatridai di Yunani, Antipatros II membunuh ibunya sendiri untuk memperoleh kekuasaan.[124] Aleksander V yang merasa tersudut lalu meminta bantuan dari Piros dari Epiros (Templat:Reign),[124] yang pernah bertempur bersama dengan Demetrios dalam Pertempuran Ipsos, tetapi Piros kemudian dikirim sebagai sandera ke Mesir sebagai bagian dari perjanjian antara Demetrios dan Ptolemaios I.[125] Sebagai balasan karena telah mengalahkan pasukan Antipatros II dan membuat Antipatros II melarikan diri ke istana Lisimakos di Trakia, Piros dianugerahi wilayah paling barat kerajaan Makedonia.[126] Demetrios lalu memerintahkan pembunuhan keponakannya, Aleksander V, dan kemudian dinyatakan sebagai raja Makedonia, tetapi bawahan-bawahannya menentang gaya kepemimpinan otokrasinya.[124]

    Perang pecah antara Piros dan Demetrios pada tahun 290 SM setelah Lanasa (istri Piros dan putri Agatokles dari Sirakousai) mencampakkan Piros, mendekati Demetrios, dan menawarkan kepada Demetrios pulau Korkira yang sebelumnya diperolehnya sebagai mas kawin.[127] Perang berlangsung sampai tahun 288 SM, ketika Demetrius tidak lagi didukung oleh rakyat Makedonia dan melarikan diri dari negara tersebut. Makedonia kemudian terbagi antara Piros dan Lisimakos; Piros menguasai Makedonia barat, sementara Lisimakos mengendalikan Makedonia timur.[127] Pada tahun 286 SM, Lisimakos mengusir Piros dan pasukannya dari Makedonia.[note 8] Pada 282 SM, perang meletus antara Seleukos I melawan Lisimakos; Lisimakos tewas dalam Pertempuran Kurupedion, sehingga Seleukos I dapat mengambil alih wilayah Trakia dan Makedonia.[128] Namun, Seleukos I dibunuh pada tahun 281 SM oleh salah seorang perwiranya yang bernama Ptolemaios Keraunos, putra Ptolemaios I dan cucu Antipatros. Ptolemaios Keraunos kemudian dinyatakan sebagai raja Makedonia, tetapi ia gugur dalam pertempuran melawan para penyerang Kelt pada tahun 279 SM selama invasi Galia ke Yunani.[129] Tentara Makedonia menyatakan jenderal Sostenes dari Makedonia sebagai raja, meskipun ia tampaknya menolak gelar tersebut.[130] Setelah mengalahkan pasukan seorang penguasa Galia yang bernama Bolgios dan memukul mundur pasukan yang dipimpin oleh Brenos, Sostenes wafat dan meninggalkan Makedonia dalam keadaan yang kacau.[131] Pasukan Galia kembali meluluhlantakkan Makedonia sampai Antigonos Gonatas (putra Demetrios) mengalahkan mereka di Trakia pada tahun 277 SM dalam Pertempuran Lismakeia dan kemudian dinyatakan sebagai raja Antigonos II dari Makedonia (Templat:Reign).[132]

    Pada 280 SM, Piros melancarkan kampanye ketenteraan di Magna Gresia (Italia selatan) melawan Republik Romawi, dan konflik ini dikenal dengan sebutan Perang Piros, dan kemudian ia juga melancarkan serangan ke Sisilia yang berada di bawah kendali Kartago pada masa itu.[133] Ptolemaios Keraunos sendiri mengamankan jabatannya di Makedonia dengan memberikan lima ribu prajurit dan dua puluh gajah perang kepada Piros.[125] Setelah mengalami kegagalan, Piros kembali ke Epiros pada 275 SM, dan kemenangan Romawi dalam konflik tersebut telah memperkuat negara ini, karena kota-kota Yunani di Italia selatan (seperti Tarentum) telah menjadi sekutu Romawi.[133] Piros lalu menyerang Makedonia pada tahun 274 SM dan berhasil mengalahkan tentara Antigonos II yang sebagian besar terdiri dari tentara bayaran dalam Pertempuran Aous pada tahun 274 SM. Piros juga berhasil mengusirnya dari Makedonia, sehingga Antigonos II terpaksa mengungsi bersama dengan armadanya.[134]

    jmpl|Lukisan Makedonia Kuno yang menggambarkan persenjataan ketenteraan zaman Helenistik di sebuah makam di Mieza kuno (sekarang Lefkadia), Imatia, Makedonia Tengah, Yunani, abad ke-2 SM Piros kehilangan dukungan dari banyak orang di Makedonia pada tahun 273 SM setelah tentara bayarannya yang berasal dari Galia menjarah pemakaman kerajaan di Aigai.[135] Piros mengejar Antigonos II di Peloponesos, tetapi Antigonos II pada akhirnya berhasil menaklukkan kembali Makedonia.[136] Piros tewas saat mengepung Argos pada 272 SM, alhasil Antigonos II dapat mengklaim kembali wilayah Yunani lainnya.[137] Ia kemudian merestorasi pemakaman Dinasti Argeadai di Aigai dan mencaplok wilayah Kerajaan Paionia.[138]

    Liga Aitolia menghambat ambisi Antigonos II di Yunani tengah. Pembentukan Liga Akaya pada 251 SM juga mengakibatkan terusirnya pasukan Makedonia dari sebagian besar wilayah Peloponesos, dan pada masa-masa tertentu liga ini turut menguasai Atena dan Sparta.[139] Meskipun Kekaisaran Seleukia bersekutu dengan Dinasti Antigonidai di Makedonia dalam upaya melawan Mesir Ptolemaik pada masa Perang Siria, angkatan laut Ptolemaik sangat mengganggu upaya Antigonos II untuk mengendalikan daratan utama Yunani.[140] Dengan bantuan dari angkatan laut Ptolemaik, negarawan Atena Kremonides melancarkan sebuah pemberontakan melawan Makedonia yang dikenal sebagai Perang Kremonides (267–261 SM).[141] Pada 265 SM, Atena dikepung oleh pasukan Antigonos II, dan armada Ptolemaik dikalahkan dalam Pertempuran Kos. Atena akhirnya menyerah pada 261 SM.[142] Setelah Makedonia membentuk sebuah persekutuan dengan penguasa Seleukia Antiokos II, sebuah kesepakatan damai antara Antigonos II dan Ptolemaios II Filadelfos dari Mesir akhirnya tercapai pada 255 SM.[143]

    jmpl|kiri|Kuil Apolo di Korintos, yang dibangun sekitar tahun 540 SM, dengan Akrokorintos (diyakini akropolis Korintos yang sempat diduduki oleh garnisun Makedonia)[144][143][146] dapat terlihat di latar belakang Pada 251 SM, Aratos dari Sikion melancarkan sebuah pemberontakan melawan Antigonos II, dan pada 250 SM, Ptolemaios II menyatakan dukungannya kepada Aleksander dari Korintos yang telah menyatakan dirinya sebagai raja.[145] Walaupun Aleksander wafat pada 246 SM dan Antigonos berhasil memenangkan pertempuran laut melawan Ptolemaios di Andros, Akrokorintos direbut oleh pasukan Aratos pada 243 SM, dan kemudian Korintos tergabung ke dalam Liga Akaya.[146] Antigonos II berdamai dengan Liga Akaya pada 240 SM dan harus merelakan wilayah yang telah lepas di Yunani.[147] Antigonos II meninggal dunia pada 239 SM dan digantikan oleh putranya, Demetrios II dari Makedonia (Templat:Reign). Dalam upaya untuk membentuk persekutuan dengan Makedonia untuk mempertahankan diri dari serangan Aitolia, ibu suri dan wali raja Epiros, Olimpias II, menawarkan putrinya Ftia dari Makedonia untuk dinikahkan dengan Demetrios II. Demetrios II menerima usulannya, tetapi hubungannya dengan Seleukia rusak akibat perceraiannya dengan Stratonike dari Makedonia.[148] Walaupun pernikahan ini membuat Aitolia bersekutu dengan Liga Akaya, Demetrios II menyerang Boiotia dan berhasil merebutnya dari Aitolia pada 236 SM.[144]

    Liga Akaya berhasil menaklukkan Megalopolis pada 235 SM, dan pada akhir masa pemerintahan Demetrios II, sebagian besar wilayah Peloponesos (kecuali Argos) telah direbut dari Makedonia.[149] Persekutuan Demetrios II dengan Epiros juga bubar setelah sistem monarki dilengserkan oleh sebuah revolusi republikan.[150] Demetrios II meminta bantuan kepada raja Iliria Agron dalam upaya untuk mempertahankan Akarnania dari Aitolia, dan pada 229 SM, mereka berhasil mengalahkan gabungan angkatan laut Aitolia dan Liga Akaya dalam Pertempuran Paxos.[150] Seorang penguasa Iliria yang lain, iaitu Longaros dari Kerajaan Dardania, menyerang Makedonia dan mengalahkan pasukan Demetrios II tak lama sebelum Demetrios tutup usia pada tahun 229 SM.[151] Meskipun putranya yang masih muda (Filipos) mewarisi takhta Makedonia, wali rajanya yang bernama Antigonos III Doson (keponakan Antigonos II, Templat:Reign) dinyatakan sebagai raja oleh tentaranya, dengan Filipos sebagai pewarisnya, setelah Makedonia berhasil memenangkan sejumlah pertempuran melawan pasukan Iliria di utara dan pasukan Aitolia di Tesalia.[152]

    [[Berkas:Tetradrachm, 229-221, Antigonos Doson.jpg|jmpl|Sebuah koin tetradrakhma yang dibuat pada masa pemerintahan Antigonos III Doson (Templat:Reign), kemungkinan di Amfipolis, yang menampilkan gambar Poseidon di bagian depan dan sebuah adegan yang menggambarkan Apolo yang sedang duduk di kapal di bagian belakang]] Aratos mengirim utusan ke istana Antigonos III pada 226 SM untuk mengajak bersekutu, karena raja Kleomenes III dari Sparta telah menjadi ancaman bagi wilayah-wilayah Yunani lainnya selama Perang Kleomenes (229–222 SM).[153] Antigonos III bersedia membantu Aratos, tetapi sebagai gantinya ia menuntut pengembalian wilayah Korintos kepada Makedonia, dan Aratos akhirnya bersedia pada tahun 225 SM.[154] Pada 224 SM, pasukan Antigonos III merebut Arkadia dari Sparta. Setelah membentuk sebuah liga Helenistik yang serupa dengan Liga Korintos pada masa Filipos II, Antigonos III berhasil mengalahkan Sparta dalam Pertempuran Selasia pada 222 SM.[155] Sparta lalu diduduki oleh negara asing untuk pertama kalinya dalam sejarah, dan Makedonia pun kembali menjadi negara terkuat di Yunani.[156] Antigonos wafat setahun kemudian, kemungkinan akibat tuberkulosis, dan ia mewariskan sebuah kerajaan Helenistik yang kuat kepada penerusnya, Filipos V.[157]

    Kekuasaan Filipos V dari Makedonia (Templat:Reign) menghadapi ancaman dari Liga Aitolia dan suku Dardani dari Iliria[158] Filipos V dan sekutu-sekutunya berhasil mengalahkan pasukan Aitolia dan sekutunya dalam Perang Sosial (220–217 SM), tetapi ia memutuskan untuk berdamai dengan Aitolia setelah mendengar kabar mengenai serangan suku Dardani di utara dan kemenangan Kartago atas Romawi dalam Pertempuran Danau Trasimene pada 217 SM.[159] Demetrios dari Faros diduga adalah orang yang telah meyakinkan Filipos V untuk mengamankan wilayah Iliria terlebih dahulu sebelum menyerang semenanjung Italia.[note 9] Pada 216 SM, Filipos V mengirim seratus kapal-kapal perang ringan ke Laut Adriatik untuk menyerang Iliria, sebuah tindakan yang membuat Skerdilaidas dari Kerajaan Ardiaea memohon bantuan kepada Romawi.[160] Romawi menanggapinya dengan mengirim sepuluh kapal kuinkuireme berat dari Sisilia Romawi untuk menjaga wilayah pesisir Iliria, sehingga Filipos V memerintahkan agar armadanya menarik diri untuk menghindari konflik secara terbuka.[161]

    Konflik dengan Roma[sunting | sunting sumber]

    Rencana utama: Perang Makedonia

    [[Berkas:Macedonia and the Aegean World c.200.png|jmpl|400px|Kerajaan Makedonia (warna jingga) di bawah kepemimpinan Filipos V (Templat:Reign), serta negara-negara yang bergantung kepada Makedonia (kuning tua), Kekaisaran Seleukia (kuning cerah), protektorat-protektorat Romawi (hijau tua), Kerajaan Pergamon (hijau muda), negara-negara merdeka (ungu muda), dan wilayah kekuasaan Kekaisaran Ptolemaik (ungu tua)]] Pada tahun 215 SM, di tengah berkecamuknya Perang Punisia Kedua, aparat Romawi mencegat sebuah kapal di kawasan lepas pantai Calabria. Kapal tersebut mengangkut seorang utusan Makedonia dan duta besar Kartago yang membawa sebuah perjanjian yang disusun oleh Hanibal Barka; perjanjian tersebut mengumandangkan persekutuan antara Kartago dengan Filipos V.[162] Perjanjian ini juga menyatakan bahawa Kartago berhak menentukan ketentuan-ketentuan menyerahnya Romawi apabila mereka berhasil memenangkan perang, dan Kartago juga menjanjikan bantuan apabila Romawi mencoba menuntut balas terhadap Makedonia atau Kartago.[163] Meskipun Makedonia mungkin hanya ingin mengamankan wilayah yang baru mereka taklukan di Iliria,[164] Romawi berhasil menggagalkan ambisi Filipos V di kawasan Adriatik selama Perang Makedonia Pertama (214–205 SM). Pada 214 SM, Romawi menempatkan armadanya di Orikos, dan Makedonia kemudian menyerang armada tersebut sekaligus kota Apolonia di Iliria.[165] Setelah Makedonia menaklukkan Lisos pada 212 SM, Senat Romawi membalasnya dengan menghasut Liga Aitolia, Sparta, Elis, Mesinia, dan Atalos I (Templat:Reign) dari Pergamon untuk mengobarkan perang melawan Filipos V, alhasil pasukan Makedonia disibukkan di Yunani dan dapat dijauhkan dari wilayah Italia.[166]

    Liga Aitolia menyetujui sebuah perjanjian perdamaian dengan Filipos V pada 206 SM, dan Republik Romawi juga menyepakati Perjanjian Foinike dengan Makedonia pada 205 SM, sehingga perang berakhir dan Makedonia diperbolehkan mempertahankan beberapa permukiman yang telah direbut di Iliria.[167] Meskipun Romawi menolak permintaan Aitolia pada 202 SM agar Romawi kembali mengobarkan perang melawan Makedonia, Senat Romawi sangat mempertimbangkan tawaran serupa yang diajukan oleh Pergamon dan sekutunya, Rodos, pada 201 SM.[168] Negara-negara ini merasa khawatir dengan persekutuan antara Filipos V dan Antiokos III Agung dari Kekaisaran Seleukia; Seleukia sendiri telah menyerang Dinasti Ptolemaik yang sudah dilelahkan oleh perang dan juga kehabisan dana selama Perang Siria Kelima (202–195 SM), sementara Filipos V merebut permukiman-permukiman Ptolemaik di kawasan Laut Aegea.[169] Walaupun para utusan Romawi berperan penting dalam meyakinkan Atena untuk bergabung dengan persekutuan anti-Makedonia bersama dengan Pergamon dan Rodos pada 200 SM, comitia centuriata (majelis rakyat) menolak usulan Senat Romawi untuk menyatakan perang terhadap Makedonia.[170] Sementara itu, Filipos V menaklukkan wilayah-wilayah di Helespontos dan Bosporos serta Samos Ptolemaik, sehingga Rodos membentuk sebuah persekutuan dengan Pergamon, Bizantion, Kizikos, dan Kios.[171] Meskipun Filipos V didukung oleh Seleukia, armada Makedonia mengalami kekalahan dalam Pertempuran Kios pada 201 SM.[172]

    [[Berkas:Philip V. 221-179 BCE.jpg|jmpl|300px|kiri|Koin tetradrakhma Filipos V dari Makedonia (Templat:Reign), dengan gambar raja di bagian depan dan Atena Alkidemos mengayunkan cambuk petir di bagian belakang]] Saat Filipos V sedang disibukkan dengan perang melawan sekutu-sekutu Romawi di Yunani, Romawi mencoba memanfaatkan kesempatan ini untuk menghukum Makedonia karena mereka telah membantu Hanibal sekaligus untuk memperoleh kemenangan yang gemilang tanpa perlu mengeluarkan banyak sumber daya.[note 10] Senat Romawi menuntut agar Filipos V berhenti bertikai dengan negara-negara Yunani dan menyelesaikan perselisihan dengan membawa perkara ke komite arbitrasi internasional.[173] Setelah comitia centuriata menyetujui pernyataan perang terhadap Makedonia pada tahun 200 SM dan menyerahkan ultimatum kepada Filipos V yang menuntut agar kerugian yang dialami oleh Rodos dan Pergamon ditinjau oleh pengadilan, raja Makedonia menolak mentah-mentah ancaman tersebut. Maka dimulailah Perang Makedonia Kedua (200–197 SM), dan Publius Sulpisius Galba Maksimus kemudian memimpin operasi-operasi ketenteraan di Apolonia.[174]

    jmpl|lurus|Patung dada perunggu Eumenes II dari Pergamon, tiruan buatan Romawi, dari Villa dei Papiri di Herkulaneum Pasukan Makedonia berhasil mempertahankan wilayah mereka sepanjang hampir dua tahun,[175] namun konsul Romawi Titus Quinctius Flamininus berhasil mengusir Filipos V dari Makedonia pada 198 SM, sehingga pasukan Filipos V terpaksa mengungsi ke Tesalia.[176] Ketika Liga Akaya membelot dan mulai mendukung Romawi, raja Makedonia meminta berdamai, tetapi ketentuan-ketentuan yang ditawarkan oleh lawan dianggap terlalu berat, dan sehingga perang berlanjut.[176] Pada Juni 197 SM, pasukan Makedonia dikalahkan dalam Pertempuran Kinoskefalon.[177] Romawi kemudian meratifikasi sebuah perjanjian yang memaksa Makedonia untuk melepaskan sebagian besar wilayah-wilayahnya di Yunani yang berada di luar wilayah utama Makedonia, dan mungkin Romawi membiarkan Makedonia tetap berdiri hanya sebagai wilayah pembatas dari serangan suku-suku Iliria dan Trakia.[178] Meskipun beberapa orang Yunani curiga bahawa Romawi ingin menggantikan Makedonia sebagai kekuatan yang dominan di Yunani, Flaminius mengumumkan saat Pesta Olahraga Istmia pada tahun 196 SM bahawa Roma berniat untuk tetap mempertahankan kemerdekaan Yunani dengan tidak menempatkan garnisun dan juga dengan tidak memungut upeti.[179] Pemenuhan janjinya sempat tertunda oleh proses perundingan dengan raja Sparta Nabis yang telah menaklukkan Argos, tetapi pada akhirnya pasukan Romawi mundur dari Yunani pada tahun 194 SM.[180]

    Raja Seleukia Antiokos III merasa terdorong dengan seruan Liga Aitolia untuk membebaskan Yunani dari Romawi, sehingga ia dan pasukannya mendarat di Demetrias, Tesalia, pada 192 SM, dan dipilih menjadi strategos oleh Aitolia.[181] Makedonia, Liga Akaya, dan negara-negara kota Yunani lainnya masih tetap mempertahankan persekutuan mereka dengan Romawi.[182] Pasukan Romawi berhasil mengalahkan pasukan Seleukia pada 191 SM dalam Pertempuran Termopilai serta Pertempuran Magnesia pada 190 SM, alhasil Seleukia terpaksa menandatangani Traktat Apamea pada 188 SM yang mewajibkan mereka untuk membayarkan pampasan perang, membubarkan sebagian besar angkatan lautnya, dan menarik balik tuntutannya atas wilayah-wilayah di sebelah utara atau barat Pegunungan Tauros.[183] Dengan persetujuan dari Romawi, pada 191–189 SM, Filipos V merebut beberapa kota di Yunani tengah yang pernah bersekutu dengan Antiokos III, sementara Rodos dan Eumenes II (Templat:Reign) dari Pergamon memperoleh wilayah di Asia Kecil.[184]

    Setelah gagal memuaskan semua pihak yang terlibat dalam berbagai persengketaan wilayah, Senat Romawi memutuskan pada 184/183 SM untuk memaksa Filipos V meninggalkan Ainos dan Maronea, karena wilayah tersebut telah dinyatakan sebagai kota merdeka dalam Perjanjian Apamea.[note 11] Tindakan ini meredakan ketakutan Eumenes II akan ancaman Makedonia terhadap wilayah Eumenes II di Helespontos.[185] Sementara itu, Filipos V mangkat pada tahun 179 SM dan digantikan oleh Perseus dari Makedonia (Templat:Reign). Perseus kemudian menghukum mati adiknya sendiri, Demetrios, yang disukai oleh Romawi namun didakwa melakukan pengkhianatan oleh Perseus.[186] Perseus lalu berupaya membentuk persekutuan dengan Prusias II dari Kerajaan Bitinia dan Seleukos IV Philopator dari Seleukia dengan mengusulkan pernikahan, dan ia juga memperbaharui hubungan dengan Rodos, tetapi tindakan ini membuat khawatir Eumenes II.[187] Eumenes II mencoba merusak hubungan-hubungan ini, tetapi Perseus berhasil bersekutu dengan Liga Boiotia, memperluas kekuasaannya di Iliria dan Trakia, dan pada 174 SM juga dipilih sebagai anggota Dewan Amfiktonia yang mengurus Kuil Apolo di Delfi.[188]

    Eumenes II tiba di Roma pada 172 SM dan menyampaikan sebuah pidato di hadapan Senat yang mengecam kejahatan dan pelanggaran yang konon telah dilakukan oleh Perseus.[189] Akibatnya, Senat Romawi mengumandangkan Perang Makedonia Ketiga (171–168 SM).[note 12] Meskipun pasukan Perseus berhasil memperoleh kemenangan melawan pasukan Romawi dalam Pertempuran Kalinikos pada 171 SM, Makedonia mengalami kekalahan dalam Pertempuran Pidna pada Juni 168 SM.[190] Perseus melarikan diri ke Samotrakia, tetapi ia menyerahkan diri tak lama setelahnya; ia lalu dibawa ke Roma untuk mengikuti pawai kemenangan Lusius Emilius Paulus Makedonikus, dan kemudian dijadikan tahanan rumah di Alba Fucens hingga ia tutup usia pada 166 SM.[191] Romawi membubarkan monarki Makedonia dan menggantikannya dengan empat republik yang terpisah, masing-masing beribukota di Amfipolis, Tesalonika, Pela, dan Pelagonia.[192] Romawi memberlakukan hukum-hukum yang menghalangi interaksi ekonomi dan sosial di antara penduduk-penduduk republik-republik tersebut, termasuk larangan pernikahan di antara mereka dan larangan (sementara) terhadap penambangan emas dan perak.[192] Kemudian, seseorang yang bernama Andriskos mengklaim dirinya sebagai keturunan Antigonidai, memberontak melawan Romawi, dan diangkat menjadi raja Makedonia. Ia berhasil mengalahkan pasukan praetor Romawi yang dipimpin oleh Publius Yuvensius Talna,[193] tetapi ia dikalahkan oleh Kuintus Sesilius Metelus Makedonus dalam Pertempuran Pidna Kedua pada 148 SM.[194] Kemudian Romawi juga berhasil menghancurkan kota Kartago pada tahun 146 SM dan mengalahkan Liga Akaya dalam Pertempuran Korintos pada tahun yang sama, sehingga dimulailah zaman kekuasaan Romawi di Yunani dan didirikanlah provinsi Makedonia Romawi secara bertahap.[195]

    Rujukan[sunting | sunting sumber]

    1. ^ King 2010, halaman 376; Sprawski 2010, halaman 127; Errington 1990, halaman 2–3.
    2. ^ Badian 1982, halaman 34; Sprawski 2010, halaman 142.
    3. ^ Ralat petik: Tag <ref> tidak sah; teks bagi rujukan king 2010 376 tidak disediakan
    4. ^ King 2010, halaman 376; Errington 1990, halaman 3, 251.
    5. ^ Errington 1990, halaman 2.
    6. ^ Thomas 2010, halaman 67–68, 74–78.
    7. ^ Lewis & Boardman 1994, halaman 723–724, lihat pula Hatzopoulos 1996, halaman 105–108 untuk melihat informasi mengenai bagaimana orang Makedonia mengusir para penduduk asli seperti orang-orang Frigia.
    8. ^ Anson 2010, halaman 5–6.
    9. ^ Olbrycht 2010, halaman 344; Sprawski 2010, halaman 135–137; Errington 1990, halaman 9–10.
    10. ^ Olbrycht 2010, halaman 343–344; Sprawski 2010, halaman 137; Errington 1990, halaman 10.
    11. ^ King 2010, halaman 376; Olbrycht 2010, halaman 344–345; Sprawski 2010, halaman 138–139.
    12. ^ Sprawski 2010, halaman 139–140.
    13. ^ Olbrycht 2010, halaman 345; Sprawski 2010, halaman 139–141; lihat pula Errington 1990, halaman 11–12 untuk penjelasan lebih lanjut.
    14. ^ Sprawski 2010, halaman 141–143; Errington 1990, halaman 9, 11–12.
    15. ^ Roisman 2010, halaman 145–147.
    16. ^ Roisman 2010, halaman 146–147; Müller 2010, halaman 171; Cawkwell 1978, halaman 72; lihat pula Errington 1990, halaman 13–14 untuk penjelasan lebih lanjut.
    17. ^ a b c Roisman 2010, halaman 146–147.
    18. ^ Roisman 2010, halaman 146–147; lihat pula Errington 1990, halaman 18 untuk penjelasan lebih lanjut.
    19. ^ Roisman 2010, halaman 147–148; Errington 1990, halaman 19–20.
    20. ^ Roisman 2010, halaman 149.
    21. ^ Roisman 2010, halaman 149–150; Errington 1990, halaman 20.
    22. ^ Roisman 2010, halaman 150; Errington 1990, halaman 20.
    23. ^ Roisman 2010, halaman 150–151; Errington 1990, halaman 21–22.
    24. ^ Roisman 2010, halaman 151–152; Errington 1990, halaman 21–22.
    25. ^ Roisman 2010, halaman 152; Errington 1990, halaman 22.
    26. ^ Roisman 2010, halaman 152–153; Errington 1990, halaman 22–23.
    27. ^ Roisman 2010, halaman 153; Errington 1990, halaman 22–23.
    28. ^ Roisman 2010, halaman 153–154; lihat pula Errington 1990, halaman 23 untuk penjelasan lebih lanjut.
    29. ^ Roisman 2010, halaman 154; lihat pula Errington 1990, halaman 23 untuk penjelasan lebih lanjut.
    30. ^ Roisman 2010, halaman 154; Errington 1990, halaman 23–24.
    31. ^ Roisman 2010, halaman 154–155; Errington 1990, halaman 24.
    32. ^ Roisman 2010, halaman 155–156.
    33. ^ Roisman 2010, halaman 156; Errington 1990, halaman 26.
    34. ^ Roisman 2010, halaman 156–157.
    35. ^ Roisman 2010, halaman 156–157; Errington 1990, halaman 26.
    36. ^ Roisman 2010, halaman 157–158; Errington 1990, halaman 28–29.
    37. ^ Roisman 2010, halaman 158; Errington 1990, halaman 28–29.
    38. ^ Roisman 2010, halaman 159; lihat pula Errington 1990, halaman 30 untuk penjelasan lebih lanjut.
    39. ^ Roisman 2010, halaman 159–160; Errington 1990, halaman 32–33.
    40. ^ Roisman 2010, halaman 161; Errington 1990, halaman 34–35.
    41. ^ Roisman 2010, halaman 161–162; Errington 1990, halaman 35–36.
    42. ^ Roisman 2010, halaman 162–163; Errington 1990, halaman 36.
    43. ^ Roisman 2010, halaman 162–163.
    44. ^ Roisman 2010, halaman 163–164; Errington 1990, halaman 37.
    45. ^ Müller 2010, halaman 166–167; Buckley 1996, halaman 467–472.
    46. ^ Müller 2010, halaman 167–168; Buckley 1996, halaman 467–472.
    47. ^ Müller 2010, halaman 167–168; Buckley 1996, halaman 467–472; Errington 1990, halaman 38.
    48. ^ Müller 2010, halaman 167.
    49. ^ Müller 2010, halaman 168.
    50. ^ Müller 2010, halaman 168–169.
    51. ^ Müller 2010, halaman 169.
    52. ^ Müller 2010, halaman 170; Buckler 1989, halaman 62.
    53. ^ Müller 2010, halaman 170–171; Gilley & Worthington 2010, halaman 187.
    54. ^ Müller 2010, halaman 167, 169; Roisman 2010, halaman 161.
    55. ^ Müller 2010, halaman 169, 173–174; Cawkwell 1978, halaman 84; Errington 1990, halaman 38–39.
    56. ^ Müller 2010, halaman 171; Buckley 1996, halaman 470–472; Cawkwell 1978, halaman 74–75.
    57. ^ Müller 2010, halaman 172; Hornblower 2002, halaman 272; Cawkwell 1978, halaman 42; Buckley 1996, halaman 470–472.
    58. ^ Müller 2010, halaman 171–172; Buckler 1989, halaman 8, 20–22, 26–29.
    59. ^ Müller 2010, halaman 173; Cawkwell 1978, halaman 62, 66–68; Buckler 1989, halaman 74–75, 78–80; Worthington 2008, halaman 61–63.
    60. ^ Müller 2010, halaman 173; Cawkwell 1978, halaman 44; Schwahn 1931, col. 1193–1194.
    61. ^ Cawkwell 1978, halaman 86.
    62. ^ Müller 2010, halaman 173–174; Cawkwell 1978, halaman 85–86; Buckley 1996, halaman 474–475.
    63. ^ Müller 2010, halaman 173–174; Worthington 2008, halaman 75–78; Cawkwell 1978, halaman 96–98.
    64. ^ Müller 2010, halaman 174; Cawkwell 1978, halaman 98–101.
    65. ^ Müller 2010, halaman 174–175; Cawkwell 1978, halaman 95, 104, 107–108; Hornblower 2002, halaman 275–277; Buckley 1996, halaman 478–479.
    66. ^ Müller 2010, halaman 175.
    67. ^ Errington 1990, halaman 227.
    68. ^ Müller 2010, halaman 175–176; Cawkwell 1978, halaman 114–117; Hornblower 2002, halaman 277; Buckley 1996, halaman 482; Errington 1990, halaman 44.
    69. ^ Mollov & Georgiev 2015, halaman 76.
    70. ^ Müller 2010, halaman 176; Cawkwell 1978, halaman 136–142; Errington 1990, halaman 82–83.
    71. ^ Müller 2010, halaman 176–177; Cawkwell 1978, halaman 143–148.
    72. ^ Müller 2010, halaman 177; Cawkwell 1978, halaman 167–168.
    73. ^ Müller 2010, halaman 177–179; Cawkwell 1978, halaman 167–171; lihat pula Hammond & Walbank 2001, halaman 16 untuk penjelasan selengkapnya.
    74. ^ Olbrycht 2010, halaman 348, 351
    75. ^ Olbrycht 2010, halaman 347–349
    76. ^ Olbrycht 2010, halaman 351
    77. ^ a b Müller 2010, halaman 179–180; Cawkwell 1978, halaman 170.
    78. ^ Müller 2010, halaman 180–181; lihat pula Hammond & Walbank 2001, halaman 14 untuk penjelasan selengkapnya.
    79. ^ Müller 2010, halaman 181–182; Errington 1990, halaman 44; Gilley & Worthington 2010, halaman 186; lihat Hammond & Walbank 2001, halaman 3–5 untuk penjelasan soal penangkapan dan pengadilan tersangka lainnya dalam persekongkolan pembunuhan Filipos II dari Makedonia.
    80. ^ Gilley & Worthington 2010, halaman 190; Müller 2010, halaman 183; Renault 2001, halaman 61–62; Fox 1980, halaman 72; lihat pula Hammond & Walbank 2001, halaman 3–5 untuk penjelasan selengkapnya.
    81. ^ Gilley & Worthington 2010, halaman 186.
    82. ^ Gilley & Worthington 2010, halaman 190.
    83. ^ Gilley & Worthington 2010, halaman 190–191; see also Hammond & Walbank 2001, halaman 15–16 for further details.
    84. ^ Gilley & Worthington 2010, halaman 191; Hammond & Walbank 2001, halaman 34–38.
    85. ^ Gilley & Worthington 2010, halaman 191; Hammond & Walbank 2001, halaman 40–47.
    86. ^ Gilley & Worthington 2010, halaman 191; lihat pula Errington 1990, halaman 91 dan Hammond & Walbank 2001, halaman 47 untuk penjelasan selengkapnya.
    87. ^ Gilley & Worthington 2010, halaman 191–192; lihat pula Errington 1990, halaman 91–92 untuk penjelasan selengkapnya.
    88. ^ Gilley & Worthington 2010, halaman 192–193.
    89. ^ a b c Gilley & Worthington 2010, halaman 193.
    90. ^ Gilley & Worthington 2010, halaman 193–194; Holt 2012, halaman 27–41.
    91. ^ Gilley & Worthington 2010, halaman 193–194.
    92. ^ Gilley & Worthington 2010, halaman 194; Errington 1990, halaman 113.
    93. ^ a b Gilley & Worthington 2010, halaman 195.
    94. ^ Gilley & Worthington 2010, halaman 194–195.
    95. ^ Errington 1990, halaman 105–106.
    96. ^ Gilley & Worthington 2010, halaman 198.
    97. ^ Holt 1989, halaman 67–68.
    98. ^ Gilley & Worthington 2010, halaman 196.
    99. ^ Gilley & Worthington 2010, halaman 199; Errington 1990, halaman 93.
    100. ^ Gilley & Worthington 2010, halaman 200–201; Errington 1990, halaman 58.
    101. ^ Gilley & Worthington 2010, halaman 201.
    102. ^ Gilley & Worthington 2010, halaman 201–203.
    103. ^ Gilley & Worthington 2010, halaman 204; lihat pula Errington 1990, halaman 44 untuk penjelasan selengkapnya.
    104. ^ Gilley & Worthington 2010, halaman 204; lihat pula Errington 1990, halaman 115–117 untuk penjelasan selengkapnya.
    105. ^ Gilley & Worthington 2010, halaman 204; Adams 2010, halaman 209; Errington 1990, halaman 69–70, 119.
    106. ^ Gilley & Worthington 2010, halaman 204–205; Adams 2010, halaman 209–210; Errington 1990, halaman 69, 119.
    107. ^ Gilley & Worthington 2010, halaman 205; lihat pula Errington 1990, halaman 118 untuk penjelasan selengkapnya.
    108. ^ Adams 2010, halaman 208–209; Errington 1990, halaman 117.
    109. ^ Adams 2010, halaman 210–211; Errington 1990, halaman 119–120.
    110. ^ Adams 2010, halaman 211; Errington 1990, halaman 120–121.
    111. ^ Adams 2010, halaman 211–212; Errington 1990, halaman 121–122.
    112. ^ Adams 2010, halaman 207 n. #1, 212; Errington 1990, halaman 122–123.
    113. ^ Adams 2010, halaman 212–213; Errington 1990, halaman 124–126.
    114. ^ a b Adams 2010, halaman 213; Errington 1990, halaman 126–127.
    115. ^ Adams 2010, halaman 213–214; Errington 1990, halaman 127–128.
    116. ^ Adams 2010, halaman 214; Errington 1990, halaman 128–129.
    117. ^ Adams 2010, halaman 214–215.
    118. ^ Adams 2010, halaman 215.
    119. ^ Adams 2010, halaman 215–216.
    120. ^ Adams 2010, halaman 216.
    121. ^ Adams 2010, halaman 216–217; Errington 1990, halaman 129.
    122. ^ Adams 2010, halaman 217; Errington 1990, halaman 145.
    123. ^ Adams 2010, halaman 217; Errington 1990, halaman 145–147; Bringmann 2007, halaman 61.
    124. ^ a b c d Adams 2010, halaman 218.
    125. ^ a b Bringmann 2007, halaman 61.
    126. ^ Adams 2010, halaman 218; Errington 1990, halaman 153.
    127. ^ a b Adams 2010, halaman 218–219; Bringmann 2007, halaman 61.
    128. ^ Adams 2010, halaman 219; Bringmann 2007, halaman 61; Errington 1990, halaman 156–157.
    129. ^ Adams 2010, halaman 219; Bringmann 2007, halaman 61–63; Errington 1990, halaman 159–160.
    130. ^ Errington 1990, halaman 160.
    131. ^ Errington 1990, halaman 160–161.
    132. ^ Adams 2010, halaman 219; Bringmann 2007, halaman 63; Errington 1990, halaman 162–163.
    133. ^ a b Adams 2010, halaman 219–220; Bringmann 2007, halaman 63.
    134. ^ Adams 2010, halaman 219–220; Bringmann 2007, halaman 63; Errington 1990, halaman 164.
    135. ^ Adams 2010, halaman 220; Errington 1990, halaman 164–165.
    136. ^ Adams 2010, halaman 220.
    137. ^ Adams 2010, halaman 220; Bringmann 2007, halaman 63; Errington 1990, halaman 167.
    138. ^ Adams 2010, halaman 220; Errington 1990, halaman 165–166.
    139. ^ Adams 2010, halaman 221; lihat pula Errington 1990, halaman 167–168 tentang kebangkitan kembali Sparta di bawah kepemimpinan Areus I.
    140. ^ Adams 2010, halaman 221; Errington 1990, halaman 168.
    141. ^ Adams 2010, halaman 221; Errington 1990, halaman 168–169.
    142. ^ Adams 2010, halaman 221; Errington 1990, halaman 169–171.
    143. ^ Adams 2010, halaman 221.
    144. ^ a b Adams 2010, halaman 222.
    145. ^ Adams 2010, halaman 221–222; Errington 1990, halaman 172.
    146. ^ Adams 2010, halaman 222; Errington 1990, halaman 172–173.
    147. ^ Adams 2010, halaman 222; Errington 1990, halaman 173.
    148. ^ Adams 2010, halaman 222; Errington 1990, halaman 174.
    149. ^ Adams 2010, halaman 223; Errington 1990, halaman 173–174.
    150. ^ a b Adams 2010, halaman 223; Errington 1990, halaman 174.
    151. ^ Adams 2010, halaman 223; Errington 1990, halaman 174–175.
    152. ^ Adams 2010, halaman 223; Errington 1990, halaman 175–176.
    153. ^ Adams 2010, halaman 223–224; Eckstein 2013, halaman 314; lihat pula Errington 1990, halaman 179–180 untuk penjelasan selengkapnya.
    154. ^ Adams 2010, halaman 223–224; Eckstein 2013, halaman 314; Errington 1990, halaman 180–181.
    155. ^ Adams 2010, halaman 224; Eckstein 2013, halaman 314; Errington 1990, halaman 181–183.
    156. ^ Adams 2010, halaman 224; lihat pula Errington 1990, halaman 182 tentang pendudukan militer Sparta oleh Makedonia seusai Pertempuran Selasia.
    157. ^ Adams 2010, halaman 224; Errington 1990, halaman 183–184.
    158. ^ Eckstein 2010, halaman 229; Errington 1990, halaman 184–185.
    159. ^ Eckstein 2010, halaman 229; Errington 1990, halaman 185–186, 189.
    160. ^ Eckstein 2010, halaman 230; Errington 1990, halaman 189–190.
    161. ^ Eckstein 2010, halaman 230–231; Errington 1990, halaman 190–191.
    162. ^ Bringmann 2007, halaman 79; Eckstein 2010, halaman 231; Errington 1990, halaman 192; juga disebutkan oleh Gruen 1986, halaman 19.
    163. ^ Bringmann 2007, halaman 80; lihat pula Eckstein 2010, halaman 231 dan Errington 1990, halaman 191–193 untuk penjelasan selengkapnya.
    164. ^ Errington 1990, halaman 191–193, 210.
    165. ^ Bringmann 2007, halaman 82; Errington 1990, halaman 193.
    166. ^ Bringmann 2007, halaman 82; Eckstein 2010, halaman 232–233; Errington 1990, halaman 193–194; Gruen 1986, halaman 17–18, 20.
    167. ^ Bringmann 2007, halaman 83; Eckstein 2010, halaman 233–234; Errington 1990, halaman 195–196; Gruen 1986, halaman 21; lihat pula Gruen 1986, halaman 18–19 untuk melihat rincian perjanjian Liga Aitolia dengan Filipos V dari Makedonia dan bagaimana Romawi menolak permohonan bantuan Aitolia yang kedua, karena mereka merasa Aitolia telah melanggar perjanjian.
    168. ^ Bringmann 2007, halaman 85; lihat pula Errington 1990, halaman 196–197 untuk penjelasan selengkapnya.
    169. ^ Eckstein 2010, halaman 234–235; Errington 1990, halaman 196–198; lihat pula Bringmann 2007, halaman 86 untuk penjelasan selengkapnya.
    170. ^ Bringmann 2007, halaman 85–86; Eckstein 2010, halaman 235–236; Errington 1990, halaman 199–201; Gruen 1986, halaman 22.
    171. ^ Bringmann 2007, halaman 86; lihat pula Eckstein 2010, halaman 235 untuk penjelasan selengkapnya.
    172. ^ Bringmann 2007, halaman 86; Errington 1990, halaman 197–198.
    173. ^ Bringmann 2007, halaman 87.
    174. ^ Bringmann 2007, halaman 87–88; Errington 1990, halaman 199–200; lihat pula Eckstein 2010, halaman 235–236 untuk penjelasan selengkapnya.
    175. ^ Eckstein 2010, halaman 236.
    176. ^ a b Bringmann 2007, halaman 88.
    177. ^ Bringmann 2007, halaman 88; Eckstein 2010, halaman 236; Errington 1990, halaman 203.
    178. ^ Bringmann 2007, halaman 88; Eckstein 2010, halaman 236–237; Errington 1990, halaman 204.
    179. ^ Bringmann 2007, halaman 88–89; Eckstein 2010, halaman 237.
    180. ^ Bringmann 2007, halaman 89–90; lihat pula Eckstein 2010, halaman 237 dan Gruen 1986, halaman 20–21, 24 untuk penjelasan selengkapnya.
    181. ^ Bringmann 2007, halaman 90–91; Eckstein 2010, halaman 237–238.
    182. ^ Bringmann 2007, halaman 91; Eckstein 2010, halaman 238.
    183. ^ Bringmann 2007, halaman 91–92; Eckstein 2010, halaman 238; see also Gruen 1986, halaman 30, 33 untuk penjelasan selengkapnya.
    184. ^ Bringmann 2007, halaman 92; Eckstein 2010, halaman 238.
    185. ^ Bringmann 2007, halaman 97; lihat pula Errington 1990, halaman 207–208 untuk penjelasan selengkapnya.
    186. ^ Bringmann 2007, halaman 97; Eckstein 2010, halaman 240–241; lihat pula Errington 1990, halaman 211–213 untuk pembahasan tentang tindakan Perseus pada awal masa pemerintahannya.
    187. ^ Bringmann 2007, halaman 97–98; Eckstein 2010, halaman 240.
    188. ^ Bringmann 2007, halaman 98; Eckstein 2010, halaman 240; Errington 1990, halaman 212–213.
    189. ^ Bringmann 2007, halaman 98–99; Eckstein 2010, halaman 241–242.
    190. ^ Bringmann 2007, halaman 99; Eckstein 2010, halaman 243–244; Errington 1990, halaman 215–216; Hatzopoulos 1996, halaman 43.
    191. ^ Bringmann 2007, halaman 99; Eckstein 2010, halaman 245; Errington 1990, halaman 204–205, 216; lihat pula Hatzopoulos 1996, halaman 43 untuk penjelasan selengkapnya.
    192. ^ a b Bringmann 2007, halaman 99–100; Eckstein 2010, halaman 245; Errington 1990, halaman 216–217; lihat pula Hatzopoulos 1996, halaman 43–46 untuk penjelasan selengkapnya.
    193. ^ Bringmann 2007, halaman 104; Eckstein 2010, halaman 246–247.
    194. ^ Bringmann 2007, halaman 104–105; Eckstein 2010, halaman 247; Errington 1990, halaman 216–217.
    195. ^ Bringmann 2007, halaman 104–105; Eckstein 2010, halaman 247–248; Errington 1990, halaman 203–205, 216–217.

    Pautan luar[sunting | sunting sumber]


    Jika anda melihat rencana yang menggunakan templat {{tunas}} ini, gantikanlah ia dengan templat tunas yang lebih spesifik.
    Ralat petik: Tag <ref> untuk kumpulan "note" ada tetapi tag <references group="note"/> yang sepadan tidak disertakan