Bendera Islam

Daripada Wikipedia, ensiklopedia bebas.
Lompat ke: pandu arah, cari

Bendera Islam baik yang melambangkan Islam, sebuah konsep atau orang yang berkaitan dengan Islam, atau negara, pasukan militer atau yang berkaitan dengan politik Islam.

Bendera dalam negara Islam biasa menggunakan satu atau beberapa warna(hitam, merah, putih, hijau) dan terkadang tulisan keagamaan seperti syahadad atau takbir. syahadad juga sering digunakan oleh pelaksana jihad sejak tahun 1990-an.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Awal Mula Islam[sunting | sunting sumber]

Di zaman nabi Muhammad, awal mula pasukan Muslim dan keretanya hanaya menggunakan warna dasar polos (biasanya hitam atau putih) sebagai penanda. Dalam beberapa generasi selanjutnya, pemimpin Muslim tetap menggunakan bendera berwarna polos hitam, putih, hijau tanpa ada tanda, tulisan, atau simbol apa pun. Nabi Muhammad menggunakan warna yang berbeda untuk tujuan Ghazwat (atau rombongan yang dipimpin oleh nabi Muhammad sendiri) dan Saraya ( atau rombongan yang dipimpin oleh para sahabat dan pengikut lainnya). Bendera utama nabi Muhammad, lambang hitam, dikenal sebagai al-'uqab (elang atau rajawali) adalah hitam polos tanpa ada simbol atau pun tanda. nama dan warna bendera ini berasal dari Quraish, salah satu dari suku arab, yang mana dahulu berwarna hitam dengan gambar elang dan juga dikenal sebagai "Elang".

Abad Pertengahan[sunting | sunting sumber]

Bendera keagamaan dengan tulisan digunakan pada masa abad pertengahan, sebagaimana ditampilkan pada miniatur dari abad ke-13 yang diilustrasikan oleh Yahya Ibnu mahmud al-Wasiti. Dari abad ke-14 ilustrasi dari Sejararah Tartar (History of the Tartars) oleh Hayton of Corycus (1243) menampilkan bangsa Mongol dann Seljuk menggunakan ragam atribut pangkat perang.

Bendera bulan sabit muncul pertama kali di Tunisia pada awal abad ke-14 dalam Buku Pengetahuan dari Penjuru Negeri (Book of Knowlege of All Kingdoms), sebelum Tunisia berada dibawah kekuasaan Ottoman pada 1574. Musium Angkatan Laut Spanyol (Spanish Navy Museum) di Madrid memajang 2 bendera angkatan laut Ottoman bertanggal 1613; keduanya berujung runcing, satu bendera berwarna hijau dengan bulan sabit putih.di bagian tepi, satu bendera lagi berwarna putih dengan dua garis merah di dekat pinggir bendera dan sebuah bulan sabit merah di bagian tepi.

Kekaisaran Ottoman[sunting | sunting sumber]

Era Modern[sunting | sunting sumber]

Bintang dan Bulan Sabit[sunting | sunting sumber]

Sebahagian daripada siri
Fiqh Islam

(suatu disiplin kajian Islam)

Bidang-bidang

Daulah Islamiyah sememangnya mempunyai bendera (Al-Liwa’) dan juga panji (Ar-Rayah). Inilah apa yang telah ditunjukkan oleh Rasulullah s.a.w. semasa tegaknya Daulah Islamiyah pertama di Madinah al-Munawwarah pada tahun 622M. Dari segi bahasanya, bendera dan panji di dalam bahasa Arab disebut 'alam. Mengikut Kamus al-Muheet, dari akar kata rawiya, ar-rayah adalah al-'alam, yang jama’nya (majmuk) disebut sebagai rayaat. Juga disebutkan dari akar kata lawiya bahawa al-liwa' adalah al-'alam, yang jama’nya disebut sebagai alwiyah. Secara syar’ie, syara’ telah menjelaskan bahawa perkataan-perkataan di atas mempunyai maksud dan ciri-ciri yang tertentu.

Bendera Al Liwa' dan Ar- Rayah[sunting | sunting sumber]

Liwa, (bendera negara) berwarna putih, sedangkan rayah (panji-panji perang) berwarna hitam.

Rayah adalah bendera berukuran lebih kecil, yang diserahkan khalifah atau wakilnya kepada pemimpin perang, serta komandan-komandan pasukan Islam lainnya. Rayah merupakan tanda yang menunjukkan bahwa orang yang membawanya adalah pemimpin perang. [1]

Semasa perang (jihad), bendera ini akan dipegang oleh Amirul Jihad (panglima/ketua) perang. Ia akan dibawa dan menjadi tanda serta diletakkan di lokasi Amirul Jihad tadi. Dalil yang menunjukkan perkara ini adalah perbuatan (af’al) Nabi Muhammad s.a.w. sendiri, di mana baginda (sebagai amir), semasa pembukaan kota Makkah telah membawa dan mengibarkan bendera putih bersamanya.

Dari Jabir radliyallahu 'anh, ia berkata: "

كان لواء رسول الله صلى الله عليه وسلم أبيض ، و رايته سوداء

"Liwa' Rasulullah SAW berwarna putih dan Rayahnya berwarna hitam".

Hadits diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Al-Hakim, Ibnu Majah dan Al-Khatib dalam kitab At-Tarikh.  At-Tirmidzi menilai hadits tersebut hasan gharib. Dalam riwayat lain:

أن النبي صلى الله عليه وسلم دخل مكة يوم الفتح و لواؤه أبيض

"Nabi SAW memasuki kota Makkah saat hari pembebasan dan liwanya berwarna hitam". Hadits diriwayatkan oleh Abu Daud An-Nasaa'i, Ibnu Majah, At-Tirmidzi, Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya, Al-Baihaqi dan Al-Hakim. Al-Hakim menilai hadits tersebut shahih berdasarkan kriteria Muslim.

Riwayat yang menyebutkan warna putih saja dan warna hitam saja sangat banyak. Adapun riwayat yang menyebutkan bertulisan kalimat Syahadah maupun berwarna merah dan lain sebagainya, itu lemah.

 عن يزيد بن بلال ، وكان من أصحاب علي ، رضي الله عنه ، قال : « رأيت راية علي حمراء مكتوب فيها محمد رسول الله صلى الله عليه وسلم ».

Yazid bin Bilal berkata: "Aku melihat bendera (Rayah) Ali berwarna merah tertulis "Muhammadur Rasulullah". (HR. Al-'Aqili dalam Adl-Dlu'afa, sanadnya dlaif jiddan)

Panji Ar Rayah[sunting | sunting sumber]

Hadis riwayat Ibnu Abbas di atas menjelaskan hal ini kepada kita. Semasa jihad, ia dibawa oleh ketua setiap unit (samada Division, Batalion, Detachment ataupun lain-lain unit). Dalilnya adalah Nabi Muhammad s.a.w., semasa menjadi panglima perang di Khaibar, bersabda, "Aku benar-benar akan memberikan panji (rayah) ini kepada orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, serta dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya, lalu Rasulullah memberikan panji itu kepada Ali." [HR Bukhari]. Saidina Ali karramallahu wajhah pada masa itu boleh dikatakan bertindak sebagai ketua division ataupun regimen.

Diriwayatkan dari Harits Bin Hassan Al Bakri yang mengatakan, "Kami datang ke Madinah, saat itu dan Nabi Muhammad s.a.w. sedang berada di atas mimbar, sementara itu Bilal berdiri dekat dengan beliau dengan pedang di tangannya. Dan di hadapan Rasulullah terdapat banyak rayah (panji) hitam. Lalu aku bertanya: "Ini panji-panjii apa?" Mereka pun menjawab: "(panji-panji) Amru Bin Ash, yang baru tiba dari peperangan."

Dalam riwayat At-Tirmidzi, menggunakan lafaz, "Aku datang ke Madinah, lalu aku masuk ke masjid di mana masjid penuh sesak dengan orang ramai, dan di situ terdapat banyak panji hitam, sementara Bilal -ketika itu- tangannya sedang memegang pedang dekat Nabi Muhammad s.a.w.. Lalu aku bertanya: "Ada apa dengan orang-orang itu?" Mereka menjawab: "Beliau (Nabi Muhammad s.a.w.) akan mengirim Amru bin Ash ke suatu tempat."

Tanpa Tulisan "Syahadat"[sunting | sunting sumber]

Banyak hadits yang menjelaskan tentang bendera Nabi SAW, namun kesimpulan dari berbagai riwayat-riwayat tersebut adalah :[2]

1. Liwa' Nabi berwarna putih yang terbuat dari kain kasa' bergambar Rihl (dudukan yang diletakkan diatas pengendara onta).

2. Rayah Nabi berwarna hitam dari wol segi empat bergaris-garis putih, namun didominasi warna hitam.

3. Tidak ada tulisan sama sekali di Liwa' maupun Royah, termasuk tidak ada tulisan "Syahadat" atau "Laa Ilaaha Illallah Muhammadur Rasulullah".

4. Hadits yang menyebutkan ada tulisan itu tidak tsabit dari sisi sanad alias dlaif jiddan (sangat lemah).

5. Nama Rayah Nabi adalah al-Uqqab (sang Rajawali).

Lihat juga[sunting | sunting sumber]

Nota kaki[sunting | sunting sumber]