Bahasa Sanskrit

Daripada Wikipedia, ensiklopedia bebas.
Bahasa Sanskrit
संस्कृतम्
saṃskṛtam
KawasanIndia, Nepal, Bangladesh, dan sesetengah tempat lain dari Selatan dan Asia Tenggara; banyak ilmiawan Buddhadi negara Asia Timur seperti China, Jepun, Thailand, Indonesia dan Vietnam, juga mampun berkomunikasi dalam Sanskrit.
Penutur bahasa
49,736 penutur fasih (seperti 1991)
194,433 penutur bahasa-kedua (seperti 1961).
Status rasmi
Bahasa rasmi di
India (salah satu dari bahasa berjadual)
Kod bahasa
ISO 639-1sa
ISO 639-2san
ISO 639-3
san

Bahasa Sanskrit atau Bahasa Sangsakerta[1] (Jawi: بهاس سڠسکرتا ) (Devanagari: संस्कृतम् saṃskṛtam[2]) adalah salah satu bahasa daripada India yang paling tua yang masih dikenal, dan masih menjadi salah satu bahasa rasmi di India. Kedudukannya di India adalah lebih kurang sama dengan kedudukan bahasa-bahasa Yunani dan Latin di benua Eropah.

Etimologi dan penamaan[sunting | sunting sumber]

Manuskrip Sangsakerta kuno: kitab suci keagamaan (atas), dan teks pengobatan (bawah)

Kata "Sanskrit" atau "Sangsakerta" berasal daripada kata sifat verbal sáṃskṛta- iaitu kata majmuk yang tersusun dari sam (berbudaya, bagus, baik, sempurna) dan krta- (tersusun).[3][4] Maksudnya adalah suatu bahasa yang "tersusun dengan baik, murni, sempurna, suci, dan berbudaya".[5][6][7] Menurut Biderman, kesempurnaan yang dimaksud dari etimologi tersebut cenderung memiliki mutu tonal bukannya semantik. Tradisi lisan dianggap berharga di India purba, dan Rishi-rishinya menyusun aksara, struktur kata, dan tata bahasanya menjadi "sebuah kumpulan suara, semacam cetakan musikal yang bernilai luhur", sebagaimana yang disebut Biderman, sebagai sebuah bahasa yang disebut Sanskrit/Sangsakerta.[4] Dari akhir zaman Veda, sebagaimana yang disebut Annette Wilke dan Oliver Moebus, landasan resonansi dan musikalnya membangunkan bidang-bidang "sastera, bahasa, falsafah, dan agama dengan jumlah yang sangat besar" di India. Suara-suara itu divisualisiasikan "meliputi seluruh ciptaan", representasi lain dari dunia itu sendiri; sebuah "magna misterius" dari pemikiran Hindu. Pencarian kesempurnaan dalam pemikiran dan tujuan kebebasan berada di antara dimensi suara sakral, benang merah itu merangkai semua idea dan inspirasi menjadi apa yang diyakini masyarakat India kuno sebagai bahasa yang sempurna, sehingga terciptalah "epistema fonosentris" bahasa Sanskrit.[8][9]

Bahasa ini dianggap sebagai lawan dari bahasa-bahasa rakyat (prākṛta-). Kata prakrta secara literal berarti "asli, alami, normal, tak berseni", menurut Franklin Southworth.[10] Keterkaitan antara bahasa Prakerta dan Sanskerta ditemukan dalam naskah India berangka milenium pertama Masihi. Patañjali mengakui bahasa Prakerta sebagai bahasa pertama, yang secara naluri digunapakai oleh anak-anak yang berujung pada masalah interpretasi dan kesalahpahaman. Pemurnian struktur bahasa Sanskrit menghapus ketidaksempurnaan itu. Tatabahasawan Sanskerta awal Daṇḍin menyatakan, sebagai contoh, banyak kata bahasa Prakerta berasal dari Sanskerta, tetapi memunculkan "kehilangan suara" dan penyalahgunaan makna yang merupakan hasil dari "pengabaian tata bahasa". Daṇḍin mengakui ada kata-kata dan struktur membingungkan dari bahasa Prakerta yang lepas dari bahasa Sanskrit. Pandangan ini tampak pada gaya penulisan Bharata Muni yang mengarang naskah Natyasastra. Namisādhu, salah satu cendekiawan Jaina, mengakui adanya perbedaan tersebut, tetapi tidak setuju kalau bahasa Prakerta adalah hasil penyalahgunaan makna dari Sanskerta. Namisādhu menyatakan bahawa bahasa Prakerta bersifat pūrvam (alamiah) bagi anak-anak, dan Sanskerta adalah penyempurnaan bahasa Prakerta melalui sebuah "pemurnian tata bahasa".[11]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Asal usul dan perkembangan[sunting | sunting sumber]

Kiri: Hipotesis Kurgan yang berkaitan dengan migrasi Indo-Eropa antara 4000–1000 SM. Kanan: sebaran geografi rumpun bahasa Indo-Eropah dengan bahasa ini di Asia Selatan.

Bahasa Sanskrit termasuk dalam rumpun bahasa Indo-Eropah. Bahasa ini menjadi salah satu dari tiga bahasa Indo-Eropah tertua yang didokumentasikan serta lahir dari suatu bahasa purba yang dibentuk semula iaitu bahasa Proto-Indo-Eropah:[12][13][14]

Bahasa Indo-Eropah lainnya yang berhubungan dengan Sanskerta antara lain bahasa Latin arkaik dan klasik (s. 600 SM–100 M, Italia zaman kuno), bahasa Gotik (bahasa Jermanik arkais, s. 350 SM), bahasa Norse Kuno (s. 200 SM ke atas), bahasa Avesta Kuno (s. akhir milenium ke-2 SM[16]), dan bahasa Avesta Muda (s. 900 SM).[13][14] Bahasa kuno terdekat dengan bahasa Weda adalah rumpun Nuristan yang ditemukan di wilayah Hindu Kush, timur laut Afganistan dan barat laut Himalaya,[14][17][18] serta bahasa Avesta dan Persia Kuno yang punah — keduanya berumpun Iran.[19][20][21] Bahasa Sanskrit adalah kelompok bahasa satem Indo-Eropah.

Sejumlah sarjana zaman kolonial yang menguasai bahasa Latin dan Yunani terkejut dengan kemiripan bahasa-bahasa klasik Eropah dengan Sanskerta, baik dari kosakata dan tata bahasanya. Dalam The Oxford Introduction to Proto-Indo-European and the Proto-Indo-European World, Mallory dan Adams menjelaskan kemiripan tersebut dalam beberapa contoh berikut:[22]

Inggris   Latin Yunani Sanskerta
  mother   māter   mētēr   mātár-
  father   pater   pater   pitár-
  brother   frāter   phreter   bhrātar-
  sister   soror   eor   svásar-
  son   fīlius   huius   sūnú-
  daughter   fīlia   thugátēr   duhitár-
  cow   bōs   bous   gáu-
  house   domus   do   dām-

Kedekatan kosakata tersebut menunjukkan adanya sebuah akar kata, serta kaitan historis antara sejumlah bahasa-bahasa kuno besar di dunia.[a]

Teori migrasi Indo-Arya menjelaskan bagaimana bahasa Sanskrit dan bahasa Indo-Eropah lainnya saling berkaitan serta menyatakan bahawa penutur asli bahasa yang kelak menjadi Sbahasa Sanskrit tiba di Asia Selatan dari asalnya, kemungkinan barat laut wilayah Indus pada awal milenium ke-2 SM. Bukti sejarah yang ada dalam teori tersebut adalah kedekatan antara bahasa Indo-Iran dengan rumpun bahasa Baltik dan Slavik, pertukaran dengan kosakata non-Indo-Eropah seperti rumpun bahasa Ural, dan kosakata Indo-Eropah yang berkaitan dengan flora-fauna.[24]

Masa prasejarah rumpun bahasa Indo-Arya sebagai moyang bahasa Sanskrit tidak jelas dan hipotesisnya diajukan dalam batas yang cukup luas. Menurut Thomas Burrow, dengan menghubungkannya dengan bahasa rumpun Indo Eropah, asal usul bahasa tersebut mungkin bermula dari Eropah Tengah atau Timur, dan rumpun Indo-Iran muncul dari Rusia Tengah.[25] Cabang rumpun bahasa Indo-Iran, Indo-Arya dan Iran, berpisah. Bahasa Sanskrit adalah cabang Indo-Arya yang berpindah menuju Iran timur, kemudian mengarah ke Asia Selatan pada separuh pertama milenium ke-2 SM. Begitu permulaan India Kuno, bahasa Indo-Arya mengalami perubahan lingustik dan terciptalah bahasa Weda.[26]

Bahasa Veda[sunting | sunting sumber]

Regweda ditulis dalam aksara Dewanagari, awal abad ke-19. Garis merah horizontal dan vertikal mewakili tangga nada rendah dan tinggi dalam pembacaannya.

Bentuk praklasik bahasa Sanskrit adalah bahasa Veda. Naskah tertulis paling awal yang menggunakan bahasa Sanskrit adalah salah satu dari kitab suci umat Hindu yang empat, Rigveda, ditulis pada pertengahan hingga akhir abad ke-2 SM. Tak ada catatan tertulis dari zaman-zaman awal yang dilestarikan, bahkan jika ada, sejumlah sarjana percaya bahawa Rigveda turun-temurun secara lisan: teks tersebut adalah teks upacara keagamaan, dengan ekspresi fonetik yang pasti dan pelestariannya menjadi bagian dari tradisi.[27][28][29]

Rigveda adalah kumpulan kitab suci yang dibuat oleh banyak pengarang secara terpisah di wilayah India kuno. Penulis-penulisnya berada pada generasi yang berbeda-beda: Mandala 2 hingga 7 adalah yang tertua, sedangkan mandala 1 dan 10 adalah yang termuda.[30][31] Namun bahasa Veda dalam kitab-kitab Rigveda "hampir tidak menyajikan keragaman dialektika", menurut Louis Renou — seorang Indolog yang dikenal kerana penelitiannya tentang sastera Sanskerta dan khususnya Rigveda. Menurut Renou, ini menunjukkan bahawa bahasa Veda memiliki "pola linguistik yang teratur" pada separuh kedua milenium ke-2 SM.[32] Setelah Rigveda, Veda lainnya yang bertahan adalah Samaweda, Yajurveda, dan Atharvaveda, bersama naskah-naskah lain seperti Brahmana, Aranyaka, dan Upanishad.[27] Dokumen Veda mencerminkan dialek bahasa Sanskrit pada sejumlah wilayah barat laut, utara, dan timur anak benua India.[33][34](p 9)

Bahasa Veda adalah bahasa lisan sekaligus tertulis pada zaman India Kuno. Menurut Michael Witzel, bahasa Veda adalah bahasa lisan suku bangsa Arya yang kelak bertempat tinggal di satu tempat dan tetap memelihara kebiasaan sehari-hari mereka seperti beternak sapi, bertani terbatas, dan menjalankan gerobak yang disebut grama.[34](pp 16–17)[35] Bahasa Vedaatau varian Indo-Eropah terdekatnya diakui di seluruh wilayah India Kuno yang dibuktikan dengan "Traktat Mitanni" antara bangsa Het dan Mitanni, dipahat pada batu, di suatu wilayah yang kini menjadi Suriah dan Turki.[36][b] Bagian dari traktat tersebut seperti nama-nama pangeran Mitanni dan istilah teknis yang berhubungan dengan perkudaan, dengan alasan yang tak dipahami, ditulis dalam bentuk awal bahasa Weda. Traktat ini juga memuat Dewa Varuna, Mitra, Indra, dan Nasatya yang ditemukan dalam lapisan awal literatur Weda.[36][38]

Bahasa Veda yang ada dalam Regweda lebih arkais daripada Weda-Weda lainnya, dan dalam banyak hal, gaya bahasa Regweda diketahui lebih mirip dengan salah satu kitab umat Majusi Gathas dan juga Iliad dan Odisseia karya Homeros.[39] Menurut Stephanie W. Jamison dan Joel P. Brereton — Indolog yang dikenal kerana penerjemahan Regweda — literatur Weda "telah jelas diwariskan" dari struktur sosial zaman Indo-Iran dan Indo-Eropah seperti peranan penyair dan pendeta, ekonomi patronasi, kemiripan frasa, dan sejumlah metrum puisi.[40][c] Meski ada kemiripan, menurut Jamison dan Brereton, ada perbedaan antara sastera Weda, Avesta Kuno, dan Yunani Mikenai. Misalnya, tak seperti penggunaan majas simile dalam Regweda, teks Gathas tak memiliki simile, dan jarang digunakan pada versi bahasa yang kemudian. Bahasa Yunani Homeros, seperti Sanskerta Regweda, banyak menggunakan simile, tetapi secara struktural sangat berbeza.[42]

Bahasa Sanskrit Klasik[sunting | sunting sumber]

Naskah tata bahasa Sanskrit Pāṇini abad ke-17 dari Kashmir

Bentuk bahasa Weda kurang homogen, dan kemudian berevolusi menjadi bahasa yang lebih terstruktur dan homogen, yang disebut bahasa Sanskrit Klasik pada pertengahan milenium pertama SM. Menurut Richard Gombrich—Indolog dan sarjana bahasa Sanskrit, Pāli, dan studi agama Buddha—bahasa Weda yang arkais dalam Regweda sudah berevolusi pada periode Weda, seperti dibuktikan dalam karya sastera Weda berikutnya. Bahasa dalam Upanisad Hindu awal dan karya sastera Weda berikutnya menggunakan bahasa Sanskrit Klasik, sedangkan bahasa Weda yang arkais pada zaman Buddha menjadi tak bisa dipahami oleh semua orang kecuali para Resi, menurut Gombrich.[43]

Orang yang dikredit berjasa dalam formalisasi bahasa Sanskrit adalah Pāṇini, juga Mahabhasya karya Patanjali serta komentar Katyayana yang mendahului karya Patanjali.[44] Panini menyusun kitab Aṣṭādhyāyī ("Delapan Bab Tata Bahasa Sanskrit"). Masa hidupnya sering diperdebatkan, tetapi umumnya disepakati bahawa karyanya dibuat antara abad ke-6 hingga ke-4 SM.[45][46][47]

Aṣṭādhyāyī bukanlah karya pertama yang mendeskripsikan tata bahasa Sanskrit, tetapi merupakan karya paling awal yang masih bisa dilestarikan secara utuh. Pāṇini mengutip sepuluh orang resi terkait aspek tata bahasa dan fonologi Sanskerta sebelumnya, serta varian penggunaan bahasa Sanskrit di wilayah India yang berbeza.[48] Ia mengutip sepuluh orang resi yaitu Apisali, Kasyapa, Gargya, Galawa, Cakrawarmana, Bharadwaja, Sakatayana, Sakalya, Senaka, dan Sphotayana.[49] Aṣṭādhyāyī menjadi peletak dasar salah satu Wedangga, Wyakarana, .[48] Dalam Aṣṭādhyāyī, bahasa dipandang dengan cara yang tidak sejalan dengan tatabahasawan Yunani atau Latin. Tata bahasa Pāṇini, menurut Renou dan Filliozat, mendefinisikan ekspresi linguistik dan klasika yang menjadi acuan dari bahasa Sanskrit.[50] Pāṇini menggunakan metabahasa teknis, seperti sintaksis, morfologi, dan leksikon. Metabahasa ini terorganisasi menurut deret aturan-meta, beberapa di antaranya dijelaskan langsung, sedangkan lainnya dapat disimpulkan sendiri.[51]

Teori komprehensif dan ilmiah tata bahasa Pāṇini kelak menjadi awal permulaan bahasa Sanskrit Klasik.[52] Risalahnya yang sistematis mengilhami dan menjadikan bahasa Sanskrit sebagai bahasa utama dalam pembelajaraan dan sastera India selama dua milenium.[53] Tak jelas apakah Pāṇini menulisnya sendiri, atau memberikan penjelasannya kepada murid-muridnya secara turun temurun. Sejumlah sarjana menyetujui bahawa ia sudah mengenal penulisan, berdasarkan rujukan kata lipi ("aksara") atau lipikara ("penulis") pada subbab 3.2 Aṣṭādhyāyī.[54][55][56][d]

Bahasa Sanskrit Klasik yang diformalkan oleh Pāṇini, menurut Renou, "bukan bahasa yang dimiskinkan", melainkan "bahasa yang diatur dan ditata dengan mengabaikan arkaisme dan alternatif formal yang tidak perlu".[63] Bentuk klasik Sanskerta menyederhanakan hukum sandhi tetapi tetap mempertahankan ciri-ciri bahasa Weda, serta menambahkan ketelitian dan fleksibilitas, sehingga memiliki ruang yang cukup untuk mengekspresikan pikiran serta "mampu menjawab tuntutan literatur yang beragam pada zaman mendatang", menurut Renou. Pāṇini juga membuat "aturan pilihan" di luar kerangka kerja bahasa Weda bahulam, untuk menghargai kebebasan dan kreativitas sehingga para penulis yang berada di wilayah geografi atau waktu yang berbeda dapat bebas mengekspresikan fakta dan pandangannya sendiri.[64]

Perbedaan fonetika bahasa Weda dan Sanskerta Klasik dapat diabaikan, bila dibandingkan dengan perubahan yang terjadi pada zaman pra-Weda antara bahasa Indo-Arya dan bahasa Weda.[65] Yang membuat bahasa Weda dan Sanskerta klasik berbeda adalah tata bahasa dan kategori gramatikal yang diperluas, serta perbedaan aksen, semantik, dan sintaksis.[66] Ada juga perbedaan bagaimana akhir dari kata benda dan kata kerja, serta juga hukum sandhi, baik internal maupun eksternal.[66] Banyak sekali kata dalam bahasa Weda tidak ditemukan dalam literatur bahasa Weda akhir atau Sanskerta Klasik, sedangkan ada kata Sanskerta Klasik yang maknanya berbeza dan baru jika dibandingkan dengan literatur bahasa Weda.[66]

Arthur Macdonell adalah salah satu sarjana zaman kolonial yang telah merangkum sejumlah perbedaan bahasa Weda dan Sanskerta Klasik.[66][67] Publikasi berbahasa Prancis kary Louis Renou tahun 1956, berisi pembahasan yang lebih rinci terkait kemiripan, perbedaan, dan evolusi bahasa Weda pada periode Weda dengan bahasa Sanskrit Klasik beserta pandangan pribadinya. Karyanya kemudian diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Jagbans Balbir.[68]

Bahasa Sanskrit dan Prakerta[sunting | sunting sumber]

Kata Saṃskṛta dalam aksara Gupta:
14x14px Saṃ-skṛ-ta
Prasasti Mandsaur, 532 M.[69]

Kata Saṃskṛta sebagai sebuah bahasa, ditemukan dalam ayat 5.28.17–19 kitab Ramayana.[70] Di luar bahasa Sanskrit yang tertulis dan dipelajari, sejumlah bahasa rakyat (Prakerta) muncul. Bahasa Sanskrit hadir bersama Prakerta pada zaman India kuno. Bahasa Prakerta memiliki akar bahasa Sanskrit yang disebut Apabhramsa, artinya "bahasa yang mengabaikan tata bahasa".[71][72] Weda memiliki kata-kata yang ekuivalensi fonetiknya tidak ditemukan dalam bahasa Indo-Eropah lain tetapi ditemukan dalam bahasa Prakerta, yang menandai mulainya interaksi berbagi kata dan gagasan pada sejarah awal India. Semenjak pemikiran bangsa India terdiversifikasi dan ajaran awal Hindu mengalami tantangan, khususnya lahirnya agama Buddha dan Jain, bahasa Prakerta seperti Pali yang dipertuturkan umat Buddha Theravāda dan Ardhamagadhi yang dipertuturkan umat Jain bersaing dengan bahasa Sanskrit pada zaman kuno.[73][74][75] Namun, menurut Paul Dundas, sarjana Jaina, bahasa-bahasa Prakerta kuno "dikira-kira memiliki hubungan yang dekat dengan Sanskerta, sama seperti halnya bahasa Italia pertengahan dengan Latin."[75] Tradisi India mengakui bahawa Buddha dan Mahawira memilih bahasa Prakerta sehingga siapa pun dapat memahaminya. Namun, sarjana seperti Dundas mempertanyakan hipotesis ini. Mereka mengaku tidak ada bukti dan bahkan jika ada buktinya pada awal zaman itu, orang-orang sulit mempelajari bahasa Prakerta kuno seperti Ardhamagadhi kecuali para biksu atau rahib.[75][e]

Sarjana era kolonial mempertanyakan apakah Sanskerta itu bahasa lisan, atau hanya bahasa sastera.[77] Salah satu aliran menyebut bahawa Sanskerta tak pernah sebagai bahasa lisan, sedangkan yang lain dan kebanyakan sarjana India justru tidak setuju.[78] Mereka yang menegaskan Sanskerta adalah bahasa daerah menyatakan bahawa bahasa ini dahulu adalah bahasa lisan yang dilestarikan dalam naskah-naskah tertulis Sanskerta di India kuno. Selain itu, bukti tekstual karya Yaksa, Panini, dan Patanajali menyatakan bahawa bahasa Sanskrit Klasik pada masa itu adalah bahasa yang dituturkan oleh orang terpelajar dan berbudaya. Sejumlah sutras menguraikan bentuk-bentuk bahasa Sanskrit lisan dan tertulis.[78] Biksu pelancong abad ke-7 Xuanzang menulis dalam memoarnya bahawa perdebatan filosofis resmi di India adalah bahasa Sanskrit, bukan bahasa daerah di wilayah itu.[78]

Silsilah rumpun bahasa Indo-Eropah

Pakar linguistik Madhav Deshpande menyatakan bahawa bahasa Sanskrit adalah bahasa lisan sehari-hari pada pertengahan milenium pertama SM yang berdampingan dengan bahasa Sanskrit sastera yang lebih formal dan tertata.[79] Menurut Deshpande, dibenarkan bahawa bahasa modern juga memiliki bahasa sehari-hari dan dialek yang dipertuturkan dan dipahami, bersama dengan bentuk tertulis yang "tertata, lengkap, dan akurat dari segi tata bahasa".[79] Tradisi India, menurut Moriz Winternitz, adalah belajar dan menggunakan bermacam-macam bahasa sejak zaman dahulu. Bahasa Sanskrit adalah bahasa kaum terpelajar dan terpandang, tetapi juga bahasa yang harus dipahami dalam lingkungan sosial yang lebih luas kerana wiracarita yang populer seperti Ramayana, Mahabharata, Bhagawatapurana, Pancatantra, dan teks lainnya juga ditulis dalam bahasa Sanskrit.[80] Bahasa Sanskrit dengan tata bahasanya yang ada, menjadi bahasa kaum terpelajar India, dan yang lainnya berkomunikasi dengan bahasa sehari-hari yang dapat saja mengabaikan tata bahasa.[79] Bahasa Sanskrit sebagai bahasa yang terpelajar, hadir bersama bahasa daerah Prakerta.[79] Seni drama berbahasa Sanskerta juga mengindikasikan bahasa itu berdampingan dengan Prakerta. Benares, Paithan, Pune, dan Kanchipuram adalah pusat studi dan debat publik bahasa Sanskrit hingga awal mula kolonialisme di India.[81]

Menurut Étienne Lamotte, Indolog dan sarjana ilmu agama Buddha, bahasa Sanskrit menjadi dominan sebagai bahasa resmi tertulis kerana ketajaman atau ketepatan komunikasinya. Menurut Lamotte, bahasa ini adalah alat yang cukup ideal untuk menampilkan gagasan serta pengetahuan sehingga menjadi tersebar dan berpengaruh.[82] Bahasa Sanskrit dianggap sebagai sarana gagasan yang berkebudayaan, artistik, dan mendalam. Pollock tidak bersetuju dengan usulan Lamotte namun yakin bahawa pengaruh bahasa Sanskrit bertumbuh menjadi sebuah "kosmopolis" yang mencakup seluruh wilayah Asia Selatan dan sebagian besar Asia Tenggara. Kosmopolis tersebut berkembang pesat di luar India antara 300 dan 1300 M.[83]

Pengaruh rumpun Dravida[sunting | sunting sumber]

Reinöhl menyebut rumpun bahasa Dravida tidak hanya menyerap kosakata Sanskerta, tetapi juga mempengaruhi bahasa Sanskrit berkaitan strukturnya, "misalnya asal usul fonologi retrofleks Indo-Arya, dikaitkan dengan pengaruh rumpun bahasa Dravida".[84] Hock et al. mengutip George Hart yang menyatakan bahawa ada pengaruh bahasa Tamil Kuno dalam bahasa Sanskrit.[85] Hart membandingkan bahasa Tamil Kuno dan Sanskerta Klasik dan menyimpulkan bahawa ada bahasa Prakerta yang diturunkan dari kedua-duanya – "baik Tamil dan Sanskerta mendapatkan kaidah, metrum, dan teknik yang dibagi rata dari satu sumber, serta jelas tidak ada yang langsung diserap dari bahasa lainnya."[86]

Reinöhl menyatakan bahawa ada keterkaitan secara simetris antara bahasa berumpun Dravida seperti bahasa Kannada atau Tamil dengan bahasa Indo-Arya seperti Bengali atau Hindi, dibandingkan dengan bahasa Persia atau Inggris terhadap bahasa berumpun non-Indo-Arya. Dikutip dari Reinöhl – "Kalimat dalam bahasa rumpun Dravida seperti Tamil atau Kannada dapat diubah menjadi bahasa Bengali atau Hindi dengan mengganti kosakata Bengali atau Hindi yang ekuivalen dengan kata dan bentuk Dravida, tanpa mengubah urutan kata, tetapi hal yang sama tidak bisa digunakan untuk mengubah kalimat bahasa Persia atau Inggris menjadi bahasa non-Indo-Arya".[84]

Shulman menyebutkan, "Bentuk kata kerja nonfinit Dravida (disebut juga vinaiyeccam dalam bahasa Tamil) mempengaruhi kata kerja nonfinit Sanskerta (aslinya berasal dari bentuk infleksi kata benda perbuatan dalam Weda). Kasus yang sangat menonjol dari pengaruh bahasa Dravida dalam bahasa Sanskrit hanyalah satu dari banyaknya asimilasi sintaktis, tak terkecuali repertoar yang besar dari aspek dan modalitas morfologis yang, jika diamati teliti, dapat ditemukan di mana saja dalam bahasa Sanskrit klasik dan pascaklasik".[87]

Sebaran geografi[sunting | sunting sumber]

Sebaran historis bahasa Sanskrit yang dituturkan di banyak negara. Bukti-buktinya antara lain manuskrip dan prasasti yang ditemukan di Asia Selatan, Tenggara, dan Tengah. Bukti-bukti tersebut bertanggal antara 300 hingga 1800 M.

Kehadiran bahasa Sanskrit secara historis telah terbukti dalam lingkup geografi yang luas di Asia Selatan. Prasasti dan karya-karya sastera menunjukkan bahawa bahasa Sanskrit telah digunakan di Asia Tenggara dan Tengah pada milenium pertama SM, melalui para brahmana, peziarah, dan pedagang.[88][89][90]

Asia Selatan merupakan daerah yang kaya akan manuskrip dan prasasti berbahasa Sanskerta pada zaman kuno hingga sebelum abad ke-18.[91] Di luar wilayah India Kuno, manuskrip dan prasasti berbahasa Sanskerta telah ditemukan di Tiongkok (terutama di Tibet),[92][93] Myanmar,[94] Indonesia,[95] Kamboja,[96] Laos,[97] Vietnam,[98] Thailand,[99] dan Malaysia.[97] Prasati dan manuskrip Sanskerta, maupun pecahan-pecahannya, termasuk sejumlah teks tertulis berbahasa Sanskerta tertua yang diketahui, telah ditemukan di gurun-gurun kering dan pegunungan seperti di Nepal,[100][101][f] Tibet,[93][102] Afganistan,[103][104] Mongolia,[105] Uzbekistan,[106] Turkmenistan, Tajikistan,[106] dan Kazakhstan.[107] Sejumlah teks berbahasa Sanskerta juga ditemukan di kuil-kuil Jepang dan Korea.[108][109][110]

Status resmi[sunting | sunting sumber]

Di India, bahasa Sanskrit diakui sebagai 22 bahasa resmi yang ada dalam Jadwal Kedelapan Konstitusi India.[111] Pada 2010, Uttarakhand menjadi negara bagian India pertama yang menetapkan bahasa Sanskrit sebagai bahasa resmi kedua.[112] Selanjutnya sejak 2019, Himachal Pradesh menjadi negara bagian kedua yang menetapkan bahasa tersebut sebagai bahasa resmi kedua.[113]

Penelitian oleh bangsa Eropah[sunting | sunting sumber]

Penelitian bahasa Sanskrit oleh bangsa Eropah dimulai oleh Heinrich Roth (1620–1668) dan Johann Ernst Hanxleden (1681–1731), dan dilanjutkan dengan usulan rumpun bahasa Indo-Eropah oleh Sir William Jones. Hal ini memainkan peranan penting pada perkembangan ilmu perbandingan bahasa di Dunia Barat.

Sir William Jones, pada kesempatan berceramah kepada Asiatick Society of Bengal di Kolkata pada 2 Februari 1786, berkata:

"Bahasa Sanskerta, bagaimanapun kekunoannya, memiliki struktur yang menakjubkan; lebih sempurna daripada bahasa Yunani, lebih luas daripada bahasa Latin dan lebih halus dan berbudaya daripada keduanya, tetapi memiliki keterkaitan yang lebih erat pada keduanya, baik dalam bentuk akar kata-kata kerja maupun bentuk tata bahasa, yang tak mungkin terjadi hanya secara kebetulan; sangat eratlah keterkaitan ini sehingga tak ada seorang ahli bahasa yang bisa meneliti ketiganya, tanpa percaya bahwa mereka muncul dari sumber yang sama, yang kemungkinan sudah tidak ada."

Memang ilmu linguistik (bersama dengan fonologi, dsb.) pertama kali muncul di antara para tata bahasawan India kuno yang berusaha menetapkan hukum-hukum bahasa Sanskrit. Ilmu linguistik modern banyak berhutang kepada mereka dan saat ini banyak istilah-istilah kunci seperti bahuvrihi dan suarabakti diambil dari bahasa Sanskrit.

Beberapa ciri-ciri[sunting | sunting sumber]

Kasus[sunting | sunting sumber]

Salah satu ciri-ciri utama bahasa Sanskrit ialah adanya kasus dalam bahasa ini, yang berjumlah 8. Dalam bahasa Latin yang masih serumpun hanya ada 5 kasus. Selain itu ada tiga jenis kelamin dalam bahasa Sanskrit, maskulin, feminin dan netral dan tiga modus jumlah, singular, ganda dan jamak:

  1. kasus nominatif
  2. kasus vokatif
  3. kasus akusatif
  4. kasus instrumentalis
  5. kasus datif
  6. kasus ablatif
  7. kasus genetif
  8. kasus lokatif
Contoh tulisan Sanskerta.

Di bawah ini disajikan sebuah contoh semua kasus sebuah kata maskulin singular deva (Dewa, Tuhan atau Raja).

Singular:

  1. nom. devas erti: "Dewa"
  2. vok. (he) deva erti: "Wahai Dewa"
  3. ak. devam erti: "ke Dewa" dsb.
  4. inst. devena erti: "dengan Dewa" dsb.
  5. dat. devāya erti: "kepada Dewa"
  6. ab. devāt erti: "dari Dewa"
  7. gen. devasya erti: "milik Dewa"
  8. lok. deve erti: "pada Dewa"

Ganda:

  1. nva devau
  2. ida devābhyām
  3. gl devayos

Jamak:

  1. nv devās
  2. a devān
  3. i devais
  4. da devebhyas
  5. g devānām
  6. l deveṣu

Lalu di bawah ini disajikan dalam bentuk tabel.

Skema dasar tasrifan (deklensi) sufiks untuk kata-kata benda dan sifat[sunting | sunting sumber]

Skema dasar tasrifan bahasa Sanskrit untuk kata-kata benda dan sifat disajikan di bawah ini. Skema ini berlaku untuk sebagian besar kata-kata.

Tunggal Ganda Jamak
Nominatif -s
(-m)
-au
(-ī)
-as
(-i)
Akusatif -am
(-m)
-au
(-ī)
-as
(-i)
Instrumentalis -bhyām -bhis
Datif -e -bhyām -bhyas
Ablatif -as -bhyām -bhyas
Genitif -as -os -ām
Lokatif -i -os -su
Vokatif -s
(-)
-au
( -ī)
-as
(-i)

Pokok-a[sunting | sunting sumber]

Pokok-a (/ə/ or /ɑː/) mencakup kelas akhiran kata benda yang terbesar. Biasanya kata-kata yang berakhir dengan -a pendek berkelamin maskulin atau netral. Kata-kata benda yang berakhirkan -a panjang (/ɑː/) hampir selalu feminin. Kelas ini sangatlah besar kerana juga mencakup akhiran -o dari bahasa proto-Indo-Eropah.

Maskulin (kā́ma- 'cinta') Netral (āsya- 'mulut') Feminin (kānta- 'tersayang')
Tunggal Ganda Jamak Tunggal Ganda Jamak Tunggal Ganda Jamak
Nominatif kā́mas kā́māu kā́mās āsyàm āsyè āsyā̀ni kāntā kānte kāntās
Akusatif kā́mam kā́māu kā́mān āsyàm āsyè āsyā̀ni kāntām kānte kāntās
Instrumentalis kā́mena kā́mābhyām kā́māis āsyèna āsyā̀bhyām āsyāìs kāntayā kāntābhyām kāntābhis
Datif kā́māya kā́mābhyām kā́mebhyas āsyā̀ya āsyā̀bhyām āsyèbhyas kāntāyai kāntābhyām kāntābhyās
Ablatif kā́māt kā́mābhyām kā́mebhyas āsyā̀t āsyā̀bhyām āsyèbhyas kāntāyās kāntābhyām kāntābhyās
Genitif kā́masya kā́mayos kā́mānām āsyàsya āsyàyos āsyā̀nām kāntāyās kāntayos kāntānām
Lokatif kā́me kā́mayos kā́meu āsyè āsyàyos āsyèu kāntāyām kāntayos kāntāsu
Vokatif kā́ma kā́mau kā́mās ā́sya āsyè āsyā̀ni kānte kānte kāntās

Pokok -i dan -u[sunting | sunting sumber]

pokok-i
Mas. dan Fem. (gáti- 'kepergian') Netral (vā́ri- 'air')
Tunggal Ganda Jamak Tunggal Ganda Jamak
Nominatif gátis gátī gátayas vā́ri vā́riī vā́rīi
Akusatif gátim gátī gátīs vā́ri vā́riī vā́rīi
Instrumentalis gátyā gátibhyām gátibhis vā́riā vā́ribhyām vā́ribhis
Datif gátaye, gátyāi gátibhyām gátibhyas vā́rie vā́ribhyām vā́ribhyas
Ablatif gátes, gátyās gátibhyām gátibhyas vā́rias vā́ribhyām vā́ribhyas
Genitif gátes, gátyās gátyos gátīnām vā́rias vā́rios vā́riām
Lokatif gátāu, gátyām gátyos gátiu vā́rii vā́rios vā́riu
Vokatif gáte gátī gátayas vā́ri, vā́re vā́riī vā́rīi
pokok-u
Mas. dan Fem. (śátru- 'seteru, musuh') Netral (mádhu- 'madu')
Tunggal Ganda Jamak Tunggal Ganda Jamak
Nominatif śátrus śátrū śátravas mádhu mádhunī mádhūni
Akusatif śátrum śátrū śátrūn mádhu mádhunī mádhūni
Instrumentalis śátruā śátrubhyām śátrubhis mádhunā mádhubhyām mádhubhis
Datif śátrave śátrubhyām śátrubhyas mádhune mádhubhyām mádhubhyas
Ablatif śátros śátrubhyām śátrubhyas mádhunas mádhubhyām mádhubhyas
Genitif śátros śátrvos śátrūām mádhunas mádhunos mádhūnām
Lokatif śátrāu śátrvos śátruu mádhuni mádhunos mádhuṣu
Vokatif śátro śátrū śátravas mádhu mádhunī mádhūni

Pokok vokal panjang[sunting | sunting sumber]

Pokok ā (jā- 'kepandaian') Pokok ī (dhī- 'pikiran') Pokok ū (bhū- 'bumi')
Tunggal Ganda Jamak Tunggal Ganda Jamak Tunggal Ganda Jamak
Nominatif jā́s jāú jā́s dhī́s dhíyāu dhíyas bhū́s bhúvāu bhúvas
Akusatif jā́m jāú jā́s, jás dhíyam dhíyāu dhíyas bhúvam bhúvāu bhúvas
Instrumentalis jā́ jā́bhyām jā́bhis dhiyā́ dhībhyā́m dhībhís bhuvā́ bhūbhyā́m bhūbhís
Datif jā́bhyām jā́bhyas dhiyé, dhiyāí dhībhyā́m dhībhyás bhuvé, bhuvāí bhūbhyā́m bhūbhyás
Ablatif jás jā́bhyām jā́bhyas dhiyás, dhiyā́s dhībhyā́m dhībhyás bhuvás, bhuvā́s bhūbhyā́m bhūbhyás
Genitif jás jós jā́nām, jā́m dhiyás, dhiyā́s dhiyós dhiyā́m, dhīnā́m bhuvás, bhuvā́s bhuvós bhuvā́m, bhūnā́m
Lokatif jós jā́su dhiyí, dhiyā́m dhiyós dhīṣú bhuví, bhuvā́m bhuvós bhūṣú
Vokatif jā́s jāú jā́s dhī́s dhiyāu dhíyas bhū́s bhuvāu bhúvas

Hukum sandhi[sunting | sunting sumber]

Templat:Artikel

Selain itu dalam bahasa Sanskrit didapatkan apa yang disebut hukum sandhi, sebuah fenomena fonetik di mana dua bunyi berbeza yang berdekatan bisa berasimilasi.

Pembentukan kata majmuk[sunting | sunting sumber]

Templat:Artikel

Kata-kata majmuk dalam bahasa Sanskrit sangat banyak digunakan, terutama menyangkut kata-kata benda. Kata-kata ini bisa menjadi sangat panjang (lebih dari 10 kata). Nominal majmuk terjadi dengan beberapa bentuk, tetapi secara morfologis mereka sejatinya sama. Setiap kata benda (atau kata sifat) terdapat dalam bentuk akarnya (bentuk lemah), dengan unsur terakhir saja yang ditasrifkan sesuai kasusnya. Beberapa contoh kata benda atau nama majmuk termasuk kategori-kategori yang diperikan di bawah ini.

  1. Avyayibhāva
  2. Tatpuruṣa
  3. Karmadhāraya
  4. Dvigu
  5. Dvandva
  6. Bahuvrīhi

Pengaruh pada bahasa-bahasa lain[sunting | sunting sumber]

Bahasa Melayu[sunting | sunting sumber]

Singa = Singam

Nota[sunting | sunting sumber]

  1. ^ William Jones (1786), dikutip oleh Thomas Burrow dalam The Sanskrit Language:[23] Bahasa Sanskerta, di samping kekunoannya, memiliki struktur yang menarik; lebih sempurna daripada Yunani, lebih lengkap daripada Yunani, lebih halus daripada keduanya, tetapi kedekatannya kuat, baik dalam akar kata kerja dan tata bahasanya, daripada yang dihasilkan secara kebetulan, sehingga tidak ada filolog yang mampu menguji ketiganya, sebelum meyakini bahwa ketiganya berasal dari "satu sumber yang sama", yang mungkin sudah tiada lagi. Ada alasan yang mirip, meski tak dipaksakan, untuk menganggap bahwa bahasa Got dan Kelt, meski berpadu dengan idiom berbeza, memiliki asal yang sama dengan Sanskerta dan Persia Kuno mungkin bisa dimasukkan dalam rumpun yang sama."
  2. ^ Traktat Mitanni diduga berangka abad ke-16 SM, tetapi masih diperdebatkan.[37]
  3. ^ Contoh kemiripan kosakata yang disorot dalam Weda adalah kata Dyaus Pita dalam bahasa Weda yang bermakna "Bapak Langit". Ekuivalen dengan bahasa Yunani Mikenai Zeus Pater, yang berevolusi menjadi Jupiter dalam Latin. Kesamaan frasa "Bapak Langit" juga ditemukan dalam bahasa Indo-Eropa lainnya.[41]
  4. ^ Pāṇini's use of the term lipi has been a source of scholarly disagreements. Harry Falk in his 1993 overview states that ancient Indians neither knew nor used writing script, and Pāṇini's mention is likely a reference to Semitic and Greek scripts.[57] In his 1995 review, Salomon questions Falk's arguments and writes it is "speculative at best and hardly constitutes firm grounds for a late date for Kharoṣṭhī. The stronger argument for this position is that we have no specimen of the script before the time of Ashoka, nor any direct evidence of intermediate stages in its development; but of course this does not mean that such earlier forms did not exist, only that, if they did exist, they have not survived, presumably because they were not employed for monumental purposes before Ashoka".[58] According to Hartmut Scharfe, Lipi of Pāṇini may be borrowed from the Old Persian Dipi, in turn derived from Sumerian Dup. Scharfe adds that the best evidence, at the time of his review, is that no script was used in India, aside from the Northwest Indian subcontinent, before around 300 BCE because Indian tradition "at every occasion stresses the orality of the cultural and literary heritage."[59] Kenneth Norman states writing scripts in ancient India evolved over the long period of time like other cultures, that it is unlikely that ancient Indians developed a single complete writing system at one and the same time in the Maurya era. It is even less likely, states Norman, that a writing script was invented during Ashoka's rule, starting from nothing, for the specific purpose of writing his inscriptions and then it was understood all over South Asia where the Ashoka pillars are found.[60] Jack Goody states that ancient India likely had a "very old culture of writing" along with its oral tradition of composing and transmitting knowledge, because the Vedic literature is too vast, consistent and complex to have been entirely created, memorized, accurately preserved and spread without a written system.[61] Falk disagrees with Goody, and suggests that it is a Western presumption and inability to imagine that remarkably early scientific achievements such as Pāṇini's grammar (5th to 4th century BCE), and the creation, preservation and wide distribution of the large corpus of the Brahmanic Vedic literature and the Buddhist canonical literature, without any writing scripts. Johannes Bronkhorst disagrees with Falk, and states, "Falk goes too far. It is fair to expect that we believe that Vedic memorisation—though without parallel in any other human society—has been able to preserve very long texts for many centuries without losing a syllable. [...] However, the oral composition of a work as complex as Pāṇini's grammar is not only without parallel in other human cultures, it is without parallel in India itself. [...] It just will not do to state that our difficulty in conceiving any such thing is our problem".[62]
  5. ^ Pali is also an extinct language.[76]
  6. ^ The oldest surviving Sanskrit inscription in the Kathmandu valley is dated to 464 CE.[101]

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Wilkinson, Richard James (1932). "Sangsakĕrta". A Malay-English dictionary (romanised). II. Mytilini, Yunani: Salavopoulos & Kinderlis. m/s. 384 – melalui TROVE, National Library of Australia.
  2. ^ Apte, Vaman Shivaram (1957). Revised and enlarged edition of Prin. V.S. Apte's The practical Sanskrit-English Dictionary. Poona: Prasad Prakashan. m/s. 1596. from संस्कृत saṃskṛitə past passive participle: Made perfect, refined, polished, cultivated. -तः -tah A word formed regularly according to the rules of grammar, a regular derivative. -तम् -tam Refined or highly polished speech, the Sanskṛit language; संस्कृतं नाम दैवी वागन्वाख्याता महर्षिभिः ("named sanskritam the divine language elaborated by the sages") from Kāvyadarśa.1. 33. of Daṇḍin
  3. ^ Angus Stevenson & Maurice Waite 2011, halaman 1275
  4. ^ a b Shlomo Biderman 2008, m/s. 90.
  5. ^ Will Durant 1963, m/s. 406.
  6. ^ Sir Monier Monier-Williams (2005). A Sanskrit-English Dictionary: Etymologically and Philologically Arranged with Special Reference to Cognate Indo-European Languages. Motilal Banarsidass. m/s. 1120. ISBN 978-81-208-3105-6.
  7. ^ Louis Renou & Jagbans Kishore Balbir 2004, m/s. 1–2.
  8. ^ Annette Wilke & Oliver Moebus 2011, m/s. 62–66 with footnotes.
  9. ^ Guy L. Beck 2006, m/s. 117–123.
  10. ^ Southworth, Franklin (2004), Linguistic Archaeology of South Asia, Routledge, m/s. 45, ISBN 978-1-134-31777-6
  11. ^ Jared Klein; Brian Joseph; Matthias Fritz (2017). Handbook of Comparative and Historical Indo-European Linguistics: An International Handbook. Walter De Gruyter. m/s. 318–320. ISBN 978-3-11-026128-8.
  12. ^ Ralat petik: Tag <ref> tidak sah; teks bagi rujukan Woodard12 tidak disediakan
  13. ^ a b Bauer, Brigitte L.M. (2017). Nominal Apposition in Indo-European: Its forms and functions, and its evolution in Latin-romance. De Gruyter. m/s. 90–92. ISBN 978-3-11-046175-6. for detailed comparison of the languages, see pages 90–126
  14. ^ a b c Ramat, Anna Giacalone; Ramat, Paolo (2015). The Indo-European Languages. Routledge. m/s. 26–31. ISBN 978-1-134-92187-4.
  15. ^ "Ancient tablet found: Oldest readable writing in Europe". National Geographic. 1 April 2011.
  16. ^ Rose, Jenny (18 August 2011). Zoroastrianism: A guide for the perplexed. Bloomsbury Publishing. m/s. 75–76. ISBN 978-1-4411-2236-0.
  17. ^ Dani, Ahmad Hasan; Masson, Vadim Mikhaĭlovich (1999). History of Civilizations of Central Asia. Motilal Banarsidass. m/s. 357–358. ISBN 978-81-208-1407-3.
  18. ^ Colin P. Masica 1993, m/s. 34.
  19. ^ Levin, Saul (24 October 2002). Semitic and Indo-European. Current Issues in Linguistic Theory #226. II: Comparative morphology, syntax, and phonetics. John Benjamins Publishing Company. m/s. 431. ISBN 9781588112224. OCLC 32590410. ISBN 1588112225
  20. ^ Bryant, Edwin Francis; Patton, Laurie L. The Indo-Aryan Controversy: Evidence and inference in Indian history. Psychology Press. m/s. 208.
  21. ^ Robins, R.H. (2014). General Linguistics. Routledge. m/s. 346–347. ISBN 978-1-317-88763-8.
  22. ^ J. P. Mallory & D. Q. Adams 2006, m/s. 6.
  23. ^ Burrow 1973, m/s. 6.
  24. ^ Colin P. Masica 1993, m/s. 36-38.
  25. ^ Burrow 1973, m/s. 30–32.
  26. ^ Burrow 1973, m/s. 30–34.
  27. ^ a b Meier-Brügger, Michael (2003). Indo-European Linguistics. Walter de Gruyter. m/s. 20. ISBN 978-3-11-017433-5.
  28. ^ MacDonell 2004.
  29. ^ Keith, A. Berriedale (1993). A History of Sanskrit Literature. Motilal Banarsidass. m/s. 4. ISBN 978-81-208-1100-3.
  30. ^ Barbara A. Holdrege 2012, m/s. 229–230.
  31. ^ Bryant 2001, m/s. 66–67.
  32. ^ Louis Renou & Jagbans Kishore Balbir 2004, m/s. 5–6.
  33. ^ Cardona, George (2012). Sanskrit Language. Encyclopaedia Britannica.
  34. ^ a b Witzel, M. (1997). Inside the Texts, Beyond the Texts: New approaches to the study of the Vedas (PDF). Cambridge, Massachusetts: Harvard University Press. Dicapai pada 17 July 2018.
  35. ^ Harold G. Coward 1990, m/s. 3–12, 36–47, 111–112, Note: Sanskrit was both a literary and spoken language in ancient India..
  36. ^ a b Cohen, Signe (2017). The Upanisads: A complete guide. Taylor & Francis. m/s. 11–17. ISBN 978-1-317-63696-0.
  37. ^ Bryant 2001, m/s. 249.
  38. ^ Robinson, Andrew (2014). India: A Short History. Thames & Hudson. m/s. 56–57. ISBN 978-0-500-77195-2.
  39. ^ Lowe, John Jeffrey (2015). Participles in Rigvedic Sanskrit: The syntax and semantics of adjectival verb forms. Oxford University Press. m/s. 2–3. ISBN 978-0-19-870136-1.
  40. ^ Stephanie W. Jamison & Joel P. Brereton 2014, m/s. 10–11, 72.
  41. ^ Stephanie W. Jamison & Joel P. Brereton 2014, m/s. 50.
  42. ^ Stephanie W. Jamison & Joel P. Brereton 2014, m/s. 66–67.
  43. ^ Richard Gombrich (2006). Theravada Buddhism: A Social History from Ancient Benares to Modern Colombo. Routledge. m/s. 24–25. ISBN 978-1-134-90352-8.
  44. ^ Gérard Huet; Amba Kulkarni; Peter Scharf (2009). Sanskrit Computational Linguistics: First and Second International Symposia Rocquencourt, France, October 29–31, 2007 Providence, RI, USA, May 15–17, 2008, Revised Selected Papers. Springer. m/s. v–vi. ISBN 978-3-642-00154-3.
  45. ^ Cardona, George (1998), Pāṇini: A Survey of Research, Motilal Banarsidass, m/s. 268, ISBN 978-81-208-1494-3
  46. ^ The Editors of Encyclopaedia Britannica (2013). Ashtadhyayi, Work by Panini. Encyclopædia Britannica. Dicapai pada 23 October 2017. Ashtadhyayi, Sanskrit Aṣṭādhyāyī ("Eight Chapters"), Sanskrit treatise on grammar written in the 6th to 5th century BCE by the Indian grammarian Panini.
  47. ^ Staal, Frits (April 1965). "Euclid and Pāṇini". Philosophy East and West. 15 (2): 99–116.
  48. ^ a b Harold G. Coward 1990, m/s. 13–14, 111.
  49. ^ Pāṇini; Sumitra Mangesh Katre (1989). Aṣṭādhyāyī of Pāṇini. Motilal Banarsidass. m/s. xix–xxi. ISBN 978-81-208-0521-7.
  50. ^ Louis Renou & Jean Filliozat. L'Inde Classique, manuel des etudes indiennes, vol.II pp.86–90, École française d'Extrême-Orient, 1953, reprinted 2000. ISBN 2-85539-903-3.
  51. ^ Angot, Michel. L'Inde Classique, pp.213–215. Les Belles Lettres, Paris, 2001. ISBN 2-251-41015-5
  52. ^ Yuji Kawaguchi; Makoto Minegishi; Wolfgang Viereck (2011). Corpus-based Analysis and Diachronic Linguistics. John Benjamins Publishing Company. m/s. 223–224. ISBN 978-90-272-7215-7.
  53. ^ John Bowman (2005). Columbia Chronologies of Asian History and Culture. Columbia University Press. m/s. 728. ISBN 978-0-231-50004-3.
  54. ^ Salomon 1998, m/s. 11.
  55. ^ Juhyung Rhi (2009). "On the Peripheries of Civilizations: The Evolution of a Visual Tradition in Gandhāra". Journal of Central Eurasian Studies. 1: 5, 1–13.
  56. ^ Rita Sherma; Arvind Sharma (2008). Hermeneutics and Hindu Thought: Toward a Fusion of Horizons. Springer. m/s. 235. ISBN 978-1-4020-8192-7.
  57. ^ Falk, Harry (1993). Schrift im alten Indien: ein Forschungsbericht mit Anmerkungen (dalam bahasa German). Gunter Narr Verlag. m/s. 109–167.CS1 maint: unrecognized language (link)
  58. ^ Salomon, Richard (1995). "Review: On the Origin of the Early Indian Scripts". Journal of the American Oriental Society. 115 (2): 271–278. doi:10.2307/604670. JSTOR 604670.
  59. ^ Scharfe, Hartmut (2002), Education in Ancient India, Handbook of Oriental Studies, Leiden, Netherlands: Brill, m/s. 10–12
  60. ^ Oskar von Hinüber (1989). Der Beginn der Schrift und frühe Schriftlichkeit in Indien. Akademie der Wissenschaften und der Literatur. m/s. 241–245. ISBN 9783515056274. OCLC 22195130.
  61. ^ Jack Goody (1987). The Interface Between the Written and the Oral. Cambridge University Press. m/s. 110–124. ISBN 978-0-521-33794-6.
  62. ^ Johannes Bronkhorst (2002), Literacy and Rationality in Ancient India, Asiatische Studien / Études Asiatiques, 56(4), pages 803–804, 797–831
  63. ^ Louis Renou & Jagbans Kishore Balbir 2004, m/s. 53.
  64. ^ Louis Renou & Jagbans Kishore Balbir 2004, m/s. 53–54.
  65. ^ Burrow 1973, m/s. 33–34.
  66. ^ a b c d A. M. Ruppel 2017, m/s. 378–383.
  67. ^ Arthur Anthony Macdonell (1997). A Sanskrit Grammar for Students. Motilal Banarsidass. m/s. 236–244. ISBN 978-81-208-0505-7.
  68. ^ Louis Renou & Jagbans Kishore Balbir 2004, m/s. 1–59.
  69. ^ Fleet, John Faithfull (1907). Corpus Inscriptionum Indicarum Vol 3 (1970)ac 4616. m/s. 153, Line 14 of the inscription.
  70. ^ Ralat petik: Tag <ref> tidak sah; teks bagi rujukan wright-sanskrit-first tidak disediakan
  71. ^ Alfred C. Woolner (1986). Introduction to Prakrit. Motilal Banarsidass. m/s. 6, context: 1–10. ISBN 978-81-208-0189-9.
  72. ^ Clarence Maloney (1978). Language and Civilization Change in South Asia. Brill Academic. m/s. 111–114. ISBN 978-90-04-05741-8.
  73. ^ Shastri, Gaurinath Bhattacharyya (1987). A Concise History of Classical Sanskrit Literature. Motilal Banarsidass. m/s. 18–19. ISBN 978-81-208-0027-4.
  74. ^ Johansson, Rune Edvin Anders (1981). Pali Buddhist Texts: Explained to the beginner. Psychology Press. m/s. 7. ISBN 978-0-7007-1068-3. Pali is known mainly as the language of Theravada Buddhism. ... Very little is known about its origin. We do not know where it was spoken or if it originally was a spoken language at all. The ancient Ceylonese tradition says that the Buddha himself spoke Magadhi and that this language was identical to Pali.
  75. ^ a b c Dundas, Paul (2003). The Jains. Routledge. m/s. 69–70. ISBN 978-0-415-26606-2.
  76. ^ "Ethnologue report for language code: pli". Ethnologue. Dicapai pada 20 July 2018.
  77. ^ P.S. Krishnavarma (1881). Sanskrit as a living language in India: Journal of the National Indian Association. Henry S. King & Company. m/s. 737–745.
  78. ^ a b c Gaurinath Bhattacharyya Shastri (1987). A Concise History of Classical Sanskrit Literature. Motilal Banarsidass. m/s. 20–23. ISBN 978-81-208-0027-4.
  79. ^ a b c d Deshpande 2011, m/s. 218–220.
  80. ^ Moriz Winternitz (1996). A History of Indian Literature. Motilal Banarsidass. m/s. 42–46. ISBN 978-81-208-0264-3.
  81. ^ Deshpande 2011, m/s. 222–223.
  82. ^ Etinne Lamotte (1976), Histoire du buddhisme indien, des origines à l'ère saka, Tijdschrift Voor Filosofie 21 (3):539–541, Louvain-la-Neuve: Université de Louvain, Institut orientaliste
  83. ^ Sheldon Pollock (1996). "The Sanskrit Cosmopolis, A.D. 300–1300: Transculturation, Vernacularization, and the Question of Ideology". Dalam Jan Houben (penyunting). Ideology and Status of Sanskrit: Contributions to the history of the Sanskrit language. Leiden New York: E.J. Brill. m/s. 197–199, for context and details, please see 197–239. ISBN 978-90-04-10613-0.
  84. ^ a b Reinöhl, Uta (2016). Grammaticalization and the rise of configurationality in Indo-Aryan. Oxford University Press. m/s. 120–121.
  85. ^ Hock, Hans Henrich; Bashir, E.; Subbarao, K.V. (2016). The languages and linguistics of South Asia a comprehensive guide. Berlin de Gruyter Mouton. m/s. 94–95.
  86. ^ Hart, George (1976). The relation between Tamil and classical Sanskrit literature. Wiesbaden: O. Harrassowitz. m/s. 317–320. ISBN 3447017856.
  87. ^ Shulman, David Dean (2016). Tamil : a biography. London, UK: The Belknap Press Of Harvard University Press. m/s. 12–14, 20.
  88. ^ Sheldon Pollock (1996). Jan E. M. Houben (penyunting). Ideology and Status of Sanskrit. BRILL Academic. m/s. 197–223 with footnotes. ISBN 978-90-04-10613-0.
  89. ^ William S.-Y. Wang; Chaofen Sun (2015). The Oxford Handbook of Chinese Linguistics. Oxford University Press. m/s. 6–19, 203–212, 236–245. ISBN 978-0-19-985633-6.
  90. ^ Burrow 1973, m/s. 63–66.
  91. ^ Ralat petik: Tag <ref> tidak sah; teks bagi rujukan scharf233 tidak disediakan
  92. ^ Jinah Kim (2013). Receptacle of the Sacred: Illustrated Manuscripts and the Buddhist Book Cult in South Asia. University of California Press. m/s. 8, 13–15, 49. ISBN 978-0-520-27386-3.
  93. ^ a b Pieter C. Verhagen (1994). A History of Sanskrit Grammatical Literature in Tibet. BRILL. m/s. 159–160. ISBN 978-90-04-09839-8.
  94. ^ Salomon 1998, m/s. 154–155.
  95. ^ Salomon 1998, m/s. 158–159.
  96. ^ Salomon 1998, m/s. 155–157.
  97. ^ a b Salomon 1998, m/s. 158.
  98. ^ Salomon 1998, m/s. 157.
  99. ^ Salomon 1998, m/s. 155.
  100. ^ William M. Johnston (2013). Encyclopedia of Monasticism. Routledge. m/s. 926. ISBN 978-1-136-78716-4.
  101. ^ a b Todd T. Lewis; Subarna Man Tuladhar (2009). Sugata Saurabha An Epic Poem from Nepal on the Life of the Buddha by Chittadhar Hridaya. Oxford University Press. m/s. 343–344. ISBN 978-0-19-988775-0.
  102. ^ Salomon 1998, m/s. 159–160.
  103. ^ Patrick Olivelle (2006). Between the Empires: Society in India 300 BCE to 400 CE. Oxford University Press. m/s. 356. ISBN 978-0-19-977507-1.
  104. ^ Salomon 1998, m/s. 152–153.
  105. ^ Rewi Alley (1957). Journey to Outer Mongolia: a diary with poems. Caxton Press. m/s. 27–28.
  106. ^ a b Salomon 1998, m/s. 153–154.
  107. ^ Gian Luca Bonora; Niccolò Pianciola; Paolo Sartori (2009). Kazakhstan: Religions and Society in the History of Central Eurasia. U. Allemandi. m/s. 65, 140. ISBN 978-88-42217-558.
  108. ^ Bjarke Frellesvig (2010). A History of the Japanese Language. Cambridge University Press. m/s. 164–165, 183. ISBN 978-1-139-48880-8.
  109. ^ Donald S. Lopez Jr. (2017). Hyecho's Journey: The World of Buddhism. University of Chicago Press. m/s. 16–22, 33–42. ISBN 978-0-226-51806-0.
  110. ^ Salomon 1998, m/s. 160 with footnote 134.
  111. ^ Cynthia Groff (2013). Jo Arthur Shoba and Feliciano Chimbutane (penyunting). Bilingual Education and Language Policy in the Global South. Routledge. m/s. 178. ISBN 978-1-135-06885-1.
  112. ^ "Sanskrit second official language of Uttarakhand". The Hindu. 21 January 2010. ISSN 0971-751X. Dicapai pada 2 October 2018.
  113. ^ "HP Assy clears three Bills, Sanskrit becomes second official language".

Bibliografi[sunting | sunting sumber]

Pautan luar[sunting | sunting sumber]