Suku Kerinci

Daripada Wikipedia, ensiklopedia bebas.
Jump to navigation Jump to search
Suku Kerinci
سوكو كرينچي
Jumlah populasi
(kurang lebih 300.000 (1996))
Kawasan ramai penduduk
Bahasa
Bahasa Kerinci, Bahasa Indonesia, Bahasa Melayu, Bahasa Minangkabau
Agama
Islam
Kumpulan etnik yang berkaitan
Melayu, Minangkabau
Masjid Agung Pondok Tinggi di Kota Sungai Penuh

Suku Kerinci (Bahasa Melayu: Kerinci atau Kerinchi; Jawi: كرينچي) ialah salah satu kelompok etnik di Kabupaten Kerinci, Kota Sungai Penuh, Kabupaten Merangin, Sumatera Barat, Malaysia, dan daerah lainnya.[1] Luas wilayahnya 4,200 km² dengan populasi 300,000 penduduk. Secara Topografi Kabupaten Kerinci memiliki tanah berbukit dan berlembah dalam deretan Banjaran Bukit Barisan dengan puncak tertinggi Gunung Kerinci.[1]

Nama Kerinci[sunting | sunting sumber]

Nama ‘Kerinci’ berasal dari bahasa Tamil “Kurinci”. Tanah Tamil dapat dibagi menjadi empat kawasan yang dinamakan menurut bunga yang khas untuk masing-masing daerah. Bunga yang khas untuk daerah pegunungan ialah gunung Kurinci (Latin Strobilanthus). Dengan demikian Kurinci juga bererti 'kawasan pegunungan'.

Di zaman dahulu Sumatera dikenal dengan istilah Swarnadwipa atau Swarnabhumi (tanah atau pulau emas). Kala itu Kerinci, Lebong dan Minangkabau menjadi wilayah penghasil emas utama di Indonesia (walaupun kebanyakan sumber emas terdapat di luar Kabupaten Kerinci di daerah Pangkalan Jambu, Kabupaten Merangin). Di daerah Kerinci banyak ditemukan batu-batuan Megalithicum dari zaman Gangsa (Bronze Age) dengan pengaruh Buddha termasuk keramik Cina. Hal ini menunjukkan wilayah ini telah banyak berhubungan dengan dunia luar.

Awalnya ‘Kerinci’ adalah nama sebuah gunung dan danau (tasik), tetapi kemudian wilayah yang berada di sekitarnya disebut dengan nama yang sama. Dengan begitu daerahnya disebut sebagai Kerinci (“Kurinchai” atau “Kunchai” atau “Kinchai” dalam bahasa setempat), dan penduduknya pun disebut sebagai orang Kerinci.

Sejarah Kerinci[sunting | sunting sumber]

Menurut Tambo Alam Minangkabau, Daerah Rantau Pesisir Barat (Pasisie Barek) pada masa Kerajaan Alam Minangkabau meliputi wilayah-wilayah sepanjang pesisir barat Sumatera bahagian tengah mula dari Sikilang Air Bangis, Tiku Pariaman, Padang, Bandar Sepuluh, Air Haji, Inderapura, Muko-muko (Bengkulu) dan Kerinci. Dengan demikian Kerinci merupakan daerah Minangkabau.

Pada tahun 1957, setelah Indonesia merdeka, Sumatera bahagian tengah mula dipecah menjadi 3 provinsi:

  1. Sumatera Barat (meliputi daerah Minangkabau)
  2. Riau (meliputi wilayah kesultanan Siak, Pelalawan, Rokan, Indragiri, Riau-Lingga ditambah Rantau Minangkabau Kampar dan Kuantan)
  3. Jambi (meliputi bekas wilayah kesultanan Jambi ditambah Rantau Minangkabau Kerinci)

Dengan demikian sebenarnya Orang Kerinci hidup dengan budaya Minangkabau namun menjadi orang Jambi.

Letak Kerinci[sunting | sunting sumber]

Kerinci berada di hujung barat Provinsi Jambi, berbatasan dengan Provinsi Sumatera Barat (Minangkabau) di sebahagian barat dan utara. Di selatan mereka berbatasan dengan Provinsi Bengkulu.

Daerah Kerinci ditetapkan sebagai sebuah Kabupaten sejak awal berdirinya Provinsi Jambi, dengan pusat pemerintahan di Kota Sungai Penuh. Daerah Kerinci memiliki luas 4.200 km² terdiri dari 11 kecamatan (yang merupakan rangkaian kampung atau pemukiman). Statistik tahun 1996 menunjukkan populasi suku Kerinci sekitar 300.000 jiwa.

Budaya Kerinci[sunting | sunting sumber]

Budaya Kerinci sangat khas. Tari-tariannya adat merupakan campuran Minangkabau dan Kerinci serta Melayu. Misalnya, Tari Joget Sitinjau Laut. Lagu-lagu Kerinci juga terkenal unik. Pakaian adatnya juga sangat indah. Rumah suku Kerinci disebut "Larik" dan merupakan [1] ialah bangunan yang terdiri dari beberapa deretan rumah petak yang bersambung-sambung. Di Jambi, Kerinci ialah satu-satunya wilayah yang menganut adat Perpatih Minangkabau (Matrilineal).

Bahasa Kerinci[sunting | sunting sumber]

Bahasa Kerinci termasuk salah satu anak cabang bahasa Austronesia yang dituturkan dengan dialek Kerinci. Bagi masyarakat bahagian pesisir barat Minangkabau, Bahasa Kerinci tidak begitu asing, namun menjadi agak aneh bagi orang daerah lain di Jambi yang condong ke Melayu Palembang dan Melayu Riau. Salah satu yang khas dari dialek Kerinci di antaranya ialah melafalkan ‘i’ menjadi ‘ai’ misal: ‘Orang Kerinci pergi ke Jambi’ diucapkan ‘Uha Kinchai goi ka Jamboi’, atau melafalkan ‘a’ menjadi ‘ea’ atau ‘oi’ misal: "bila" menjadi "bilea", "atas" menjadi "atoih", "tadi" menjadi "tadoih".

Ada lebih dari 30 dialek bahasa yang berbeza di tiap-tiap desa di daerah Kerinci. Seperti pengucapan 'Anda', di Desa Tanjung Pauh Mudik (Kec. Keliling Danau) diucapkan dengan "Kayoa" sedangkan di Kec. Sungai Penuh diucapkan dengan "Kayao". Perbezaan dialek ini juga ditandai dengan perbezaan budaya yang ada di masing-masing desa di Kerinci.

Rujukan[sunting | sunting sumber]